Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

JAKARTA, kanal31.com — Ada satu hukum tua dalam dunia kepemimpinan: kekuasaan dapat dipaksakan, tetapi kewibawaan hanya dapat dipelihara.

 

Dan kewibawaan memiliki rahasia yang sering dilupakan oleh mereka yang memegang kuasa: ia membutuhkan “jarak”.

 

Bukan jarak yang berarti menjauh dari rakyat, bukan pula jarak yang lahir dari kesombongan. Tetapi jarak simbolik—ruang yang membuat seseorang tetap memiliki bobot, membuat kehadirannya tidak menjadi sesuatu yang biasa, dan membuat setiap kata yang keluar memiliki nilai.

 

Sebab sesuatu yang selalu hadir sering kali kehilangan keistimewaannya. Suara yang terdengar setiap saat perlahan berubah menjadi kebisingan. Wajah yang muncul di setiap ruang lama-lama kehilangan daya pesonanya.

 

Dalam dunia kepemimpinan, terlalu dekat pun bisa menjadi bahaya. Ketika seorang pemimpin kehilangan ruang antara dirinya dan massa, ia berisiko kehilangan aura yang membuatnya dihormati.

 

Rahasia inilah yang menarik ketika membaca karya Emrys L. Peters, The Bedouin of Cyrenaica. Dalam penelitiannya tentang masyarakat Badui Cyrenaica dan tradisi tarekat Sanusiyah di Libya, Peters menggambarkan bagaimana kewibawaan seorang syekh tidak semata-mata berasal dari jabatan atau garis keturunan, melainkan dari pengakuan masyarakat terhadap kualitas yang melekat padanya: barakah.

 

Barakah bukan sekadar popularitas. Ia bukan hasil dari seringnya tampil. Ia lahir dari reputasi, kesalehan, kebijaksanaan, dan kemampuan menjaga keseimbangan sosial.

 

Karena itu, seorang syekh sepuh yang telah matang tidak membangun wibawanya dengan memenuhi setiap ruang. Ia tidak perlu menjawab semua persoalan. Ia tidak perlu menjelaskan setiap langkah. Ia tidak perlu hadir dalam setiap keramaian.

 

Justru karena ia tidak selalu terlihat, kehadirannya menjadi bernilai.

 

Orang datang menunggu. Orang mendengar dengan penuh perhatian. Ketika ia berbicara, kata-katanya memiliki bobot karena tidak setiap hari dibagikan.

 

Dalam logika simbol, kelangkaan menciptakan penghormatan.

 

Namun seorang pewaris menghadapi ujian yang berbeda. Ia mungkin menerima kedudukan, tetapi tidak otomatis menerima wibawa yang sama. Jabatan dapat diwariskan, tetapi barakah tidak dapat diwariskan begitu saja.

 

Ia harus diperoleh melalui laku.

 

Di sinilah sering muncul godaan seorang penerus: karena ingin membuktikan diri, ia merasa harus semakin sering hadir, semakin banyak berbicara, semakin sering menjelaskan dirinya kepada publik.

 

Padahal, semakin seseorang sibuk meyakinkan orang lain tentang dirinya, semakin terbuka ruang bagi orang untuk mempertanyakan dirinya.

 

Sebab wibawa tidak tumbuh dari banyaknya kata. Wibawa tumbuh dari keyakinan bahwa ketika seseorang berbicara, ada sesuatu yang memang layak didengar.

 

Peters menunjukkan bahwa dalam masyarakat Badui, kekuasaan bukan hanya soal siapa yang menduduki posisi tertinggi, tetapi bagaimana masyarakat mengakui dan merasakan kualitas kepemimpinannya.

 

Dan pengakuan itu membutuhkan seni menjaga jarak.

 

Terlalu jauh membuat rakyat lupa. Tetapi terlalu dekat membuat rasa hormat terkikis.

 

Pemimpin yang bijaksana memahami seni hadir tanpa menjadi kebiasaan. Ia mendekat tanpa kehilangan ruang. Ia berbicara tanpa membanjiri. Ia menunjukkan kerja, bukan sekadar menunjukkan diri.

 

Sebab seorang pemimpin tidak menjadi besar karena selalu terdengar.

 

Ia menjadi besar ketika rakyat tahu: setiap kali ia berbicara, ada alasan untuk mendengarkan.

 

Matahari tidak menyentuh bumi setiap saat, tetapi seluruh kehidupan bergantung kepadanya. Ia memberi manfaat justru karena berada pada jarak yang tepat.

 

Barangkali itulah pelajaran tua dari padang pasir:

 

Jangan biarkan kata-kata pemimpin menghabiskan wibawa yang seharusnya dipelihara oleh tindakan.

 

Karena pada akhirnya rakyat tidak menghitung berapa kali seorang pemimpin tampil dan berbicara, melainkan menyimpan ingatan tentang apa yang berubah setelah ia hadir. Wibawa tidak tumbuh dari banyaknya penampakan, tetapi dari jejak kebaikan yang tetap terasa bahkan ketika seorang pemimpin memilih untuk berada dalam diam. (Edulatif, No. 57)

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi Untuk Anda

  • Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    • calendar_month Rab, 20 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM— Hancur sudah harapan pegawai Honorer Kategori 2 (HK2) UIN SGD Bandung untuk meraih status pegawai negeri sipil (PNS). Sebagian harus puas menjadi pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), sebagian lagi gagal mendaftar P3K karena hanya lulusan SLTA, dan sebagian lagi nasibnya kadaluarsa karena ‘dimakan’ usia. Prahara yang menimpa HK2 ini tidak datang dengan serta-merta, […]

  • Sastra Inggris UIN Bandung Ambil Bagian dalam Diplomatic Forum 2025: Pendidikan untuk Daya Saing Global

    Sastra Inggris UIN Bandung Ambil Bagian dalam Diplomatic Forum 2025: Pendidikan untuk Daya Saing Global

    • calendar_month Sab, 18 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menunjukkan kiprah aktifnya dalam kegiatan internasional, dengan berpartisipasi pada Diplomatic Forum 2025 yang diselenggarakan oleh Voice of Indonesia (VOI), LPP RRI Bandung. Acara bergengsi ini mengangkat tema “Education Shapes the Future”, dihadiri oleh berbagai duta besar, diplomat, pejabat publik, […]

  • Top! Mahasiswa UIN Cirebon Juara Puteri Muslimah Nusantara Jawa Barat 2025

    Top! Mahasiswa UIN Cirebon Juara Puteri Muslimah Nusantara Jawa Barat 2025

    • calendar_month Sen, 18 Agu 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    CIREBON kanal31.com — Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon, Fitri Ayu Khoirunnisa, meraih juara I “Pemilihan Puteri Muslimah Nusantara Jawa Barat 2025”. Ajang ini merupakan program tahunan dari Paguyuban Puteri Muslimah Nusantara Jawa Barat yang mempertemukan para finalis terbaik dari seluruh provinsi. Fitri Ayu Khoirunnisa tercatat sebagai mahasiswi semester 6 Jurusan Hukum […]

  • Jari dan Kebenaran

    Jari dan Kebenaran

    • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Ini zaman “post truth”, begitu para pemikir menyebutnya. Sebuah zaman ketika emosi lebih dipercaya ketimbang fakta. Kebenaran objektif dikesampingkan, ukuran benar dan salah disepelekan. Dalam lanskap ini, budaya “berbagi” (share) menemukan lahannya yang paling subur. Hanya dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa tersebar luas, bukan karena ia benar, tapi karena ia menyentuh […]

  • Inilah Strategi Unpad Susun Artikel Ilmiah untuk Publikasi di Jurnal Bereputasi

    Inilah Strategi Unpad Susun Artikel Ilmiah untuk Publikasi di Jurnal Bereputasi

    • calendar_month Sab, 23 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SUMEDANG Publikasi di jurnal internasional bereputasi merupakan kewajiban bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa Doktor. Kendati demikian, masih banyak akademisi yang kesulitan untuk menulis artikel ilmiah yang siap dipublikasikan di jurnal. Penulisan artikel yang tidak sesuai akan mudah ditolak untuk dipublikasikan. Dosen Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Dr. Adiatma Siregar menjelaskan, publikasi merupakan […]

  • Pentingnya Sumpah Jabatan dalam Memperjuangkan Aspirasi Rakyat

    Pentingnya Sumpah Jabatan dalam Memperjuangkan Aspirasi Rakyat

    • calendar_month Ming, 29 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, KANAL31.COM –DPR RI menegaskan kembali komitmennya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui pelaksanaan sumpah jabatan yang dipegang teguh oleh setiap anggota dewan. Penegasan ini disampaikan Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, dalam Indonesia Opinion Festival (IOF) 2024 yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Minggu (29/12/2024).   Dalam sambutannya, Saan menekankan bahwa sumpah jabatan anggota […]

expand_less