Mengenang Syekh Yusuf Al-Makassari
- account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
- calendar_month 22 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ulama yang Diasingkan ke “Ujung Dunia”
KALBAR kanal31.com — Betapa bahayanya ulama ini di mata Belanda. Yang lain diasingkan paling seputaran nusantara. Ini diasingkan sampai ke ujung dunia, tepatnya di Afrika Selatan. Kebetulan hari Jumat, yok kita mengenang ulama asal Makassar ini sambil seruput Koptagul, wak!
Nama ulama itu adalah Syekh Yusuf Al-Makassari. Ia bukan hanya seorang ulama, bukan pula sekadar pejuang. Ia adalah peristiwa itu sendiri. Pertemuan antara ilmu, iman, dan keberanian yang membuat kekuatan kolonial sebesar VOC memilih langkah paling ekstrem, membuangnya sejauh mungkin dari pusat dunia yang mereka kuasai.
Lahir pada 3 Juli 1626 di Gowa, Syekh Yusuf tumbuh dalam lingkungan bangsawan sebagai keponakan Sultan Alauddin. Namun darah biru tidak membuatnya terlena. Ia memilih jalan panjang pencarian ilmu, menempuh perjalanan ke Mekkah, Yaman, hingga pusat-pusat keilmuan Islam lainnya. Di sana ia berguru kepada tokoh besar seperti Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Kurani. Ia tidak hanya pulang membawa ilmu, tetapi juga visi, kezaliman harus dilawan, dan iman harus berdiri tegak di tengah tekanan kekuasaan.
Sekitar tahun 1664, ketika kembali ke Nusantara, ia mendapati tanah kelahirannya telah berubah. Makassar tak lagi bebas. Ia kemudian berlabuh di Banten, di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Di sana, ia dipercaya sebagai mufti, penasihat kerajaan, menjadi bagian keluarga istana. Namun Syekh Yusuf bukan tipe ulama yang puas dengan kehormatan istana. Ketika penjajahan semakin menekan, ia memilih jalan yang berat, turun langsung ke medan perlawanan.
Ia memimpin perjuangan bersenjata. Bergerilya di wilayah Jawa Barat. Lalu, mengobarkan semangat rakyat dengan kekuatan spiritual yang jarang dimiliki seorang panglima. Ia berhasil lolos dari penangkapan lebih dari sekali. Ini sebuah bukti, perlawanan bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kecerdikan dan keyakinan. Bagi VOC, Syekh Yusuf bukan sekadar musuh. Ia adalah simbol. Simbol, jika dibiarkan hidup, bisa menjadi api yang membakar seluruh bangunan kekuasaan.
Maka VOC mengambil langkah yang tidak biasa. Tahun 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon (Sri Langka). Harapannya sederhana, memutus pengaruhnya dari Nusantara. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di tanah pengasingan, ia tetap menulis kitab-kitab tasawuf, yang kemudian dikirim kembali ke Nusantara melalui jaringan jamaah haji. Ide-idenya tetap mengalir, tanpa kehadiran fisiknya.
Merasa gagal, VOC mengambil keputusan yang lebih drastis, langkah yang jika dilihat hari ini terasa hampir tidak masuk akal. Pada tahun 1694, Syekh Yusuf bersama 49 orang, termasuk dua istri, dua selir, dua belas anak, dua belas imam, serta para pengikutnya, diangkut menggunakan kapal De Voetboog menuju Cape of Good Hope. Mereka ditempatkan di Zandvliet, lokasi terpencil yang diharapkan menjadi titik akhir dari segala pengaruhnya.
Namun sejarah kembali menunjukkan keindahan ironi. Di tempat yang dirancang sebagai pengasingan total, Syekh Yusuf justru membangun pusat dakwah baru. Ia mengajarkan Islam kepada budak-budak dari Nusantara, masyarakat lokal, dan siapa saja yang mencari makna hidup. Sedikit demi sedikit, komunitas Muslim tumbuh. Zandvliet berubah dari tempat sunyi menjadi ruang peradaban.
Ia wafat pada 23 Mei 1699 dalam usia sekitar 72–73 tahun. Pada tahun 1705, jenazahnya dipulangkan ke Gowa dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Namun jejaknya di Afrika Selatan tidak pernah hilang. Wilayah Macassar menjadi saksi sejarah, namanya diabadikan sebagai penghormatan. Komunitas Cape Malay pun tumbuh sebagai warisan hidup, dengan budaya, bahasa, dan tradisi yang menjadi jembatan antara Nusantara dan Afrika.
Dari kisah ini, kita belajar sesuatu yang sering dilupakan zaman, kekuasaan bisa menguasai ruang, tetapi tidak selalu mampu menguasai makna. VOC memiliki kapal, senjata, dan peta dunia. Namun mereka tidak mampu membendung gagasan seorang ulama yang berjalan dengan keyakinan.
Jika kita melihat ke masa kini, sindiran sejarah itu terasa semakin relevan. Dulu, penjajah begitu takut pada satu orang berilmu hingga harus membuangnya ke ujung bumi. Hari ini, kadang kekuasaan justru sibuk membungkam suara kritis dengan cara yang lebih halus, melalui narasi, framing, atau sekadar membuat publik lupa. Metodenya berubah, tapi ketakutannya tetap sama. Takut pada kesadaran yang tidak bisa dikendalikan.
Syekh Yusuf Al-Makassari membuktikan satu hal yang abadi, jarak tidak mampu mengalahkan ide, pengasingan bukan akhir dari perjuangan, dan manusia yang berpegang pada nilai akan selalu menemukan jalannya untuk memberi makna pada dunia.
Ia dibuang ke ujung dunia. Tapi dari sanalah, ia justru menyalakan cahaya yang menerangi dua benua, dan membuat sejarah, sekali lagi, tersenyum kagum.
Foto Ai hanya ilustrasi
- Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Saat ini belum ada komentar