Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Membedah Kata “Gay” yang Lagi Ramai Dibicarakan

Membedah Kata “Gay” yang Lagi Ramai Dibicarakan

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALBAR kanal31.com — Halo guys! Bukan gaes yang itu, tapi ini gay. Gay yang lagi ramai dibicarakan di negeri ini. Sampai take down-take down-an video segala. Tapi saya mau bahas kata gay saja, tak merembet ke mana-mana. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Guys..! Gay itu sebenarnya cuma istilah keren untuk pria yang tertarik secara seksual dan romantis ke sesama pria. Bukan penyakit langka yang baru muncul kemarin sore, melainkan variasi orientasi seksual yang sudah ada sejak manusia berburu mamut. Kata “gay” sendiri punya cerita hidup yang lebih dramatis dari sinetron ijazah.

 

Dulu, abad ke-12, artinya cuma “senang, riang, ceria” kayak anak kecil lagi dapat permen. Lalu di abad ke-17 mulai nakal, dipakai buat orang yang hidupnya bebas moral, playboy, atau bahkan pelacur. Baru di awal abad ke-20, di kalangan subkultur Amerika, kata itu direbut dan dijadikan slang buat homoseksual.

 

Sekarang? Makna asli “senang” sudah kalah telak, digantikan sama makna yang bikin orang ribut di komentar Instagram.

 

Secara ilmiah, homoseksualitas bukan pilihan ala “hari ini aku mau suka cowok atau cewek”. Penyebabnya campur aduk. Ada genetik (heritabilitas 8-25 persen, bukan satu gen ajaib), hormon saat masih di kandungan, struktur otak, dan interaksi lingkungan awal. Organisasi kesehatan dunia dan American Psychiatric Association sudah resmi bilang sejak 1973, ini bukan kelainan jiwa. Dulu sempat diklasifikasikan sebagai gangguan mental, tapi sekarang dianggap variasi normal seksualitas manusia. Sama seperti warna mata atau tinggi badan yang beda-beda. Banyak spesies hewan juga melakukannya, dari penguin sampai bonobo, jadi jangan sok merasa spesial ya manusia.

 

Tapi begitu masuk ranah agama, suasananya langsung berubah jadi film horor komedi. Islam mayoritas ulama tegas menolak perilaku homoseksual karena dianggap meniru kaum Nabi Luth yang dikutuk dalam Al-Quran (Al-A’raf, Asy-Syu’ara, dll), bertentangan dengan fitrah, dan hanya boleh dalam pernikahan pria-wanita. Kristen konservatif juga mengutip Roma 1 dan Imamat, bilang ini dosa, meski ada denominasi liberal yang sudah buka pelukan lebar dan bless pernikahan sesama jenis. Hindu punya cerita dewa gender-fluid dan Kama Sutra yang cukup terbuka, tapi di praktik banyak yang tetap konservatif. Buddha malah santai-santai saja, asal nggak melanggar “sexual misconduct” yang menyakiti orang lain. Yahudi? Dari ortodoks yang ketat sampai reformis yang rainbow banget. Intinya, agama Abrahamik paling galak soal ini, sementara yang lain lebih “tergantung mood pemimpin agamany.”

 

Sekarang, kalau ngomong soal negara, ASEAN lagi-lagi jadi panggung drama yang bikin geleng-geleng kepala. Thailand jadi bintang utama. Sejak 23 Januari 2025, mereka resmi melegalkan pernikahan sesama jenis lewat Marriage Equality Act. Lebih dari 26.000 pasangan sudah nikah dalam setahun pertama. Mereka dapat hak waris, adopsi, pajak, semuanya lengkap. Satu-satunya negara ASEAN yang bener-bener ngakuin full. Sisanya? Masih pada pura-pura nggak denger.

 

Yang paling ekstrem adalah Brunei, juara bertahan ketatnya. Hubungan sesama jenis pria bisa dihukum mati dirajam (stoning), wanita cambuk 40 kali atau penjara 10 tahun. Ada juga hukuman buat cross-dressing. Meski sejak 2019 Sultan kasih moratorium hukuman mati karena ribut internasional, undang-undang Syariah-nya tetap bikin suasana tegang. Malaysia dan Myanmar juga cukup garang.

 

Sementara Indonesia sekarang ikut semakin ketat berkat KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026. Pasal soal seks di luar pernikahan (seperti Article 411) bikin hubungan sesama jenis secara efektif jadi ilegal secara nasional, karena pernikahan gay nggak diakui sama sekali di UU Perkawinan. Prosesnya complaint-based (harus ada laporan dari keluarga), tapi tetap jadi senjata baru yang bikin suasana makin panas, ditambah Aceh yang sudah lama pakai Syariah dengan cambuknya yang legendaris.

 

So, dari dulu kata “gay” yang cuma artinya senang, sampai jadi bahan perdebatan dunia yang bikin orang ribut dari masjid sampai parlemen. Ilmu pengetahuan bilang ini variasi alamiah, agama-agama punya tafsir masing-masing, dan negara-negara ASEAN main tebak-tebakan soal hak dan dosa. Entah nuan tertawa, marah, atau cuma geleng-geleng, setidaknya sekarang ente tahu asal-usul, fakta medis, ayat-ayat, dan peta ASEAN-nya. Sisanya? Terserah nurani dan timeline masing-masing. Begitulah, guys!

 

Foto Ai hanya ilustrasi

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah Testimoni Dirjen Pendidikan Islam untuk Kegiatan Kelas Menulis UIN Bandung

    Inilah Testimoni Dirjen Pendidikan Islam untuk Kegiatan Kelas Menulis UIN Bandung

    • calendar_month Selasa, 10 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Masih dalam suasana Idul Fitri 1443 H, Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, bekerja sama dengan Rumah Jurnal UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Sentra Publikasi Indonesia menjadi pioneer mengawali kegiatan pelatihan penulisan artikel ilmiah, Selasa (10/05/2022). Pembukaan kegiatan dihadiri oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Muhammad […]

  • Posisi Hilal Awal Syawal 1446 H, di Bawah Imkanur Rukyah MABIMS

    Posisi Hilal Awal Syawal 1446 H, di Bawah Imkanur Rukyah MABIMS

    • calendar_month Sabtu, 29 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta kanal31 .com — Kementerian Agama menggelar Sidang Isbat (Penetapan) Awal Syawal 1446 Hijriyah, di Auditorium HM Rasjidi Kantor Kementerian Agama Jakarta, Sabtu (29/3/2025). Sidang yang diikuti oleh perwakilan ormas Islam, perwakilan duta besar negara sahabat, serta jajaran Kemenag ini diawali dengan Seminar Sidang Isbat Syawal yang mengangkat tema Antara Tradisi, Sains, dan Regulasi. Dalam […]

  • Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    • calendar_month Rabu, 6 Nov 2024
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    kanal31.com– Teka-teki soal biaya Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Rp.5 juta rupiah menjadi Rp6 juta mulai menemui titik terang. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Kabupaten Ciamis melalui ketuanya Angga Yogantara mengakui bahwa penambahan biaya PPG tersebut dilakukan oleh organisasi yang dia pimpin. Angga beralasan, penambahan biaya PPG yang ditetapkan Sekjen Kemenag itu dilakukan berdasarkan […]

  • Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

    Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Kita bicara jernih, tanpa takbir kosong dan tanpa minder intelektual. Siapkan segelas kopi Aroma hitam racikan Banceuy, Bandung ☕🚬 Iran kuat menghadapi Amerika dan Israel bukan karena keras kepala, tapi karena punya fondasi peradaban. Pertama, Negara ini bukan proyek dadakan pasca Perang Dunia, bukan pula negara “kontrakan geopolitik”. Iran berdiri di atas sejarah […]

  • Ismail Fahmi: Perlu Strategi Jitu Dakwah MUI Hadapi 3 Narasi Pokok di Medsos

    Ismail Fahmi: Perlu Strategi Jitu Dakwah MUI Hadapi 3 Narasi Pokok di Medsos

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Majelis Ulama Indonesi (MUI) dinilai mempunyai potensi untuk menjembatani berbagai kubu yang berbeda kepentingan. Hal ini berangkat dari perlunya mewadahi keragaman ormas Islam di Indonesia agar tidak mudah dipecah-belah. MUI memiliki peran sebagai forum silaturahim yang menjembatani keragaman tersebut. “MUI itu sebetulnya tidak berada di posisi kanan atau kiri, tapi dia independen. Karenanya MUI […]

  • Kawal Demokrasi, UIN Bandung Bedah Urgensi RUU Pemilu 2029 Bersama Prof. Ramlan Surbakti

    Kawal Demokrasi, UIN Bandung Bedah Urgensi RUU Pemilu 2029 Bersama Prof. Ramlan Surbakti

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Program Studi (Prodi) Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Rancangan Undang-undang Pemilu 2029 dan Masa Depan Demokrasi Indonesia”. Acara yang ditujukan untuk membekali mahasiswa dengan fondasi keilmuan politik ini berlangsung khidmat di Aula FISIP Lantai 1, Sabtu (5/9/2026). Seminar ini […]

expand_less