Tsunami di Perguruan Tinggi: Rekontruksi Makna Integritas Akademik
- account_circle Syahiduz Zaman, dosen UIN Malang
- calendar_month 21 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG kanal31.com — Ada satu situs yang menurut saya tidak kaleng-kaleng. Saya sudah mencoba salah satu fiturnya: sebuah naskah laporan penelitian, dalam kasus saya sebuah skripsi bimbingan, diproses menjadi artikel jurnal.
Mekanismenya sederhana. Pengguna baru memperoleh 700 token secara gratis. Untuk mengubah satu naskah menjadi artikel jurnal dibutuhkan sekitar 500 token. Saya mencoba. Hasilnya? Boom!
Hasilnya bukan sekadar ringkasan otomatis atau tulisan yang terasa seperti hasil parafrase mesin. Struktur artikel jurnal terbentuk, bahasa akademiknya rapi, bagian-bagian pentingnya tersusun, dan secara kasatmata naskah tersebut sudah tampak seperti artikel yang layak dikirim ke jurnal. Kalau targetnya jurnal SINTA 4, saya kira banyak orang akan sulit membedakan bahwa sebagian besar pekerjaan tersebut dilakukan oleh mesin.
Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak.
Persoalannya bukan lagi apakah AI bisa menulis artikel ilmiah. Pertanyaan itu sudah hampir selesai. Jawabannya: bisa.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi ketika kemampuan tersebut tersedia bagi hampir semua orang dengan biaya yang sangat murah?
Bayangkan seorang dosen memiliki laporan penelitian, skripsi mahasiswa, tesis, atau bahkan bahan penelitian yang selama ini tersimpan di komputer. Dengan sedikit keterampilan menggunakan AI, beberapa prompt, sedikit proses verifikasi, dan waktu sekitar sepuluh menit, bahan tersebut dapat berubah menjadi naskah artikel jurnal yang secara struktur terlihat sangat meyakinkan.
Kalau menggunakan ChatGPT Go dengan biaya sekitar Rp75 ribu ditambah pajak, persoalannya bahkan menjadi lebih sederhana. Tidak diperlukan laboratorium mahal. Tidak diperlukan perangkat komputasi khusus. Tidak diperlukan kemampuan pemrograman. Yang dibutuhkan adalah naskah, sedikit pemahaman tentang apa yang ingin dihasilkan, dan kemampuan memberikan instruksi kepada AI.
Inilah bagian yang menurut saya belum cukup serius dibicarakan oleh perguruan tinggi.
Kita masih sering memperlakukan AI sebagai alat bantu kecil: membantu membuat outline, memperbaiki bahasa Inggris, mencari ide judul, atau merapikan kalimat. Padahal kemampuan AI sudah bergerak jauh lebih cepat daripada kebijakan akademik.
Masalahnya bukan hanya produktivitas.
Ketika produksi artikel menjadi sangat murah dan cepat, seluruh ekosistem yang selama ini dibangun berdasarkan kelangkaan kemampuan menulis ilmiah ikut berubah.
Dosen yang dahulu membutuhkan berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mengubah laporan penelitian menjadi artikel kini dapat melakukan pekerjaan tersebut jauh lebih cepat. Mahasiswa dapat mengubah skripsinya menjadi manuskrip. Peneliti dapat mengolah kembali penelitian lama menjadi beberapa bentuk publikasi. Editor jurnal menghadapi kemungkinan menerima semakin banyak naskah yang secara bahasa sangat rapi. Reviewer menghadapi naskah yang mungkin tampak sempurna secara struktur, tetapi belum tentu memiliki kedalaman intelektual yang sebanding.
Di sinilah persoalannya menjadi serius.
Kita bisa saja meningkatkan angka publikasi. Jumlah artikel meningkat. Produktivitas dosen meningkat. Repository perguruan tinggi semakin penuh. Profil Google Scholar semakin aktif. SINTA semakin ramai.
Tetapi apakah kualitas pengetahuan juga meningkat?
Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dengan melihat jumlah artikel.
AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi tidak otomatis menjamin bahwa pertanyaan penelitian penting, metode tepat, data valid, analisis benar, dan kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh lagi, AI dapat membuat persoalan lama menjadi jauh lebih sulit dideteksi. Tulisan buruk relatif mudah dikenali. Tulisan yang sangat rapi justru lebih berbahaya apabila kerapiannya menutupi kelemahan substansi.
Kita sedang memasuki situasi ketika kemampuan menghasilkan teks ilmiah tidak lagi menjadi indikator yang cukup kuat untuk menunjukkan kemampuan ilmiah seseorang.
Ini memiliki konsekuensi besar bagi sistem pendidikan tinggi.
Kebijakan akademik tidak mungkin lagi hanya bertanya: “Apakah mahasiswa menggunakan AI?”
Pertanyaan tersebut terlalu sederhana.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah: bagian mana yang dikerjakan manusia, bagian mana yang dibantu AI, bagaimana proses verifikasinya, bagaimana data diperoleh, bagaimana analisis dilakukan, dan siapa yang bertanggung jawab terhadap setiap klaim ilmiah yang diterbitkan?
Perguruan tinggi perlu mulai memikirkan ulang definisi integritas akademik.
Integritas akademik tidak boleh berhenti pada persoalan plagiarisme. Tantangan baru adalah munculnya tulisan yang orisinal secara tekstual, tetapi mungkin lemah secara intelektual. Tidak menjiplak bukan berarti menghasilkan pengetahuan.
Kita juga perlu berhati-hati dengan gagasan bahwa masalah ini dapat diselesaikan hanya dengan AI detector.
Menurut saya, itu bukan solusi utama. Teknologi untuk menghasilkan teks berkembang sangat cepat. Teknologi pendeteksinya pun akan terus mengejar. Perguruan tinggi yang terlalu bergantung pada pendeteksi AI berisiko masuk ke dalam perlombaan teknologi yang tidak pernah selesai.
Yang harus diperkuat justru proses akademiknya.
Mahasiswa harus mampu menjelaskan penelitiannya tanpa bantuan mesin. Dosen pembimbing harus memahami proses penelitian, bukan hanya membaca produk akhirnya. Reviewer harus semakin kritis terhadap metodologi dan bukti. Jurnal perlu memperjelas kebijakan penggunaan AI. Institusi perlu membangun transparansi mengenai kontribusi manusia dan mesin.
Yang paling penting, ukuran keberhasilan akademik juga perlu dipikirkan kembali.
Kalau sistem kita masih memberikan tekanan yang sangat besar pada jumlah publikasi, maka AI akan menjadi akselerator yang luar biasa. Produksi artikel bisa melonjak. Tetapi kita harus bertanya apakah sistem tersebut juga memiliki mekanisme yang cukup kuat untuk menjaga kualitas pengetahuan yang diproduksi.
Saya menyebut fenomena ini sebagai tsunami pendidikan tinggi.
Bukan karena AI akan menggantikan dosen.
Bukan pula karena semua artikel yang dibuat dengan AI pasti buruk.
Justru sebaliknya. Ancaman terbesar datang karena AI semakin bagus.
Ketika teknologi menjadi cukup murah, cukup cepat, dan cukup baik untuk menghasilkan artikel yang secara kasatmata tampak akademik, batas antara kemampuan menulis dan kemampuan berpikir ilmiah menjadi semakin tipis.
Perguruan tinggi tidak boleh menganggapnya sebagai tren teknologi yang akan lewat.
Ini sudah terjadi.
Dan persoalannya bukan lagi apakah kita boleh menggunakan AI.
Persoalannya adalah apakah sistem pendidikan tinggi kita sudah siap menghadapi dunia ketika hampir semua orang dapat menghasilkan tulisan akademik dengan sangat cepat, sementara kemampuan memeriksa kebenaran, orisinalitas gagasan, kualitas metodologi, dan kontribusi pengetahuan tidak meningkat dengan kecepatan yang sama.
Kalau tidak segera dipikirkan, yang terkena tsunami bukan sekadar sistem publikasi.
Yang bisa tenggelam adalah makna integritas akademik itu sendiri.
- Penulis: Syahiduz Zaman, dosen UIN Malang
