Dua UIN yang Bermasalah
- account_circle Mamang M Haerudin (Aa), Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Al-Insaaniyyah
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
CIREBON kanal31.com — UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dua UIN yang belakangan sedang dirundung masalah. UIN Surabaya tengah diterpa kasus pemilihan Rektor yang dinilai janggal prosedur dan sejumlah dugaan kasus yang selama ini dilakukan oleh Rektor petahana yang kembali terpilih. Akibat kasus ini, aktivitas kampus dikabarkan lumpuh, para mahasiswa menggugat Rektor terpilih untuk diganti.
Sementara UIN Cirebon tidak kalah menegangkan, tengah dilanda kasus-kasus berikut dugaan kasus oknum dosen yang memoroti mahasiswa, sistem Ma’had yang diduga menyimpan banyak masalah, kejanggalan dana Hasimaru, belum digantinya biaya keikutsertaan mahasiswa yang mengikuti lomba dan dugaan kasus-kasus lainnya, yang banyak dibongkar oleh akun-akun misterius di media sosial Instagram.
Terkait masalah yang dialami dua kampus UIN tersebut, ini menunjukkan betapa lemahnya sistem pendidikan yang berjalan. Para pejabat kampus terlalu sibuk sendiri-sendiri, sehingga terlihat seperti tidak mempunyai sistem untuk menyerap keluhan dan masalah yang terjadi. Tentu saja masalah-masalah serupa bisa terjadi di kampus mana pun, dua UIN ini begitu tersorot karena mungkin terlalu lama dibiarkan sampai lambat penyelesaian.
Kasus janggalnya pemilihan Rektor UIN Surabaya bukan perkara baru. Budaya birokrasi kampus-kampus Islam ini justru tidak mencerminkan nilai-nilai islami. Pemilihan Rektor justru dipilih secara sepihak oleh Kementerian Agama bukan oleh civitas kampus. Padahal mestinya Rektor itu dipilih oleh sekurang-kurangnya perwakilan unsur dosen dan mahasiswa. Dipilih secara demokratis atas kredibilitas dan pengalaman sosok dosen yang mumpuni bukan atas dasar kedekatan dengan Kementerian Agama atau sentimen organisasi ekstra kampus seperti PMII, HMI dan lainnya.
Kasus yang terjadi di UIN Surabaya mengingatkan saya pada kasus terdahulu penolakan Rektor terpilih IAIN Cirebon (sekarang UIN SSC). Pemilihan Rektor yang memang tidak transparan dan cenderung politis. Apalagi kalau ingat berbagai kasus-kasus korupsi yang secara beruntun banyak menjerat para pejabat kampus sampai berakhir di jeruji besi. Sehingga patut disayangkan memang, rebutan jabatan di kampus UIN ini begitu kentara.
Demikian kasus-kasus yang terjadi di UIN Cirebon belakangan ini. Selain penanganannya sangat lamban, kasus-kasus pun menguap dan banyak terendus media-media mainstream. Alih-alih menyelesaikannya secara terbuka, pihak kampus malah cenderung tertutup. Bagaimana mungkin kampus-kampus Islam yang isinya para cendekiawan dan ilmuwan itu justru tidak mencerminkan nilai-nilai kecendekiawanan dan keilmuwannya. Oleh karena itu, saya mengapresiasi upaya pembongkaran kasus-kasus ini oleh para mahasiswa dengan memanfaatkan media sosial.
Kementerian Agama sebagai Kementerian yang membawahi kampus-kampus Islam memang dikenal sebagai institusi Negara yang tidak beres dan korup. Menteri-menteri dikenal sering kali melakukan blunder dan kebijakan-kebijakan yang aneh. Telah banyak para mantan Menteri Agama yang terjerat kasus-kasus korupsi, sementara Menteri Agama yang sekarang masih menjabat juga berkecenderungan formalistik dengan kebanggaan semunya yakni kurikulum berbasis cinta. Kurikulum yang sampai sekarang justru mencoreng nilai-nilai cinta dan Islam itu sendiri.
Saya khawatir, kalau kasus-kasus yang menimpa dua UIN ini tidak segera diatasi, kasus-kasus serupa akan menimpa UIN/IAIN lainnya di seluruh Indonesia. Alangkah baiknya apabila UIN/IAIN bisa lebih serius membangun transformasi pendidikan Islam agar bisa lebih kontekstual dengan segala masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Berbagai riset dosen dan perkuliahan mahasiswa mestinya lebih banyak diarahkan pada upaya transformasi ke lapangan, ke Desa-desa agar ruh pendidikan Islam betul-betul terasa dampaknya secara konkret. Wallahu a’lam
Mamang M Haerudin (Aa), Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah, 23 September 2026, 07.10 WIB
- Penulis: Mamang M Haerudin (Aa), Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Al-Insaaniyyah
