Breaking News:
Beranda » NETIZEN » 3 Akar Penyakit Politik Indonesia

3 Akar Penyakit Politik Indonesia

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, kanal31.com — Delapan puluh tahun setelah merdeka, persoalan utama Indonesia bukanlah terletak pada kurangnya ideologi, kurangnya konstitusi, atau kurangnya sumber daya alam. Masalah utamanya adalah adanya beberapa penyakit kronis yang terus menggerogoti Indonesia sejak merdeka hingga kini.

 

Penyakit pertama: Kegagalan membangun karakter kekuasaan

 

Kita memiliki Pancasila sebagai cita-cita luhur, UUD yang cukup lengkap, demokrasi yang relatif terbuka, dan kekayaan alam yang melimpah. Namun, semua itu selalu dikalahkan oleh satu penyakit yang sama: kekuasaan yang lebih tunduk kepada kepentingan kelompok daripada kepada kepentingan rakyat. Akibatnya, pergantian rezim hanya mengganti pemain, bukan mengganti pola permainan.

 

Penyakit kedua: Mahalnya biaya politik

 

Dalam sistem demokrasi perwakilan saat ini, jabatan politik praktis menjadi arena investasi. Banyak calon kepala daerah, anggota legislatif, hingga presiden membutuhkan dukungan modal yang sangat besar untuk memenangkan kontestasi. Ketika kekuasaan diperoleh melalui biaya yang mahal, maka muncul dorongan untuk mengembalikan modal setelah berkuasa. Di sinilah korupsi, kolusi, monopoli proyek, dan transaksi kebijakan menemukan lahan suburnya. Persoalannya bukan sekadar moral individu, tetapi desain sistem yang memungkinkan hubungan saling ketergantungan antara penguasa dan pemilik modal yang disebut bentuk kekuasaan oligarkis.

 

Penyakit ketiga: Lemahnya mekanisme kaderisasi kepemimpinan

 

Politik Indonesia lebih banyak melahirkan figur populer daripada figur berintegritas, lebih banyak melahirkan politisi ketimbang negarawan. Partai politik tidak menjadi sekolah kepemimpinan yang melahirkan pemimpin berintegritas dan berkapasitas. Yang sering muncul justru politik pencitraan, politik dinasti, dan politik transaksi. Akibatnya, kualitas elite tidak mengalami peningkatan yang signifikan meskipun pemilu telah dilakukan berulang kali selama puluhan tahun.

 

Karena itu, Indonesia butuh membangun ulang arsitektur politik yang memadukan tiga unsur sekaligus: moralitas yang kuat, meritokrasi yang nyata, dan pengawasan yang ketat. Moralitas diperlukan agar kekuasaan memiliki arah etik yang jelas. Meritokrasi diperlukan agar jabatan diberikan kepada yang paling mampu, bukan yang paling kaya atau paling populer. Pengawasan diperlukan karena manusia, sebaik apa pun, tetap memiliki kecenderungan menyalahgunakan kekuasaan ketika tidak diawasi.

 

Sistem yang cocok bagi Indonesia bukanlah demokrasi liberal seperti sekarang sedang berjalan yang sepenuhnya bertumpu pada kompetisi modal dan popularitas. Indonesia juga tidak membutuhkan seleksi kepemimpinan yang hanya dipilih rakyat, tetapi proses kaderisasinya harus ketat; kekuasaan dibatasi hukum; biaya politik ditekan serendah mungkin; dan korupsi diperlakukan sebagai pengkhianatan terhadap negara, bukan sekadar pelanggaran administratif. Masalahnya selama ini adalah terbentuknya budaya politik yang menjadikan kekuasaan sebagai sarana menguasai sumber daya, bukan sarana melayani rakyat.

 

Tugas penting Indonesia abad ke-21 adalah melahirkan generasi pemimpin dan warga negara yang mampu menegakkan integritas di atas kepentingan kelompok. Sebab sejarah menunjukkan, negara tidak hancur karena kekurangan aturan. Negara hancur ketika aturan yang baik terus-menerus dikalahkan oleh manusia-manusia rakus dan bebal yang melanggar nilai, aturan dan hukum yang mereka buat sendiri dan yang mereka sendiri ucapkan.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akhirnya Roy Suryo dan dr Tifa Ditangkap, Termul Sepertinya Senang 

    Akhirnya Roy Suryo dan dr Tifa Ditangkap, Termul Sepertinya Senang 

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR, kanal31.com — Duh, lama kali tak membahas sinetron ijazah. Kata pengikut Partai Koptagul, “Bosan, itu mulu!” Nah, kali ini ceritanya beda. Roy Suryo dan dr Tifa ditangkap polisi. Mungkin si lae Rismon Sianipar tersenyum lihat duo sohibnya digelandang ke jeruji. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Jumat, 19 Juni 2026. Sebuah pagi yang bagi […]

  • UPZ UIN Bandung Berbagi Kebahagiaan dengan Security dan CS

    UPZ UIN Bandung Berbagi Kebahagiaan dengan Security dan CS

    • calendar_month Kamis, 20 Mar 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Unit Pengumpul Zakat (UPZ) UIN Sunan Gunung Djati Bandung berbagi kebahagiaan dengan membagikan 300 paket sembako kepada tenaga security dan cleaning service (CS), di Aula Abdjan Soelaeman, Kamis (20/03/2025). “Alhamdulillah, pada Ramadhan ini kita dapat menyalurkan bantuan sebanyak 300 sembako kepada Satpam dan OB. Mudah-mudahan program ini berkelanjutan. Kalau bisa sih kita berbagi […]

  • Prof Euis Sunarti : Pentingnya Kesehatan Mental IRT dalam Keluarga

    Prof Euis Sunarti : Pentingnya Kesehatan Mental IRT dalam Keluarga

    • calendar_month Senin, 16 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BOGOR Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB University menyebut, terdapat dua tipe perempuan yang bekerja. Pertama karena semangat dan aspirasinya dan kedua karena terpaksa. Ibu rumah tangga juga demikian, ada yang karena pilihan dan mengandalkan pendapatan suami. Ada pula yang terpaksa, karena ada anggota keluarga yang membutuhkan perhatian. Pakar di bidang Ilmu Keluarga dan Konsumen, […]

  • Mahasiswa Tidak Membaca, Dosen Juga Tidak Menulis 

    Mahasiswa Tidak Membaca, Dosen Juga Tidak Menulis 

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Syahiduz Zaman, dosen TI UIN Malang
    • 0Komentar

    MALANG, kanal31.com — Pada pertemuan pertama mata kuliah Sistem Informasi, saya mencoba melakukan hal sederhana: bertanya kepada mahasiswa tentang buku.   Saya mengajar empat kelas. Saya menunjukkan buku Principles of Information Systems, buku teks yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama bidang Sistem Informasi. Saya bertanya, “Menurut kalian, berapa harga buku ini?”   Jawabannya menarik. […]

  • Ekonom UGM: Pemerintah Sebaiknya Tak Naikkan Harga Pertalite, Solar dan Tarif Listrik

    Ekonom UGM: Pemerintah Sebaiknya Tak Naikkan Harga Pertalite, Solar dan Tarif Listrik

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Pemerintah baru-baru ini menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax hingga 30 persen per 1 April lalu. Kebijakan menaikkan harga Pertamax ini dalam rangka menekan angka subsidi BBM di tengah lonjakan harga minyak dunia sepanjang tahun ini. Namun demikian, kenaikan harga BBM ini menambah daftar panjang kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat setelah sebelumnya […]

  • Catat! Kemenag Tegaskan Tidak Ada Larangan Pernikahan di Hari Libur

    Catat! Kemenag Tegaskan Tidak Ada Larangan Pernikahan di Hari Libur

    • calendar_month Senin, 14 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jakarta) — Kementerian Agama (Kemenag) mengklarifikasi beredarnya informasi mengenai larangan pernikahan di hari libur. Juru Bicara Kemenag Anna Hasbie menegaskan tidak ada kebijakan yang melarang pelaksanaan pernikahan di luar KUA, baik pada hari kerja maupun di hari libur. Pernyataan ini merespons beredarnya informasi di media sosial soal larangan nikah di hari libur setelah diterbitkannya Peraturan […]

expand_less