Breaking News:
Beranda » NETIZEN » NU Perlu Menganut Radikalisme

NU Perlu Menganut Radikalisme

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Masukan untuk Muktamar NU ke-35 di Jombang, 27–31 Agustus 2026)

BANDUNG, kanal31.com — Menjelang muktamarnya yang ke-35, saya ingin memberi satu gagasan besar untuk NU, yaitu NU harus melakukan gerakan radikal. Radikal? Iya, melakukan perubahan diri yang radikal di dalamnya karena problem NU bukan sekadar terlalu dekat dengan kekuasaan, tetapi terlalu banyak energi organisasi tersedot ke dalam politik praktis sementara energi peradaban umat belum dimaksimalkan.

Pertama, NU harus kembali menjadi jam’iyyah ulama, bukan jam’iyyah elite

Ini sangat fundamental. NU didirikan sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Ketika NU menjadi partai politik pada 1952, terjadi perubahan orientasi yang kemudian melahirkan persoalan panjang. Muktamar 1984 di Situbondo mengembalikan NU sebagai organisasi sosial-keagamaan. Pertanyaannya sekarang, apakah NU hari ini benar-benar dikendalikan oleh kebutuhan umat dan pertimbangan ulama, atau terlalu banyak dipengaruhi kalkulasi elite, kekuasaan dan kepentingan politik? Menurut saya, ini pertanyaan yang harus berani diajukan dalam Muktamar nanti.

Kedua, Politik NU tidak sama dengan politisi NU

Ini perlu dibuat sangat jelas. Warga NU bebas menjadi presiden, menteri, gubernur, anggota DPR, bupati, bahkan calon presiden. Tetapi NU sebagai institusi jangan menjadi kendaraan politik orang NU. Ini penyakit kebanyakan ormas Islam. NU harus punya independensi moral terhadap semua kekuasaan. Dekat dengan pemerintah boleh, bekerja sama dengan pemerintah wajib jika untuk kemaslahatan, tapi mengkritik pemerintah juga wajib jika ada kemudaratan. Jadi bukan oposisi, bukan pula koalisi. NU harus menjadi kekuatan moral yang berdiri di atas semua kekuasaan. Bahkan gagasan menjaga “jarak yang proporsional” dengan pemerintah sekarang sudah muncul dalam halaqah ulama menjelang Muktamar.

Ketiga, Kembalikan ulama sebagai pusat gravitasi NU

Ini mungkin yang paling penting. Struktur organisasi boleh modern, profesional, bahkan memakai konsultan manajemen. Tetapi arah moral dan visi NU harus berasal dari ulama. Syuriyah harus benar-benar menjadi moral authority NU, bukan sekadar struktur pendamping Tanfidziyah. Tanfidziyah mengelola. Syuriyah menentukan arah nilai, batas moral, dan garis perjuangan. Kalau dibalik, NU akan mudah berubah menjadi organisasi administratif politik belaka.

Keempat, Kembalikan pesantren menjadi jantung intelektual NU

NU mempunyai modal kuat yang hampir tidak dimiliki organisasi Islam lain dalam skala sebesar yaitu jaringan pesantren. Tetapi jangan hanya dijadikan basis massa. Pesantren harus menjadi pusat kaderisasi ulama, pusat penelitian Islam, pusat pemikiran kebangsaan, pusat bahtsul masail, pusat produksi gagasan, pusat transformasi sosial, dan pusat lahirnya intelektual Muslim masa depan. Visi ini ada kesamaan dengan rumusan halaqah ulama terbaru yang meminta pesantren dikembalikan sebagai pusat tradisi keilmuan, kaderisasi ulama dan pembentukan karakter.

Kelima, NU jangan hanya menjadi penjaga tradisi seperti selama ini, tetapi produsen masa depan

Ini diantara perubahan radikal tambahan yang perlu dilkakukan. Kembali ke 1926 bukan berarti kembali ke masa lalu. Ini kesalahan yang sering terjadi. Khitah bukan museum. Khitah adalah DNA. DNA NU tahun 1926 harus dibawa menghadapi AI, perubahan demografi, ekonomi digital, krisis lingkungan, perubahan keluarga, kapitalisme baru, dominasi politik oligarki, budaya populer, sekularisasi, krisis otoritas agama dan perubahan generasi muda Muslim. Jadi NU harus tradisional dalam akar, tetapi futuristik dalam visi. Ini keren kalau menjadi salah satu kalimat kunci Muktamar.

Keenam, Ubah ukuran keberhasilan NU

Jangan ukur keberhasilan NU terutama dari berapa banyak pejabat NU, berapa banyak menteri, berapa besar aset, berapa banyak pengurus, berapa banyak acara. Tetapi berapa banyak manusia yang hidupnya menjadi lebih baik karena NU. Ini kembali kepada makna khidmah. Apakah pendidikan meningkat? Kemiskinan berkurang? Pesantren maju? Ulama berkualitas bertambah? Generasi muda punya masa depan? Ekonomi warga meningkat? Akhlak publik membaik? Itulah yang harus menjadi visi NU yang sesungguhnya.

Ketujuh. Code of political ethics bagi pejabat NU

Muktamar harus berani membuat aturan moral. Pejabat struktural NU yang masuk jabatan politik tertentu harus jelas posisi dan batasnya. Ini untuk mencegah penyalahgunaan institusi NU. NU sudah rusak oleh kasus-kasus korupsi tokoh-tokohnya yang menjadi pejabat karena terlalu dekat dengan kekuasaan. Persoalannya bukan apakah orang NU boleh berpolitik tapi apakah NU boleh diperalat oleh para politikus NU? Jawabannya. Ormas besar yang para tokohnya banyak menjadi pejabat negara, kasus korupsinya pun pasti paling banyak. Itu hubungan yang logis. Kalau mau, bisa dikurangi dengan dibuatnya code of political ethics atau pedoman moral berpolitik karena para tokoh NU agak lemah dalam menghadapi godaan uang dan fasilitas kekuasaan.

Penjelasan antropologisnya, karena NU memang adalah komunitas santri yang aslinya menjauhi dunia. Ketika dunia datang pada mereka dengan pesona kemewahannya, mereka lemah menolaknya. Mereka pun konflik dan bertengkar oleh tambang. Dunia itu melenakan bukan meneguhkan perjuangan. Sistem kultur NU bukanlah berlimpah kesenangan material dan kekayaan tapi para pejuang pesantren yang mengandalkan penderitaan, kekuatan mental dan keberkahan. Sederhananya, santri yang kuat agamanya pasti bakal oleng juga oleh kekaayaan berlimpah. Dunia memang seksi dan mempesona.

Kesimpulan

Agenda muktamar perlu ditegaskan, mengembalikan politik ke tempatnya dan mengembalikan NU ke tempatnya: sebagai kekuatan keulamaan, keumatan, keilmuan, kebudayaan dan kebangsaan. NU tidak perlu menjadi penguasa untuk menjadi kekuatan yang menentukan arah bangsa. NU harus menjadi moral force, intellectual force dan civilizational force. Dari perebutan kekuasaan menuju pelayanan umat. Dari politik kekuasaan menuju politik kebangsaan. Dari kebesaran organisasi menuju kebesaran manfaat. Njiirr … kereen 😄😅. Mengembalikan marwah NU itu hanya bisa dilakukan dengan perubahan radikal di tubuhnya alias menganut radikalisme. Wah kopi keburu dingin.[]

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sosialisasi Empat Pilar, Abidin Fikri: Perlu Kesadaran Bersama Mewujudkan Gagasan Founding Father

    Sosialisasi Empat Pilar, Abidin Fikri: Perlu Kesadaran Bersama Mewujudkan Gagasan Founding Father

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Anggota DPR – MPR RI, Dr. H. Abidin Fikri, SH., MH. menekankan perlunya kesadaran bersama memahami rangkaian proses historis lahirnya gagasan kebangsaan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar yang diselenggarakan komunitas Nyala Muda di Bandung, Minggu (9/8/2026). Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar tersebut dihadiri oleh aktivis […]

  • 4 Prinsip Budi Pekerti

    4 Prinsip Budi Pekerti

    • calendar_month Kamis, 26 Jan 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 15Komentar

    JAKARTA- KANAL31.COM Budi pekerti adalah istilah yang merujuk pada akhlak atau karakter seseorang. Budi pekerti merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan, karena merupakan dasar dari tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Budi pekerti merupakan hasil dari pembentukan akhlak yang dilakukan sejak kecil, yang terdiri dari nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua, lingkungan, dan pendidikan […]

  • Rektor Baru UIN Bandung, Mana  Program Gebrakannya?

    Rektor Baru UIN Bandung, Mana  Program Gebrakannya?

    • calendar_month Senin, 9 Okt 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    kanal31.com— Sudah dua bulan rektor baru UIN SGD Bandung  Rosihon Anwar dilantik (11/08/2023), tetapi kampus itu masih adem-adem saja, tidak terdengar ada gebrakan program monumental, terutama program prioritas yang menjadi pembeda atau kelebihan dari rektor sebelumnya. Entah apa penyebabnya? Apakah rektor baru ini masih tenggelam dalam euforia kemenangan, sehingga mengakibatkan kebingungan dan perasaan gelisah?  Atau […]

  • Catat! Berdiri sejak 1869, Mungsolkanas Jadi Masjid Tertua di Kota Bandung

    Catat! Berdiri sejak 1869, Mungsolkanas Jadi Masjid Tertua di Kota Bandung

    • calendar_month Sabtu, 24 Agt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Bandung) — Jika membahas tentang perkembangan Islam di kota Bandung, kebanyakan orang akan menyebut Masjid Agung Alun-alun atau Masjid Besar Cipaganti sebagai salah satu masjid bersejarah di Kota Bandung. Namun, Masjid Mungsolkanas yang terletak di sebuah gang kecil membuatnya jarang terlihat oleh banyak orang. Dilansir dari laman Kota Bandung, Masjid ini berada di Gang […]

  • Awali Tahun 2024, Rektor UIN Bandung Lantik 1.000 Lulusan pada Wisuda ke-96

    Awali Tahun 2024, Rektor UIN Bandung Lantik 1.000 Lulusan pada Wisuda ke-96

    • calendar_month Sabtu, 24 Feb 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM (BANDUNG) — Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., melantik 1.000 wisudawan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-96 Lulusan Program Sarjana, Magister dan Doktor UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Gedung Anwar Musaddad, Sabtu (24/02/2024). Ke-1.000 lulusan yang dilantik pada Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-95 bertajuk “Leadership in The […]

  • Luar Biasa! Mahasiswa Ushuluddin UIN Bandung Semakin Moncer

    Luar Biasa! Mahasiswa Ushuluddin UIN Bandung Semakin Moncer

    • calendar_month Selasa, 19 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (BANDUNG) — Muhammad Daffa mahasiswa Jurusan Ilmu Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung kembali menorehkan prestasi. Kali ini, artikel ilmiah yang dia tulis di semester akhir berjudul “Tracing The Nation’s Indentity Through The Diversity of Content and Language of Ancient Manuscripts of Sumedang Larang Palace,” sukses menembus ketatnya persaingan […]

expand_less