Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Islam ala Prabowo vs Islam Borneo

Islam ala Prabowo vs Islam Borneo

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALBAR, kanal31.com — Kaget juga saya. Rupanya ada buku berjudul Islam ala Prabowo. Bukan judul sinetron Ramadan, bukan pula nama paket isi ulang. Buku ini benar-benar ada dan diluncurkan ketika Prabowo Subianto menjadi Presiden Republik Indonesia.

Kalau begitu, apakah sebentar lagi muncul Islam ala Partai Koptagul? Tenang. Tidak akan. Partai Koptagul cuma berkuasa di dunia maya. Ups! Yang bakal muncul Islam Borneo.

Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas diterbitkan Atmosphere Publishing House pada 2025. ISBN-nya 9786238967650. Tebalnya sekitar 346–400 halaman. Harganya Rp112.500–Rp125.000.

Penulisannya diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar. Peluncuran resminya dilakukan KH Anwar Iskandar bersama Ketua Baznas Prof. Dr. KH Noor Achmad pada 26 Agustus 2025 di Hotel Mercure Ancol Jakarta, dalam rangkaian Rakornas Baznas 2025. Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir mewakili Presiden.

Ada pula versi lebih awal, April 2025, oleh Media Luhur Sentosa dengan sampul berbeda. Nama Atmosphere Publishing House sempat tidak muncul dalam basis data ISBN Perpustakaan Nasional sehingga status penerbitannya pernah dipertanyakan Samudrafakta.

Isinya? Jangan bayangkan ada bab, “Prabowo Wudu Jam 04.30” atau “Zikir Prabowo Setelah Sarapan.” Bukan begitu. Buku ini merupakan mosaik tafsir tokoh-tokoh lain mengenai dimensi keislaman Prabowo dalam kehidupan pribadi, karier militer, dan kepemimpinannya.

Ahmad Muzani bicara integrasi spiritualitas dan visi kebangsaan. KH Asep Saifuddin Chalim membandingkan semangat Prabowo dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Said Aqil Siradj melihat nasionalisme Prabowo mencerminkan nilai Islam Nusantara. Abdul Mu’ti menyoroti Islam substansi yang pro-rakyat. Ada pula pandangan Yusril Ihza Mahendra, TGB Muhammad Zainul Majdi, AM Hendropriyono, dan Muhadjir Effendy.

Palestina juga menjadi sorotan, termasuk pidato Prabowo pada KTT D-8 Mesir 2024 yang diapresiasi Duta Besar Palestina Zuhair Al Syun.

Mabda Dzikara dari Sanad Media menilai buku ini penting sebagai peta wacana, tetapi lebih apresiatif dan normatif ketimbang catatan spiritual mendalam. Samudrafakta mempertanyakan penerbitan karena adanya dua versi.

Menarik. Sebab politik memang kadang begitu. Realitas berjalan di jalan raya, persepsi naik mobil dinas.

Nah, dari buku ini saya malah teringat gagasan Islam Borneo.

Ide itu saya lontarkan sebelum Rakorda MUI se-Kalimantan. Kemarin, setelah MUI Kalbar membubarkan panitia Rakorda, gagasan tersebut kembali dibicarakan. MUI Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kalsel, dan Kaltara akan membentuk tim penulis masing-masing melalui SK. Setelah resmi terbentuk, buku disusun bersama.

Target peluncuran, tahun depan, saat Kaltara menjadi tuan rumah Rakorda MUI se-Kalimantan. Ketika pertama kali saya lemparkan gagasan itu di media sosial, komentar langsung ramai. Ada yang mendukung, bahkan sudah pesan buku. Padahal bukunya belum lahir!

Ada pula keberatan dengan istilah Islam Borneo, sebagaimana kontroversi Islam Nusantara ketika diperkenalkan NU pada 2015. Ada mengusulkan Islam di Borneo, ada pula Perkembangan Islam di Kalimantan.

Saya justru menikmati perdebatan itu. Artinya, bukunya belum selesai ditulis, tetapi sudah berhasil bikin orang berdiskusi.

Islam Borneo bukan agama baru. Bukan pula mazhab yang harus dicari kiblatnya menggunakan Google Maps. Ia adalah ikhtiar membaca perjalanan, budaya, dakwah, kerukunan, dan praktik nilai Islam masyarakat Borneo.

Kalau Islam ala Prabowo membaca Islam melalui sosok presiden, Islam Borneo membaca Islam melalui perjalanan masyarakat. Pada akhirnya, mau namanya Islam ala Prabowo, Islam Nusantara, atau Islam Borneo, pertanyaan terpenting tetap sama, apakah Islam benar-benar hadir dalam keadilan, kejujuran, kesejahteraan, dan kemanusiaan?

Sebab rakyat tidak membaca agama dari sampul buku saja. Rakyat membaca agama dari perilaku penguasanya.

Foto Ai hanya ilustrasi

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bukan Hanya Soal Ushuluddin: Mengurai Benang Kusut Relasi Kuasa di Kampus

    Bukan Hanya Soal Ushuluddin: Mengurai Benang Kusut Relasi Kuasa di Kampus

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh: Nurholis (Dosen Fakultas Ushuluddin, UIN SGD Bandung)   Mengapa hanya Dema Fakultas Ushuluddin? Begitu kira-kira pertanyaan yang muncul di benak saya ketika mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, yang dikoordinasi Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas menggelar aksi unjuk rasa di halaman belakang gedung fakultas, Selasa, 6 Oktober 2026. Pertanyaan itu muncul bukan karena saya mempersoalkan aksi […]

  • Dispusip – Disdik Kembangkan Program Literasi

    Dispusip – Disdik Kembangkan Program Literasi

    • calendar_month Rabu, 22 Jan 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    KAB. BANDUNG KANAL31.COM – Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kabupaten Bandung H. Teguh Purwayadi mengunjungi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung di Soreang, Rabu (22/1/2025). Teguh, yang didampingi Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan Dispusip Firman Nugraha, diterima oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Enjang Wahyudin. Silaturahmi dalam upaya membangun sinergitas antara dua lembaga atau Organisasi […]

  • Pendidikan Jalan Keluar dari Keterbelakangan Sosial dan Ekonomi

    Pendidikan Jalan Keluar dari Keterbelakangan Sosial dan Ekonomi

    • calendar_month Minggu, 16 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat (MPI PP) Muhammadiyah bersama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat (PWM Jabar) menggelar acara peluncuran buku berjudul ”Memilih Langkah Jalan Tengah: Biografi dan Pemikiran Dadang Kahmad.” Acara ini berlangsung di Aula Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Jawa Barat, Bandung, pada Sabtu (15/02/2025) dan dihadiri oleh sejumlah tokoh […]

  • Solusi Macet, Awal 2025 Kab. Bandung Bangun Flyover Bojongsoang-Baleendah

    Solusi Macet, Awal 2025 Kab. Bandung Bangun Flyover Bojongsoang-Baleendah

    • calendar_month Kamis, 2 Jan 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    KAB. BANDUNG, kanal31.com– Di awal tahun 2025, Bupati Bandung Dadang Supriatna akan memprioritaskan pembangunan infrastruktur untuk mengatasi kemacetan di sejumlah wilayah. Di antaranya membangun jembatan layang (flyover) Bojongsoang-Baleendah dan perbaikan jembatan Dayeuhkolot. Hal itu diungkapkan Bupati Bandung –akrab disapa Kang DS—saat hadir di tengah-tengah Giat Semarak Malam Pergantian Tahun 2024 ke Tahun Baru 2025, Dayeuhkolot, […]

  • Dobrak Stigma, Rakernas PPPSIH-PTKIN Bidik Integrasi Hukum Islam-Nasional

    Dobrak Stigma, Rakernas PPPSIH-PTKIN Bidik Integrasi Hukum Islam-Nasional

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Lanskap pendidikan hukum di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) bersiap menghadapi babak baru. Cetak biru masa depan tersebut mulai digodok dalam rangkaian Pelantikan, Rapat Kerja Nasional (Rakernas), dan Seminar Nasional Perkumpulan Penyelenggara Program Studi Ilmu Hukum (PPPSIH)PTKIN se-Indonesia, yang digelar di Aula Utama Fakultas Syariah dan Hukum UIN Bandung, Rabu (17/06/2026). Pertemuan […]

  • Jejak Praktik Baik Gerakan Perdamaian di Kota Bandung

    Jejak Praktik Baik Gerakan Perdamaian di Kota Bandung

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Program Studi S1 Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung bersama Esoterika Fellowship Program, Initiatives for Change (IofC) Indonesia, dan Rumah Moderasi Beragama (RMB) menggelar “Peace Café: Belajar Bersama dengan Komunitas Perdamaian di Bandung” di Museum/Galeri Sejarah Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Jl. Nana Rohana No. 37, Kota Bandung, Senin (24/11/2025). […]

expand_less