Rabu, 27 Mei 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Menjaga Lisan

Menjaga Lisan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — Lisan adalah anugerah sekaligus ujian. Ia berukuran kecil, namun kuasa dan dampaknya sangat luas. Ia tidak bertulang, namun mampu menghancurkan dinding-dinding hubungan yang dibangun bertahun-tahun. Ia tak berbentuk tajam, namun bisa menoreh luka yang mungkin tak mudah sembuh seumur hidup. Maka tidak heran, para bijak bestari dari zaman ke zaman selalu mengingatkan tentang satu hal yang tampaknya sepele: “menjaga lidah”.

Saya jadi ingat sebuah mahfudhot (tuturan bijak), yang saya dapatkan ketika mesantren kilat dulu: “Ikhfadz lisanaka wakhtariz min lafdzihi, falmar’u yaslamu billisānihi wa ya‘tub” (Jagalah lisanmu dan waspadalah terhadap ucapannya, sebab seseorang bisa selamat dengan lisannya dan juga bisa mendapat cela karenanya).

Saya tidak tahu, siapa yang menuturkan kalimat bijak ini tapi pada mahfdhot ini saya merasakan peringatan spiritual yang dalam. Ia mengajarkan bahwa keselamatan jiwa sering kali ditentukan oleh apa yang keluar dari mulut, bukan semata-mata apa yang kita lakukan dengan tangan ataupun kaki.

Konon, dalam tradisi sufi, lisan tidak berdiri sendiri.  Ia adalah jendela hati, gema dari batin. Bila hati dipenuhi cinta, kelembutan, dan keikhlasan, maka kata-katanya pun menyembuhkan. Sebaliknya, jika hati penuh amarah, iri, atau dendam, maka kata-katanya pun akan mencederai. “Apa yang keluar dari lisan adalah buah dari apa yang tumbuh dalam hati,” begitu kata Syaikh Ibn ‘Ataillah al-Iskandari.

Di tempat lain, Jalaluddin Rumi juga menuliskannya dengan indah: “Jangan anggap enteng kata-katamu, sebab satu kata bisa menyalakan cinta, atau membakar dunia.” Dengan pernyataannya ini, Rumi seakan mengatakan bahwa ucapan adalah kekuatan. Maka hendaknya lisan menjadi alat untuk menghidupkan, bukan mematikan; untuk menghubungkan, bukan memutuskan.

Konon, Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin-nya bahkan menyebut lidah sebagai anggota tubuh yang paling berbahaya. Ia bisa menjerumuskan ke dalam ghibah, fitnah, dusta, atau kesombongan tersembunyi. Karena itu Al-Ghazali menyebut diam sebagai salah satu bentuk ibadah tertinggi, jika dilakukan dalam rangka menahan diri dari perkataan sia-sia. “Betapa banyak orang yang ibadahnya sia-sia hanya karena satu kata yang keluar tanpa ia sadari,” begitu katanya.

Di era era sekarang, menjaga lisan tidak cukup hanya dengan menahan ucapan. Lisan kini memiliki perpanjangan di ujung jari: media sosial, ruang komentar, pesan singkat. Kata-kata yang dulu hanya menyakiti dalam percakapan kini bisa melukai ribuan orang hanya dalam satu klik. Maka menjaga lisan berarti menjaga tulisan. Menjaga tutur berarti menjaga unggahan.

Suatu waktu, syaikh Abdul Qadir al-Jailani menasihati murid-muridnya: “Jika engkau ingin selamat dari kehinaan, maka tahanlah lidahmu dari tiga hal: dusta, celaan, dan kata-kata yang sia-sia.” Kita hidup di dunia yang riuh oleh suara, namun sering kali yang kita butuhkan adalah keheningan. Diam, jika dipilih dengan kesadaran, adalah suara paling jernih yang lahir dari kejernihan batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah mengucap satu kalimat, ringan, spontan, tanpa niat jahat, namun berakhir menjadi sebab luka yang dalam bagi orang lain. Mungkin pula kita pernah mendengar satu kata, yang tak pernah kita lupakan sepanjang hidup, karena ia menyentuh dasar jiwa kita. Inilah kekuatan lisan: ia bisa menjadi cahaya atau bara.

Menjaga lisan, menurut hemat saya, bukan hanya karena kita takut menyakiti orang lain, tetapi karena kita sedang menjaga kebersihan jiwa sendiri. Kata-kata mencerminkan siapa kita sesungguhnya. Dan pada akhirnya, setiap kata akan ditimbang, setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam,” begitu pesan Nabi Muhammad SAW. Saya kira, inilah jalan keselamatan: berbicara dengan niat baik, atau memilih hening sebagai bentuk kebijaksanaan. Allahu a’lam.

Tabik.

Radea Juli A. Hambali Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung .

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hikmah Silaturahmi Idul Fitri: Perspektif Psikologis-Religius

    Hikmah Silaturahmi Idul Fitri: Perspektif Psikologis-Religius

    • calendar_month Sab, 28 Mar 2026
    • account_circle S. Miharja, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Idul Fitri merupakan momentum spiritual yang menandai keberhasilan umat Islam dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Dimensi penting dari Idul Fitri adalah silaturahmi, yaitu mempererat hubungan kekerabatan, memperbaiki komunikasi sosial, serta membangun kembali harmoni kehidupan. Dalam perspektif akademik, silaturahmi tidak hanya dipahami sebagai tradisi budaya, tetapi sebagai mekanisme penguatan struktur sosial, kesejahteraan psikologis, dan internalisasi […]

  • Terobosan Baru Dr. Yayan dari UIN Bandung Berbasis Qiyas Syafi’i: Gono-gini tak Harus 50:50

    Terobosan Baru Dr. Yayan dari UIN Bandung Berbasis Qiyas Syafi’i: Gono-gini tak Harus 50:50

    • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Selama ini, pembagian harta bersama atau gono-gini pasca-perceraian sering kali dipatok kaku pada angka 50:50. Namun, sebuah riset hukum terbaru dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menawarkan perspektif revolusioner: Keadilan harus diukur, bukan sekadar dibagi rata. Dalam sidang terbuka promosi doctor, Kamis (19/02/2026), Dr. H. Yayan Khaerul Anwar, M.Ag. […]

  • 5 Ilmu Kanuragan Warisan Syeh Siti Jenar

    5 Ilmu Kanuragan Warisan Syeh Siti Jenar

    • calendar_month Jum, 23 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM SELAIN mewariskan ajaran Manunggaling Kawula Gusti, Syeh Siti Jenar ternyata juga meninggalkan ilmu-ilmu kanuragan kepada para pengikutnya. Bahkan konon kesaktian tersebut hingga saat ini masih ada dan diamalkan oleh orang-orang yang meyakini ajaran Syeh Siti Jenar. Syeh yang juga bergelar Sunan Jepara ini memperoleh dan mempelajari ilmu kanuragan itu tersebut melalui bebagai laku spiritual. […]

  • Uu Nurul Huda Terpilih sebagai Ketua Umum PPSIH-PTKIN Periode 2025–2027

    Uu Nurul Huda Terpilih sebagai Ketua Umum PPSIH-PTKIN Periode 2025–2027

    • calendar_month Ming, 23 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Dr. H. Uu Nurul Huda, S.Ag., SH., MH. atas terpilihnya sebagai Ketua Umum Perkumpulan Penyelenggara Program Studi Ilmu Hukum (PPSIH) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia untuk periode 2025–2027. Pemilihan ini berlangsung dalam Musyawarah Nasional (Munas) IV PPSIH-PTKIN […]

  • 533 Finalis dari Seluruh Indonesia Siap Rebut Juara di Grand Final Olimpiade PAI 2025

    533 Finalis dari Seluruh Indonesia Siap Rebut Juara di Grand Final Olimpiade PAI 2025

    • calendar_month Ming, 30 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Kawasan Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, hari ini (30/11) berubah menjadi lautan kafilah Pendidikan Agama Islam. Sebanyak 533 finalis terpilih dari 38 provinsi di Indonesia resmi melakukan registrasi ulang untuk mengikuti babak Grand Final Olimpiade PAI Nasional dan Anugerah PAI 2025.   Ratusan peserta yang datang silih berganti sejak siang hari […]

  • Academic Writing Class 2022 # 2

    Academic Writing Class 2022 # 2

    • calendar_month Rab, 11 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar
expand_less