Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Menjaga Lisan

Menjaga Lisan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Lisan adalah anugerah sekaligus ujian. Ia berukuran kecil, namun kuasa dan dampaknya sangat luas. Ia tidak bertulang, namun mampu menghancurkan dinding-dinding hubungan yang dibangun bertahun-tahun. Ia tak berbentuk tajam, namun bisa menoreh luka yang mungkin tak mudah sembuh seumur hidup. Maka tidak heran, para bijak bestari dari zaman ke zaman selalu mengingatkan tentang satu hal yang tampaknya sepele: “menjaga lidah”.

Saya jadi ingat sebuah mahfudhot (tuturan bijak), yang saya dapatkan ketika mesantren kilat dulu: “Ikhfadz lisanaka wakhtariz min lafdzihi, falmar’u yaslamu billisānihi wa ya‘tub” (Jagalah lisanmu dan waspadalah terhadap ucapannya, sebab seseorang bisa selamat dengan lisannya dan juga bisa mendapat cela karenanya).

Saya tidak tahu, siapa yang menuturkan kalimat bijak ini tapi pada mahfdhot ini saya merasakan peringatan spiritual yang dalam. Ia mengajarkan bahwa keselamatan jiwa sering kali ditentukan oleh apa yang keluar dari mulut, bukan semata-mata apa yang kita lakukan dengan tangan ataupun kaki.

Konon, dalam tradisi sufi, lisan tidak berdiri sendiri.  Ia adalah jendela hati, gema dari batin. Bila hati dipenuhi cinta, kelembutan, dan keikhlasan, maka kata-katanya pun menyembuhkan. Sebaliknya, jika hati penuh amarah, iri, atau dendam, maka kata-katanya pun akan mencederai. “Apa yang keluar dari lisan adalah buah dari apa yang tumbuh dalam hati,” begitu kata Syaikh Ibn ‘Ataillah al-Iskandari.

Di tempat lain, Jalaluddin Rumi juga menuliskannya dengan indah: “Jangan anggap enteng kata-katamu, sebab satu kata bisa menyalakan cinta, atau membakar dunia.” Dengan pernyataannya ini, Rumi seakan mengatakan bahwa ucapan adalah kekuatan. Maka hendaknya lisan menjadi alat untuk menghidupkan, bukan mematikan; untuk menghubungkan, bukan memutuskan.

Konon, Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin-nya bahkan menyebut lidah sebagai anggota tubuh yang paling berbahaya. Ia bisa menjerumuskan ke dalam ghibah, fitnah, dusta, atau kesombongan tersembunyi. Karena itu Al-Ghazali menyebut diam sebagai salah satu bentuk ibadah tertinggi, jika dilakukan dalam rangka menahan diri dari perkataan sia-sia. “Betapa banyak orang yang ibadahnya sia-sia hanya karena satu kata yang keluar tanpa ia sadari,” begitu katanya.

Di era era sekarang, menjaga lisan tidak cukup hanya dengan menahan ucapan. Lisan kini memiliki perpanjangan di ujung jari: media sosial, ruang komentar, pesan singkat. Kata-kata yang dulu hanya menyakiti dalam percakapan kini bisa melukai ribuan orang hanya dalam satu klik. Maka menjaga lisan berarti menjaga tulisan. Menjaga tutur berarti menjaga unggahan.

Suatu waktu, syaikh Abdul Qadir al-Jailani menasihati murid-muridnya: “Jika engkau ingin selamat dari kehinaan, maka tahanlah lidahmu dari tiga hal: dusta, celaan, dan kata-kata yang sia-sia.” Kita hidup di dunia yang riuh oleh suara, namun sering kali yang kita butuhkan adalah keheningan. Diam, jika dipilih dengan kesadaran, adalah suara paling jernih yang lahir dari kejernihan batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah mengucap satu kalimat, ringan, spontan, tanpa niat jahat, namun berakhir menjadi sebab luka yang dalam bagi orang lain. Mungkin pula kita pernah mendengar satu kata, yang tak pernah kita lupakan sepanjang hidup, karena ia menyentuh dasar jiwa kita. Inilah kekuatan lisan: ia bisa menjadi cahaya atau bara.

Menjaga lisan, menurut hemat saya, bukan hanya karena kita takut menyakiti orang lain, tetapi karena kita sedang menjaga kebersihan jiwa sendiri. Kata-kata mencerminkan siapa kita sesungguhnya. Dan pada akhirnya, setiap kata akan ditimbang, setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam,” begitu pesan Nabi Muhammad SAW. Saya kira, inilah jalan keselamatan: berbicara dengan niat baik, atau memilih hening sebagai bentuk kebijaksanaan. Allahu a’lam.

Tabik.

Radea Juli A. Hambali Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung .

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Video Menembus Batas

    Video Menembus Batas

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31- Kisah Mahasiswa Inspiratif pada Wisuda ke-82 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Keluarga adalah harta paling berharga yang tiada bandingannya. Tempat paling menenangkan di tengah riuhnya dunia, tempat terbaik untuk berkeluh kesah saat lelah mendera. Ya, begitulah harapan setiap insan. Tapi tidak bagi Amanah, mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berasal dari […]

  • Selamat! 83.480 Sertifikat Halal Terbit, UIN Bandung TOP 1 Lembaga Pendamping PPH

    Selamat! 83.480 Sertifikat Halal Terbit, UIN Bandung TOP 1 Lembaga Pendamping PPH

    • calendar_month Rabu, 9 Agt 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM- Dilansir dari #selasadata @halal.indonesia UIN Sunan Gunung Djati Bandung tercacat telah mendampingi 83.480 sertifikat halal yang terbit dan menjadi yang terbanyak di tahun 2023. Capaian ini meningkat 750% dari tahun 2022 dengan 11.000 sertifikat halal saja yang terbit.   Perlu diketahui, sertifikat halal yang terbit merupakan hasil dari program Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) yang […]

  • Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

    Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR kanal31.com — Sesuai prediksi, perundingan damai Iran vs Amerika bakal gagal. Benar adanya. Kedua belah pihak tak mau berdamai. AS ingin Iran tutup total nuklir. Iran jelas tak mau, itulah senjata andalan. Akankah perang kembali meletus? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Dua raksasa, Iran dan Amerika Serikat, janjian “berdamai” di Islamabad. Hasilnya malah […]

  • Haedar Nashir : Tidak Cukup Damai dan Toleran, Islam Juga Harus Maju

    Haedar Nashir : Tidak Cukup Damai dan Toleran, Islam Juga Harus Maju

    • calendar_month Sabtu, 11 Mar 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Semangat beragama umat Islam saat ini sedang kuat-kuatnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan supaya umat juga perlu mengimbanginya dengan pemahaman agama yang mendalam dan utuh. Haedar mewanti-wanti agar umat Islam supaya jangan sampai dalam beragama hanya mendapatkan kembangnya saja, tapi tidak sampai pada substansinya. Selain itu, dia juga mengingatkan umat […]

  • Rektor UIN SGD 2023-2027 Lebih Baik Di-dropping Pusat?

    Rektor UIN SGD 2023-2027 Lebih Baik Di-dropping Pusat?

    • calendar_month Minggu, 25 Des 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– 2023 adalah tahun pergantian rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Apakah rektor pengganti Prof Mahmud itu sebagai representasi dari masyarakat akademis, atau wakil dari elite ormas/golongan, atau calon dropingan dari pusat? Di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung sering terdengar ungkapan bahwa calon rektor si A sudah mengantongi rekomendasi ormas terbesar; si B […]

  • 3 Arti Kedutan di Kelopak Bawah Mata Kanan

    3 Arti Kedutan di Kelopak Bawah Mata Kanan

    • calendar_month Jumat, 23 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Kedutan atau juga dikenal dengan istilah twitching adalah hal yang umum terjadi dan biasanya akan hilang sendiri. Namun, pada kondisi tertentu, otot kedutan juga bisa menjadi tanda dari suatu penyakit saraf. Otot kedutan atau muscle twitching adalah gerakan halus pada area kecil otot yang tidak disengaja Dikutip dari kanal YouTube Tafsir Mimpi, kedutan di […]

expand_less