Sabtu, 18 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Kelana Filsafat di Belantara Sains

Kelana Filsafat di Belantara Sains

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — “Filsafat adalah seni bertanya yang membuka, bukan ilmu yang menutup perkara.” (Anonimous)

Filsafat tidak lahir dari kepastian, melainkan hadir dari kegelisahan. Ia tidak tumbuh di taman jawaban, tapi bersemi di belantara pertanyaan. Maka filsafat bukan menutup perkara seumpama palu hakim di ruang sidang. Ia justru membuka tabir yang menutupi kenyataan, membuka lapisan-lapisan tipis dari kebenaran yang semula dikira sudah final dan berlaku universal.

Socrates, yang katanya disebut sebagai bapak filsafat, tak meninggalkan satu pun kitab sistematis. Tapi di mata para pembelajar filsafat, Socrates meninggalkan jejak berharga: pertanyaan yang tak pernah letih diajukan, bahkan kepada perkara yang paling biasa sekalipun. “The unexamined life is not worth living,” katanya. “Hidup yang tidak dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak dijalani”. Di sana, filsafat menjelma bukan sebagai bangunan yang selesai, melainkan jalan yang terus dibuka. Bukan ilmu tentang jawaban, tapi kepekaan terhadap ketakterjawaban.

Dalam tradisi Islam, salah seorang filsuf Islam Al-Farabi menegaskan bahwa filsafat adalah hikmah, kebijaksanaan yang diperoleh dari “melihat sesuatu dengan kedalaman”. Dan kedalaman, seperti sumur, tidak pernah bisa diukur dari permukaan. Maka orang-orang yang mencintai filsafat tidak mudah tergesa menyimpulkan. Mereka lebih senang diam di tengah pertanyaan, membiarkannya hidup, tumbuh, dan menyibak cakrawala baru dalam pikiran.

Pertanyaan filosofis, apakah itu tentang makna hidup, tentang Tuhan, tentang keadilan, tentang kebenaran, bukan untuk dijawab dan ditinggalkan. Tapi untuk dihidupi. Sebab pertanyaan semacam itu adalah cermin: kita tidak sekadar mencari jawaban, kita sedang melihat siapa diri kita sebenarnya.

Martin Heidegger pernah berkata, “Hal yang paling menggelisahkan di zaman yang penuh pemikiran ini adalah kenyataan bahwa kita sebenarnya masih belum benar-benar berpikir“. Kita hidup di zaman di mana jawaban mudah tersedia, mesin pencari ada di ujung jari. Tapi berpikir, bertanya secara jujur dan mendalam adalah keberanian yang langka. Filsafat mengajarkan keberanian itu: untuk tidak segera puas, untuk tetap memelihara gelisah, untuk terus setia membuka.

Maka, jika filsafat hari ini dipersoalkan eksistensi dan relevansinya, barangkali bukan karena ia usang. Tapi karena kita terlalu tergesa menutup perkara. Kita ingin jawaban, bukan perjalanan. Padahal filsafat tidak pernah menjanjikan pelabuhan, hanya arah angin. Dan siapa tahu, justru di dalam pertanyaan yang tak selesai itu, kita menemukan secercah kebijaksanaan, bukan yang membuat kita merasa tahu, tetapi yang membuat kita lebih sanggup mendengarkan. Lebih rendah hati terhadap misteri. Lebih manusiawi dalam mencari.

Lalu apa gunanya filsafat di zaman sains seperti hari ini, ketika segala sesuatu bisa diukur, dikalkulasi, dan dapat dijelaskan secara presisi? Tidakkah filsafat usang bahkan ketinggalan zaman?

Pertanyaan tentang relevansi filsafat di zaman sains adalah pertanyaan yang sangat filosofis itu sendiri. Di tengah gemuruh penemuan ilmiah, kemajuan teknologi, dan data yang berlimpah, kita bisa saja tergoda untuk mengira bahwa filsafat telah menjadi peninggalan masa lalu. Sebuah artefak intelektual yang tak lagi berguna di laboratorium atau dalam kecerdasan buatan.

Justru di zaman ketika segala hal dapat dihitung, diprediksi, dan dijelaskan, rasanya kita semakin membutuhkan sesuatu yang tidak bisa diukur: makna. Sains menjawab “bagaimana“, tapi filsafat memiliki kabajikan untuk bertanya “mengapa“. Sains bisa menunjukkan bagaimana alam semesta mengembang, bagaimana otak memproses kesadaran, atau bagaimana algoritma meniru intuisi manusia. Tapi mengapa kita harus peduli pada kebenaran? Apa itu kebahagiaan? Apa arti menjadi manusia? Ini wilayah filsafat, wilayah yang tak bisa dijangkau oleh mikroskop ataupun teleskop.

Bertrand Russell, seorang filsuf dan juga disebut sebagai matematikawan besar abad ke-20, suatu waktu pernah berkata: “Science is what you know. Philosophy is what you don’t know.” Ilmu bergerak dalam ranah yang bisa dibuktikan, diuji, diulang. Tapi filsafat mengajak kita tetap tinggal di tepian ketidaktahuan, dan justru di sana, kita dapat belajar rendah hati, berpikir lebih dalam, dan bertanya lebih jujur.

Di tengah derasnya sains, filsafat hadir bukan untuk bersaing, tapi untuk menjaga arah. Tanpa filsafat, sains bisa kehilangan etika. Tanpa pertanyaan filosofis, teknologi bisa menjadi dewa baru tanpa hati nurani. Maka pertanyaan seperti “Apakah semua yang bisa dilakukan harus dilakukan?” atau “Apa yang membedakan kecerdasan buatan dari kebijaksanaan manusia?” menjadi sangat penting, dan itu bukan soal sains, ini soal filsafat!

Di zaman kita hari kini, filsafat memang tidak bisa mendaku diri sebagai “cermin besar” kehidupan yang dengan sombong menolak sains. Filsafat harus menjadi mitra sejati. Menjadi penuntun agar ilmu tidak kehilangan arah, agar kemajuan tidak menjadi bumerang, dan agar kita tetap menjadi manusia di tengah revolusi mesin. Filsafat tak menawarkan kepastian, tapi kepekaan; tak membawa jawaban instan, tapi ketajaman berpikir. Dan itu barangkali yang paling kita butuhkan.

Jadi, masihkah ada gunanya filsafat? Sepemahaman saya, filsafat tak hanya berguna, kehadirannya justru lebih mendesak dari sebelumnya. Sebab di zaman ketika semuanya bisa dijelaskan, kita makin haus pada apa yang belum bisa dimengerti. Dan di sanalah filsafat tinggal: di ruang sunyi antara jawaban dan kejujuran.

Di dunia yang semakin berlari cepat (Anthony Giddens), filsafat (mungkin)  meminta kita untuk melambat. Di tengah segala yang instan, ia mengajarkan kesabaran untuk bertanya, dan keberanian untuk tak buru-buru menjawab. Di ujung semua itu, barangkali filsafat bukan tentang pengetahuan, melainkan tentang ketulusan. Bukan tentang menemukan kepastian, melainkan tentang menemani kebingungan. Bukan tentang menutup perkara, melainkan tentang membuka pintu ke dalam diri sendiri, dan ke arah yang lebih manusiawi. Allahu a’lam.

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Matrikulasi, Gerbang Penguatan Linibasis Akademik

    Matrikulasi, Gerbang Penguatan Linibasis Akademik

    • calendar_month Kam, 21 Agu 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Sebanyak 903 mahasiswa baru Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, termasuk 20 mahasiswa dari Malaysia, Singapura, dan Thailand, resmi memulai perjalanan akademiknya melalui Matrikulasi dan Orientasi Pascasarjana 2025, di Gedung KH Anwar Musaddad, Rabu (20/8/2025). Pembukaan Matrikulasi dan Orientasi Pascasarjana 2025 dihadiri oleh unsur pimpinan: Wakil Rektor IV Prof. Dr. H. Ah. […]

  • Quantum I’tikaf Isyrak Masjid Miftahul Jannah

    Quantum I’tikaf Isyrak Masjid Miftahul Jannah

    • calendar_month Sel, 25 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

      BANDUNG kanal31.com — I’tikaf di masjid hingga waktu isyrak (terbitnya matahari) memiliki banyak keutamaan, terutama karena seseorang terus berada dalam keadaan ibadah, berzikir, dan menyambut aktivitas harian. Beberapa keutamaan tersebut dijelaskan sejumlah hadis. Isyrak Senilai Amalan di Masjidil Haram مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ […]

  • Inilah 5 Aktivitas yang Wajib Dilakukan di Teras Cihampelas

    Inilah 5 Aktivitas yang Wajib Dilakukan di Teras Cihampelas

    • calendar_month Ming, 25 Agu 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Bandung) — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mendorong agar kawasan Teras Cihampelas semakin menggeliat. Pemkot Bandung berharap, kawasan Teras Cihampelas dapat menjadi daya tarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Sebelumnya Penjabat Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono menyampaikan, Teras Cihampelas merupakan ikon Kota Bandung yang luar biasa. “Kita ingin bangga sama Cihampelas. Kita sedang mengidentifikasi, di […]

  • Guru Besar, Jurnal Predator dan Insentif Jurnal

    Guru Besar, Jurnal Predator dan Insentif Jurnal

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    Asyari, Wakil Rektor 1 IAIN Bukittinggi SPI-BUKITTINGGI Persoalan di kenaikan pangkat ke Guru Besar/Profesor kembali mencuat. Sejak Sri Mardiyati, Dosen Universitas Indonesia (UI) mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) urusan kenaikan pangkat Guru Besar/Profesor menjadi diskusi hangat di kalangan insan akademik. Mengajukan kenaikan pangkat ke Guru Besar di injury time usia akan pensiun sangat riskan […]

  • Rapat Kerja FTK UIN Bandung 2026 Bahas Pendidikan Masa Depan dengan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

    Rapat Kerja FTK UIN Bandung 2026 Bahas Pendidikan Masa Depan dengan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

    • calendar_month Ming, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    CIANJUR Kanal31.com — Dalam upaya memperkuat kualitas mutu pendidikan, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 bertajuk “Menavigasi Pendidikan Masa Depan dalam Membangun Peradaban Berbasis Nilai Rahmatan lil ‘Alamin” yang berlangsung di Hotel Horison, Cianjur selama tiga hari, Kamis–Sabtu (29–31/1/2026). Raker dibuka secara resmi oleh Rektor UIN […]

  • Pegiat Literasi dan Penulis, Yuk Ikutan Kepustakaan Islam Award 2024. Simak Baik-baik Ketentuannya!

    Pegiat Literasi dan Penulis, Yuk Ikutan Kepustakaan Islam Award 2024. Simak Baik-baik Ketentuannya!

    • calendar_month Jum, 20 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jakarta) — Kementerian Agama (Kemenag) membuka pendaftaran Kepustakaan Islam Award 2024. Penghargaan ini digelar untuk mendorong pertumbuhan ekosistem literasi, terutama bagi penulis, aktivis literasi, serta penerbit buku keagamaan. “Penghargaan ini dilatarbelakangi oleh keinginan kuat untuk memajukan literasi Islam di Indonesia, khususnya di kalangan praktisi kepustakaan, pegiat literasi dan penulis yang berperan dalam pengembangan kepustakaan Islam,” […]

expand_less