Selasa, 2 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Memaknai Kata-kata Zahra di Saat RK – Atalia Proses Cerai

Memaknai Kata-kata Zahra di Saat RK – Atalia Proses Cerai

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Ming, 28 Des 2025
  • comment 0 komentar

KALBAR Kanal31.com — Ketika ayah dan ibu sudah tidak ada lagi aura kasih, anak selalu menjadi korban. Begitulah yang dirasakan oleh Zahra, anak dari Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. Ia menulis puisi mencurahkan isi hatinya. Simak ungkapan hati Zahra sambil seruput Koptagul, wak!

 

Ada kata-kata yang lahir bukan dari pikiran, melainkan dari reruntuhan batin. Ia tidak disusun untuk indah, tidak dirancang agar rapi, tetapi mengalir seperti darah dari luka yang terlalu lama ditutup senyum. Unggahan Zahra adalah jenis tulisan yang tidak mengetuk pintu nurani, melainkan mendobraknya, lalu duduk di tengah puing-puing dengan tenang, seolah berkata, inilah sisa-sisa yang kalian minta untuk kulihatkan.

 

Tulisan itu tidak berisik, tetapi menggelegar. Tidak panjang, tetapi beratnya seperti kitab pengakuan dosa. Setiap kalimat terasa seperti palu yang dipukulkan ke dinding sunyi bernama keluarga, hukum, dan keadilan. Zahra tidak sedang menulis status. Ia sedang menggelar pengadilan batin, tanpa hakim, tanpa pembela, tanpa hukum acara, hanya ada luka dan Tuhan.

 

“Ayah, jika keadilan bumi enggan menghukummu.”

 

Kalimat ini seperti pintu yang ditutup pelan, tetapi meninggalkan gema panjang. Di sana, ada pengakuan getir, keadilan dunia kerap lelah berjalan, tertatih ketika harus mengejar mereka yang punya nama, kuasa, dan sejarah panjang jasa. Zahra seakan berkata, bumi ini punya hukum, tapi tidak selalu punya keberanian. Maka ia berhenti berharap pada palu hakim, lalu mengangkat wajah ke langit.

 

“Maka biarlah setiap helai rambutku yang terbuka menjadi saksi.”

 

Di titik ini, kesedihan berubah menjadi ironi yang kejam. Tubuh perempuan, yang selama ini paling mudah dijadikan objek moral, sasaran dosa, dan panggung penghakiman, ia jadikan arsip perlawanan. Rambut, yang kerap diperdebatkan, dipolitisasi, dan diseret ke mimbar-mimbar moral, justru dihadirkan sebagai saksi bisu. Zahra seolah berkata, jika aku selalu disalahkan, biarlah kesalahanku menjadi bukti. Jika aku selalu dituding, biarlah tudingan itu kubalikkan menjadi cermin.

 

“Menyeretmu ke pengadilan Tuhan.”

 

Inilah klimaks spiritual dari keputusasaan. Ketika dunia terlalu kecil untuk menampung kebenaran, manusia sering kali melemparkannya ke akhirat. Tuhan menjadi hakim terakhir, tempat keadilan tidak bisa disuap, tidak bisa ditunda, tidak bisa dinegosiasikan. Tetapi kalimat ini juga mengandung tragedi, betapa seorang anak harus sejauh itu melangkah, melewati ayahnya, melewati hukum, melewati dunia, hanya untuk berharap pada keadilan.

 

“Nikmatilah dunia sebagaimana kau menikmati pengkhianat yang merobek keluarga kita.”

 

Kalimat ini tidak marah. Ia dingin. Justru karena itu ia menusuk. Kata keluarga di sini tidak hadir sebagai rumah, melainkan sebagai medan perang. Ada pengkhianatan, ada luka, ada sesuatu yang hancur dari dalam. Ini bukan drama sinetron, tetapi tragedi klasik: rumah yang megah dari luar, tetapi retak di fondasi. Seperti semua tragedi besar, yang paling menderita justru mereka yang tidak pernah memilih peran.

 

“Sementara aku perlahan menenun jubah api untukmu, melalui tiap-tiap dosaku yang sengaja kupamerkan pada dunia.”

 

Ini adalah hiperbola paling menyedihkan. Zahra menjadikan dirinya altar pengorbanan. Dosanya, atau apa pun yang dunia cap sebagai dosa, dirajut menjadi jubah api. Ia sadar, publik gemar menyaksikan kehancuran personal sebagai hiburan. Maka ia menyuguhkannya, dengan pahit, dengan sadar, seolah berkata, jika lukaku adalah tontonan, maka saksikan sampai kalian lelah.

 

Unggahan itu pun viral. Media sosial berubah menjadi ruang sidang dadakan. Ada yang bersimpati, ada yang menghakimi, ada yang pura-pura bijak sambil tetap menikmati dramanya. Semua bicara, semua menafsir, semua merasa paling tahu. Padahal, yang berbicara sesungguhnya hanyalah seorang anak yang lelah memikul konflik orang dewasa.

 

Sampai hari ini, tidak ada klarifikasi. Tidak ada penjelasan. Keheningan itu justru menjadi gema paling keras. Diam, dalam konteks ini, bukan netral. Ia adalah ruang kosong yang diisi prasangka, spekulasi, dan luka yang semakin membusuk.

 

Zahra, atau lengkapnya Camillia Laetitia Azzahra. Ia lahir di Bandung, 17 Agustus 2004. Ia tumbuh di persimpangan yang tidak pernah ia pilih. Antara privasi dan sorotan, antara menjadi anak biasa dan simbol keluarga publik. Ia menekuni seni, bernyanyi di The Voice Kids, belajar arsitektur di ITB dan Newcastle University, Inggris. Ia peka, kreatif, dan seperti tampak dalam tulisannya, memiliki kepekaan filosofis yang lahir dari kehilangan, termasuk kepergian sang kakak, Eril, yang lebih dulu meninggalkan duka mendalam.

 

Tulisan Zahra bukan sekadar curahan emosi. Ia adalah potret generasi yang tumbuh di era di mana luka pribadi mudah menjadi konsumsi publik. Ia adalah kritik diam-diam terhadap dunia yang gemar menuntut klarifikasi, tetapi malas mendengarkan rasa sakit.

 

Pada akhirnya, ini bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia tentang betapa rapuhnya keadilan ketika berhadapan dengan kuasa. Tentang keluarga yang bisa runtuh tanpa suara. Tentang seorang anak yang terpaksa berbicara karena diam tidak lagi cukup.

 

Mungkin, di sanalah makna terdalamnya bersemayam. Di balik nama besar, jabatan tinggi, dan citra yang dibangun bertahun-tahun, selalu ada manusia yang bisa terluka. Ketika luka itu akhirnya berbicara, ia tidak meminta pengadilan. Ia hanya meminta didengar, sebelum berubah menjadi api yang tak lagi bisa dipadamkan.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Tips Mudik Lebaran Aman dan Nyaman

    5 Tips Mudik Lebaran Aman dan Nyaman

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Mudik menjadi tradisi yang selalu dinantikan menjelang perayaan Idul Fitri. Perjalanan kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Namun, perjalanan mudik sering kali diwarnai kepadatan lalu lintas dan perjalanan yang panjang. Karena itu, persiapan yang matang sangat penting agar mudik tetap aman dan nyaman.   Berikut lima tips yang […]

  • Dosen UIN Jakarta Berikan Masukan untuk Evaluasi Undang-Undang Pesantren

    Dosen UIN Jakarta Berikan Masukan untuk Evaluasi Undang-Undang Pesantren

    • calendar_month Jum, 21 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TANGERANG kanal31.com — Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren telah berhasil mengakui layanan pendidikan berbasis pondok pesantren, namun masih belum mendorong afirmasi anggaran yang adil. Hal ini disampaikan oleh Dr. Suwendi, M.Ag, dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta dan Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta, dalam acara “Pemantauan […]

  • Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    • calendar_month Rab, 6 Nov 2024
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    kanal31.com– Teka-teki soal biaya Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Rp.5 juta rupiah menjadi Rp6 juta mulai menemui titik terang. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Kabupaten Ciamis melalui ketuanya Angga Yogantara mengakui bahwa penambahan biaya PPG tersebut dilakukan oleh organisasi yang dia pimpin. Angga beralasan, penambahan biaya PPG yang ditetapkan Sekjen Kemenag itu dilakukan berdasarkan […]

  • Rifdah Farnidah, Dosen IIQ Juara 1 Hafalan Al-Qur’an 30 Juz Tingkat Dunia

    Rifdah Farnidah, Dosen IIQ Juara 1 Hafalan Al-Qur’an 30 Juz Tingkat Dunia

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31- Dosen Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta kembali mengharumkan nama bangsa. Rifdah Farnidah, dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) IIQ Jakarta ini meraih juara 1 MHQ (Musabaqah Hifzh al-Quran) kategori 30 juz pada 107’s Family Quranic Competition di Nigeria. Rifdah berhasil mengalahkan 87 peserta dari berbagai negara, antara lain: Ghana, Liberia, USA, India, Arab Saudi, […]

  • Santri Muda Nusantara Layangkan 5 Tuntutan soal Narasi Pelecehan Kiai dan Lirboyo di TV Swasta

    Santri Muda Nusantara Layangkan 5 Tuntutan soal Narasi Pelecehan Kiai dan Lirboyo di TV Swasta

    • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Ketua Santri Muda Nusantara (SAMUDRA), Ibrahim Nur A., atau akrab disapa daeng Ibe’ menyampaikan kecaman keras terhadap salah satu televisi swasta nasional yang menayangkan narasi berbau pelecehan terhadap Kiai dan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Dalam pernyataannya, Ibrahim menilai bahwa tayangan tersebut tidak hanya melukai hati para santri, tetapi juga merendahkan martabat para Kiai yang […]

  • FEBI Siapkan Generasi Cerdas untuk Indonesia Emas 2045

    FEBI Siapkan Generasi Cerdas untuk Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Rab, 12 Jun 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag kembali menegaskan komitmennya membangun kapasitas keilmuan di kalangan mahasiswa. Ini penting, agar kemampuan mereka terus meningkat, baik dari sisi ilmu pengetahuan, soft skill, atau hard skill. Dalam rangka menyiapkan generasi muda, yang nantinya menjadi tonggak […]

expand_less