Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Gaji Turun Setelah Jadi PPPK

Gaji Turun Setelah Jadi PPPK

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PURWAKARTA Kanal31.com — Seorang follower saya, namanya Rosid. Asal Purwakarta, Jawa Barat. Ia beberapa kirim pesan di kolom komentar, mengeluh gaji turun setelah diangkat menjadi pegawai PPPK. Berikut keluhan beliau yang saya coba narasikan gaya Koptagul, wak!

Ini bukan dongeng. Ini bukan fabel. Ini kisah nyata dari kolom komentar, berulang kali muncul seperti iklan pinjol yang tak bisa di-skip. Netizen datang membawa kalimat pendek tapi isinya berat: “Bang, gaji saya turun setelah jadi PPPK.” Saya suruh DM. Jangan setengah-setengah ngeluhnya. Setelah dibaca… astagfirullah. Selamat datang di alam paralel bernama birokrasi Indonesia tahun 2026, tempat logika sering tersandung map cokelat.

Mari kita mulai dari masa lalu yang sederhana tapi masuk akal. Seorang penjaga sekolah honorer. Bukan pejabat, bukan staf ahli, cuma manusia yang tiap subuh membuka gerbang pendidikan. Penghasilannya? Dua sumber rezeki. Data jelas, angka konkret, bukan asumsi. Rp1.000.000 dari Pemda, kadang telat, tapi datang. Rp1.000.000 dari honor BOS, rutin, manis, bikin hidup terasa manusiawi. Total Rp2.000.000. Tidak mewah, tapi cukup. Makan jalan, listrik nyala, pulsa isi, mie instan bisa pilih rasa, bukan pilih hari.

Lalu negara datang dengan musik kemenangan. “Selamat! Anda kini ASN PPPK paruh waktu!” Status naik. Grup WhatsApp sekolah pecah. Ada NIP. Ada BPJS Kesehatan. Ada BPJS Ketenagakerjaan. Ada janji THR dan gaji ke-13. Semua terdengar epik, seperti trailer film kepahlawanan birokrasi. Rasanya besok hidup bakal berubah.

Benar, hidup berubah. Ke arah yang… tak terduga.

Begitu status ASN disematkan, muncul aturan sakti mandraguna, honor BOS dilarang untuk ASN. Titik. Tak peduli sampeyan PPPK penuh waktu atau paruh waktu. Dana BOS mendadak jadi kitab suci. Hanya boleh buat kapur tulis, tinta printer, atau WC sekolah yang bocornya lebih tua dari penjaganya. Maka satu sumber penghasilan langsung raib. Hilang. Lenyaaaap.

Tinggallah gaji Pemda. Katanya sih “minimal setara honorer atau UMP”. Kata siapa? Di lapangan, angkanya turun dengan kejam dan telanjang, Rp940.000 per bulan. Dari Rp2.000.000, anjlok ke Rp940.000. Turun lebih dari setengah. Ini bukan penyesuaian, wak. Ini salto ke jurang. Selamat, nuan resmi jadi ASN dengan gaji di bawah garis logika.

Ironinya setebal kitab undang-undang. Status naik, gaji turun. Negara bilang kesejahteraan meningkat, dompet malah deflasi akut. Ini bukan mimpi buruk biasa, ini mimpi buruk versi low budget.

Jangan tertipu istilah paruh waktu. Di buku panduan tertulis 20–30 jam seminggu. Di dunia nyata? Subuh buka gerbang. Pagi nyapu halaman. Siang jaga sampai guru pulang jam dua, kadang molor karena rapat. Sore cek genteng, patroli maling, pastikan sekolah tak berubah jadi markas kelelawar. Jam kerja full, gaji setengah, tenaga habis. Lembur? Tidak dikenal. Yang dikenal hanya satu istilah, pengabdian.

THR? Ada. Tapi proporsional. Artinya kalau gaji pokok Rp940.000, ya THR-nya segitu-segitu juga. Gaji ke-13? Sama. BPJS memang aktif, tapi potongannya setia menggerogoti slip gaji. Netto makin tipis, senyum makin dipaksakan.

Inilah keajaiban itu. PPPK paruh waktu, program yang sukses mengubah penjaga sekolah honorer yang hidupnya pas-pasan tapi waras, menjadi ASN resmi yang hidupnya heran sendiri. Naik kelas status, turun kelas ekonomi. Beban kerja tetap, hak datang pelan-pelan seperti antrean sembako. Pemerintah bilang peduli, tapi pedulinya sambil menahan tawa anggaran.

Bertahanlah, wahai penjaga gerbang pendidikan. Kalian pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa honor BOS, dan hampir tanpa saldo. Ini bukan sekadar kebijakan. Ini seni absurd tingkat tinggi. Bravo, birokrasi. Pembaca heran? Wajar. Yang ngalamin… lebih heran lagi.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolaborasi Alumni-Kampus Menuju UIN Bandung Unggul, Inklusif, dan Progresif

    Kolaborasi Alumni-Kampus Menuju UIN Bandung Unggul, Inklusif, dan Progresif

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Pelantikan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni (PP IKA) periode 2025–2030 sebagai momentum strategis memperkuat sinergi antara alumni dan almamater. Acara yang berlangsung di Gedung Anwar Musadad, Kampus I UIN Bandung ini turut menandai Pengurus Pusat yang dikomandoi oleh Drs. H. Cucu Sutara, MM, […]

  • 3 Pasangan Selebritas Rayakan Malam Natal di Luar Negeri

    3 Pasangan Selebritas Rayakan Malam Natal di Luar Negeri

    • calendar_month Rabu, 25 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, KANAL31.COM — Merayakan Natal bersama keluarga adalah hal yang ditunggu-tunggu karena momen spesial yang datang setahun sekali. Selain di Indonesia, beberapa selebritas merayakan semarak Natal di luar negeri untuk pengalaman lain pada perayaan tahun ini. Dilansir dari laman Antara, berikut ini tiga artis yang merayakan Natal di luar negeri yang dipantau dari media sosial […]

  • Top! 40 Pesantren Miliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

    Top! 40 Pesantren Miliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31. com — Pondok pesantren ikut terlibat aktif dalam menyukseskan program prioritas Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini ditandai dengan berdirinya sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah pesantren.   Direktur Pesantren Basnang Said mengatakan, ada 40 SPPG yang kini dikelola pesantren. “Alhamdulillah, sampai saat ini sudah ada 40 titik pesantren yang […]

  • Momentum Perkuat Nilai Keislaman yang Inklusif

    Momentum Perkuat Nilai Keislaman yang Inklusif

    • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TASIKMALAYA kanal31.com — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri puncak peringatan Milad ke-120 Pondok Pesantren (Ponpes) Suryalaya di Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (5/9/2025). Acara ini diikuti ribuan jamaah dan perwakilan dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan Singapura.   Dalam sambutannya, KDM – sapaan akrab Gubernur Dedi – mengapresiasi peran Ponpes Suryalaya dalam membina umat dan mengembangkan […]

  • Selamat! Menag Terima Penghargaan Tokoh Kerukunan Umat Beragama

    Selamat! Menag Terima Penghargaan Tokoh Kerukunan Umat Beragama

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar, menerima penghargaan sebagai Tokoh Kerukunan Umat Beragama kategori Indeks Kerukunan Umat Beragama Tertinggi sejak survei 2015. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi Kemenag dalam memelihara kerukunan antar umat beragama. Apresiasi ini diberikan dalam Penganugerahan Indoposco kepada Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik Ismail Cawidu yang hadir […]

  • Penguatan Integrasi Agama dan Budaya Lokal dalam Kurikulum Program S2 Studi Agama-Agama

    Penguatan Integrasi Agama dan Budaya Lokal dalam Kurikulum Program S2 Studi Agama-Agama

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com –Program Studi Magister (S2) Studi Agama-Agama, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menggelar Workshop Kurikulum bertajuk “Memahami Agama dan Budaya Lokal melalui Kasepuhan Adat Gelaralam” di Aula Lantai 4 (Cinema), Kamis (18/9/2025). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mengembangkan kurikulum yang mampu mengintegrasikan kajian agama dengan khazanah kearifan lokal, sehingga kajian akademik tidak […]

expand_less