Sambut Ramadan, Menag Ajak Umat Perkuat Empati dan Solidaritas Sosial
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Sen, 9 Feb 2026
- comment 0 komentar

GOWA Kanal31.com — Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menekankan peran penting penguatan aspek spiritual yang dibarengi dengan empati dan solidaritas sosial. Pesan ini disampaikan Menag saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar di Masjid UIN Alauddin Kampus 2, Gowa, Sulawesi Selatan.
Menag menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj yang diperingati sebelum Ramadan merupakan “prolog” atau persiapan mental bagi umat Islam. Menurutnya, ibadah di bulan Ramadan tidak boleh hanya berhenti pada ritual formal, melainkan harus menyentuh kedalaman batin dan kepedulian terhadap sesama.
“Menjelang mulai syukur Ramadan, Bapak-Ibu sekalian, ada prolog yang Allah berikan kepada kita semuanya sebagai shock therapy untuk menghadapi Ramadan, yaitu Isra’ Mi’raj,” ujar Menag Nasaruddin Umar di hadapan jamaah, Senin (9/2/2026).
Menag menggarisbawahi bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali “kesucian” dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan alam semesta. Menag mengajak umat untuk mengalihkan fokus dari sekadar mengejar pahala personal menuju pencarian rida Allah melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang lain.
“Kita jangan mengejar Lailatul Qadr. Mana lebih penting kita mencari Lailatul Qadr atau mencari yang menurunkan Lailatul Qadr? Lailatul Qadr itu makhluk, surga itu makhluk. Yang kita butuhkan adalah siapa yang menurunkan Lailatul Qadr, Allah SWT,” tegas Menag.
Menag menambahkan bahwa semangat solidaritas sosial lahir dari rasa cinta yang tulus kepada Sang Pencipta. Mengutip filosofi Rabi’ah Adawiyah, Menag menekankan bahwa ibadah yang didasari cinta (mahabbah) akan melahirkan rasa kasih sayang yang tulus kepada sesama tanpa sekat.
“Saya menyembah Tuhan karena I love you my God. Saya mencintaimu. Jadi kalau mahabbah yang berbicara, kecil itu surga, kecil itu neraka. Kita harus yakin betul bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang,” tambahnya.
Menag mengingatkan bahwa keberagaman dan perbedaan pendapat di tengah masyarakat harus disikapi sebagai rahmat untuk memperkuat persaudaraan, sebagaimana tradisi yang diajarkan para sahabat Nabi. Strategi komunikasi Kementerian Agama dalam menyambut Ramadan tahun ini memang diarahkan untuk membangun narasi Islam yang damai, toleran, dan solutif terhadap problematika sosial.
“Perbedaan pendapat di antara umat itu adalah rahmat. Kita kadang-kadang mendebat orang tidak ada cinta. Jadikan setiap langkah sebagai ibadah, karena dengan menyandarkan segala sesuatu kepada Allah, maka beban seberat apa pun akan menjadi ringan,” tutup Menag.
Menag mengimbau seluruh masyarakat untuk menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai madrasah untuk mengasah kepekaan sosial, menjaga kelestarian alam melalui ekoteologi, dan mempererat tali silaturahmi demi bangsa yang lebih harmonis.
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis Kemenag

Saat ini belum ada komentar