Fiqh dan Hikmah I‘tikaf Akhir Romadon
- account_circle S. Miharja, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Jum, 13 Mar 2026
- comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — I‘tikaf (الاعتكاف) merupakan salah satu ibadah yang memiliki dimensi spiritual, psikologis, sosial dalam Islam. Secara bahasa, i‘tikaf berarti menetap atau berdiam diri. Secara istilah fiqh, i‘tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah dalam waktu tertentu, menjauhi kesibukan dunia untuk memperbanyak salat, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan doa.
1- Landasan Al-Qur’an
Dasar i‘tikaf disebut dalam Al-Qur’an:
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kamu mencampuri mereka (pasangan) ketika kamu sedang beri‘tikaf di dalam masjid.” QS. Qur’an 2:187
Ayat ini menegaskan bahwa i‘tikaf dilakukan di masjid sebagai sarana mengkhususkan waktu untuk beribadah.
2- Landasan Hadis
Praktik i‘tikaf dijelaskan secara rinci melalui hadis-hadis Nabi ﷺ:
I‘tikaf sepuluh hari terakhir Ramadan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Rasulullah ﷺ selalu beri‘tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan sampai beliau wafat.” HR. Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim
Mencari Lailatul Qadar melalui i‘tikaf:
إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ…
“Aku beri‘tikaf sepuluh hari pertama untuk mencari malam itu (Lailatul Qadar), lalu diberitahukan bahwa malam itu di sepuluh hari terakhir.” HR. Sahih Muslim
Menghidupkan malam dan membangunkan keluarga:
كَانَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya.” HR. Sahih al-Bukhari
3- Fiqh I‘tikaf
Menurut mayoritas ulama, i‘tikaf memiliki dimensi fiqh.
Sunnah muakkadah bagi semua muslim, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Wajib jika seseorang bernazar untuk melakukannya.
Rukun i‘tikaf: Muslim, baligh, berakal, suci dari hadas besar. Niat Ikhlas beribadah kepada Allah. Berdiam diri di masjid. Tinggal di masjid selama periode i‘tikaf.
Hal-hal yang dianjurkan selama i‘tikaf:
Membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, Salat sunnah, Muhasabah diri dan tafakur
Hal-hal yang membatalkan i‘tikaf:
Keluar masjid tanpa keperluan mendesak
Hubungan suami istri
Haid atau nifas
Hilang akal
4- Hikmah dan Perspektif Psikologis
I‘tikaf memungkinkan seorang muslim membebaskan diri dari kesibukan dunia, meningkatkan kualitas spiritual, dan melatih kesabaran serta pengendalian diri.
Perspektif psikologi religius menyatakan i‘tikaf sebagai retret spiritual: menenangkan pikiran, memperkuat konsentrasi, dan membangun keseimbangan emosional. Secara sosial, i‘tikaf memperkuat solidaritas jamaah dan menumbuhkan budaya religius dalam masyarakat.
I‘tikaf adalah ibadah yang memiliki nilai ritual, fiqh, spiritual, dan psikologis. Dilaksanakan di masjid dengan niat ikhlas, i‘tikaf memungkinkan individu memperdalam kedekatan dengan Allah, meningkatkan kualitas ibadah, dan menyeimbangkan kehidupan dunia-akhirat. Dalam konteks modern, i‘tikaf menjadi sarana penting untuk refleksi diri dan penguatan spiritual.
S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Penulis: S. Miharja, Dosen UIN Bandung

Saat ini belum ada komentar