Jumat, 17 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Ming, 31 Mei 2026
  • comment 0 komentar

(Kekacauan Berpikir tentang Muslim dan Syiah)

BANDUNG kanal31.com — Menyebut Muslim atau bukan Muslim itu harus jelas. Caranya, tentukan kategorinya atau konteksnya. Dalam kategeori atau konteks apa kita bicara atau menyebut Muslim? Kategori akidah, madzhab fiqh, politik atau sosiologis?

 

Madzhab pun macam-macam bisa dirinci lagi. Ada madzhab aqidah, madzhab fiqih dan madzhab pemikiran.

 

Kalau kategorinya jelas, tidak akan ada keributan diakibatkan kekacauan berpikir tentang Muslim dan Syi’ah (Al-Munqiz minal Muslim wa Syi’ah). Keributan disebabkan tidak jelasnya kategori pembicaraan.

 

Kalau kita mengatakan Syiah itu bukan Muslim, dan menyebut diri kita Muslim, itu pernyataan yang salah.

 

Melawankan Syiah dengan Muslim itu menyalahi kategori. Harusnya, Syi’ah dilawankan dengan Sunni, bukan dengan Muslim.

 

Kalau kita mengatakan orang lain Syi’ah untuk membedakan dengan kita, kita harus menyebut diri Sunni, bukan Muslim. Begitu yang benar. Muslim itu lawannya non-Muslim, beriman lawannya kafir, Syi’ah “lawannya” Sunni.

 

Dalam kategori sosiologis, semua orang yang KTP-nya Islam, keluarga Islam atau kelompok dan aktifis organisasi Islam ya Muslim, mau shalat atau tidak shalat, mau Sunni atau Syiah, mau Ahmadiyah atau Sunda Empire.

 

Sosiologis itu artinya bicaranya kelompok sosial. Disini jangan bicara benar tidaknya keimanan, lurus tidak keimanan. Jadi kacau nanti. Evaluasi kebenaran itu bukan kategori sosiologis.

 

Kalau Syiah itu imannya sesat karena menganggap wahyu itu harusnya turun kepada Ali bin Abi Thalib bukan kepada Muhammad,

 

atau para sahabat dekat Nabi, Abu bakar dan Umar bin Khattab, itu ahli neraka,

 

atau Abu Bakar merebut hak Ali untuk jadi khalifah pertama,

 

atau syahadat dan shalatnya beda, ya sudah itu keyakinan kelompok Syiah saja.

 

Menilai keislaman dan kemuslimannya itu haknya Allah, tapi secara sosiologis mereka adalah Muslim, artinya mereka itu orang² Islam bukan orang Barat, Bule, Cina atau orang Mexico.

 

Soal keimanan yang aneh, kita bisa mengatakan Syiah itu ngaco, tapi menilai kemusliman sebagai kualitas, problemnya bisa ke diri sendiri.

 

Soal Muslim yang benar, kita sendiri saja belum tentu benar iman dan akidahnya. Betapa banyak yang ngakunya Muslim tapi yang disembahnya uang, harta, jabatan, posisi dan kekuasaan.

 

Kalau ke substansi, kita yang mengakui Muslim juga di mata Allah belum tentu Muslim. Betapa banyak yang mengaku Muslim, aslinya munafik.

 

Substansi itu wilayah esensi atau inti. Wilayah substansi itu berat, kebanyakan kita tidak sanggup mencapainya.

 

Muslim tapi tak suka nasehat, Muslim tapi sering ingkar janji dan mudah berdusta, Muslim tapi munafik, Muslim tapi pelit, Muslim tapi korupsi, Muslim tapi hatinya kotor dan keras membatu, Muslim tapi ngomong yang benar takut dipecat dari jabatan, itu semuanya menunjukkan kebelum-musliman kita.

 

Atau rajin shalat berjamaah tapi termasuk “fawailul lil mushallin” (celakalah bagi orang-orang yang shalat!),

 

atau betapa banyak pembaca Al-Qur’an tapi Al-Qur’an justru melaknat pembacanya karena Qur’annya hanya di mulut, di kerongkongan atau hanya di pikirannya, tidak masuk ke hati dan jiwanya.

 

Itu semua kemusliman di wilayah substansi, Muslim yang sebenarnya.

 

Muslim di kategori ini, berani kita menyebut diri sebagai Muslim?

 

Kalau pengakuan sebagai identitas dan percaya diri, itu perlu, tapi bila sebagai pengakuan sudah menjadi Muslim yang benar, itu bisa jadi kesombongan, belum tentu di mata Allah.

 

Jangankan kita, yang kita sebut ulama saja, belum tentu di mata Allah, dia ulama.

 

Jangan-jangan sedang memalingkan umat dari kebenaran dengan penguasaan ayat-ayat Qur’an dan haditsnya.

 

Jadi, lawankanah Syi’ah dengan Sunni bukan dengan Muslim. Kalau dilawankan dengan Muslim pasti akan bermasalah terus, perdebatan terus gak beres-beres, melelahkan, karena memang salah kategori.

 

“Dia Syi’ah, saya Sunni.” “Dia non Muslim, saya Muslim.” Begitu yang benar. Itu namanya tertib pikiran, akal sehat, sehat wal wal afiat.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jejak Skeptisisme dalam Epistemologi Modern

    Jejak Skeptisisme dalam Epistemologi Modern

    • calendar_month Rab, 15 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Ada masa ketika pengetahuan diyakini sebagai cermin yang jernih, yang memantulkan dunia sebagaimana adanya. Manusia merasa berada di posisi istimewa dalam semesta sebagai makhluk rasional yang mampu menyingkap hakikat realitas melalui kekuatan akalnya. Di bawah terang pencerahan, keyakinan ini menjadi hampir seperti iman baru, bahwa segala sesuatu yang dapat dipahami dengan jelas […]

  • Peringati Isra’ Mi’raj, Jadikan Masjid sebagai Jalan Perubahan Umat

    Peringati Isra’ Mi’raj, Jadikan Masjid sebagai Jalan Perubahan Umat

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Dalam Peringatan Isra’ Mi’raj yang digelar di di Masjid As-Syifa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Menteri Agama Nasaruddin Umar, menyampaikan gagasan tentang “Pemberdayaan Umat Melalui Masjid”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Divisi Bedah Saraf, Departemen Neurologi, beserta jajaran staff terkait lainnya, Kamis, (15/01/2026). Menag menegaskan bahwa masjid sejak masa Rasulullah bukan sekadar […]

  • Pegiat Literasi dan Penulis, Yuk Ikutan Kepustakaan Islam Award 2024. Simak Baik-baik Ketentuannya!

    Pegiat Literasi dan Penulis, Yuk Ikutan Kepustakaan Islam Award 2024. Simak Baik-baik Ketentuannya!

    • calendar_month Jum, 20 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jakarta) — Kementerian Agama (Kemenag) membuka pendaftaran Kepustakaan Islam Award 2024. Penghargaan ini digelar untuk mendorong pertumbuhan ekosistem literasi, terutama bagi penulis, aktivis literasi, serta penerbit buku keagamaan. “Penghargaan ini dilatarbelakangi oleh keinginan kuat untuk memajukan literasi Islam di Indonesia, khususnya di kalangan praktisi kepustakaan, pegiat literasi dan penulis yang berperan dalam pengembangan kepustakaan Islam,” […]

  • Wali Kota Larang Siswa Bawa HP ke Sekolah

    Wali Kota Larang Siswa Bawa HP ke Sekolah

    • calendar_month Jum, 2 Mei 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Pemerintah Kota Bandung menggulirkan berbagai kebijakan strategis di sektor pendidikan. Di antaranya, penguatan integritas, karakter, serta perlindungan terhadap anak didik di tengah tantangan zaman digital. Salah satu kebijakan penting adalah pelarangan membawa handphone (HP) ke sekolah bagi para siswa, mengikuti kebijakan serupa dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. […]

  • Ini Soal Kebertubuhan. Apa Maksudnya?

    Ini Soal Kebertubuhan. Apa Maksudnya?

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

      Dr Radea Juli A Hambali, MHum, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung   Dalam arus kehidupan normal sehari-hari, kita jarang menyoal, menyadari bahkan memikirkan keberadaan tubuh kita. Tangan. Kaki. Kepala. Mulut, dan bagian-bagian lainnya, seluruhnya seumpama bergerak secara mekanis. Baru ketika bagian tertentu tubuh kita sakit, kita mulai menyadari dan […]

  • 5 Tips Mudik Lebaran Aman dan Nyaman

    5 Tips Mudik Lebaran Aman dan Nyaman

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Mudik menjadi tradisi yang selalu dinantikan menjelang perayaan Idul Fitri. Perjalanan kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Namun, perjalanan mudik sering kali diwarnai kepadatan lalu lintas dan perjalanan yang panjang. Karena itu, persiapan yang matang sangat penting agar mudik tetap aman dan nyaman.   Berikut lima tips yang […]

expand_less