Senin, 1 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

(Kekacauan Berpikir tentang Muslim dan Syiah)

BANDUNG kanal31.com — Menyebut Muslim atau bukan Muslim itu harus jelas. Caranya, tentukan kategorinya atau konteksnya. Dalam kategeori atau konteks apa kita bicara atau menyebut Muslim? Kategori akidah, madzhab fiqh, politik atau sosiologis?

 

Madzhab pun macam-macam bisa dirinci lagi. Ada madzhab aqidah, madzhab fiqih dan madzhab pemikiran.

 

Kalau kategorinya jelas, tidak akan ada keributan diakibatkan kekacauan berpikir tentang Muslim dan Syi’ah (Al-Munqiz minal Muslim wa Syi’ah). Keributan disebabkan tidak jelasnya kategori pembicaraan.

 

Kalau kita mengatakan Syiah itu bukan Muslim, dan menyebut diri kita Muslim, itu pernyataan yang salah.

 

Melawankan Syiah dengan Muslim itu menyalahi kategori. Harusnya, Syi’ah dilawankan dengan Sunni, bukan dengan Muslim.

 

Kalau kita mengatakan orang lain Syi’ah untuk membedakan dengan kita, kita harus menyebut diri Sunni, bukan Muslim. Begitu yang benar. Muslim itu lawannya non-Muslim, beriman lawannya kafir, Syi’ah “lawannya” Sunni.

 

Dalam kategori sosiologis, semua orang yang KTP-nya Islam, keluarga Islam atau kelompok dan aktifis organisasi Islam ya Muslim, mau shalat atau tidak shalat, mau Sunni atau Syiah, mau Ahmadiyah atau Sunda Empire.

 

Sosiologis itu artinya bicaranya kelompok sosial. Disini jangan bicara benar tidaknya keimanan, lurus tidak keimanan. Jadi kacau nanti. Evaluasi kebenaran itu bukan kategori sosiologis.

 

Kalau Syiah itu imannya sesat karena menganggap wahyu itu harusnya turun kepada Ali bin Abi Thalib bukan kepada Muhammad,

 

atau para sahabat dekat Nabi, Abu bakar dan Umar bin Khattab, itu ahli neraka,

 

atau Abu Bakar merebut hak Ali untuk jadi khalifah pertama,

 

atau syahadat dan shalatnya beda, ya sudah itu keyakinan kelompok Syiah saja.

 

Menilai keislaman dan kemuslimannya itu haknya Allah, tapi secara sosiologis mereka adalah Muslim, artinya mereka itu orang² Islam bukan orang Barat, Bule, Cina atau orang Mexico.

 

Soal keimanan yang aneh, kita bisa mengatakan Syiah itu ngaco, tapi menilai kemusliman sebagai kualitas, problemnya bisa ke diri sendiri.

 

Soal Muslim yang benar, kita sendiri saja belum tentu benar iman dan akidahnya. Betapa banyak yang ngakunya Muslim tapi yang disembahnya uang, harta, jabatan, posisi dan kekuasaan.

 

Kalau ke substansi, kita yang mengakui Muslim juga di mata Allah belum tentu Muslim. Betapa banyak yang mengaku Muslim, aslinya munafik.

 

Substansi itu wilayah esensi atau inti. Wilayah substansi itu berat, kebanyakan kita tidak sanggup mencapainya.

 

Muslim tapi tak suka nasehat, Muslim tapi sering ingkar janji dan mudah berdusta, Muslim tapi munafik, Muslim tapi pelit, Muslim tapi korupsi, Muslim tapi hatinya kotor dan keras membatu, Muslim tapi ngomong yang benar takut dipecat dari jabatan, itu semuanya menunjukkan kebelum-musliman kita.

 

Atau rajin shalat berjamaah tapi termasuk “fawailul lil mushallin” (celakalah bagi orang-orang yang shalat!),

 

atau betapa banyak pembaca Al-Qur’an tapi Al-Qur’an justru melaknat pembacanya karena Qur’annya hanya di mulut, di kerongkongan atau hanya di pikirannya, tidak masuk ke hati dan jiwanya.

 

Itu semua kemusliman di wilayah substansi, Muslim yang sebenarnya.

 

Muslim di kategori ini, berani kita menyebut diri sebagai Muslim?

 

Kalau pengakuan sebagai identitas dan percaya diri, itu perlu, tapi bila sebagai pengakuan sudah menjadi Muslim yang benar, itu bisa jadi kesombongan, belum tentu di mata Allah.

 

Jangankan kita, yang kita sebut ulama saja, belum tentu di mata Allah, dia ulama.

 

Jangan-jangan sedang memalingkan umat dari kebenaran dengan penguasaan ayat-ayat Qur’an dan haditsnya.

 

Jadi, lawankanah Syi’ah dengan Sunni bukan dengan Muslim. Kalau dilawankan dengan Muslim pasti akan bermasalah terus, perdebatan terus gak beres-beres, melelahkan, karena memang salah kategori.

 

“Dia Syi’ah, saya Sunni.” “Dia non Muslim, saya Muslim.” Begitu yang benar. Itu namanya tertib pikiran, akal sehat, sehat wal wal afiat.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yuk! Intip Lebih Dekat Replika Sandal Rasul di Museum Sejarah Islam Bekasi

    Yuk! Intip Lebih Dekat Replika Sandal Rasul di Museum Sejarah Islam Bekasi

    • calendar_month Kam, 18 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAl31.COM Museum Sejarah Islam di kawasan Transera Waterpark Bekasi Jawa Barat, menghadirkan sejumlah koleksi replika peninggalan Nabi dan para sahabatnya. Bagi Anda yang gemar berwisata religi sambil belajar seputar sejarah Islam, kini bisa menyaksikan jejak peninggalan Rasulullah melalui koleksi yang ada di Museum Sejarah Islam tersebut. Salah satunya, seperti replika sandal Nabi Muhammad SAW yang […]

  • Sejak Mahasiswa, Fakultas Psikologi UIN Bandung Siapkan Calon Pemimpin Jujur dan Disiplin

    Sejak Mahasiswa, Fakultas Psikologi UIN Bandung Siapkan Calon Pemimpin Jujur dan Disiplin

    • calendar_month Rab, 15 Mei 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

      KANAL31.COM — Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Dr. H. Ujang Rohman, M.Ag meminta mahasiswanya agar memahami dengan baik apa yang menjadi pondasi dalam meningkatkan keterampilan berorganisasi/kepemimpinan. Di tengah kesibukan perkuliahan, juga berbagai kegiatan berorganisasi, mahasiswa hendaknya membudayakan kejujuran dan kedisiplinan. Demikian Dr. Ujang Rohman, saat memberikan sambutan Pembinaan Mahasiswa, di […]

  • Jelang Muludan, Aplikasi KESAN Rilis Fitur Maulid

    Jelang Muludan, Aplikasi KESAN Rilis Fitur Maulid

    • calendar_month Sel, 4 Okt 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Menyambut Maulid Nabi Muhammad, aplikasi Islami KESAN resmi meluncurkan fitur Maulid pada Senin (03/10/2022). Dengan hadirnya fitur tersebut, umat Islam tidak hanya dapat dengan mudah membaca ragam maulid, tetapi juga mendengarkan lantunannya. CEO Aplikasi KESAN Hamdan Hamedan menjelaskan bahwa tingginya animo membaca maulid menjadi alasan dikembangkannya fitur ini. Terlebih lagi, umat Islam di Indonesia […]

  • RA Kartini dan Persilangan Mentalitas

    RA Kartini dan Persilangan Mentalitas

    • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • 0Komentar

    Sebuah Spiritualitas di Titik Balik BANDUNG kanal31.com   Sosok Raden Ajeng Kartini (selanjutnya ditulis RA Kartini) merupakan sebuah entitas korpus utuh yang memiliki dimensi yang kompleks. Oleh karen itu, untuk menyusun narasinya dengan kacamata sejarah sosial berarti kita tidak boleh melihatnya sekadar sebagai pahlawan emansipasi yang terisolasi (the isolated women). Pengkajiannya harus memandangnya sebagai sebuah […]

  • 6 Larangan Saat Haid yang Harus Diketahui Muslimah

    6 Larangan Saat Haid yang Harus Diketahui Muslimah

    • calendar_month Sel, 6 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Larangan yang harus ditaati dan diketahui wanita muslimah merupakan keharusan yang dipelajari agar tidak berdosa. Penetapan ini dilakukan agar wanita muslimah bisa memunculkan batasan-batasan ibadah yang sekaligus menjadi gugurnya kewajiban salat, menjalankan puasa, berhubungan suami istri dan sebagainya. Meskipun ada batasan dan larangan yang harus ditaati saat haid, bukan berarti wanita muslimah kehilangan pahala saat […]

  • Dharmasanti Waisak 2023 Momentum Teguhkan Moderasi Beragama

    Dharmasanti Waisak 2023 Momentum Teguhkan Moderasi Beragama

    • calendar_month Sab, 1 Jul 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Kementerian Agama hari ini menggelar Dharmasanti Tri Suci Waisak Nasional 2023 dengan mengusung tema Merajut Kebersamaan dan Harmoni dalam Moderasi Beragama. Mewakili Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi mengatakan Dharmasanti Tri Suci Waisak merupakan momen yang sangat penting dalam kehidupan umat beragama Buddha khususnya. “Pesan penting yang dapat dipetik dari acara ini […]

expand_less