Sabtu, 13 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Munafik, Akar dari Banyak Masalah Indonesia 

Munafik, Akar dari Banyak Masalah Indonesia 

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Ming, 7 Jun 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG, kanal31.com — Salah satu tesis yang sering muncul dalam diskusi tentang Indonesia, termasuk dalam esai terkenal Moechtar Lubis bahwa karakter manusia Indonesia itu adalah munafik. Kita tidak bisa menolak, ada banyak fakta yang mendukung pandangan tersebut. Kita sering melihat jarak antara nilai yang diucapkan dan perilaku nyata.

 

Misalnya, mengecam korupsi, tetapi memaklumi korupsi “asal kelompok sendiri.” Menuntut kejujuran, tetapi menganggap wajar kebohongan kecil yang menguntungkan diri sendiri. Mengagungkan agama dan moralitas, tetapi tidak selalu konsisten dalam praktik publik. Menuntut pemimpin bersih, tetapi masih ada politik uang yang diterima oleh banyak pemilih.

 

Dalam konteks itu, masalah penting Indonesia memang bukan sekadar sistem, melainkan budaya politik dan budaya sosial. Sistem itu dilahirkan dan dibentuk oleh budaya masyarakatnya.

 

Tetapi tidak benar juga bila dikatakan manusia Indonesia lebih munafik dibanding bangsa lain. Hampir semua bangsa memiliki unsur kemunafikan. Yang membedakan, biasanya adalah apakah sistem sosial dan politik mampu membatasi dampaknya.

 

Di banyak negara maju, orang tidak otomatis lebih suci atau lebih bermoral. Namun institusi mereka sering lebih kuat. Seorang pejabat yang berbohong bisa kehilangan jabatan. Seorang pengusaha yang menyuap bisa kehilangan bisnis. Konsekuensi nyata membuat kemunafikan menjadi lebih mahal.

 

Karena itu, selain benar bahwa kemunafikan adalah sumber masalah kita, saya merumuskan akar masalah Indonesia sedikit berbeda yaitu kesadaran warga yang belum matang bertemu dengan sistem yang longgar dalam memberi konsekuensi terhadap perilaku buruk. Lebih dari sekadar mengutuk kemunafikan, kombinasi itulah yang berbahaya.

 

Kalau kesadaran rendah tetapi sistem kuat, kerusakan masih bisa dibatasi. Kalau sistem lemah tetapi kesadaran tinggi, masyarakat masih bisa menopang dirinya. Yang sulit adalah ketika keduanya tidak beriring kuat secara bersamaan.

 

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia tidak kekurangan orang saleh. Indonesia bahkan tidak kekurangan orang yang tahu mana salah benar. Yang kurang adalah keberanian kolektif untuk konsisten menjalankan yang benar ketika itu bertentangan dengan kepentingan pribadi, kelompok, atau kekuasaan.

 

Di situlah persoalan “kemunafikan” yang dikritik Moechtar Lubis menjadi relevan. Bukan semata-mata karena orang Indonesia tidak tahu nilai yang baik, melainkan karena terlalu sering terjadi pemisahan antara nilai yang diyakini, nilai yang diucapkan, dan nilai yang dijalankan dalam kehidupan publik. Ketika jarak itu menjadi kebiasaan sosial, ia dapat menjelma menjadi salah satu sumber utama krisis politik, ekonomi, dan hukum yang hingga kini terus berulang.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

    Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

    • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Anak yang “gagal” di keluarga dan “tidak menjadi apa-apa,” ada di rumah mengurus orang tuanya sampai tua, seringkali lebih bermakna dan terasa manfaatnya ketimbang anak-anak yang “sukses” di kota-kota besar, jabatannya tinggi dan mentereng, jadi ini itu, tapi sulit pulang dan tak ada waktu sering menengok orang tuanya yang sudah report apalagi sakit-sakitan. […]

  • G.E. Moore dan Jebakan ‘Pepesan Kosong’ dalam Resolusi Bernegara Kita

    G.E. Moore dan Jebakan ‘Pepesan Kosong’ dalam Resolusi Bernegara Kita

    • calendar_month Sel, 6 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — “APA resolusimu di tahun 2026?” Seorang dosen bertanya dalam sebuah forum diskusi kecil beberapa saat sebelum pergantian tahun 2025 ke 2026. Orang-orang serentak menjawab dengan beragam rencana, agenda, atau program yang sangat personal. Saya tidak lantas ikut menjawab. Saya memilih berhati-hati dan menimbang: apakah pertanyaan itu memang membutuhkan jawaban segera, atau jangan-jangan, pertanyaan […]

  • Konferensi Mahasiswa ke-3 Digelar Virtual Besok

    Konferensi Mahasiswa ke-3 Digelar Virtual Besok

    • calendar_month Ming, 29 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG, Konferensi Mahasiswa adalah agenda tahunan forum ilmiah mahasiswa. Ia merupakan rangkaian peristiwa kepenulisan artikel dan publikasi ilmiah berbasis riset kolaboratif dosen dan mahasiswa. Agenda 1 tahun 2020 level lokal. Agenda 2 tahun 2021 sudah mulai menggandeng mahasiswa lintas pendidikan tinggi dalam negeri. Saat ini, agenda 3 tahun 2022 sedang diupayakan menjangkau akademisi mancanegara. Mahasiswa […]

  • 6 Larangan Saat Haid yang Harus Diketahui Muslimah

    6 Larangan Saat Haid yang Harus Diketahui Muslimah

    • calendar_month Sel, 6 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Larangan yang harus ditaati dan diketahui wanita muslimah merupakan keharusan yang dipelajari agar tidak berdosa. Penetapan ini dilakukan agar wanita muslimah bisa memunculkan batasan-batasan ibadah yang sekaligus menjadi gugurnya kewajiban salat, menjalankan puasa, berhubungan suami istri dan sebagainya. Meskipun ada batasan dan larangan yang harus ditaati saat haid, bukan berarti wanita muslimah kehilangan pahala saat […]

  • Haedar Nashir : Dorong Akademisi Lakukan Penelitian tentang Perdamaian

    Haedar Nashir : Dorong Akademisi Lakukan Penelitian tentang Perdamaian

    • calendar_month Jum, 23 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan bahwa nalar instrumental – paradoks yang dipedomani oleh sebagian manusia bisa menjadi ancaman bagi perdamaian di masa-masa yang akan datang.Guru Besar Sosiologi ini mendorong kepada akademisi untuk melakukan penelitian yang lebih luas tentang perdamaian, terlebih yang terkait dengan nalar-nalar instrumental – paradoks ini. Ketika kebahagiaan didapatkan dari […]

  • Kualitas Bersaing dan Dilirik Pasar! Gapoktan Ranting’s Anggur

    Kualitas Bersaing dan Dilirik Pasar! Gapoktan Ranting’s Anggur

    • calendar_month Sel, 25 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Kelompok Buruan Sae Kelurahan Mengger (Gapoktan Ranting’s Anggur) kembali membuktikan keberhasilannya dalam mengelola pertanian perkotaan. Pada panen kali ini, mereka berhasil memanen beragam sayuran segar serta anggur berkualitas tinggi yang mulai dilirik pasar ritel Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengapresiasi kelompok ini. Menurutnya, Buruan Sae […]

expand_less