Breaking News:
Beranda » NETIZEN » G.E. Moore dan Jebakan ‘Pepesan Kosong’ dalam Resolusi Bernegara Kita

G.E. Moore dan Jebakan ‘Pepesan Kosong’ dalam Resolusi Bernegara Kita

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG Kanal31.com — “APA resolusimu di tahun 2026?” Seorang dosen bertanya dalam sebuah forum diskusi kecil beberapa saat sebelum pergantian tahun 2025 ke 2026. Orang-orang serentak menjawab dengan beragam rencana, agenda, atau program yang sangat personal.

Saya tidak lantas ikut menjawab. Saya memilih berhati-hati dan menimbang: apakah pertanyaan itu memang membutuhkan jawaban segera, atau jangan-jangan, pertanyaan itu sendiri belum kita pahami akarnya?

Kehati-hatian ini membawa ingatan saya pada tokoh filsafat analitik, George Edward Moore (1873–1958). Dalam mahakaryanya, Principia Ethica (1903), Moore mengingatkan bahwa kesulitan dan ketidaksepakatan dalam sejarah pemikiran manusia sering kali disebabkan oleh penyebab yang sangat sederhana: upaya untuk menjawab pertanyaan tanpa terlebih dahulu menemukan dengan tepat pertanyaan apa yang sebenarnya ingin dijawab.

Moore menulis:

“…that in many cases a resolute attempt to distinguish would be sufficient to ensure success; so that we should no longer undertake to give exact answers to questions without knowing what as a matter of fact we were answering.”

Jika kita dekati pertanyaan sang dosen dengan kacamata Moore, maka sebelum menyodorkan daftar keinginan, kita harus melakukan “resolusi” dalam arti yang paling mendasar. Dalam KBBI, Resolusi adalah serapan dari Resolution. Secara teknis visual, ia bermakna tingkat ketajaman atau kerapatan piksel—kemampuan untuk melihat detail agar gambar tidak blur. Secara intelektual, merujuk pada istilah resolute attempt milik Moore, resolusi berarti ketegasan untuk “mengurai” masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil yang jernih sehingga tidak ada lagi kerancuan.

Maka, secara personal, pertanyaan “Apa resolusimu?” seharusnya dimaknai sebagai: “Masalah apa yang belum terurai di tahun 2025, dan langkah tegas apa yang akan diambil untuk mengurainya di tahun 2026?”

Namun, jika kita tarik ke dalam konteks keindonesiaan yang mutakhir—sejak era Reformasi 1998 hingga kondisi saat ini yang diyakini kelompok “akal sehat” sedang tidak baik-baik saja—pertanyaan “Apa resolusimu?” menjadi sangat krusial bagi bangsa ini.

Benarkah kita ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan menegakkan hukum tanpa KKN? Jika jawabannya adalah “Ya,” jangan-jangan itu hanyalah jawaban tepat atas pertanyaan yang salah.

Kenapa demikian? Karena fakta dan realitas menunjukkan kondisi sebaliknya. Mayoritas elite dan kelas menengah menjadikan narasi “kesejahteraan” dan “keadilan” hanya sebagai pepesan kosong saat kampanye. Setelah itu, praktik KKN justru menjadi “solusi tegas” untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Di akar rumput, demokrasi terjebak pada pesta hajatan sesaat asal ada “uang jajan.” Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: penguasa merasa rakyat harus tetap bodoh dan miskin agar mudah diatur, sementara kelompok oposisi jualan narasi yang sama, namun saat berkuasa, mereka justru ikut merusak tatanan demi memperkaya diri.

Di sinilah relevansi kritik Moore terhadap para filsuf moralis. Moore berpendapat banyak kegagalan etika terjadi karena orang tidak bisa membedakan antara: “Apa yang dimaksud dengan kata ‘baik’?” dengan “Hal-hal apa saja yang bersifat ‘baik’?”

Bangsa kita terjebak pada yang kedua. Kita sibuk mendefinisikan “hal-hal yang baik” (seperti pembangunan fisik, bansos, atau angka pertumbuhan ekonomi) tanpa pernah bersepakat secara fundamental tentang “apa yang dimaksud dengan kebaikan/keadilan” dalam bernegara. Kita sibuk memberikan jawaban-jawaban teknis yang tampak “tepat”, namun kita gagal menyentuh pertanyaan akarnya: “Masihkah kita memegang teguh kontrak sosial yang bernama Indonesia?”

Tanpa kemampuan untuk mengurai (me-resolusi) akar masalah tersebut, maka resolusi tahun 2026 kita—baik secara personal maupun kolektif sebagai bangsa—hanyalah sekadar pengulangan kesalahan sejarah. Kita akan kembali memberikan jawaban yang sangat fasih, namun untuk pertanyaan yang sebenarnya salah alamat.***

Nurholis Sutady, Founder Kanal31.com

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Integrasi Ilmu, dari Epistemologi ke Evaluasi Kebijakan Akademik 

    Integrasi Ilmu, dari Epistemologi ke Evaluasi Kebijakan Akademik 

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Suwendi, Dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Transformasi kelembagaan dari IAIN ke UIN merupakan langkah strategis untuk melahirkan lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) yang memiliki kompetensi agamawan yang ilmuwan atau ilmuwan yang agamawan. Dua kompetensi sekaligus, ahli agama dan ahli ilmu pengetahuan, terekonstruksi dalam kebijakan transformasi lembaga ini. Inilah sesungguhnya di antara alasan lahirnya PP 46 tahun 2019 tentang […]

  • 5 Arah Kebijakan Penelitian PTKIN. Apa Aja?

    5 Arah Kebijakan Penelitian PTKIN. Apa Aja?

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com –Penelitian menjadi aspek penting dalam pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) telah merumuskan lima arah kebijakan untuk memastikan keberlangsungan dan kualitas riset PTKIN. Lima kebijakan ini dijelaskan Direktur Pendidikan Tinggi keagamaan Islam, Sahiron, dalam Rapat Koordinasi Nasional Forum Kepala Pusat Penelitian PTKIN (Rakornas Forum Kapus Penelitian […]

  • Yuk! Intip Lebih Dekat Replika Sandal Rasul di Museum Sejarah Islam Bekasi

    Yuk! Intip Lebih Dekat Replika Sandal Rasul di Museum Sejarah Islam Bekasi

    • calendar_month Kamis, 18 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAl31.COM Museum Sejarah Islam di kawasan Transera Waterpark Bekasi Jawa Barat, menghadirkan sejumlah koleksi replika peninggalan Nabi dan para sahabatnya. Bagi Anda yang gemar berwisata religi sambil belajar seputar sejarah Islam, kini bisa menyaksikan jejak peninggalan Rasulullah melalui koleksi yang ada di Museum Sejarah Islam tersebut. Salah satunya, seperti replika sandal Nabi Muhammad SAW yang […]

  • Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pembuka Gerbang Persia

    Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pembuka Gerbang Persia

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR kanal31.com — Tulisan ke-28 Edisi Ramadan. Kisah sahabat kali ini, tentang komandan perang yang cerdas. Dalam keadaan sakit ia memimpin perang untuk menaklukkan imperium raksasa. Dialah sang pembuka gerbang Persia. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Sejarah kadang punya cara unik menertawakan manusia. Di satu sisi, banyak tokoh modern sibuk mengukur kehebatan lewat jumlah […]

  • Kokohkan Harmoni Budaya, Masjid Al Jabbar Siap Jadi Pusat Studi Islam

    Kokohkan Harmoni Budaya, Masjid Al Jabbar Siap Jadi Pusat Studi Islam

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Masjid Raya Al Jabbar yang terletak di Jalan Cimincrang Nomor 14, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, semakin memperkokoh eksistensinya sebagai sentra pendidikan Islam di wilayah Jawa Barat. Hal ini dipertegas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dalam sambutan tertulisnya, yang mengharapkan masjid tersebut bertransformasi menjadi pusat pembelajaran Islam yang inklusif dan memberi pencerahan, sekaligus […]

  • 6 Tips Agar Jurnal Anda Masuk Scopus

    6 Tips Agar Jurnal Anda Masuk Scopus

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SEMARANG Ketatnya persaingan supaya mendapatkan lisensi dari Scopus membuat dosen atau penulis jurnal harus benar-benar memperhatikan detail penelitian yang ditulis. Berikut ini beberapa panduan menulis jurnal supaya jurnal Anda masuk Scopus. Scopus adalah salah satu database (pusat data) sitasi atau literatur ilmiah yang dimiliki oleh penerbit terkemuka dunia, Elsevier. Scopus mulai diperkenalkan ke masyarakat luas […]

expand_less