Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Menanti Fajar Kesetaraan di Kampus Hijau: Akankah UIN Bandung Dipimpin Rektor Perempuan?

Menanti Fajar Kesetaraan di Kampus Hijau: Akankah UIN Bandung Dipimpin Rektor Perempuan?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Oleh: Nanang Sungkawa*

Riuh tepuk tangan dan tawa renyah seketika memecah keheningan Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa siang (09/06/2026). Di atas podium, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, melontarkan sebuah kalimat yang bukan sekadar seloroh, melainkan sebuah sinyalemen politik yang sarat makna.

“Sudah sembilan perempuan yang menjabat rektor di lingkungan Kemenag. Coba UIN Bandung pun rektornya cantik, supaya tidak ada demonya dan cantik juga kampusnya,” ujar Menag disusul gemuruh apresiasi dari ratusan pegawai yang hadir.

Kata “cantik” yang dipilih Menag tentu tidak merujuk pada urusan fisik semata. Ia adalah metafora bagi kepemimpinan yang anggun, sejuk, inklusif, sekaligus sebuah penegasan atas hak keterwakilan perempuan dan kesetaraan gender di pucuk kepemimpinan perguruan tinggi Islam.

Bagi kampus sekelas UIN Bandung, sinyal ini seperti hembusan angin segar sekaligus pemantik obrolan atau diskusi yang hangat. Apalagi, dengan regulasi yang berlaku saat ini —dimana senat universitas mengajukan nama dan keputusan akhir berada mutlak di tangan Menteri Agama— kehadiran sosok “Rektor Cantik” di UIN Bandung bukanlah hal yang mustahil. Ia bisa menjadi kenyataan.

Secara kapasitas, kampus hijau UIN Bandung sebenarnya tidak pernah kekurangan stok srikandi mumpuni. Di koridor-koridor akademik, berderet nama guru besar perempuan yang memiliki reputasi mentereng dan syarat yang lebih dari layak untuk menakhodai universitas.

Sebut saja misalnya Prof. Dr. Hj. Hasniah Aliah, M.Si., yang saat ini dengan tangan dingin memimpin Fakultas Sains dan Teknologi. Atau, Prof. Dr. Hj. Ulfiah, M.Si., sosok akademisi yang menakhodai Fakultas Psikologi. Atau nama-nama lain sebagai representasi bahwa perempuan UIN Bandung telah lama “selesai” dengan urusan kapasitas akademik.

Namun, menembus kursi nomor satu di kampus Islam bukanlah perkara mudah. Jalan menuju ke sana kerap kali dibayangi oleh benteng psikologis dan kultural. Di balik layar, tidak sedikit guru besar perempuan yang memilih urung melangkah. Alasan klasik seperti kesiapan manajerial dan finansial sering mengemuka. Namun yang paling krusial adalah urusan “pengakuan”.

Ada kegamangan yang tidak terucap di kalangan akademisi perempuan: mampukah mereka mendapat pengakuan dari internal kampus yang masih kental dengan budaya patriarki? Dan yang tak kalah penting, mampukah mereka membangun “kedekatan” dan kesepahaman visi dengan para pengambil kebijakan di pusat?

 

Kerinduan akan Pemimpin Sejati

Meski masa jabatan Rektor saat ini, Prof. Rosihon Anwar —yang dilantik pada pertengahan 2023 lalu— masih menyisakan waktu, namun suhu politik di bawah permukaan kampus mulai menghangat. Kasak-kusuk di kantin, ruang dosen, hingga grup WhatsApp mulai memperdebatkan: Apakah kepemimpinan saat ini akan berlanjut ke periode kedua, ataukah sejarah baru akan tercipta dengan lahirnya rektor perempuan pertama?

Sejarah mencatat, iklim politik menjelang pemilihan rektor di UIN Bandung hampir selalu berlangsung sengit. Seringkali, kontestasi akademik ini ternoda oleh pragmatisme politik dan fanatisme kelompok. Rivalitas antar-elite kerap ikut campur, mencoba menancapkan pengaruh agar kampus berubah fungsi menjadi basis politik nasional demi kekuasaan sesaat.

Di tengah riak-riak itulah, muncul kerinduan mendalam dari sivitas akademika yang merindukan khitah sejati universitas. Momentum pemilihan rektor empat tahunan seharusnya tidak menjadi ajang bagi-bagi kekuasaan, melainkan ruang sakral untuk membincangkan masa depan kampus di tengah zaman yang terus berubah.

Masyarakat UIN Bandung merindukan sosok pemimpin, bukan sekadar manajer perusahaan. Kampus bukanlah korporasi yang melulu mengejar angka-angka keuntungan. Kampus adalah rahim peradaban tempat ilmu dan moralitas disemai.

Siapapun yang akan memimpin UIN Bandung ke depan —apakah petahana yang melanjutkan estafet atau figur perempuan yang membawa perubahan— ia memikul beban moral yang besar. Rektor masa depan haruslah sosok yang mampu meruntuhkan sekat-sekat egoisme kelompok. Ia harus membuktikan diri bahwa dirinya bukan milik satu warna, melainkan payung teduh bagi semua golongan.

Kriteria ideal itu sejatinya sederhana namun berat dalam implementasi: mendahulukan kepentingan publik, peka terhadap jeritan sivitas akademika, rendah hati, jujur, serta membuka diri terhadap kritik paling tajam sekalipun. Seorang pemimpin sejati tidak akan pernah membangun jarak dengan mereka yang dipimpinnya. Ia tidak akan memelihara faksionalisme yang membuat bawahan saling curiga.

Sinyalemen dari Menteri Agama Nasaruddin Umar telah dilemparkan. Kini, bola panas ada di tangan masyarakat kampus UIN Bandung. Akankah mereka terjebak dalam pragmatisme lama, atau berani berjalan bersama menuju fajar baru yang lebih inklusif dan setara? Kita tunggu saja!

*Alumnus IAIN Cipadung

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah 6 Jurnal PTKI Masuk Peringkat 10 Besar Asia

    Inilah 6 Jurnal PTKI Masuk Peringkat 10 Besar Asia

    • calendar_month Kamis, 12 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Jurnal ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) terus unjuk prestasi. Ada enam jurnal yang kini menduduki peringkat 10 besar tingkat Asia dalam bidang religious studies atau kajian keagamaan. Empat di antaranya meraih peringkat tertinggi pada Q1 (Quartile 1). Selain itu, ada dua jurnal yang berada di peringkat Q2 dan dua jurnal di Q3. Sedang […]

  • Mahasiswa FAH UIN SGD Boleh Aktif Berorganisasi, asal Lulus Kuliah Tepat Waktu

    Mahasiswa FAH UIN SGD Boleh Aktif Berorganisasi, asal Lulus Kuliah Tepat Waktu

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com— Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum mendoakan semua alumninya semoga diberi kelancaran dan kemudahan dalam meraih kehidupan yang sukses dan bahagia. “Lancar mendapatkan pekerjaan, lancar melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dan lancar membangun rumah tangga bagi yang akan melansungkan pernikahan,” tutur […]

  • Perdana, Writing Sprint Digagas Kelas Menulis FUAD IAIN KENDARI

    Perdana, Writing Sprint Digagas Kelas Menulis FUAD IAIN KENDARI

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-KENDARI Hari ini Jum’at, (01/07/2022) Pukul 13.30 WITA di Kelas Menulis Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Kendari akan berlangsung praktis penulisan artikel ilmiah secara offline. Mahasiswa sebanyak 50 Orang serentak akan melakukan praktik penguatan skills (keterampilan) academic writing. Pelatihan ini akan menerapkan strategi writing sprints melalui […]

  • Selamat! Menkes RI Tetapkan RSGM Unpad Jadi Rumah Sakit Pendidikan

    Selamat! Menkes RI Tetapkan RSGM Unpad Jadi Rumah Sakit Pendidikan

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran resmi ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama untuk Fakultas Kedokteran Gigi Unpad oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. Penetapan tersebut didasarkan atas Keputusan Menkes RI Nomor HK.01.07/Menkes/1419/2022 tentang Penetapan RSGM Unpad sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama untuk Fakultas Kedokteran Gigi Unpad pada tanggal 12 September 2022. […]

  • 5 Tips Menembus Scopus

    5 Tips Menembus Scopus

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Baik bagi mahasiswa maupun dosen, bisa memublikasikan jurnal yang terindeks oleh Scopus merupakan sebuah prestasi tersendiri. Namun, untuk bisa membuat jurnal yang tembus Scopus bukan hal yang mudah. Ada banyak langkah termasuk revisi yang mungkin harus kamu lalui untuk membuat jurnal yang kamu tulis dimuat. Seperti yang kita ketahui, ada banyak sekali jurnal yang […]

  • Hardiknas 2025, Sekda Jabar: Momentum Wujudkan Generasi Gapura Panca Waluya

    Hardiknas 2025, Sekda Jabar: Momentum Wujudkan Generasi Gapura Panca Waluya

    • calendar_month Jumat, 2 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com –Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyatakan bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 tingkat Provinsi Jawa Barat menjadi momentum penting untuk mewujudkan generasi muda berkarakter Gapura Panca Waluya. Konsep Gapura Panca Waluya, yang berakar pada budaya Sunda, menjadi landasan pembangunan sumber daya manusia berbasis kearifan lokal. Lima nilai utama dalam konsep […]

expand_less