Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Takut Dibunuh Iran, Trump Malah Membully Abdul Al-Sayed

Takut Dibunuh Iran, Trump Malah Membully Abdul Al-Sayed

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALBAR, kanal31.com — Dunia sedang menertawakan Donald Trump. Bukan karena Amerika kalah perang, bukan karena ekonomi ambruk, tetapi karena Trump terbirit-birit takut dibunuh Iran. Saking takutnya, ia tega menjadikan 100 lebih staf dan wartawan sebagai umpan. Untuk menghibur diri, ia malah membully Abdul Al-Sayed. Ternyata salah pilih lawan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Si rambut jagung itu sedang menghibur diri. Bukan main golf. Bukan makan steak. Bukan memeluk Melania. Ia membully Abdul El-Sayed sebagai hiburan di hadapan pendukungnya.

 

Abdul adalah dokter lulusan Oxford dengan Rhodes Scholarship, mantan pejabat kesehatan masyarakat pada era Barack Obama. Kini sedang naik daun sebagai kandidat Demokrat untuk Senat Amerika Serikat dari Michigan.

 

Pada primary Demokrat 4 Agustus 2026, Abdul mengalahkan petahana Haley Stevens dengan selisih sekitar 15.000 suara, kurang dari satu poin persentase. Padahal sebelumnya Emerson College memberi Abdul keunggulan 54 persen berbanding 39 persen. Rata-rata RealClearPolitics juga memberinya keunggulan 10,2 poin. Bahkan pasar prediksi Polymarket sempat memberikan peluang kemenangan sekitar 97–98 persen.

 

Jadi survei sudah bilang Abdul menang. Pasar prediksi sudah bilang Abdul menang. Kotak suara kemudian berkata, “Iya, tapi tipis-tipis saja biar dramatis.”

 

Kini Abdul menghadapi kandidat Republik Mike Rogers dalam pemilu November. Namun sebelum pertarungan itu, Trump datang membawa senjata paling canggih dalam arsenal politiknya, kolase foto.

 

Trump memasang foto dirinya bersama Melania dalam pose formal. Di sebelahnya, foto Abdul dan istrinya, Sarah, sedang duduk santai menikmati pancake.

 

Lalu muncul tulisan, “Two Very Different America’s.”

 

Waduh. Amerika punya Pentagon, rudal, kapal induk, satelit mata-mata, dan senjata nuklir. Tetapi perdebatan peradabannya sekarang ditentukan oleh pancake. Trump mungkin ingin mengatakan, “Lihat, inilah dua Amerika yang berbeda.”

 

Tetapi Abdul justru membalas dengan gaya yang membuat internet terjungkal. Ia menyindir, setidaknya dirinya tidak membuang “omong kosong” di tengah Ruang Oval. Boom! Trump membawa foto. Abdul membawa pisau verbal.

 

Belum cukup, Abdul juga menyentil hubungan Trump dan Melania. Ia mengatakan dirinya dan Sarah saling menyukai. Sementara hubungan Trump dan Ibu Negara, berdasarkan apa yang ia dengar, agak “berombak”.

 

Kalimat itu bukan balasan. Itu operasi bedah tanpa anestesi. Yang semakin menarik, Abdul kerap dibandingkan dengan Zohran Mamdani, wali kota New York yang juga Muslim dan progresif. Mamdani pernah diserang Trump sebagai “ancaman sosialis”.

 

Abdul pun dijuluki “Michigan Mamdani.” Keduanya membawa agenda progresif, termasuk perluasan layanan kesehatan, reformasi pendanaan kampanye, serta kritik terhadap kebijakan Amerika mengenai Israel dan Gaza.

 

Maka muncul pertanyaan yang lebih besar, mengapa Trump begitu alergi terhadap politisi Muslim progresif? Amerika katanya tanah kebebasan. Tetapi setiap kali muncul politisi Muslim naik panggung, sebagian politikus konservatif seperti melihat hantu keluar dari lemari.

 

Abdul justru santai. Ia dokter. Ia suami. Ia Muslim. Ia calon senator. Ia makan pancake. Tidak ada lebih berbahaya bagi politikus yang ingin menakut-nakuti publik dari seorang lawan terlihat normal, manusiawi, kompeten, dan disukai.

 

Trump ingin menunjukkan “dua Amerika”. Tetapi internet malah menemukan dua gaya politik. Satu sibuk membuat kolase. Satu lagi sibuk memenangkan suara. Satu berdiri kaku di depan kamera. Satu duduk sarapan bersama istri. Ketika diserang, yang satu mengunggah lagi.

 

Yang satu menjawab, “Silakan, Pak. Pancakenya sudah habis, tetapi sindirannya masih banyak.”

 

Mungkin inilah Amerika 2026. Negara adidaya bisa mengancam dunia dengan nuklir, tetapi perang politiknya bisa dimulai dari sepiring pancake. Trump mungkin ingin membully Abdul. Sayangnya, internet malah membuat Abdul semakin disukai. Itu barangkali hukuman paling menyakitkan dalam politik. Ketika serangan terhadap lawan justru menjadi iklan gratis untuk lawan tersebut. Saya pun tahu jadinya siapa itu Abdul.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi Untuk Anda

  • PPPK Paruh Waktu: Solusi Inklusif bagi Pegawai Non-ASN

    PPPK Paruh Waktu: Solusi Inklusif bagi Pegawai Non-ASN

    • calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Kebijakan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu menjadi salah satu langkah baru yang dinilai strategis oleh DPRD Kota Bandung. Skema ini hadir sebagai jalan tengah di tengah larangan pengangkatan tenaga non-ASN yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023. Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung, Juniarso Ridwan menyebut, […]

  • Siapkan Generasi Adaptif dan Kreatif, Menag Kembangkan Gerakan Kepramukaan Madrasah

    Siapkan Generasi Adaptif dan Kreatif, Menag Kembangkan Gerakan Kepramukaan Madrasah

    • calendar_month Senin, 18 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM JAKARTA — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan komitmennya untuk mengembangkan gerakan kepramukaan madrasah dalam rangka menyiapkan generasi adaptif dan kreatif. Hal ini disampaikan Menag Nasaruddin saat membuka Kemah Pramuka Madrasah Nasional (KPMN) 2024 di Cibubur, Jakarta Timur. Menurutnya, selama ini kepramukaan adalah Gerakan yang telah diwariskan oleh para perintis negara dan telah melekat dalam […]

  • Rektor UIN Bandung Doakan Alumni Raih Kehidupan Sukses Dunia Akhirat

    Rektor UIN Bandung Doakan Alumni Raih Kehidupan Sukses Dunia Akhirat

    • calendar_month Sabtu, 14 Des 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Rosihon Anwar mendoakan alumninya menjadi orang besar dan meraih kehidupan yang sukses dunia akhirat. Kunci untuk meraih sukses itu adalah ketekunan, tawakal, dan sabar dalam menempuh perjalanan yang sangat panjang dan terjal. “Tentu, kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses yang sangat panjang dan […]

  • Luar Biasa Ramai Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua

    Luar Biasa Ramai Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR, kanal31.com — Saya beruntung pernah diundang Wagub Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau. Di provinsi yang terkenal dengan Raja Ampatnya saya bisa melihat Islam secara langsung. Negeri secara ras berbeda dengan umumnya rakyat Indonesia sedang memperingati 666 tahun masuknya Islam di Bumi Cenderawasih. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Kalau sejarah Papua itu noken, maka […]

  • Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    • calendar_month Rabu, 20 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM— Hancur sudah harapan pegawai Honorer Kategori 2 (HK2) UIN SGD Bandung untuk meraih status pegawai negeri sipil (PNS). Sebagian harus puas menjadi pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), sebagian lagi gagal mendaftar P3K karena hanya lulusan SLTA, dan sebagian lagi nasibnya kadaluarsa karena ‘dimakan’ usia. Prahara yang menimpa HK2 ini tidak datang dengan serta-merta, […]

  • Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

    Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Pagi ini saya kayuh sepeda ke kawasan Batununggal, sekadar olahraga kecil. Di mulut jalan tampak berjejer kios-kios makanan sarapan. Ada nasi uduk, bubur, kupat Singaparna dan lain-lain. Saya berhenti di gerobak bu Wilda. Perempuan jelang 40 tahun ini jual serabi, gorengan, dan kopi panas sachetan. Lima serabi dan lima gorengan total Rp 18.000 […]

expand_less