Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

JAKARTA, kanal31.com — Ada satu hukum tua dalam dunia kepemimpinan: kekuasaan dapat dipaksakan, tetapi kewibawaan hanya dapat dipelihara.

 

Dan kewibawaan memiliki rahasia yang sering dilupakan oleh mereka yang memegang kuasa: ia membutuhkan “jarak”.

 

Bukan jarak yang berarti menjauh dari rakyat, bukan pula jarak yang lahir dari kesombongan. Tetapi jarak simbolik—ruang yang membuat seseorang tetap memiliki bobot, membuat kehadirannya tidak menjadi sesuatu yang biasa, dan membuat setiap kata yang keluar memiliki nilai.

 

Sebab sesuatu yang selalu hadir sering kali kehilangan keistimewaannya. Suara yang terdengar setiap saat perlahan berubah menjadi kebisingan. Wajah yang muncul di setiap ruang lama-lama kehilangan daya pesonanya.

 

Dalam dunia kepemimpinan, terlalu dekat pun bisa menjadi bahaya. Ketika seorang pemimpin kehilangan ruang antara dirinya dan massa, ia berisiko kehilangan aura yang membuatnya dihormati.

 

Rahasia inilah yang menarik ketika membaca karya Emrys L. Peters, The Bedouin of Cyrenaica. Dalam penelitiannya tentang masyarakat Badui Cyrenaica dan tradisi tarekat Sanusiyah di Libya, Peters menggambarkan bagaimana kewibawaan seorang syekh tidak semata-mata berasal dari jabatan atau garis keturunan, melainkan dari pengakuan masyarakat terhadap kualitas yang melekat padanya: barakah.

 

Barakah bukan sekadar popularitas. Ia bukan hasil dari seringnya tampil. Ia lahir dari reputasi, kesalehan, kebijaksanaan, dan kemampuan menjaga keseimbangan sosial.

 

Karena itu, seorang syekh sepuh yang telah matang tidak membangun wibawanya dengan memenuhi setiap ruang. Ia tidak perlu menjawab semua persoalan. Ia tidak perlu menjelaskan setiap langkah. Ia tidak perlu hadir dalam setiap keramaian.

 

Justru karena ia tidak selalu terlihat, kehadirannya menjadi bernilai.

 

Orang datang menunggu. Orang mendengar dengan penuh perhatian. Ketika ia berbicara, kata-katanya memiliki bobot karena tidak setiap hari dibagikan.

 

Dalam logika simbol, kelangkaan menciptakan penghormatan.

 

Namun seorang pewaris menghadapi ujian yang berbeda. Ia mungkin menerima kedudukan, tetapi tidak otomatis menerima wibawa yang sama. Jabatan dapat diwariskan, tetapi barakah tidak dapat diwariskan begitu saja.

 

Ia harus diperoleh melalui laku.

 

Di sinilah sering muncul godaan seorang penerus: karena ingin membuktikan diri, ia merasa harus semakin sering hadir, semakin banyak berbicara, semakin sering menjelaskan dirinya kepada publik.

 

Padahal, semakin seseorang sibuk meyakinkan orang lain tentang dirinya, semakin terbuka ruang bagi orang untuk mempertanyakan dirinya.

 

Sebab wibawa tidak tumbuh dari banyaknya kata. Wibawa tumbuh dari keyakinan bahwa ketika seseorang berbicara, ada sesuatu yang memang layak didengar.

 

Peters menunjukkan bahwa dalam masyarakat Badui, kekuasaan bukan hanya soal siapa yang menduduki posisi tertinggi, tetapi bagaimana masyarakat mengakui dan merasakan kualitas kepemimpinannya.

 

Dan pengakuan itu membutuhkan seni menjaga jarak.

 

Terlalu jauh membuat rakyat lupa. Tetapi terlalu dekat membuat rasa hormat terkikis.

 

Pemimpin yang bijaksana memahami seni hadir tanpa menjadi kebiasaan. Ia mendekat tanpa kehilangan ruang. Ia berbicara tanpa membanjiri. Ia menunjukkan kerja, bukan sekadar menunjukkan diri.

 

Sebab seorang pemimpin tidak menjadi besar karena selalu terdengar.

 

Ia menjadi besar ketika rakyat tahu: setiap kali ia berbicara, ada alasan untuk mendengarkan.

 

Matahari tidak menyentuh bumi setiap saat, tetapi seluruh kehidupan bergantung kepadanya. Ia memberi manfaat justru karena berada pada jarak yang tepat.

 

Barangkali itulah pelajaran tua dari padang pasir:

 

Jangan biarkan kata-kata pemimpin menghabiskan wibawa yang seharusnya dipelihara oleh tindakan.

 

Karena pada akhirnya rakyat tidak menghitung berapa kali seorang pemimpin tampil dan berbicara, melainkan menyimpan ingatan tentang apa yang berubah setelah ia hadir. Wibawa tidak tumbuh dari banyaknya penampakan, tetapi dari jejak kebaikan yang tetap terasa bahkan ketika seorang pemimpin memilih untuk berada dalam diam. (Edulatif, No. 57)

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pentingnya Peran AI dan Medsos dalam Membentuk Generasi Z yang Kritis di Era Global

    Pentingnya Peran AI dan Medsos dalam Membentuk Generasi Z yang Kritis di Era Global

    • calendar_month Rab, 4 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM, BANDUNG — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung melalui Centre for Asian Social Science Research (CASSR) berhasil mengadakan seminar internasional bertajuk “AI, Social Media, and Gen Z in Globalized Contexts: Challenges and Opportunities”, Selasa (3/12/2024) Acara ini merupakan kerja sama dengan Yayasan Khazanah Global Nalar Hakekat (GNH) dengan […]

  • Ayo Tinjau Integrasi Seni dan Teknologi Bersama Prof. I Gede Wenten

    Ayo Tinjau Integrasi Seni dan Teknologi Bersama Prof. I Gede Wenten

    • calendar_month Jum, 29 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG  Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB mengadakan webinar bertajuk Dialog Seni dan Tenologi pada Rabu (20/7/2022). Pada Webinar kali ini, FSRD ITB mengundang narasumber Prof. I Gede Wenten dipandu dengan penanggap Dr. Andryanto Rikrik Kusmara. Pelaksanaan webinar berlangsung secara daring melalui platform Zoom. Prof. I. […]

  • Derrida: Menyusuri Jejak yang Tak Pernah Selesai

    Derrida: Menyusuri Jejak yang Tak Pernah Selesai

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Dalam setiap kata yang kita ucapkan, dan pada setiap makna yang kita yakini hadir secara utuh, mungkin sebenarnya ada celah yang tak kita sadari dan kita luput mengamatinya –sebuah ruang dimana makna justru menghindar, menunda kehadirannya. Di sanalah, barangkali, Jacques Derrida menunggu. Bukan sebagai penjaga pintu kebenaran, tapi sebagai penanya yang setia, […]

  • Menjaga Lisan

    Menjaga Lisan

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Lisan adalah anugerah sekaligus ujian. Ia berukuran kecil, namun kuasa dan dampaknya sangat luas. Ia tidak bertulang, namun mampu menghancurkan dinding-dinding hubungan yang dibangun bertahun-tahun. Ia tak berbentuk tajam, namun bisa menoreh luka yang mungkin tak mudah sembuh seumur hidup. Maka tidak heran, para bijak bestari dari zaman ke zaman selalu mengingatkan tentang […]

  • Video Menembus Batas

    Video Menembus Batas

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31- Kisah Mahasiswa Inspiratif pada Wisuda ke-82 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Keluarga adalah harta paling berharga yang tiada bandingannya. Tempat paling menenangkan di tengah riuhnya dunia, tempat terbaik untuk berkeluh kesah saat lelah mendera. Ya, begitulah harapan setiap insan. Tapi tidak bagi Amanah, mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berasal dari […]

  • Peran Agama dalam Krisis Kemanusiaan Global Jadi Bahasan  Call for Papers AICIS 2024

    Peran Agama dalam Krisis Kemanusiaan Global Jadi Bahasan Call for Papers AICIS 2024

    • calendar_month Sen, 11 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (SEMARANG) Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama mengundang para akademisi dan peneliti untuk ikut dalam Call for Paper pada The 23rd Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS). Kesempatan mengikuti program ini dibuka mulai 11 Desember 2023 sampai 14 Januari 2024. “Mulai hari ini, kami undang para peneliti dan akademisi untuk ikut berpartisipasi dalam call […]

expand_less