Baru Kali Ini Nemu Wali Kota Ngamuk “Gua Segel Loe!”
- account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar

KALBAR, kanal31.com — Biasanya kepala daerah suka jaim di hadapan publik. Beda dengan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Ia ngamuk, nunjuk-nunjuk pemilik kafe yang nebang 10 pohon mahoni. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, kang!
Saya baru kali ini melihat wali kota marah seperti sedang menjadi pemeran utama film bencana. Datangnya bukan diam-diam, tetapi membawa rombongan, Satpol PP, wartawan, dan kamera. Rasanya bukan inspeksi lapangan, melainkan konser rock yang tiketnya dibayar dengan rasa panik.
Farhan awalnya berkeliling memeriksa bekas sepuluh pohon mahoni yang ditebang tanpa izin di Jalan LLRE Martadinata atau Jalan Riau serta kawasan Cihapit. Yang tersisa hanya tunggul sudah ditutup semen dan rumput. Entah siapa punya ide itu. Mungkin pelakunya mengira menutup bekas pohon dengan rumput sama ampuhnya seperti menyembunyikan Gedung Sate memakai payung. Pohonnya hilang, logikanya ikut pensiun.
Lalu terdengar tawa. Seketika suasana berubah. Burung gereja mungkin langsung pindah domisili ke Lembang. Batagor terasa kehilangan gurihnya. Bahkan Tangkuban Parahu seolah mengintip sambil berkata, “Waduh, hari ini Bandung Lautan Amarah.”
Farhan pun meledak. “Gue segel nih tempatnya! Jangan ketawa lu! Gua serius gua segel nih tempat! Begitu terbukti ini tempat bayar orang potong pohon di sini, gua segel semuanya! Ketawa lu sekarang! Ayo ketawa!”
Kalimat itu meluncur seperti petir yang baru lulus pendidikan militer. Ada pula versi singkatnya cukup membuat lutut siapa pun mendadak lemas.
“Gua segel loe!”
Belum selesai. Ada seseorang langsung diperintahkan pergi. “Kalau lu masih kerja sama gue, keluar dari sini sekarang, jangan di situ lagi.”
Hari itu kopi mungkin masih hangat, tetapi suasananya sudah sedingin ruang sidang. Padahal alarm kemarahan sudah berbunyi sejak awal. “Wah, ini mah saya marah atuh. Ini saya marah sekali lihat ini.”
Lalu disusul kalimat yang memastikan urusan ini tidak berhenti sebagai tontonan. “Wah, tidak bisa dibiarkan ini. Akan kami pidanakan.”
Masih ada satu sindiran terasa seperti lemparan batu ke kolam. “Ini motong sembarangan, wani-wanian. Ini yang motong ini pasti merasa dia punya backing yang kuat.”
Kalimat itu membuat orang mungkin refleks menoleh ke kanan dan kiri. Jangan-jangan yang dimaksud “backing” merasa akar pohon lebih lemah dari koneksi.
Untungnya kemarahan itu tidak berhenti menjadi konten. Garis kuning Satpol PP langsung dipasang. Farhan menegaskan penebangan tersebut melanggar dua aturan sekaligus, yakni Peraturan Daerah Kota Bandung dan Surat Edaran Moratorium Penebangan Pohon dari Gubernur Jawa Barat. Kasus ini juga akan dilaporkan kepada gubernur dan penegak hukum lingkungan di kementerian.
Yang membuat kisah ini semakin dramatis, beberapa pekan sebelumnya publik justru mengira Farhan sedang tumbang. Pada 10 Juli 2026 ia sempat dilarikan ke rumah sakit setelah mendadak drop dan pucat di Balai Kota. Sekda menyebut penyebab awalnya kelelahan akibat jadwal kerja yang padat hingga sering memantau kegiatan sampai dini hari. Kondisinya membaik pada 11 Juli, masih menjalani observasi dokter, lalu pada 13 Juli sudah kembali bekerja meninjau MPLS di sejumlah sekolah. Hasil pemeriksaan menunjukkan infeksi pencernaan memicu maag hingga vertigo.
Akhirnya yang benar-benar tumbang bukan semangat wali kotanya, melainkan sepuluh pohon mahoni. Setelah pulih, Farhan kembali dengan energi terasa seperti kereta cepat Whoosh kehilangan rem di tengah Braga. Bandung pun memberi pelajaran sederhana. Jangan sembarangan menebang pohon. Sebab yang bisa datang bukan hanya penyidik, melainkan wali kota dengan telunjuk setajam tusuk Gedung Sate dan amarah yang lebih menggema dari pekikan “Halo Bandung”. Pohon memang tidak bisa berteriak, tetapi hari itu suara kemarahan wali kota seolah mewakili seluruh dedaunan yang sudah lebih dulu dibungkam gergaji.
Foto Ai hanya ilustrasi
- Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
