Akuntansi Syariah UIN Bandung Siapkan Lulusan Kuasai Risiko Perbaikan
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG kanala31.com — Dalam upaya mempersiapkan lulusan yang unggul, kompetitif, dan profesional, Program Studi (Prodi) Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Kuliah Dosen Tamu bertajuk “Manajemen dan Manajemen Risiko Funding serta Financing pada Perbankan Syariah”. Kegiatan yang menghadirkan Konsultan Keuangan dan Bisnis Syariah, Deni Permana, S.E., M.M., CCAP, CBAS, AIQA., ini berlangsung di Aula FEBI, Selasa (22/9/2026).
Sekretaris Prodi Akuntansi Syariah, Fithri Dzikrayah, M.E.Sy., CIFA., didampingi staf prodi Ade Ponirah menjelaskan bahwa kuliah tamu ini diikuti oleh 70 mahasiswa semester 7 sebagai bagian dari pendalaman mata kuliah Manajemen Keuangan pada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) baik bank maupun non-bank yang berfokus pada pengelolaan dana sesuai prinsip syariah yang bebas dari riba, maysir (judi), dan gharar (ketidakpastian).
Kehadiran praktisi profesional diharapkan mampu menjembatani pemahaman teoretis yang didapat di ruang kelas dengan realitas praktik profesi di lapangan, khususnya terkait etika, integritas, dan akuntabilitas.
“Kompetensi teknis saja tidak cukup untuk membentuk akuntan profesional. Mahasiswa perlu memahami pentingnya integritas, tanggung jawab moral, dan nilai-nilai syariah sebagai fondasi dalam menjalankan profesi,” tegasnya.
Dukungan penuh diberikan oleh Ketua Prodi Akuntansi Syariah, Mia Lasmi Wardiyah, S.P., M.Ag., CPRM., C.PS., C.MC., CTT., terhadap pelaksanaan kuliah dosen tamu.
Menurutnya, kegiatan ini penting untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa agar seimbang antara penguasaan teori dan praktik yang diajarkan langsung oleh para praktisi.
Dalam sesi pemaparannya, Deni Permana menegaskan bahwa bank syariah bukan sekadar entitas yang mengedepankan kepatuhan transaksi halal secara formalitas, melainkan lembaga keuangan yang menuntut tata kelola profesional, amanah, dan terintegrasi. “Ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas likuiditas, reputasi, dan kepercayaan masyarakat di tengah dinamika persaingan era digital,” ungkapnya.
Pada pilar penghimpunan dana (funding), bankir senior ini menyebut bahwa dana nasabah diposisikan sebagai amanah yang dihimpun melalui skema simpanan berbasis akad wadiah maupun mudharabah. “Oleh sebab itu, bank syariah perlu menerapkan strategi segmentasi pasar yang tepat, menghadirkan inovasi produk simpanan, mengoptimalkan kanal digital, serta melakukan mitigasi aktif terhadap risiko likuiditas dan kepatuhan syariah,” paparnya.
Pada sisi penyaluran dana (financing), bank syariah berperan menggerakkan sektor riil melalui berbagai skema seperti jual beli (murabahah), sewa (ijarah/IMBT), hingga bagi hasil (mudharabah dan musyarakah). Setiap skema memiliki potensi risiko tersendiri, mulai dari risiko objek barang, pemeliharaan aset, hingga moral hazard dan informasi asimetris.
Untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan, perbankan syariah harus menerapkan analisis kelayakan komprehensif berlandaskan prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Conditions) yang dipadukan dengan nilai syariah. Penilaian mendalam terhadap integritas nasabah hingga legalitas agunan bertujuan memastikan keputusan pembiayaan diambil secara cermat. “Dengan demikian, pembiayaan tidak hanya memitigasi risiko gagal bayar, tetapi benar-benar memberikan dampak keberkahan dan nilai tambah bagi usaha nasabah,” ujarnya.
Bankir senior ini menjelaskan sebagai arah strategis, keberlanjutan perbankan syariah ke depan sangat ditentukan oleh sinergi yang seimbang antara penghimpunan dan penyaluran dana, adopsi teknologi digital, serta kolaborasi dengan ekosistem halal seperti UMKM dan pesantren. “Penguatan manajemen risiko di setiap lini operasional, bank syariah diharapkan dapat terus tumbuh tangguh dan inklusif,” paparnya.
Dengan adanya kuliah tamu ini, mahasiswa Akuntansi Syariah diharapkan memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai peran strategis akuntan, urgensi sertifikasi profesi, serta semakin siap menghadapi tantangan dunia kerja di industri keuangan syariah global.
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis UIN Bandung
