Mendidik Manusia Era AI
- account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, kanal31.com — Jika suatu hari mesin mampu melakukan hampir semua pekerjaan yang kini kita anggap sebagai keahlian manusia, apa yang seharusnya kita ajarkan kepada anak?
Pertanyaan itu membawa kita pada What Should My Children Do? How to Flourish in the Age of AI, karya Daniel Susskind (2026).
Susskind mengingatkan: jangan mendidik manusia sekadar untuk mendapatkan pekerjaan. Dunia kerja berubah cepat. Mesin semakin mampu menulis, menghitung, menerjemahkan, menganalisis, membuat gambar, menulis kode, menemukan pola, hingga membantu mengambil keputusan. Keterampilan yang hari ini istimewa, esok bisa menjadi kemampuan biasa bagi mesin.
Karena itu, jangan sibuk mencari “pekerjaan yang aman dari AI”. Yang lebih penting adalah membentuk manusia yang mampu hidup baik di tengah perubahan.
Pendidikan tak cukup mengajarkan keterampilan teknis. Kita perlu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, terus belajar, menjaga perhatian, memahami orang lain, mengambil tanggung jawab, dan menentukan apa yang bernilai.
Di zaman ketika AI semakin pandai memberi jawaban, manusia harus makin pandai memilih pertanyaan. Ketika informasi mengalir tanpa henti, kemampuan menjaga perhatian menjadi kian berharga.
Dan ketika mesin mampu mengerjakan semakin banyak hal, kita perlu bertanya: Apa yang layak dikerjakan? Untuk siapa? Mengapa? Kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun?
AI bukan semata pesaing manusia. Ia juga dapat memperluas kemampuan kita: membantu belajar, menemukan pengetahuan, memecahkan masalah, dan melakukan hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan.
Namun ada satu hal yang tak boleh diserahkan kepada mesin: menentukan tujuan hidup kita.
Jangan mendidik anak agar sekadar sulit digantikan AI. Didik mereka agar tahu apa yang tidak seharusnya diserahkan pada AI.
Sebab masa depan bukan hanya soal pekerjaan, melainkan apakah di tengah mesin yang makin cerdas kita masih tahu untuk apa kita hidup, apa yang kita cintai, dan apa yang layak diperjuangkan.
Pada akhirnya, “Apa yang akan dilakukan anak-anak kita?” bukan terutama pertanyaan tentang karier, melainkan:
“Ketika mesin mampu melakukan banyak hal, manusia ingin menjadi siapa?” (Edulatif, No. 57).
- Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute
