Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Mama Sempur (KH Tubagus Bakri), Simpul Jaringan Haramyn di Tatar Sunda

Mama Sempur (KH Tubagus Bakri), Simpul Jaringan Haramyn di Tatar Sunda

  • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
  • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com

Pagi ini, saat udara masih terasa dingin karena Tatar Pasundan telah diguyur hujan semalaman, mari kita menyeduh “kopi sejarah” sebentar, sembari memandangi kabut tipis yang menyelimuti ingatan tentang sebuah kampung bernama Sempur di Purwakarta.

Di titik itulah, seorang tokoh bernama Mama Tubagus Bakri, atau yang lebih akrab kita sebut Mama Sempur, berdiri sebagai sebuah “carrefour” atau titik silang kebudayaan yang luar biasa dalam peta sejarah sosial intelektual Islam Nusantara.

Tak berlebihan jika saya mengatribusi Mama Sempur ini sebagai “Sang Narator di Persimpangan Zaman”. Jika kita meminjam kacamata Gérard Genette, narasi hidup Mama Sempur dapat diframing sebagai sebuah struktur yang kaya akan “analepsis” (kilas balik) dan “prolepsis” (pandangan jauh ke depan).

Beliau menarik garis keturunan dari kebangsawanan Banten yang heroik, lalu membawanya melintasi samudra menuju tanah suci Mekkah. Namun, kepulangannya bukan untuk memamerkan gelar, melainkan untuk menjadi “narator” yang tidak berjarak dengan kegelisahan umat di lantai ubin masjid dan pesantren yang dingin.

Dalam perspektif “Le Carrefour Javanais” milik Denys Lombard, Mama Sempur merupakan bukti hidup betapa dinamisnya jaringan intelektual Islam transnasional. Beliau bukan produk lokal yang “ujug-ujug” populer.

Beliau adalah simpul penting yang menghubungkan transmisi hadis Syeikh Mahfudz al-Tarmasi, produktivitas pena Syeikh Nawawi al-Bantani, dan ketajaman logika Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Salah satu seloroh dari KH Asep Ghozali (murid Mama Sempur, sekaligus guru saya): “Ilmu itu bukan cuma buat dipajang di jidat supaya kelihatan bercahaya. Ilmu itu buat “memanusiakan manusia”. Mama Sempur itu kiai yang kalau jalan di pematang sawah, alam pun merasa tenang karena beliau tahu cara memuliakan manusia tanpa harus menginjak harga diri siapa pun.”

Kematangan intelektual beliau tercermin dalam sejumlah karyanya yang mencapai lebih dari 60 buah. Salah satunya tercermin dalam “Cempaka Dilaga: Senjata Teks di Medan Laga Sosial”. Kiprah intelektual Mama Sempur bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan sebuah aksi sosial.

Salah satu mahakaryanya, Cempaka Dilaga, adalah metafora yang jenius. “Cempaka” adalah simbol keharuman akhlak, dan “Dilaga” berarti dalam pertempuran. Beliau sadar betul bahwa di bawah tekanan kolonial dan gempuran modernitas yang materialistik, umat sedang berada di medan tempur mentalitas.

Secara naratif, beliau melakukan apa yang disebut Genette sebagai “Metalepsis”: melompat dari dunia teks klasik yang sakral langsung ke dunia nyata yang profan. Beliau menulis dalam bahasa Sunda Pegon—sebuah pilihan politik identitas yang tegas. Dengan menolak aksara Latin (kolonial), beliau menjaga benteng batin rakyat agar tidak tercerabut dari akarnya.

Meminjam gaya Gusdur, yang suka memotret sisi manusiawi, Mama Sempur adalah sosok yang “tidak neko-neko”. Di tengah dunia yang mulai gila hormat, beliau memilih jalur zuhud pada masanya. Beliau menunjukkan bahwa intelektualitas Islam tidak butuh baliho raksasa; cukup dengan ketajaman batin dan tinta yang terus mengalir di atas kertas merang.

Beliau adalah tipikal ulama yang dalam istilah Lombard mewakili “jaringan ulama” yang solid. Beliau bicara tauhid, tasawuf, hingga fikih dengan bahasa yang bisa dipahami oleh tukang arit maupun juragan tanah. Inilah sejarah sosial yang hidup—di mana agama tidak menjadi menara gading, melainkan menjadi jembatan (shirath) pemikiran.

Tentunya, warisannya tak pernah lekang. Kiprah Mama Sempur adalah pengingat bagi kita yang hidup di zaman serba digital ini. Beliau membuktikan bahwa menjadi “tradisional” bukan berarti tertinggal.

Beliau adalah sintesis dari akar pesantren yang dalam dengan dinamika global yang luas. Jika hari ini kita masih menemukan wajah Islam yang manusiawi dan berwibawa di Jawa Barat, barangkali itu adalah sisa-sisa doa dan goresan pena dari sang penjaga Sempur ini. Seorang intelektual yang mampu berdiri tegak di persimpangan zaman tanpa sedikit pun kehilangan jati diri.

 

 

  • Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UIN Bandung Tuan Rumah PESONA I PTKN, Perkuat Harmoni Lintas Agama

    UIN Bandung Tuan Rumah PESONA I PTKN, Perkuat Harmoni Lintas Agama

    • calendar_month Kamis, 4 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, Prof Dr H Mahmud MSi CSEE, menyatakan kesiapannya untuk menyambut para tamu peserta Pekan Seni dan Olahraga Nasional (PESONA) I Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Tahun 2022 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari tanggal 8-13 Agustus 2022. Kegiatan nasional ini diselenggarakan oleh Direktorat […]

  • Wisuda Bukan Akhir, Melainkan Awal

    Wisuda Bukan Akhir, Melainkan Awal

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Sebanyak 1.103 wisudawan dari jenjang sarjana, magister hingga doktor hari ini, Sabtu, 29 November 2025 resmi dikukuhkan pada Wisuda ke-69 Gelombang Pertama Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (29/11/2025.   Acara itu sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-66 Uninus.   Toga dikenakan, foto diabadikan dan di tengah euforia itu, ada satu […]

  • Sinergi untuk SPBE: Dosen UIN Bandung Isi Pelatihan Manajemen Risiko KOMINFO RI

    Sinergi untuk SPBE: Dosen UIN Bandung Isi Pelatihan Manajemen Risiko KOMINFO RI

    • calendar_month Minggu, 22 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung turut berkontribusi dalam pelatihan Manajemen Risiko Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (MR-SPBE) yang digelar oleh Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP KOMINFO) Bandung, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Majalengka.   Pelatihan ini merupakan bagian dari program Digital Talent Scholarship (DTS) melalui Government […]

  • Mentafakuri Kebesaran Allah dalam Takbir

    Mentafakuri Kebesaran Allah dalam Takbir

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle S. Miharja, Dosen UIN Bandung 
    • 0Komentar

    Harmoni Ibadah, Keluarga, dan Alam Semesta BANDUNG kanal31.com — Tulisan ini mengkaji makna spiritual, sosial, dan kosmologis dari praktik keagamaan selama Ramadan yang mencapai puncaknya pada Idul Fitri. Dengan pendekatan reflektif-integratif, artikel ini menyoroti konsep takbir sebagai kesadaran tauhid, puasa sebagai sistem pendidikan multidimensional, serta peran keluarga dan interaksi manusia dengan alam sebagai manifestasi kebesaran Allah. […]

  • Top! MAN 2 Kota Malang Sabet 10 Medali OSN Tingkat Nasional 2024

    Top! MAN 2 Kota Malang Sabet 10 Medali OSN Tingkat Nasional 2024

    • calendar_month Senin, 2 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Malang) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Malang kembali unjuk prestasi pada Olimpiade Sains Nasional Tingkat Nasional Jenjang SMA/MA/Sederajat. MAN 2 Kota Malang membawa pulang 10 medali pada OSN 2024. OSN digelar oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di Jakarta. Kompetisi tingkat nasional ini berlangsung […]

  • 4 Prinsip Budi Pekerti

    4 Prinsip Budi Pekerti

    • calendar_month Kamis, 26 Jan 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 2Komentar

    JAKARTA- KANAL31.COM Budi pekerti adalah istilah yang merujuk pada akhlak atau karakter seseorang. Budi pekerti merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan, karena merupakan dasar dari tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Budi pekerti merupakan hasil dari pembentukan akhlak yang dilakukan sejak kecil, yang terdiri dari nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua, lingkungan, dan pendidikan […]

expand_less