Rabu, 11 Feb 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » BEWARA » CITIZEN » Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

BANDUNG Kanal31.com — Kita bicara jernih, tanpa takbir kosong dan tanpa minder intelektual. Siapkan segelas kopi Aroma hitam racikan Banceuy, Bandung ☕🚬

Iran kuat menghadapi Amerika dan Israel bukan karena keras kepala, tapi karena punya fondasi peradaban. Pertama, Negara ini bukan proyek dadakan pasca Perang Dunia, bukan pula negara “kontrakan geopolitik”. Iran berdiri di atas sejarah ribuan tahun—Persia—yang jatuh-bangun sebelum Barat menemukan demokrasi sebagai komoditas ekspor. Bangsa dengan ingatan panjang tidak mudah ditakuti oleh ancaman pendek.

Kedua, Iran tidak menggantungkan hidup pada legitimasi Barat. Banyak negara Islam lemah bukan karena miskin sumber daya, tapi karena miskin keberanian epistemik menghadapi Barat. Iran memutus ketergantungan itu sejak Revolusi Islam. Mereka memilih jalan mahal: sanksi, isolasi, tekanan. Tapi harga itu dibayar demi satu hal yang langka hari ini—kedaulatan keputusan. Negara yang bisa berkata “tidak” adalah negara yang percaya diri.

Ketiga, Iran memiliki ideologi yang hidup, bukan slogan kampanye. Wilāyat al-Faqīh memberi struktur moral-politik yang konsisten. Kekuasaan tidak sekadar soal siapa menang pemilu, tapi siapa bertanggung jawab secara etis dan historis. Inilah yang membuat elite Iran relatif tahan godaan jadi broker kepentingan asing. Barat paham satu hal: ideologi yang diyakini lebih berbahaya daripada senjata yang dibeli.

Keempat, Iran tidak anti-perang, tapi juga tidak mabuk perang. Kalimat keras yang sering dikutip bukan ajakan bunuh diri geopolitik, melainkan pesan tegas: jangan mendikte bangsa yang siap menanggung konsekuensi. Inilah seni deterrence klasik—membuat lawan berpikir seribu kali sebelum menekan tombol. Iran paham, perang modern bukan soal siapa paling marah, tapi siapa paling siap secara ekonomi, teknologi, dan mental rakyat.

Kelima, Iran berbicara sebagai bagian dari umat Islam yang terluka, bukan sebagai korban yang meratap. Palestina dijadikan isu prinsip, bukan kartu negosiasi. Ini membuat Iran konsisten, dan konsistensi dalam politik global adalah mata uang langka. Banyak negara lantang di podium, tapi sunyi di meja perundingan. Iran memilih sebaliknya: tenang di kata, keras di sikap.

Terakhir, kekuatan Iran adalah keberanian untuk tidak disukai. Dunia hari ini penuh negara yang ingin “diterima”, padahal harga penerimaan itu sering kali adalah kehormatan. Iran memilih jalan sepi: dicerca media, disanksi ekonomi, diancam militer—namun tetap berdiri. Dalam sejarah Islam, martabat selalu lahir dari keteguhan, bukan dari tepuk tangan.

Inilah pelajaran besarnya: bangsa yang tahu siapa dirinya, tidak bisa diatur-atur. Bukan karena ia paling kuat, tapi karena ia sudah berdamai dengan risiko. Dan di dunia yang dipimpin oleh ketakutan, keberanian seperti itu terasa subversif.

Faktor Ideologi Syiah

Ini bagian yang sering disalahpahami—bahkan oleh sesama Muslim—karena dibaca dengan emosi, bukan dengan kacamata sosiologi sejarah.

Syi’ah di Iran bukan sekadar mazhab fikih; ia adalah mesin pembentuk mental kolektif. Di dalamnya ada teologi penderitaan, kesabaran, dan perlawanan jangka panjang seperti mereka kukuhkan dalam tradisi memperingati Karbala. Bangsa yang sudah berdamai dengan penderitaan tidak mudah diperas dengan ancaman.

Konsep Imam yang dizalimi melahirkan refleks membela yang tertindas, bahkan ketika ongkosnya mahal. Inilah sebab Palestina bukan isu musiman bagi Iran. Dalam kosmologi Syi’ah, berdiri di pihak mustadh‘afin adalah kewajiban teologis, bukan sekadar diplomasi. Amerika dan Israel membaca ini sebagai “keras kepala ideologis”. Padahal justru di situlah konsistensi strategisnya lahir.

Lalu ada doktrin anti-tirani yang sangat kuat. Yazid dalam imajinasi Syi’ah bukan tokoh sejarah mati, tapi simbol kekuasaan zalim lintas zaman. Setiap hegemoni yang memaksa kehendak—siapa pun pelakunya—mudah dipetakan ke simbol itu. Maka ketika Iran menolak didikte, itu bukan spontanitas politik, tapi refleks teologis yang sudah dilatih berabad-abad.

Syi’ah juga membentuk struktur kepemimpinan yang relatif tahan kooptasi. Ulama bukan sekadar juru doa, tapi aktor sosial-politik yang independen secara ekonomi dan kultural. Jaringan hawzah, marja‘, dan otoritas keilmuan menciptakan “deep state” moral yang tidak mudah dibeli dengan sanksi atau hibah. Barat terbiasa menekan elite politik; Iran punya elite religius yang logikanya berbeda.

Yang sering luput: budaya menunggu Imam Mahdi tidak melahirkan pasivisme, tapi kesiapsiagaan etis. Menunggu di sini berarti mempersiapkan masyarakat yang adil, mandiri, dan tahan ujian. Ini membuat Iran sabar secara strategis—tidak reaktif, tidak gegabah. Kesabaran seperti ini sering disalahartikan sebagai kelemahan, sampai tiba-tiba ia berubah jadi daya tahan yang mengejutkan.

Jadi, faktor Syi’ah bukan aksesoris identitas. Ia adalah arsitektur batin negara. Kita boleh tidak sepakat secara mazhab dengan Syi’ah Iran, tapi menutup mata terhadap perannya adalah kebutaan. Iran berdiri bukan hanya dengan misil dan diplomasi, tapi dengan ingatan Karbala yang terus hidup. Dan bangsa yang hidup dengan ingatan seperti itu sulit dipaksa berlutut.

Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

    Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

    • calendar_month Rab, 1 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Pagi ini saya kayuh sepeda ke kawasan Batununggal, sekadar olahraga kecil. Di mulut jalan tampak berjejer kios-kios makanan sarapan. Ada nasi uduk, bubur, kupat Singaparna dan lain-lain. Saya berhenti di gerobak bu Wilda. Perempuan jelang 40 tahun ini jual serabi, gorengan, dan kopi panas sachetan. Lima serabi dan lima gorengan total Rp 18.000 […]

  • Sumber Ekonomi Melimpah, Alumni FEBI tidak Boleh Kehilangan Kreativitas

    Sumber Ekonomi Melimpah, Alumni FEBI tidak Boleh Kehilangan Kreativitas

    • calendar_month Jum, 23 Agu 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag. mengaku tidak terlalu cemas pada alumninya menjadi pengangguran alias tidak punya kegiatan, meski Badan Pusat Statistik (BPS) merasa miris dengan maraknya pengangguran di kalangan Generasi Z, hampir mencapai angka 10 juta, hingga menjadi ancaman serius […]

  • Polresta Bandung Bongkar Jaringan Pengedar Obat Berbahaya

    Polresta Bandung Bongkar Jaringan Pengedar Obat Berbahaya

    • calendar_month Kam, 30 Jan 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    KAB. BANDUNG, kanal31.com – Satnarkoba Polresta Bandung kembali menorehkan prestasi besar dalam upaya pemberantasan peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang. Dalam kurun waktu dua pekan terakhir, Satnarkoba Polresta Bandung berhasil mengamankan total 1.924.769 butir obat keras tertentu, termasuk tramadol dan eximer, yang siap diedarkan di wilayah Bandung Raya. Kapolresta Bandung, Kombes Pol Aldi Subartono, dalam konferensi […]

  • Sejak Mahasiswa, Fakultas Psikologi UIN Bandung Siapkan Calon Pemimpin Jujur dan Disiplin

    Sejak Mahasiswa, Fakultas Psikologi UIN Bandung Siapkan Calon Pemimpin Jujur dan Disiplin

    • calendar_month Rab, 15 Mei 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

      KANAL31.COM — Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Dr. H. Ujang Rohman, M.Ag meminta mahasiswanya agar memahami dengan baik apa yang menjadi pondasi dalam meningkatkan keterampilan berorganisasi/kepemimpinan. Di tengah kesibukan perkuliahan, juga berbagai kegiatan berorganisasi, mahasiswa hendaknya membudayakan kejujuran dan kedisiplinan. Demikian Dr. Ujang Rohman, saat memberikan sambutan Pembinaan Mahasiswa, di […]

  • Ini Soal Kebertubuhan. Apa Maksudnya?

    Ini Soal Kebertubuhan. Apa Maksudnya?

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

      Dr Radea Juli A Hambali, MHum, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung   Dalam arus kehidupan normal sehari-hari, kita jarang menyoal, menyadari bahkan memikirkan keberadaan tubuh kita. Tangan. Kaki. Kepala. Mulut, dan bagian-bagian lainnya, seluruhnya seumpama bergerak secara mekanis. Baru ketika bagian tertentu tubuh kita sakit, kita mulai menyadari dan […]

  • Dorong Produktivitas Akademik, IAEB Lantik Pengurus Jabar 2025–2028

    Dorong Produktivitas Akademik, IAEB Lantik Pengurus Jabar 2025–2028

    • calendar_month Kam, 3 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Sebanyak 109 dosen dari 27 perguruan tinggi di Jawa Barat resmi dilantik sebagai pengurus International Association of Economics and Business (IAEB) Wilayah Jawa Barat untuk periode 2025–2028. Pelantikan dilakukan langsung oleh Presiden IAEB Internasional, Prof. Dr. Ts. Shafinar bin Ismail dari UiTM Malaysia, di Auditorium Lantai 6 Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) […]

expand_less