Sabtu, 18 Apr 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

Perempuan, UMKM dan QRIS: From Microcredit to Microfinance

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rab, 1 Okt 2025
  • comment 0 komentar

BANDUNG Kanal31.com — Pagi ini saya kayuh sepeda ke kawasan Batununggal, sekadar olahraga kecil. Di mulut jalan tampak berjejer kios-kios makanan sarapan. Ada nasi uduk, bubur, kupat Singaparna dan lain-lain. Saya berhenti di gerobak bu Wilda. Perempuan jelang 40 tahun ini jual serabi, gorengan, dan kopi panas sachetan. Lima serabi dan lima gorengan total Rp 18.000 (delapan belas ribu rupiah). Dengan Qris, saya bayar. Bu Wilda tak perlu cari uang kembalian, saya juga tak usah pegang uang cash 20.000-an. Praktis.

Bu Wilda adalah satu dari sekian juta perempuan pengusaha mikro. Peran mereka sangat besar, tetapi sering luput dari perhatian. Menurut data BPS, lebih dari 60 persen UMKM di Indonesia dijalankan oleh perempuan. Sebagian besar berada di kategori mikro, dengan omzet di bawah Rp300 juta per tahun. Sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sekaligus penyumbang lapangan kerja lokal.
Namun, karena beroperasi secara informal, akses mereka ke keuangan formal sangat terbatas. Bank ragu memberi pinjaman karena tidak ada jaminan. Data omzet sulit diverifikasi. Potensi mereka besar, tetapi seolah “tak terlihat” di mata sistem.

Di sinilah QRIS berperan. Dengan transaksi yang terekam, perempuan pedagang kecil tak lagi sekadar bagian dari ekonomi kas jalanan, tapi masuk dalam peta ekonomi digital Indonesia. Inklusi keuangan ini pada akhirnya memperkuat posisi perempuan, bukan hanya sebagai penjaga dapur rumah tangga, tetapi juga sebagai aktor ekonomi yang berdaya.
Enam bulan lalu, saya harus sediakan uang cash buat beli serabi ini. Kalau uangnya 100 ribu, dia tak ada kembalian, terpaksa saya belanja dulu untuk dapat kembalian pecahan 10 ribu atau 20 ribu. Rupanya, para pemotor yang rata-rata karyawan menengah ke bawah juga mengusulkan kepada dia agar pakai QRIS. Akhirnya dia bertanya kepada lapak-lapak lain yang sudah pakai teknologi pembayaran ini. Maka dia buka rekening BRI, dan dapat QRIS. Biaya QRIS atau merchant discount rate (MDR) ini 0,3%.

Jadi kalau sehari omset bu Wilda 100 ribu, dia cuma kena potongan Rp 300 rupiah saja. Jadi dia dapat Rp 99.700. Dia tak keberatan. “Enaknya praktis pak. Saya sekarang tahu persis berapa yang masuk. Kalau dulu uangnya campur, jadi tak tahu persis,” katanya. “Cuma kalau pakai QRIS, uangnya baru masuk besok. Dulu repot karena sore kan saya harus belanja persediaan, sekarang mah sudah terbiasa ngatur,” katanya.
Catatan digital ini sederhana, tapi revolusioner. Ia menjadi jejak transaksi (digital footprint) yang sebelumnya tidak ada. Dengan data itu, lembaga keuangan bisa menilai skala usaha Bu Wilda dengan lebih objektif. Jika suatu hari ia ingin memperbesar kios atau menambah modal, catatan QRIS bisa jadi pintu menuju kredit formal.

Dari Informal ke Formal?

Pertanyaannya: apakah dengan QRIS, usaha mikro otomatis menjadi formal? Jawabannya tidak sesederhana itu. Formalisasi ekonomi bukan hanya soal alat pembayaran, tapi soal perizinan, perpajakan, dan akses pembiayaan. Namun, QRIS memberi jalan transisi yang jelas.

Tahap pertama: registrasi merchant. Dengan mendaftar QRIS, Bu Wilda kini tercatat dalam sistem penyelenggara jasa pembayaran. Ia bukan lagi “invisible”. Tahap kedua: pencatatan transaksi. Omzet kiosnya kini dapat ditelusuri. Dari data itu, pemerintah atau bank bisa memetakan potensi ekonomi yang sebelumnya tak terjangkau.

Tahap ketiga: akses pembiayaan. Jejak transaksi bisa menjadi dasar alternatif penilaian kredit. Bu Wilda mungkin tidak punya sertifikat rumah untuk diagunkan, tapi ia punya bukti bahwa kiosnya beromzet stabil. Tahap keempat: integrasi ekosistem formal. Jika kelak ia memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha), maka jalur ke pembiayaan KUR atau program bantuan pemerintah terbuka lebih lebar.

Dengan kata lain, QRIS bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju formalisasi. Lebih jauh, QRIS membawa dampak sosial. Banyak perempuan pedagang kecil yang sebelumnya tidak akrab dengan teknologi kini mulai terbiasa. Dari sekadar memindai QR code, mereka belajar membuka aplikasi, memantau saldo, hingga memahami arus kas sederhana. Ini bentuk peningkatan literasi digital yang tidak bisa diremehkan.

Jadi kalau mau negeri ini kuat, teknologi harus diperkenalkan kepada perempuan seperti Bu Wilda. Teknologi bukan lagi milik anak muda atau perusahaan besar. Ia hadir dalam genggaman, membantu menjalankan usaha sehari-hari. Dan lebih penting, memberi rasa percaya diri bahwa usahanya punya nilai di mata sistem formal.

Dari Microcredit ke Microfinance

Dengan QRIS, pemerintah bisa merencanakan kredit mikro berdasarkan database transaksi. Tapi itu tidak cukup, karena negara harus masuk ke microfinance. Microcredit itu hanya hubungan simpan pinjam antara bank dengan nasabah kecil. Microfinance memberikan inklusifitas berlapis, demi keamanan ekonomi kaum perempuan. Ke dalam microfinance kita masukkan juga asuransi dan perlindungan sosial.

Paling tidak, asuransi dulu lah.
Kenapa?
Sektor ekonomi formal berkontribusi dengan membayar pajak dan menciptakan stabilitas melalui pekerjaan tetap dan perlindungan hukum, sementara sektor informal menyumbang melalui penyediaan lapangan kerja yang fleksibel, penyerapan tenaga kerja tak terampil, dan adaptasi terhadap fluktuasi ekonomi. Keduanya saling melengkapi; sektor formal memberikan stabilitas dan pendapatan yang terdokumentasi, sedangkan sektor informal berfungsi sebagai jaring pengaman sosial dengan menyediakan peluang kerja yang lebih mudah diakses.

Kalau mau dipotong untuk asuransi bisnis UMKM, secara konsep mungkin sekali dilakukan, tapi perlu beberapa hal:
1. Skema opsional, bukan wajib.
UMKM bisa diberi pilihan: apakah mau sebagian dari MDR atau tambahan potongan dialihkan ke premi asuransi mikro (misalnya asuransi kebakaran kios, kesehatan dasar, atau perlindungan kecelakaan).
2. Kolaborasi dengan asuransi mikro.
Ada banyak produk asuransi mikro yang preminya murah, bahkan mulai Rp10 ribu–20 ribu per bulan. Potongan kecil dari transaksi QRIS bisa otomatis menjadi premi kolektif.
3. Inklusi keuangan berlapis.
Dengan skema ini, QRIS bukan hanya pintu masuk ke sistem pembayaran formal, tapi juga ke proteksi finansial. Ini penting karena UMKM perempuan seperti Bu Wilda sangat rentan terhadap risiko (sakit, kios kebakaran, kehilangan barang dagangan).
4. Regulasi dan trust.
Harus jelas transparansi: potongan berapa, untuk asuransi apa, dan manfaat yang diterima. Kalau tidak jelas, pedagang kecil bisa menolak karena merasa “dipalak.”

Contoh konkretnya, misalkan omzet Bu Wilda lewat QRIS sehari Rp500 ribu, dengan merchant discount rate (MDR) 0,3% maka potongannya Rp1.500. Kalau dari jumlah itu ada Rp500 yang otomatis masuk ke dana asuransi, maka dalam sebulan ia bisa terkumpul Rp15 ribu–20 ribu. Itu cukup untuk premi asuransi mikro sederhana.
Jadi, QRIS sebenarnya bisa menjadi gateway bukan hanya keuangan formal, tapi juga proteksi sosial bagi UMKM, terutama perempuan. Jadi negara bisa bergerak ke arah inklusifitas ekonomi berlapis. From microcredit to microfinance.

Budhiana Kartawijaya, founde Yayasan Odesa Indonesia

(Tulisan ini saya dedikasikan pada perempuan hebat: ibu saya, seorang guru yang memperkuat penghasilannya dengan menjahit, dan kakak perempuan saya yang memperkuat keluarga kami mulai dari titip makanan kecil di warung, hingga jadi pengusaha catering. And of course Rina Dewi Herlina my wife the banker)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bandung Jadi Tuan Rumah Sukses Munas V HMJ Manajemen Keuangan Syariah se-Indonesia

    Bandung Jadi Tuan Rumah Sukses Munas V HMJ Manajemen Keuangan Syariah se-Indonesia

    • calendar_month Kam, 2 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31. com -– Kota yang lekat dengan sejarah perjuangan bangsa dan lahirnya gagasan-gagasan besar kembali menjadi saksi peristiwa penting. Kali ini, bukan para tokoh kemerdekaan yang berhimpun, melainkan generasi baru. Mahasiswa dari berbagai penjuru negeri yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Keuangan Syariah (MKS) se-Indonesia.   […]

  • 5 Rekomendasi Situs Jurnal Ilmiah yang Bisa Diakses Gratis

    5 Rekomendasi Situs Jurnal Ilmiah yang Bisa Diakses Gratis

    • calendar_month Kam, 7 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Apakah Anda sedang mengerjakan karya tulis ilmiah? Tentunya Anda membutuhkan jurnal ilmiah sebagai referensi. Apa saja situs jurnal ilmiah yang dapat Anda akses? Dalam membuat karya tulis ilmiah, tentunya Anda memerlukan jurnal ilmiah yang nantinya dijadikan sebagai referensi. Tujuannya agar data atau informasi dalam karya ilmiah akurat dan kredibel. Saat ini, banyak situs jurnal ilmiah yang bisa diakses […]

  • UIN Bandung Tuan Rumah PESONA I PTKN, Perkuat Harmoni Lintas Agama

    UIN Bandung Tuan Rumah PESONA I PTKN, Perkuat Harmoni Lintas Agama

    • calendar_month Kam, 4 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, Prof Dr H Mahmud MSi CSEE, menyatakan kesiapannya untuk menyambut para tamu peserta Pekan Seni dan Olahraga Nasional (PESONA) I Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Tahun 2022 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari tanggal 8-13 Agustus 2022. Kegiatan nasional ini diselenggarakan oleh Direktorat […]

  • Masjid Fondasi Peradaban dan Pembinaan Umat

    Masjid Fondasi Peradaban dan Pembinaan Umat

    • calendar_month Sel, 8 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan peran penting masjid dalam sejarah Islam. Menurutnya, masjid adalah fondasi peradaban. Ia menyebut ketika Nabi Muhammad SAW kali pertama hijrah ke Yatsrib (Madinah), justru mendirikan masjid sebagai bangunan pertama. “Dari masjid inilah pembinaan umat dilakukan secara menyeluruh, melahirkan Piagam Madinah yang menjadi dasar kehidupan masyarakat […]

  • UIN Bandung, Ke-33 Kampus Terbaik di Indonesia

    UIN Bandung, Ke-33 Kampus Terbaik di Indonesia

    • calendar_month Ming, 10 Mar 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– UIN Sunan Gunung Djati Bandung meraih prestasi gemilang dengan masuk ke dalam 50 kampus terbaik di Indonesia menurut Scimago Institution Ranking. Peringkat yang berhasil diraih oleh UIN Bandung adalah peringkat ke-33 dan ke-1 untuk lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Scimago Institution Ranking, yang dikembangkan oleh Scimago Lab dengan sumber data dari […]

  • Rantai Altara, Novel Petualangan Mencari Jati Diri Ala Siswa MAN 2 Kudus

    Rantai Altara, Novel Petualangan Mencari Jati Diri Ala Siswa MAN 2 Kudus

    • calendar_month Rab, 14 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KUDUS Kanal31.com — Rantai Altara: Cahaya, Kegelapan, Kekosongan, novel ini ditulis oleh Bening Cita Maharsi, siswa kelas XI-11 Jurusan IPS MAN 2 Kudus. Novel novel petualangan fantasi ini dirilis di Kudus. Bening Cita Maharsi merupakan salah satu anggota aktif FORLIKU (Forum Literasi MAN 2 Kudus), wadah pengembangan minat dan bakat literasi siswa. Dara 17 tahun […]

expand_less