Minggu, 24 Mei 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sel, 10 Feb 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG Kanal31.com — Kita bicara jernih, tanpa takbir kosong dan tanpa minder intelektual. Siapkan segelas kopi Aroma hitam racikan Banceuy, Bandung ☕🚬

Iran kuat menghadapi Amerika dan Israel bukan karena keras kepala, tapi karena punya fondasi peradaban. Pertama, Negara ini bukan proyek dadakan pasca Perang Dunia, bukan pula negara “kontrakan geopolitik”. Iran berdiri di atas sejarah ribuan tahun—Persia—yang jatuh-bangun sebelum Barat menemukan demokrasi sebagai komoditas ekspor. Bangsa dengan ingatan panjang tidak mudah ditakuti oleh ancaman pendek.

Kedua, Iran tidak menggantungkan hidup pada legitimasi Barat. Banyak negara Islam lemah bukan karena miskin sumber daya, tapi karena miskin keberanian epistemik menghadapi Barat. Iran memutus ketergantungan itu sejak Revolusi Islam. Mereka memilih jalan mahal: sanksi, isolasi, tekanan. Tapi harga itu dibayar demi satu hal yang langka hari ini—kedaulatan keputusan. Negara yang bisa berkata “tidak” adalah negara yang percaya diri.

Ketiga, Iran memiliki ideologi yang hidup, bukan slogan kampanye. Wilāyat al-Faqīh memberi struktur moral-politik yang konsisten. Kekuasaan tidak sekadar soal siapa menang pemilu, tapi siapa bertanggung jawab secara etis dan historis. Inilah yang membuat elite Iran relatif tahan godaan jadi broker kepentingan asing. Barat paham satu hal: ideologi yang diyakini lebih berbahaya daripada senjata yang dibeli.

Keempat, Iran tidak anti-perang, tapi juga tidak mabuk perang. Kalimat keras yang sering dikutip bukan ajakan bunuh diri geopolitik, melainkan pesan tegas: jangan mendikte bangsa yang siap menanggung konsekuensi. Inilah seni deterrence klasik—membuat lawan berpikir seribu kali sebelum menekan tombol. Iran paham, perang modern bukan soal siapa paling marah, tapi siapa paling siap secara ekonomi, teknologi, dan mental rakyat.

Kelima, Iran berbicara sebagai bagian dari umat Islam yang terluka, bukan sebagai korban yang meratap. Palestina dijadikan isu prinsip, bukan kartu negosiasi. Ini membuat Iran konsisten, dan konsistensi dalam politik global adalah mata uang langka. Banyak negara lantang di podium, tapi sunyi di meja perundingan. Iran memilih sebaliknya: tenang di kata, keras di sikap.

Terakhir, kekuatan Iran adalah keberanian untuk tidak disukai. Dunia hari ini penuh negara yang ingin “diterima”, padahal harga penerimaan itu sering kali adalah kehormatan. Iran memilih jalan sepi: dicerca media, disanksi ekonomi, diancam militer—namun tetap berdiri. Dalam sejarah Islam, martabat selalu lahir dari keteguhan, bukan dari tepuk tangan.

Inilah pelajaran besarnya: bangsa yang tahu siapa dirinya, tidak bisa diatur-atur. Bukan karena ia paling kuat, tapi karena ia sudah berdamai dengan risiko. Dan di dunia yang dipimpin oleh ketakutan, keberanian seperti itu terasa subversif.

Faktor Ideologi Syiah

Ini bagian yang sering disalahpahami—bahkan oleh sesama Muslim—karena dibaca dengan emosi, bukan dengan kacamata sosiologi sejarah.

Syi’ah di Iran bukan sekadar mazhab fikih; ia adalah mesin pembentuk mental kolektif. Di dalamnya ada teologi penderitaan, kesabaran, dan perlawanan jangka panjang seperti mereka kukuhkan dalam tradisi memperingati Karbala. Bangsa yang sudah berdamai dengan penderitaan tidak mudah diperas dengan ancaman.

Konsep Imam yang dizalimi melahirkan refleks membela yang tertindas, bahkan ketika ongkosnya mahal. Inilah sebab Palestina bukan isu musiman bagi Iran. Dalam kosmologi Syi’ah, berdiri di pihak mustadh‘afin adalah kewajiban teologis, bukan sekadar diplomasi. Amerika dan Israel membaca ini sebagai “keras kepala ideologis”. Padahal justru di situlah konsistensi strategisnya lahir.

Lalu ada doktrin anti-tirani yang sangat kuat. Yazid dalam imajinasi Syi’ah bukan tokoh sejarah mati, tapi simbol kekuasaan zalim lintas zaman. Setiap hegemoni yang memaksa kehendak—siapa pun pelakunya—mudah dipetakan ke simbol itu. Maka ketika Iran menolak didikte, itu bukan spontanitas politik, tapi refleks teologis yang sudah dilatih berabad-abad.

Syi’ah juga membentuk struktur kepemimpinan yang relatif tahan kooptasi. Ulama bukan sekadar juru doa, tapi aktor sosial-politik yang independen secara ekonomi dan kultural. Jaringan hawzah, marja‘, dan otoritas keilmuan menciptakan “deep state” moral yang tidak mudah dibeli dengan sanksi atau hibah. Barat terbiasa menekan elite politik; Iran punya elite religius yang logikanya berbeda.

Yang sering luput: budaya menunggu Imam Mahdi tidak melahirkan pasivisme, tapi kesiapsiagaan etis. Menunggu di sini berarti mempersiapkan masyarakat yang adil, mandiri, dan tahan ujian. Ini membuat Iran sabar secara strategis—tidak reaktif, tidak gegabah. Kesabaran seperti ini sering disalahartikan sebagai kelemahan, sampai tiba-tiba ia berubah jadi daya tahan yang mengejutkan.

Jadi, faktor Syi’ah bukan aksesoris identitas. Ia adalah arsitektur batin negara. Kita boleh tidak sepakat secara mazhab dengan Syi’ah Iran, tapi menutup mata terhadap perannya adalah kebutaan. Iran berdiri bukan hanya dengan misil dan diplomasi, tapi dengan ingatan Karbala yang terus hidup. Dan bangsa yang hidup dengan ingatan seperti itu sulit dipaksa berlutut.

Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 6 Masjid Pilihan di Bandung untuk Muhasabah Akhir Tahun 2024

    6 Masjid Pilihan di Bandung untuk Muhasabah Akhir Tahun 2024

    • calendar_month Sen, 23 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM, Pergantian tahun menjadi momen yang dinanti banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga, teman, atau pasangan. Di tengah gegap gempita perayaan, sejumlah warga memilih merayakan malam pergantian tahun dengan cara yang lebih mendalam, yakni bermuhasabah dan introspeksi diri. Bagi masyarakat Kota Bandung yang ingin melewati malam tahun baru dengan suasana religius, sejumlah masjid menyediakan ruang […]

  • Ini Cara Jitu Santri Muda Nusantara – Menag Lawan Kekerasan Seksual dan Disinformasi

    Ini Cara Jitu Santri Muda Nusantara – Menag Lawan Kekerasan Seksual dan Disinformasi

    • calendar_month Kam, 7 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menegaskan komitmennya untuk memberantas tindak kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan. Penegasan tersebut disampaikan di tengah maraknya hoaks dan disinformasi di media sosial yang memframing isu kekerasan seksual untuk menyerang pribadi Menteri Agama serta melemahkan kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan Islam. Dalam keterangannya […]

  • Alumni UIN Bandung Miliki Pondasi Kuat untuk Hidup Sukses

    Alumni UIN Bandung Miliki Pondasi Kuat untuk Hidup Sukses

    • calendar_month Sab, 23 Agu 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Rosihon Anwar mengingatkan para alumni bahwa perjalanan hidup ke depan itu tidak mudah, karena tantangannya sangat berat dengan cangihnya ilmu dan teknologi. Bagi lulusan UIN Bandung, hal itu seyogianya tidak khawatir, karena kampus sudah melatih kemandirian, berpikir kritis, dan membangun pondasi kuat untuk hidup sukses Peringatan […]

  • Inilah 8 Prospek Karier Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi

    Inilah 8 Prospek Karier Lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi

    • calendar_month Kam, 12 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Apakah kamu tertarik mengambil jurusan ilmu komunikasi? Sebagai pertimbangan, kamu bisa cek prospek karier jurusan ilmu komunikasi di bawah ini. Mengutip laman Binus University, komunikasi merupakan studi interdisipliner yang mengintegrasikan linguistik, sosiologi, psikologi, antropologi, politik, dan ekonomi. Nantinya, mahasiswa akan mengkaji proses komunikasi manusia mulai dari konseptualisasi ide, penyampaian, hingga penerimaan pesan verbal dan […]

  • Nikmati Kopi Romantis dengan Konsep Baru dan Harga Bersahabat

    Nikmati Kopi Romantis dengan Konsep Baru dan Harga Bersahabat

    • calendar_month Kam, 30 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG KANAL31.COM — Kota Bandung kembali memiliki tempat ngopi baru dengan konsep unik, yaitu Kopi Romantis. Berdiri sejak 1 November 2024, Kopi Romantis berlokasi di Jalan Sabang No. 21A, Cihapit. Berbeda dengan kafe pada umumnya, Kopi Romantis mengusung konsep raw unfinish, yakni desain sederhana dengan budget minimalis, namun tetap nyaman dan homey. Pemilik Kopi Romantis, […]

  • Tingkatkan Wawasan, Mahasiswa Akuntansi Syariah UIN Bandung Studi Visit ke Bea Cukai Jabar

    Tingkatkan Wawasan, Mahasiswa Akuntansi Syariah UIN Bandung Studi Visit ke Bea Cukai Jabar

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan mahasiswa, khususnya terkait praktik kepabeanan dan perdagangan internasional, sebanyak 49 mahasiswa semester VII Program Studi Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung melaksanakan Studi Visit ke Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jawa Barat, Jl. Surapati No.12, Cihaur Geulis, Kec. Cibeunying Kaler, […]

expand_less