Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG Kanal31.com — Kita bicara jernih, tanpa takbir kosong dan tanpa minder intelektual. Siapkan segelas kopi Aroma hitam racikan Banceuy, Bandung ☕🚬

Iran kuat menghadapi Amerika dan Israel bukan karena keras kepala, tapi karena punya fondasi peradaban. Pertama, Negara ini bukan proyek dadakan pasca Perang Dunia, bukan pula negara “kontrakan geopolitik”. Iran berdiri di atas sejarah ribuan tahun—Persia—yang jatuh-bangun sebelum Barat menemukan demokrasi sebagai komoditas ekspor. Bangsa dengan ingatan panjang tidak mudah ditakuti oleh ancaman pendek.

Kedua, Iran tidak menggantungkan hidup pada legitimasi Barat. Banyak negara Islam lemah bukan karena miskin sumber daya, tapi karena miskin keberanian epistemik menghadapi Barat. Iran memutus ketergantungan itu sejak Revolusi Islam. Mereka memilih jalan mahal: sanksi, isolasi, tekanan. Tapi harga itu dibayar demi satu hal yang langka hari ini—kedaulatan keputusan. Negara yang bisa berkata “tidak” adalah negara yang percaya diri.

Ketiga, Iran memiliki ideologi yang hidup, bukan slogan kampanye. Wilāyat al-Faqīh memberi struktur moral-politik yang konsisten. Kekuasaan tidak sekadar soal siapa menang pemilu, tapi siapa bertanggung jawab secara etis dan historis. Inilah yang membuat elite Iran relatif tahan godaan jadi broker kepentingan asing. Barat paham satu hal: ideologi yang diyakini lebih berbahaya daripada senjata yang dibeli.

Keempat, Iran tidak anti-perang, tapi juga tidak mabuk perang. Kalimat keras yang sering dikutip bukan ajakan bunuh diri geopolitik, melainkan pesan tegas: jangan mendikte bangsa yang siap menanggung konsekuensi. Inilah seni deterrence klasik—membuat lawan berpikir seribu kali sebelum menekan tombol. Iran paham, perang modern bukan soal siapa paling marah, tapi siapa paling siap secara ekonomi, teknologi, dan mental rakyat.

Kelima, Iran berbicara sebagai bagian dari umat Islam yang terluka, bukan sebagai korban yang meratap. Palestina dijadikan isu prinsip, bukan kartu negosiasi. Ini membuat Iran konsisten, dan konsistensi dalam politik global adalah mata uang langka. Banyak negara lantang di podium, tapi sunyi di meja perundingan. Iran memilih sebaliknya: tenang di kata, keras di sikap.

Terakhir, kekuatan Iran adalah keberanian untuk tidak disukai. Dunia hari ini penuh negara yang ingin “diterima”, padahal harga penerimaan itu sering kali adalah kehormatan. Iran memilih jalan sepi: dicerca media, disanksi ekonomi, diancam militer—namun tetap berdiri. Dalam sejarah Islam, martabat selalu lahir dari keteguhan, bukan dari tepuk tangan.

Inilah pelajaran besarnya: bangsa yang tahu siapa dirinya, tidak bisa diatur-atur. Bukan karena ia paling kuat, tapi karena ia sudah berdamai dengan risiko. Dan di dunia yang dipimpin oleh ketakutan, keberanian seperti itu terasa subversif.

Faktor Ideologi Syiah

Ini bagian yang sering disalahpahami—bahkan oleh sesama Muslim—karena dibaca dengan emosi, bukan dengan kacamata sosiologi sejarah.

Syi’ah di Iran bukan sekadar mazhab fikih; ia adalah mesin pembentuk mental kolektif. Di dalamnya ada teologi penderitaan, kesabaran, dan perlawanan jangka panjang seperti mereka kukuhkan dalam tradisi memperingati Karbala. Bangsa yang sudah berdamai dengan penderitaan tidak mudah diperas dengan ancaman.

Konsep Imam yang dizalimi melahirkan refleks membela yang tertindas, bahkan ketika ongkosnya mahal. Inilah sebab Palestina bukan isu musiman bagi Iran. Dalam kosmologi Syi’ah, berdiri di pihak mustadh‘afin adalah kewajiban teologis, bukan sekadar diplomasi. Amerika dan Israel membaca ini sebagai “keras kepala ideologis”. Padahal justru di situlah konsistensi strategisnya lahir.

Lalu ada doktrin anti-tirani yang sangat kuat. Yazid dalam imajinasi Syi’ah bukan tokoh sejarah mati, tapi simbol kekuasaan zalim lintas zaman. Setiap hegemoni yang memaksa kehendak—siapa pun pelakunya—mudah dipetakan ke simbol itu. Maka ketika Iran menolak didikte, itu bukan spontanitas politik, tapi refleks teologis yang sudah dilatih berabad-abad.

Syi’ah juga membentuk struktur kepemimpinan yang relatif tahan kooptasi. Ulama bukan sekadar juru doa, tapi aktor sosial-politik yang independen secara ekonomi dan kultural. Jaringan hawzah, marja‘, dan otoritas keilmuan menciptakan “deep state” moral yang tidak mudah dibeli dengan sanksi atau hibah. Barat terbiasa menekan elite politik; Iran punya elite religius yang logikanya berbeda.

Yang sering luput: budaya menunggu Imam Mahdi tidak melahirkan pasivisme, tapi kesiapsiagaan etis. Menunggu di sini berarti mempersiapkan masyarakat yang adil, mandiri, dan tahan ujian. Ini membuat Iran sabar secara strategis—tidak reaktif, tidak gegabah. Kesabaran seperti ini sering disalahartikan sebagai kelemahan, sampai tiba-tiba ia berubah jadi daya tahan yang mengejutkan.

Jadi, faktor Syi’ah bukan aksesoris identitas. Ia adalah arsitektur batin negara. Kita boleh tidak sepakat secara mazhab dengan Syi’ah Iran, tapi menutup mata terhadap perannya adalah kebutaan. Iran berdiri bukan hanya dengan misil dan diplomasi, tapi dengan ingatan Karbala yang terus hidup. Dan bangsa yang hidup dengan ingatan seperti itu sulit dipaksa berlutut.

Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perjuangkan Moderasi Beragama, LHS Terima Anugerah Doktor Kehormatan di UIN Jakarta

    Perjuangkan Moderasi Beragama, LHS Terima Anugerah Doktor Kehormatan di UIN Jakarta

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA UIN Jakarta menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa (Dr H.C.) bidang Pengkajian Islam Peminatan Moderasi Beragama kepada Menteri Agama RI 2009-2014, KH Lukman Hakim Saifuddin (LHS). Gelar ini diberikan atas dedikasi keilmuan dan kontribusi Lukman yang dilakukan secara konsisten hingga kini. Penganugerahan Doktor Kehormatan sendiri dilakukan dalam sidang senat terbuka di Gedung […]

  • Hore! Kemenag Bekali Kewirausahaan bagi Calon Pegawai Purnabhakti

    Hore! Kemenag Bekali Kewirausahaan bagi Calon Pegawai Purnabhakti

    • calendar_month Rabu, 21 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam menyelenggarakan Pembinaan Pegawai Purnabakti. Kegiatan ini bertujuan memberikan pembekalan kepada pegawai yang akan purna tugas. Acara dilaksanakan tanggal 20-22 September 2022 di Bogor. Rohmat Mulyana Sapdi, selaku Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam dalam sambutannya menyampaikan untuk selalu bersyukur karena bisa sampai di penguhujung Batas Usia Pensiun (BUP) masih diberikan […]

  • APBD Jabar Berpotensi Defisit, GMNI Desak BPK Gelar Audit Khusus

    APBD Jabar Berpotensi Defisit, GMNI Desak BPK Gelar Audit Khusus

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, Kanal31.com– Potensi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2026 yang disebut mencapai Rp5,7 triliun menjadi sorotan berbagai pihak. DPRD Jawa Barat menyatakan masih menunggu hasil evaluasi keuangan daerah, sementara Pengurus Alumni (PA) GMNI Jawa Barat mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit khusus. Wakil Ketua Komisi III DPRD […]

  • 5 Komite MAN 2 Kota Bandung dari Dosen UIN SGD

    5 Komite MAN 2 Kota Bandung dari Dosen UIN SGD

    • calendar_month Jumat, 10 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM — Lima dosen UIN Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung terpilih menjadi Komite Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bandung untuk periode 2025-2028. Pemilihan ini dilakukan melalui proses yang panjang, demokratis, transparan, dan akuntabel. Kelima dosen tersebut adalah Prof. Dr. H. Tajul Arifin, MA (Ketua Pengawas Komite), Dr. H. Dadang Husen Sobana, M.Ag […]

  • A Second Chance for Pandido glowing Heart

    A Second Chance for Pandido glowing Heart

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Auto-generated post_excerpt

  • Perjuangkan Kesetaraan Hak, Ribuan Guru Honorer Madrasah Ciamis Gelar Aksi Damai 

    Perjuangkan Kesetaraan Hak, Ribuan Guru Honorer Madrasah Ciamis Gelar Aksi Damai 

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    CIAMIS Kanal31.com – Sebanyak 1.500 guru madrasah dan pendidik sekolah swasta yang tergabung dalam Aliansi Honorer Kemenag Ciamis menggelar aksi damai di halaman Gedung DPRD Kabupaten Ciamis, Selasa (21/10/2025). Aksi damai ini merupakan bentuk solidaritas dan perjuangan bersama untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi para guru RA, MI, MTs, MA dan tenaga pendidik swasta di bawah […]

expand_less