Kamis, 9 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

Mengapa Iran Tak Takut Amerika?

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sel, 10 Feb 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG Kanal31.com — Kita bicara jernih, tanpa takbir kosong dan tanpa minder intelektual. Siapkan segelas kopi Aroma hitam racikan Banceuy, Bandung ☕🚬

Iran kuat menghadapi Amerika dan Israel bukan karena keras kepala, tapi karena punya fondasi peradaban. Pertama, Negara ini bukan proyek dadakan pasca Perang Dunia, bukan pula negara “kontrakan geopolitik”. Iran berdiri di atas sejarah ribuan tahun—Persia—yang jatuh-bangun sebelum Barat menemukan demokrasi sebagai komoditas ekspor. Bangsa dengan ingatan panjang tidak mudah ditakuti oleh ancaman pendek.

Kedua, Iran tidak menggantungkan hidup pada legitimasi Barat. Banyak negara Islam lemah bukan karena miskin sumber daya, tapi karena miskin keberanian epistemik menghadapi Barat. Iran memutus ketergantungan itu sejak Revolusi Islam. Mereka memilih jalan mahal: sanksi, isolasi, tekanan. Tapi harga itu dibayar demi satu hal yang langka hari ini—kedaulatan keputusan. Negara yang bisa berkata “tidak” adalah negara yang percaya diri.

Ketiga, Iran memiliki ideologi yang hidup, bukan slogan kampanye. Wilāyat al-Faqīh memberi struktur moral-politik yang konsisten. Kekuasaan tidak sekadar soal siapa menang pemilu, tapi siapa bertanggung jawab secara etis dan historis. Inilah yang membuat elite Iran relatif tahan godaan jadi broker kepentingan asing. Barat paham satu hal: ideologi yang diyakini lebih berbahaya daripada senjata yang dibeli.

Keempat, Iran tidak anti-perang, tapi juga tidak mabuk perang. Kalimat keras yang sering dikutip bukan ajakan bunuh diri geopolitik, melainkan pesan tegas: jangan mendikte bangsa yang siap menanggung konsekuensi. Inilah seni deterrence klasik—membuat lawan berpikir seribu kali sebelum menekan tombol. Iran paham, perang modern bukan soal siapa paling marah, tapi siapa paling siap secara ekonomi, teknologi, dan mental rakyat.

Kelima, Iran berbicara sebagai bagian dari umat Islam yang terluka, bukan sebagai korban yang meratap. Palestina dijadikan isu prinsip, bukan kartu negosiasi. Ini membuat Iran konsisten, dan konsistensi dalam politik global adalah mata uang langka. Banyak negara lantang di podium, tapi sunyi di meja perundingan. Iran memilih sebaliknya: tenang di kata, keras di sikap.

Terakhir, kekuatan Iran adalah keberanian untuk tidak disukai. Dunia hari ini penuh negara yang ingin “diterima”, padahal harga penerimaan itu sering kali adalah kehormatan. Iran memilih jalan sepi: dicerca media, disanksi ekonomi, diancam militer—namun tetap berdiri. Dalam sejarah Islam, martabat selalu lahir dari keteguhan, bukan dari tepuk tangan.

Inilah pelajaran besarnya: bangsa yang tahu siapa dirinya, tidak bisa diatur-atur. Bukan karena ia paling kuat, tapi karena ia sudah berdamai dengan risiko. Dan di dunia yang dipimpin oleh ketakutan, keberanian seperti itu terasa subversif.

Faktor Ideologi Syiah

Ini bagian yang sering disalahpahami—bahkan oleh sesama Muslim—karena dibaca dengan emosi, bukan dengan kacamata sosiologi sejarah.

Syi’ah di Iran bukan sekadar mazhab fikih; ia adalah mesin pembentuk mental kolektif. Di dalamnya ada teologi penderitaan, kesabaran, dan perlawanan jangka panjang seperti mereka kukuhkan dalam tradisi memperingati Karbala. Bangsa yang sudah berdamai dengan penderitaan tidak mudah diperas dengan ancaman.

Konsep Imam yang dizalimi melahirkan refleks membela yang tertindas, bahkan ketika ongkosnya mahal. Inilah sebab Palestina bukan isu musiman bagi Iran. Dalam kosmologi Syi’ah, berdiri di pihak mustadh‘afin adalah kewajiban teologis, bukan sekadar diplomasi. Amerika dan Israel membaca ini sebagai “keras kepala ideologis”. Padahal justru di situlah konsistensi strategisnya lahir.

Lalu ada doktrin anti-tirani yang sangat kuat. Yazid dalam imajinasi Syi’ah bukan tokoh sejarah mati, tapi simbol kekuasaan zalim lintas zaman. Setiap hegemoni yang memaksa kehendak—siapa pun pelakunya—mudah dipetakan ke simbol itu. Maka ketika Iran menolak didikte, itu bukan spontanitas politik, tapi refleks teologis yang sudah dilatih berabad-abad.

Syi’ah juga membentuk struktur kepemimpinan yang relatif tahan kooptasi. Ulama bukan sekadar juru doa, tapi aktor sosial-politik yang independen secara ekonomi dan kultural. Jaringan hawzah, marja‘, dan otoritas keilmuan menciptakan “deep state” moral yang tidak mudah dibeli dengan sanksi atau hibah. Barat terbiasa menekan elite politik; Iran punya elite religius yang logikanya berbeda.

Yang sering luput: budaya menunggu Imam Mahdi tidak melahirkan pasivisme, tapi kesiapsiagaan etis. Menunggu di sini berarti mempersiapkan masyarakat yang adil, mandiri, dan tahan ujian. Ini membuat Iran sabar secara strategis—tidak reaktif, tidak gegabah. Kesabaran seperti ini sering disalahartikan sebagai kelemahan, sampai tiba-tiba ia berubah jadi daya tahan yang mengejutkan.

Jadi, faktor Syi’ah bukan aksesoris identitas. Ia adalah arsitektur batin negara. Kita boleh tidak sepakat secara mazhab dengan Syi’ah Iran, tapi menutup mata terhadap perannya adalah kebutaan. Iran berdiri bukan hanya dengan misil dan diplomasi, tapi dengan ingatan Karbala yang terus hidup. Dan bangsa yang hidup dengan ingatan seperti itu sulit dipaksa berlutut.

Moeflich Hasbullah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ponpes Berkedok Tahfiz Quran Berubah Jadi Tempat Predator Anak, Digeruduk Warga Pati 

    Ponpes Berkedok Tahfiz Quran Berubah Jadi Tempat Predator Anak, Digeruduk Warga Pati 

    • calendar_month Ming, 3 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR kanal31.com — Belum hilang kisah Syekh Ahmad Al Misry, pendakwah Mesir yang dulu dipuja-puja sebagai juri hafiz Indonesia, simbol “keislaman murni”. Jadi tersangka karena predator anak. Hari ini, bayang-bayang suci itu hancur lebur digantikan realita berdarah. Hal serupa terjadi di Ponpes Ndholo Kusumo, Tlogosari, Tlogowungu, Pati, sebuah lembaga berkedok tahfiz Qur’an justru menjadi rumah jagal […]

  • Top! Generasi Milenial Kelas Menulis UIN Bandung Resmi Kelola 4 Jurnal Ilmiah

    Top! Generasi Milenial Kelas Menulis UIN Bandung Resmi Kelola 4 Jurnal Ilmiah

    • calendar_month Kam, 18 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyampaikan sejak dibuka tahun 2020, Kelas Menulis disiapkan untuk generasi milenial. Yaitu, komunitas mahasiswa jenjang sarjana. Yudi sapaan akrabnya menuturkan Kelas Menulis bergerak dalam pelatihan menulis artikel untuk mahasiswa. Juga bergerak dalam mengelola jurnal ilmiah. “Saat ini, Kelas Menulis punya 4 jurnal […]

  • Top! 40 Pesantren Miliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

    Top! 40 Pesantren Miliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

    • calendar_month Sab, 20 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31. com — Pondok pesantren ikut terlibat aktif dalam menyukseskan program prioritas Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini ditandai dengan berdirinya sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah pesantren.   Direktur Pesantren Basnang Said mengatakan, ada 40 SPPG yang kini dikelola pesantren. “Alhamdulillah, sampai saat ini sudah ada 40 titik pesantren yang […]

  • UIN Bandung Terjunkan 6.674 Mahasiswa, KKN Sarana Menebar Rahmatan lil Alamin

    UIN Bandung Terjunkan 6.674 Mahasiswa, KKN Sarana Menebar Rahmatan lil Alamin

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun ini menerjunkan 6.674 peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN).  Mereka disebar ke wilayah Regional Jawa Barat, nasional, dan internasional. KKN memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam kehidupan bermasyarakat. KKN menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi diri, mengasah […]

  • Dari Keraguan Menuju Kepastian

    Dari Keraguan Menuju Kepastian

    • calendar_month Ming, 28 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Ketika dunia lama sedang runtuh dan dunia baru tengah mencari pijakan, lahirlah seorang pemikir yang kemudian disebut sebagai Bapak Filsafat Modern, Rene Descartes (1596- 1650).   Pemikiran Descartes tumbuh di tengah situasi Eropa sedang berada dalam masa transisi besar: sebuah dunia lama yang berakar pada otoritas Gereja dan filsafat skolastik Aristotelian mulai […]

  • Selamat! IJIMS UIN Salatiga Masuk 15 Jurnal Terbaik Dunia

    Selamat! IJIMS UIN Salatiga Masuk 15 Jurnal Terbaik Dunia

    • calendar_month Jum, 15 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Jurnal Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) kembali mengukir prestasi di level dunia. Indonesian Journal of Islam and Muslims Societies (IJIMS) yang diterbitkan UIN Salatiga masuk dalam deretan lima belas jurnall terbaik dunia dari 547 jurnal yang terindeks Scopus dalam kategori Studi Keagamaan (religious studies). IJIMS menjadi satu-satunya jurnal dari Indonesia yang menempati posisi tersebut. […]

expand_less