Mengungkap Penyebab Mundurnya Gubernur BI, Benarkah Alasan Pribadi
- account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

KALBAR, kanal31.com — Kita lanjutkan kisah mundurnya Gubernur BI, Pak Perry. Mundurnya karena alasan pribadi. Benarkah demikian? Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!
Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia. Suratnya dikirim 25 Juli 2026. Presiden Prabowo menerimanya sehari kemudian. Senin, 27 Juli 2026, diumumkan resmi. Padahal masa jabatan beliau masih sampai 2028.
Alasannya?
“Pribadi.”
Di Indonesia, kalimat “alasan pribadi” memiliki daya ledak setara petasan satu kontainer. Begitu keluar, netizen langsung berubah menjadi Sherlock Holmes, Hercule Poirot, Mbah Dukun Ekonomi Nusantara, hingga Mak Erot, ups.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi buru-buru memastikan Perry tidak sakit. Berarti bukan karena kolesterol, jantung, saraf kejepit, bengeng, bukan asam urat, apalagi karena terlalu lama duduk menghitung inflasi.
Lalu Destry Damayanti langsung ditunjuk menjadi Pejabat Gubernur Sementara sesuai undang-undang. Cepat sekali. BI ternyata seperti pesawat tempur. Pilot turun, kopilot langsung pegang kemudi.
Namun, rakyat Indonesia bukan rakyat biasa. Mereka punya jurusan S-3 Konspirasi Warung Kopi.
Mereka membuka arsip tanggal 18 Mei 2026. Saat itu Perry tampil percaya diri di Komisi XI DPR.
“Juli, Agustus, September rupiah akan menguat.”
Beliau menjelaskan pelemahan April-Juni hanya faktor musiman. Orang membayar dividen, berangkat haji, kebutuhan valas meningkat. Target rata-rata kurs sepanjang tahun tetap di kisaran Rp16.200-Rp16.800 sesuai asumsi APBN.
Lalu…Akhir Juli datang. Rupiah malah nongkrong di sekitar Rp17.960 hingga hampir Rp18.000 per dolar AS.
Warung kopi langsung menyimpulkan, “Kayaknya rupiah salah dengar. Disuruh menguat, malah goyang gemoi di karaoke.”
Pasar ikut panik. IHSG dibuka melemah sekitar 0,25 hingga 0,68 persen di kisaran 6.180. Saham-saham bank besar ikut lesu seperti habis begadang nonton sinetron.
Ekonom INDEF, Esther Sri Astuti dan M. Rizal Taufikurahman, menyebut kondisi ini sebagai institutional shock bisa menaikkan risk premium, menekan rupiah, dan mendorong yield obligasi.
Ronny P. Sasmita dari ISEAI menyebutnya moment of truth bagi kredibilitas moneter.
Bhima Yudhistira dari CELIOS menilai ini pukulan telak dan tekanan politik sudah mulai terasa sejak rupiah melemah pada akhir 2025.
Lalu muncullah bab kedua yang lebih bikin warung kopi overthinking.
Kasus dugaan korupsi dana CSR BI dan OJK periode 2020-2023.
Dua anggota DPR, Heri Gunawan dan Satori, telah menjadi tersangka sejak Agustus 2025. Nilainya Rp28,38 miliar. Rinciannya sekitar Rp15,86 miliar dan Rp12,52 miliar.
Dana sosial itu diduga berubah wujud menjadi rumah makan, tanah, kendaraan hingga deposito.
KPK pernah menggeledah Gedung BI, termasuk ruang kerja Perry, pada Desember 2024. Perry ketika itu menegaskan BI kooperatif dan penyaluran CSR dilakukan melalui yayasan sah.
Sampai hari ini, tidak ada satu pun pernyataan resmi yang menghubungkan kasus CSR tersebut dengan pengunduran diri Perry.
Tetapi…Kalau fakta berhenti bekerja, imajinasi netizen justru lembur.
Ada bilang ruang kerja gubernur BI memiliki tombol merah bertuliskan “Jangan Dipencet.”
Konon, begitu rupiah mendekati Rp18.000, tombol itu berkedip sendiri, printer menyala otomatis, lalu keluar surat pengunduran diri lengkap dengan tanda tangan digital.
Tolong jangan dipercaya. Printer kantor saja biasanya macet kalau disuruh cetak dua lembar.
Belum selesai teori itu, muncul nama Thomas Djiwandono, Deputi Gubernur BI sejak Februari 2026 sekaligus keponakan Presiden Prabowo. Lucunya, dulu justru Perry ikut merekomendasikan Thomas ketika proses seleksi deputi.
Begitu kursi gubernur kosong, mesin spekulasi langsung berputar seperti kipas angin kosan level lima.
Padahal faktanya sederhana. Presiden belum mengajukan calon gubernur definitif. Destry hanya menjalankan tugas sementara. Sedangkan pengangkatan gubernur tetap harus melalui usulan Presiden dan uji kelayakan DPR. Namun sejumlah ekonom mengingatkan agar independensi BI tetap terjaga karena pasar sensitif terhadap persepsi kedekatan politik.
Lantas, apa sebenarnya penyebab Perry mundur, jawabannya masih sama. Belum ada yang tahu selain Perry sendiri.
Namun di negeri ini, kekosongan informasi selalu diisi oleh dua pihak yang bekerja tanpa libur, imajinasi netizen dan profesor warung kopi. Mereka sanggup menghubungkan kurs rupiah, CSR, tombol rahasia BI, konstelasi bintang, hingga cicak yang jatuh dari plafon menjadi satu teori besar. Kalau Nobel Konspirasi ada, Indonesia sudah lama masuk final.
Foto Ai hanya ilustrasi
- Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Saat ini belum ada komentar