Nadiem akan Sekolah Tinggi
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar

JAKARTA, kanal31.com — Dimana mendapatkan keadilan? Memang, kita empati, betapa sakitnya Nadiem Makarim, bukan dari politisi/partai politik, melainkan profesional yang berusaha menjadi menteri visioner tapi malah dapat derita besar di ujungnya, divonis 10 tahun penjara, denda 1 miliar dan uangganti 809,5 miliar.
Tapi, bila renungan dihidupkan, jangan-jangan, bisa jadi itu sebuah “keadilan” terutama dalam konteks pelajaran hidup:
Pertama, banyak orang tak peka pada karakter kekuasaan Jokowi. Umumnya berpikir, menjadi pejabat tinggi, menjadi menteri, adalah gengsi dan prestasi. Padahal, banyak yang bukan ahlinya. 5 menteri era Jokowi yang terseret korupsi, di pengadilan semuanya mengaku setor ke Jokowi.
Menjadi pejabat tinggi atau jadi menteri itu bukan prestasi tapi ujian. Ujian yang diinginkan banyak orang. Ujian yang anehnya menjadi simbol prestise: “Wow, hebat jadi menteri!” Ucapan selamat pun mengalir dari banyak orang dan kolega: “Selamat ya Mas!”
Dilantik menjadi pejabat tinggi atau menteri itu bukan selamat. Selamat itu nanti bila di akhir jabatan tak ada masalah: Tak ada penyelewengan, tak ada korupsi, tak ada anak buah yang sakit hati, tak ada orang teraniaya dan terdzalimi, tapi malah pada menangis kehilangan karena kebersihan kepemimpinannya. Perusahaan, lembaga atau departemennya pun membaik kinerjanya dan lebih maju. Banyak orang terbantu dan terselamatkan oleh jabatannya. Itulah selamat, bahkan selamat di akhirat di yaumul hisab.
Ucapan “selamat” dari teman dan kolega atas sebuah jabatan itu semuanya menipu dan menjebak. Yang harus diucapkan seorang teman dan sahabat atau keluarga harusnya bukan selamat, tapi mengingatkan: “Hati-hati Mas, mengemban amanat yang besar, pertanggungjawabannya berat. Kalau ingin selamat mendingan tolak apalagi itu bukan bidang dan keahlian kita.” Itu baru sahabat sejati namanya. (Kecuali sebuah kedudukan yang harus kita ambil karena kita yakin, kita yang paling mumpuni dan paling mampu atas tugas dan pekerjaan itu, dan bisa rusak bila diduduki oleh yang bukan ahli dan kapasitasnya. Itu lain perkara).
Kedua, bisa jadi, vonis penjara itu sebuah keadilan Tuhan, karena bila tugas atau amanat jabatan itu bukan keahlian, ranah dan jiwanya, pun sudah mapan atau sukses ekonomi dengan kelimpahan duniawi (uang, materi, fasilitas, kemewahan) apakah sebagai pemilik perusahaan, pengusaha sukses, sebagai direktur, manajer dll, tapi kita masih saja mau ditawari jabatan tinggi yang amanatnya berat apalagi yang bukan keahliannya. Kita masih saja merasa kurang, ingin terus lebih.
Nadiem Makarim begitu? Ini bukan soal Nadiem tapi soal pelajaran bagi kita semua, bagi siapapun. Banyak orang ujungnya menyesal oleh godaan dan penyesalan tak ada yang terjadi di awal. Mdh2an Nadiem kuat menghadapinya dan menjadi pelajaran sangat penting dalam hidupnya, karena manusia bukan soal salah-benar, bukan soal penjara, tapi soal menjadikan semua peristiwa dalam hidupnya sebagai pelajaran. Itulah sekolah kehidupan.
Jadi, Nadiem sebenarnya akan menempuh sekolah tinggi bukan akan dipenjara. Dan karena Allah tak akan membebani seseorang diluar kesanggupannya, berarti Nadiem kuat!! Yang kita mah belum tentu.[]
(Pahala akan menyebar bila ada yang membagikan tulisan ini sampai kepada Nadiem Makarim untuk dibaca dalam keheningannya. Wallahu a’lam).
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Saat ini belum ada komentar