Breaking News:
Beranda » NETIZEN » UIN Bandung menuju 2027: Melanjutkan Kepemimpinan Kolaboratif, yang Tak Lupa Akar Histori

UIN Bandung menuju 2027: Melanjutkan Kepemimpinan Kolaboratif, yang Tak Lupa Akar Histori

  • account_circle Sungkawa Abdisunda
  • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Nanang Sungkawa

—> Alumnus IAIN Cipadung, Bandung <—

Arah  angin dan peta pertarungan ideologi kepemimpinan mulai hangat diperbincangkan menjelang kontestasi pemilihan Rektor UIN Bandung 2027. Momentum golden era yang tengah dinikmati kampus kebanggaan Jawa Barat ini tetap menuntut hadirnya sosok nakhoda —seorang pemimpin yang tidak sekadar matang secara akademis, tetapi juga piawai secara sosiologis, bijak dalam politik kelembagaan, serta teguh menjaga marwah sejarah pendiriannya.

DI kawasan timur Bandung, gedung-gedung megah UIN Sunan Gunung Djati berdiri tegak melambangkan metamorfosis panjang sebuah perguruan tinggi Islam. Keberadaanmya bukan sekadar gedung dan capaian akademik semata, melainkan menyimpan amanah sosiologis yang kuat, yakni sebuah rumah pemersatu umat yang lahir dari gelombang cita-cita luhur para ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat Jawa Barat.

Menjelang suksesi kepemimpinan 2027, kampus ini kembali berada di persimpangan jalan. Pertanyaan mendasarnya bukan sekadar siapa yang sedang/akan memimpin? Melainkan kemana arah kompas keharmonisan dan kemajuan institusi ini akan dibawa?

Untuk memahami akar moral UIN Bandung, kita harus menengok kembali era 1960-an. Saat itu, masyarakat Jawa Barat merindukan hadirnya pusat pendidikan tinggi Islam yang sanggup berdiri sejajar dengan perguruan tinggi umum, sekaligus menjadi benteng moral yang mengakar pada nilai-nilai lokal Sunda.

Maka, pada 1967 sejumlah ulama, birokrat, dan akademisi Pasundan membidani lahirnya panitia pendirian IAIN Jawa Barat. Semangat utamanya adalah menghadirkan institusi keagamaan inklusif yang menjadi milik seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat ormas.

Pada 8 April 1968, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung resmi berdiri, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 56 Tahun 1968. Rektor pertamanya KH. Anwar Musaddad. Lalu pada 2005 –melalui Perpres No. 57 Tahun 2005–  IAIN bertransformasi menjadi UIN, menandai era integrasi sains dan agama.

Pendirian kampus ini tidak diarsiteki oleh faksi politik tertentu atau segelintir kelompok eksklusif. Ia lahir dari konsensus sosial masyarakat Jawa Barat.

Mengingat akar sejarahnya yang inklusif, masa depan UIN Bandung menuntut kompas kepemimpinan yang matang. Siapapun sosok yang memegang kemudi dinilai perlu mengantongi lima kriteria mendasar:

  1. Kedalaman spiritual dan  intelektual: memiliki integrasi keilmuan dan fondasi keagamaan yang kokoh sebagai syarat mutlak.
  2. Keterikatan kultural Jawa Barat: Mampu memahami dan menyatu dengan posisi sosiologis serta kearifan lokal Sunda sebagai akar budaya institusi.
  3. Legitimasi akar rumput: Memiliki rekam jejak dan keorganisasian yang kuat untuk menjamin legitimasi sosial di tingkat masyarakat luas.
  4. Konsolidasi jaringan alumni: Memiliki visi merekatkan potensi alumni secara solid guna membuka kemitraan dan jejaring internasional.
  5. Keterbukaan berbasis meritokrasi: memberikan ruang yang adil dan seluas-luasnya bagi kepemimpinan perempuan berdasarkan kompetensi murni.


Wacana Gender: Apakah Murni Kesetaraan?

Seperti dimaklumi bersama, akhir-akhir ini mengemuka narasi kepemimpinan “cantik” perempuan. Hal itu patut disambut sebagai wujud kedewasaan akademis dan inklusivitas lembaga. Namun, catatan kritis tetap harus disematkan bahwa “isu gender harus berdiri murni di atas prinsip keadilan dan meritokrasi”.

Wacana kesetaraan jangan sampai dimanipulasi menjadi instrumen politik sektarian atau fanatisme chauvinistik yang justru melahirkan iklim non-kolaboratif. Peringatan ini menggarisbawahi kekhawatiran munculnya narasi eksklusif yang berkedok gender, atau faktanya justru mengerdilkan esensi kesetaraan, menciptakan polarisasi, serta mengganggu keharmonisan iklim akademik.

Tantangan terbesar UIN Bandung bukan sekadar latar belakang gender atau asal organisasi para kandidat, melainkan harus mempertahankan gaya kepemimpinan kolaboratif, yang bercirikan: 1) Merangkul lintas organisasi kemasyarakatan, alumni, dan akademisi; 2) Terbuka, berbasis kompetensi, dan berwawasan global; 3) Menjaga stabilitas (iklim akademik yang baik) dan lompatan prestasi yang berkelanjutan.

Nah, suksesi kepemimpinan UIN Bandung mendatang adalah ujian keteguhan komitmen. Apakah UIN Bandung akan tetap setia pada khittah pendirinya sebagai rumah pemersatu umat yang inklusif? Atau justru terseret ke dalam kompetisi kelompok yang sempit? Jawabannya ada pada keberanian seluruh elemen sivitas akademika untuk memilih narasi kolaborasi di atas kepentingan sektarian.*

(Bahan feature: interview dengan sejumlah dosen UIN Bandung)

  • Penulis: Sungkawa Abdisunda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertama, Jurnal DinamikA Mahasiswa UIN Salatiga Masuk DOAJ

    Pertama, Jurnal DinamikA Mahasiswa UIN Salatiga Masuk DOAJ

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SALATIGA Jurnal DinamikA Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga berhasil menjadi jurnal pertama yang dikelola mahasiswa PTKIN dan masuk Directory of Open Acces Journal (DOAJ). DOAJ adalah direktori daring yang memberi indeks serta menyediakan akses ke jurnal yang berkualitas, open access, dan peer-reviewed. DOAJ diluncurkan pada 2003 di Universitas Lund, Swedia. Jurnal DinamikA dikelola oleh tim […]

  • 5 Tempat Ngopi Asyik Saat Liburan Panjang di Bandung

    5 Tempat Ngopi Asyik Saat Liburan Panjang di Bandung

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Liburan panjang di Bandung selalu menghadirkan cerita kecil yang menyenangkan. Setelah lelah menyusuri Braga, menikmati sejuknya Dago, atau berburu suasana di Lembang, ada satu ritual sederhana yang hampir selalu dicari wisatawan: duduk tenang di tempat ngopi yang nyaman. Di kota yang akrab dengan udara dingin dan budaya nongkrong ini, secangkir kopi sering […]

  • Keren! Kontingen Jawa Timur Sabet Gelar Juara Umum KSM Nasional 2024 di Ternate

    Keren! Kontingen Jawa Timur Sabet Gelar Juara Umum KSM Nasional 2024 di Ternate

    • calendar_month Minggu, 8 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM (Ternate) — Kontingen Provinsi Jawa Timur mencatat sejarah gemilang dengan meraih gelar Juara Umum Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Nasional 2024 di Kota Ternate. Prestasi ini diraih setelah para siswa madrasah asal Jawa Timur mendominasi perolehan medali di berbagai bidang lomba, baik dalam kategori individu maupun beregu, utamanya dalam penguasaan sains yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman. […]

  • Menag: Santri Sekarang Harus Teruskan Perjuangan

    Menag: Santri Sekarang Harus Teruskan Perjuangan

    • calendar_month Selasa, 22 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM (Jakarta) — Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menjadi pembina pada Apel Santri 2024. Menag mengharap santri masa kini meneruskan perjuangan para pendahulu yang telah berjuang demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia. Apel yang digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (22/10/2024), ini dihadiri Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i, Anggota Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang, sejumlah […]

  • Jeritan Sunyi Anak Pascaperceraian: Riset Dr. Ridwan Eko Tawarkan Blueprint Radikal Selamatkan Masa Depan Anak

    Jeritan Sunyi Anak Pascaperceraian: Riset Dr. Ridwan Eko Tawarkan Blueprint Radikal Selamatkan Masa Depan Anak

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Di balik runtuhnya mahligai rumah tangga ratusan ribu pasangan di Indonesia, ada krisis kemanusiaan sunyi yang luput dari sorotan. Jutaan anak menjadi korban laten yang telantar hak hidupnya. Menjawab jeritan sosial ini, sebuah riset doktoral progresif dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung meluncurkan sebuah cetak biru (blueprint) radikal: mendorong sistem […]

  • Rumah yang Dibangun dari Ragam Suara

    Rumah yang Dibangun dari Ragam Suara

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com — Di Nusantara, keputusan tidak selalu turun dari langit istana.   Keputusan lazim tumbuh dari tanah. Dari rumah-rumah yang menghadap laut, dari balai tempat para tetua duduk bersila, dari halaman kampung ketika malam mulai turun dan orang-orang belum pulang sebelum perkara selesai dibicarakan.   Di sana, kekuasaan tidak selalu berbicara dengan satu lidah. Ia […]

expand_less