Breaking News:
Beranda » BEWARA » Belenggu Produktivitas Dosen

Belenggu Produktivitas Dosen

  • account_circle Admin Kanal31
  • calendar_month Minggu, 19 Jun 2022
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Asyari, Wakil Rektor 1 IAIN Bukittinggi

SPI-BUKITTINGGI

Produktivitas dosen butuh perhatian serius. Berdasarkan hasil rilis Science And Technology Index (SINTA), per Februari 2022 secara aggregate tercatat jumlah publikasi dosen di google scholar dalam durasi 3 tahun terakhir menunjukkan penurunan. Tahun 2019 jumlah publikasi sebanyak 401.716 artikel, tahun 2020 sebanyak 400.792 dan di tahun 2021 “terjun ” ke 326.901 artikel. Hal yang sama terjadi pada publikasi terindeks Scopus. Tahun 2019 di posisi 46.138 artikel dan di tahun 2021 turun menjadi 38.635 artikel. Begitu juga hasil kerja dosen yang digunakan oleh masyarakat dan mendapat rekognisi internatioanal di tahun 2020 rerata pencapainnya 6.41%. Jika dibandingkan jumlah dosen 29.0573 (PDIKTI Kemendikbud, Feb 2022) artinya setiap dosen memiliki publikasi 1,12 artikel pertahun dan publikasi di Scopus sebanyak 0,13 artikel pertahun.

Di level internasional, World University Ranking 2021 yang memiliki indikator riset juga merilis universitas di Indonesia tidak masuk list QS.100. Hanya ada 3 perguruan tinggi; UGM, UI, dan ITB harus puas bertengger di posisi 250 – 300 an.

Berdasatkan data kuantitatif di atas, tidak salah jika banyak sorotan yang dialamatkan ke produktivitas dosen. Sorotan tersebut melengkapi sorotan lain bak arang di kening tergores ke perguruan tinggi, seperti kasus plagiat, korupsi, pelecehan dan kekerasan seksual, jurnal predator, dan transaksional jabatan yang sejatinya jauh dari dunia perguruan tinggi.

Produksi Inovasi

Sebagai institusi yang menyandang sebutan pendidikan tinggi (higher education), publik menggayutkan banyak ekspektasi pada perguruan tinggi. Masyarakat menunggu berbagai temuan riset, ide -ide bernas dan inovasi yang merupakan produktivitas kaum intelektual nan sarat novelty melalui publikasi ilmiah dosen. Jumlah publikasi selain menjadi indikator eksistensi dan reputasi dosen juga ukuran dampak perguruan tinggi bagi kehidupan masyarakat luas.

Peneliti di bidang pendidikan tinggi, seperti Ladan Cockshut, dan Mariam Hardey dari Durheim University, United Kingdom (2013), Florian Finnder dan Norma Schonherr dari Viena Uiniversity, Autria (2018) serta Banjamin Yeo dari Illinois, USA (2018), menyebutkan dampak perguruan tinggi bukan sekedar produksi human capital tapi lebih dari itu memproduksi inovasi.

Menurut Moulaert, dkk, (2017) dalam Social Innovation and Community Development, inovasi sosial dapat berkontribusi di tengah masifnya degrasi moral dan semakin tergerusnya nilai-nilai dalam masyarakat. Produksi inovasi sosial melalui riset dan publkasi memuat novelty yang di-supply perguruan tinggi menjadi input bagi pembangunan ekonomi, kehidupan sosial masyarakat yang lebih efektif dan efesien serta memiliki sustainable bagi pemecahan masalah sosial.

Perguruan tinggi yang hanya memproduksi human capital hanya memiliki dampak core element dan memiliki traditional role. Sejatinya, perguruan tinggi harus melampui dampak tersebut dengan memproduksi inovasi sosial untuk mengatasi permasalahan sosial masyarakat.

Embrio Minim Produktivitas

Produktivitas dosen melalui publikasi riset dan inovasi sangat penting bagi kesejahteraan kehidupan sosial masyarakat. Namun kenapa dosen minim produktivitas?

Penjelasan klasik yang diberikan adalah soal pendapatan. Income dosen yang rendah dan disparitas yang besar dibanding profesi lain seperti; dokter dan politikus sebagai anggota dewan, memaksa dosen mencari extra income untuk menaikkan tax home pay. Sehingga dosen produktif mencari pendapatan sampingan dibanding melaksanakan riset dan menghasilkan publikasi serta inovasi.

Argumentasi di atas tidak sepenuhnya dapat diterima. Dewasa ini komponen penerimaan dosen sudah bervariasi terdiri gaji pokok plus tunjangan fungsional, sertifikasi dosen 1 kali gaji pokok, selisih tunjangan kinerja dan uang makan sesuai kehadiran. Pendapatan dosen sudah lebih dari cukup. Masalahnya bukan pada jumlah income tapi alokasi income untuk meningkatan produktivitas riset dan inovasi sesuai bidang keahlian yang minim.

Menurut penulis, embrio minimnya produktivitas dosen berawal dari atmosfir akademik yang kian meredup. Suksesi kepemimpinan kampus berjalan tidak sehat. Kepmenristekdikti No. 9 Tahun 2017 Pasal 9 ayat 3, menetapkan Menteri memiliki 35% hak suara dari total pemilih yang hadir dan Senat memiliki 65% hak suara telah membuat proses kepemimpinan kampus tidak lagi murni oleh dan dari warga kampus. Bahkan ada di perguruan tinggi negeri di luar Kemendikbud, secara kuantitatif suara Senat sebagai representasi warga kampus 0%. Senat hanya memberikan pertimbangan kualitatif pada calon pimpinan perguruan tinggi.

Proses suksesi ala ini membuka pintu untuk lobi-lobi ke pusat kekuasaan. dan transaksi politik. Tak jarang pula terjadi jegal-menjegal di kalangan warga kampus dengan kasus dan masalah pribadi masuk ke penyidik baik di Kejaksaan ataupun Kepolisian. Friksi-friksi berdasarkan kepentingan juga terjadi di kampus. Dosen-dosen terpolarisasi berdasarkan friksi dan kepentingan politik praktis kampus. Ironisnya kondisi ini bisa berlangsung selama 1 priode kepemimpinan. Kelompok yang kalah tentu tidak senang dan terus mengerogoti kepemimpinaan kampus. Sementara yang menang berusaha keras mempertahankan kekuasaan dan malanggengkan untuk 2 periode.

Kondisi ini tentu sangat tidak kondusif dan tidak produktif bagi lahirnya riset, publikasi dan inovasi dosen yang bermutu. Produktivitas dosen terbelenggu oleh praktek-praktek politik praktis kampus. Alih-alih mengharapkan meningkatnya produktivitas dosen melalui publikasi dan inovasi yang ada malah produksi persaingan tidak sehat dan dendam politik tak berkesudahan.

Belenggu ini harus segera diungkai dengan melakukan penataan ulang proses suksesi kepemimpinan kampus yang in line dengan semangat otonomi kampus, kebebasan mimbar akademik dan kejujuran ilmiah. Semoga.

  • Penulis: Admin Kanal31

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PPIH Bertemu Kemenhaj Saudi, Begini Pesan Deputi untuk Persiapan Haji 2026

    PPIH Bertemu Kemenhaj Saudi, Begini Pesan Deputi untuk Persiapan Haji 2026

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JEDDAH kanal31.com — Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah yang juga Penanggung Jawab Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Hilman Latief bertemu dengan Deputi Bidang Hubungan Luar Negeri Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi Hasan Munakirah. Keduanya mendiskusikan sejumlah hal yang terjadi pada penyelenggaran haji 2025 sekaligus persiapan haji tahun depan. Pertemuan ini berlangsung di […]

  • UKM PS-PSPB Promosikan Pencak Silat melalui Seminar Kebudayaan

    UKM PS-PSPB Promosikan Pencak Silat melalui Seminar Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 22 Nov 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Perguruan Silat Pusaka Saputra Paku Banten (PS-PSPB) UIN SGD Bandung bekerja sama dengan Keluarga Mahasiswa Banten (KMB) Bandung menggelar Seminar Kebudayaan, di Aula Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jumat (22/11/2024). Seminar Kebudayaan dibuka oleh Kepala Sub Bagian Kemahasiswaan Muhammad Helmi Kahfi, S.Sos., MM.Pd. MH. Dan, menghadirkan dua narasumber: Dr. H. […]

  • Inilah Tips dan Trik Publikasi Scopus Ala Adhan Efendi

    Inilah Tips dan Trik Publikasi Scopus Ala Adhan Efendi

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Mengakhiri bulan Juni 2025 dengan semangat akademik yang membara, Rumah Jurnal UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Kelas Menulis dan Workshop Academic Writing yang terbuka untuk umum tanpa biaya. Dengan menghadirkan narasumber utama Adhan Efendi, seorang pakar publikasi ilmiah sekaligus kandidat doktor di National Chin-Yi University of Technology, Taiwan. Kegiatan yang dilaksanakan […]

  • Raih Guru Besar, Usep Dedi Rostandi: Simbol Dedikasi, Pengabdian, dan Kontribusi Keilmuan

    Raih Guru Besar, Usep Dedi Rostandi: Simbol Dedikasi, Pengabdian, dan Kontribusi Keilmuan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Perjalanan panjang dan konsisten dalam dunia akademik mengantarkan Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., M.A. meraih jabatan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 2025. Capaian ini menjadi puncak pengabdian akademik yang sarat dedikasi dan kontribusi keilmuan bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.   Bagi dosen UIN […]

  • Mimbar Guru Besar untuk Pendidikan Indonesia

    Mimbar Guru Besar untuk Pendidikan Indonesia

    • calendar_month Selasa, 20 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Di bulan Mei 2025, tepatnya Senin 19 Mei 2025, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melalui Program Studi Pendidikan Agama Islam, untuk pertama kalinya menggelar even Mimbar Guru Besar. Even ini merupakan ikhtiar-akademik-strategis untuk mewadahi pemikiran dan gagasan para dosen yang telah meraih jabatan akademik tertinggi tentang pendidikan, […]

  • Biaya PPG hanya Rp.5 Juta, Peserta dari Ciamis harus Bayar Rp.6 Juta

    Biaya PPG hanya Rp.5 Juta, Peserta dari Ciamis harus Bayar Rp.6 Juta

    • calendar_month Selasa, 29 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    CIAMIS, kanal31.com – Ironis, biaya Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang seharusnya hanya Rp.5 juta, tetapi peserta yang dinyatakan lulus seleksi malah diminta bayar Rp.6 juta. Hal itu diketahui setelah beberapa orang peserta PPG asal Kabupaten Ciamis yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku ke reporter kanal31.com membayar Rp.6 juta untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sumber terpercaya yang dihimpun […]

expand_less