Perkuat Kerukunan, Kemenag dan UIN Bandung Latih Fasilitator Moderasi Beragama
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG kanal31.com – Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., secara resmi membuka Pelatihan Moderasi Beragama yang diselenggarakan UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Hotel Grand Tjokro Bandung, Senin (26/10/2026).
Pelatihan ini diikuti 60 orang yang terdiri guru, dosen, dan aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama dari berbagai daerah dan berlangsung selama tujuh hari, hingga 1 November 2026.
Pelatihan ini merupakan program kolaborasi Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) dengan Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) Kementerian Agama RI, yang dibiayai dana abadi pendidikan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dalam program tersebut, UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali ditunjuk sebagai perguruan tinggi penyelenggara.
Penunjukan ini merupakan yang ketiga kalinya, setelah tahun 2023 dan 2025, sekaligus menandai kepercayaan Kementerian Agama terhadap kapasitas kampus tersebut dalam mengelola program penguatan moderasi beragama berskala nasional.
Pembukaan pelatihan turut dihadiri Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag.; Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Husnul Qodim, S.Ag., M.A., CRCE; Ketua Tim Kerja Investasi Pendidikan, Kerja Sama, dan Riset Puspenma Kementerian Agama RI, Hendro Dwi Antoro, S.H., C.Med.; serta Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang juga menjabat ketua panitia, Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., M.A.
Dalam sambutannya, Prof. Ali Ramdhani memaparkan delapan program prioritas Kementerian Agama periode 2024–2029 yang dikenal sebagai Asta Protas. Program prioritas pertama adalah meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Di dalamnya, penguatan moderasi beragama menjadi salah satu agenda utama, bersama kurikulum cinta kemanusiaan dan pemeliharaan rumah ibadah.
Menurutnya, moderasi beragama tidak dapat dipandang sebagai program pelengkap, karena kehidupan beragama yang rukun dan moderat menjadi prasyarat bagi berjalannya program-program Kementerian Agama yang lain.
“Dari delapan program prioritas Kementerian Agama, kerukunan dan moderasi beragama ditempatkan paling awal. Tanpa kehidupan beragama yang rukun dan moderat, program-program lainnya tidak akan berjalan dengan baik,” ujar Prof. Ali Ramdhani.
Dengan menegaskan peran strategis para peserta dalam mewujudkan agenda tersebut. “Asta Protas tidak akan bermakna jika hanya berhenti sebagai dokumen. Bapak dan Ibu yang hadir di sini adalah ujung tombak yang akan menghidupkannya di madrasah, kampus, dan kantor layanan,” tuturnya.
Peran itulah yang menjadi alasan peserta dipilih dengan cermat. Ke-60 peserta merupakan guru madrasah dan sekolah di lingkungan Kementerian Agama, dosen perguruan tinggi keagamaan, serta ASN Kementerian Agama, dan semuanya telah lolos tahapan seleksi sebelum ditetapkan. Dengan latar belakang yang beragam, mereka diharapkan menjadi penggerak moderasi beragama di lingkungan masing-masing.
Selama tujuh hari, peserta dibekali kemampuan memetakan dinamika keberagamaan di lingkungan kerja dan masyarakat sekitarnya. Kemampuan ini mencakup cara membaca potensi gesekan, mengenali gejala intoleransi sejak dini, dan menemukan modal sosial yang dapat merawat kerukunan. Dari pemetaan tersebut, peserta diarahkan menyusun strategi yang kontekstual, karena tantangan di ruang kelas madrasah, kampus, dan kantor layanan keagamaan tentu tidak sama.
Peserta diajak menghadirkan pelayanan yang moderat, yaitu pelayanan yang adil, berimbang, menghargai keragaman, dan tetap berpijak pada komitmen kebangsaan.
Pelatihan ini tidak dimaksudkan berhenti di ruang kelas. Setelah kembali ke instansi masing-masing, peserta diharapkan menjadi agen moderasi beragama yang menerjemahkan semangat Asta Protas ke dalam kerja sehari-hari. Guru dapat menanamkan nilai moderasi kepada peserta didik, dosen dapat memperkuatnya melalui pengajaran dan riset, dan ASN Kementerian Agama dapat mewujudkannya dalam layanan publik. Dari 60 peserta ini, semangat moderasi diharapkan menjangkau lebih luas ke keluarga, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat, sehingga terbentuk ekosistem keberagamaan yang damai, inklusif, dan saling menghormati.
Rangkaian pelatihan akan berlangsung hingga 1 November 2026. Melalui penyelenggaraan ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan perannya sebagai mitra strategis Kementerian Agama dalam mengarusutamakan moderasi beragama, sejalan dengan komitmen menjaga harmoni di tengah keragaman bangsa Indonesia.
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis UIN Bandung
