Mahasiswa Lupa Nama Dosennya
- account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Adab yang Hilang di Balik Nilai A
MALANG kanal31.com — Ada pengalaman menarik ketika saya menjadi penguji ujian komprehensif, sebuah ujian yang harus dilalui mahasiswa sebelum diperbolehkan mengikuti sidang skripsi. Pengalaman ini membuat saya merenung cukup lama tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam proses pendidikan tinggi kita.
Saya mengajak mahasiswa tersebut melakukan kilas balik perjalanan akademiknya, dari semester pertama hingga semester 6, hal mendasar yang dipelajari?
Jawabannya mengejutkan. Ia tidak ingat nama dosen yang mengajar sejumlah mata kuliahnya. Bahkan untuk mata kuliah semester enam, yang nilainya A, ia kesulitan mengingat kembali siapa dosen pengampunya.
Saya kemudian beralih ke substansi keilmuan. Dalam mata kuliah Aljabar Linier, misalnya, saya menanyakan syarat perkalian dua matriks. Ia tidak mampu menjawab dengan baik. Ketika pembicaraan beralih ke algoritma pengurutan, seperti _bubble sort_ dan _binary search_—dua konsep dasar dalam algoritma dan pemrograman—ia juga kesulitan menjelaskannya.
Tentu saja, lupa merupakan bagian dari proses kognitif manusia. Tidak semua materi kuliah akan tersimpan selamanya dalam ingatan. Kita pun tidak mungkin menuntut mahasiswa menghafal seluruh isi perkuliahan selama bertahun-tahun. Namun, ada sesuatu yang patut dipertanyakan ketika nilai akademik yang baik tidak berbanding lurus dengan penguasaan konsep dasar yang seharusnya menjadi fondasi keilmuan.
Tetapi, yang paling mengusik pikiran saya justru bukan semata-mata ketidakmampuannya menjawab pertanyaan akademik. Saya lebih terganggu oleh kenyataan bahwa nama-nama dosen yang pernah mendampingi perjalanan intelektualnya seolah-olah tidak meninggalkan jejak.
Di sinilah saya mulai merenungkan persoalan adab.
Dalam tradisi pendidikan, adab bukan sekadar kesopanan formal, kebiasaan menyapa dosen, atau kewajiban mencium tangan guru. Adab menyangkut kesadaran bahwa ilmu tidak hadir begitu saja. Ada proses, ada orang-orang yang membimbing, ada waktu yang dicurahkan, dan ada tanggung jawab intelektual yang menyertai setiap pengetahuan yang diperoleh.
Mahasiswa tidak harus mengingat setiap dosen secara sempurna. Akan tetapi, bukankah perjalanan panjang di perguruan tinggi semestinya meninggalkan kesan tentang orang-orang yang turut membentuk dirinya? Bukankah pendidikan seharusnya membangun relasi yang lebih bermakna daripada sekadar hadir di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu memperoleh nilai?
Saya teringat prinsip yang sering dikemukakan dalam tradisi pendidikan Islam: adab mendahului ilmu. Prinsip ini mengingatkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Ilmu membutuhkan sikap hormat terhadap proses belajar, kesadaran atas sumber pengetahuan, kerendahan hati untuk terus belajar, dan tanggung jawab dalam menggunakan apa yang telah diketahui.
Namun, refleksi ini tidak boleh berhenti dengan menunjuk mahasiswa sebagai pihak yang bersalah.
Bagaimana jika persoalannya juga terletak pada cara kita menyelenggarakan pendidikan? Apakah perkuliahan kita cukup bermakna untuk diingat? Apakah dosen hadir sebagai pendidik yang menginspirasi, atau sekadar pengampu mata kuliah yang menyampaikan materi dan memberikan nilai? Apakah sistem evaluasi kita sungguh-sungguh mengukur pemahaman, atau justru lebih banyak mengukur kemampuan mahasiswa memenuhi tuntutan administratif perkuliahan?
Nilai A seharusnya menjadi indikator pencapaian pembelajaran, bukan sekadar angka yang mengantarkan mahasiswa melewati satu tahap menuju tahap berikutnya. Jika mahasiswa memperoleh nilai tinggi tetapi tidak mampu menjelaskan kembali konsep-konsep mendasar, kita perlu mengevaluasi kualitas asesmen dan keberlanjutan pembelajaran kita.
Demikian pula, jika hubungan mahasiswa dan dosen hanya berlangsung sebatas transaksi akademik, kita tidak bisa begitu saja menyebut mahasiswa nir-adab tanpa memeriksa lingkungan yang membentuk perilaku tersebut.
Pendidikan tinggi tidak semestinya hanya menghasilkan lulusan yang berhasil menyelesaikan SKS, memperoleh IPK tinggi, dan meraih gelar sarjana. Perguruan tinggi harus membentuk manusia yang memahami ilmunya, menyadari keterbatasannya, menghargai proses yang membawanya sampai ke titik itu, dan mampu mempertanggungjawabkan pengetahuannya.
Pengalaman dalam ujian komprehensif tersebut akhirnya membawa saya pada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: jangan-jangan kita terlalu sibuk memastikan mahasiswa lulus, tetapi kurang serius memastikan bahwa mereka benar-benar belajar.
Sebab, jika nilai bisa diperoleh tanpa penguasaan ilmu yang memadai, dan perjalanan pendidikan bisa dilalui tanpa meninggalkan kesadaran tentang orang-orang yang membimbingnya, kita perlu bertanya kembali tentang makna keberhasilan akademik.
Ilmu memang harus dikuasai, tetapi manusia juga harus belajar menghargai proses yang membuatnya berilmu. Di situlah adab menemukan tempatnya.
- Penulis: Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
