Mendukbangga Wihaji: Keluarga Adalah Madrasah Utama Menuju Indonesia Emas 2045
- account_circle Sungkawa Abdisunda
- calendar_month Kam, 9 Apr 2026
- comment 0 komentar

BANDUNG, kanal31.com– Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji menegaskan, kunci utama transformasi Indonesia menuju negara maju pada 2045 tidak terletak pada gedung-gedung pencakar langit, melainkan pada ketahanan 74.092.313 keluarga Indonesia.
Penegasan itu disampaikan Wihaji pada kuliah umum yang digelar Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, diikuti 2.000 mahasiswa dan sivitas akademika, di Aula Anwar Musaddad, Kamis (09/04/2026). Kuliah umum ini bertajuk “Transformasi Kebijakan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045”.
Dalam paparannya, Menteri Wihaji menjelaskan bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan jalan Bonus Demografi. Melimpahnya penduduk usia produktif bisa menjadi berkah, namun juga berisiko menjadi bencana ekonomi jika tidak dikelola dengan strategi yang tepat.
“Tanpa kualitas SDM yang mumpuni, pengangguran tinggi akan menjadi ancaman. Itulah mengapa Kemendukbangga fokus pada penguatan kualitas keluarga, pencegahan stunting, hingga Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Investasi SDM bukan Sekadar angka, tapi kualitas,” ujar Wihaji.
Ia juga menyoroti pentingnya Lansia Berdaya dan layanan keluarga yang berbasis pada hukum serta nilai keagamaan sebagai fondasi stabilitas sosial.

Sinergi Akademisi dan Nilai Qur’ani
Rektor UIN Sunan Gunung Djati, Prof. Rosihon Anwar, menyambut hangat visi tersebut. Menurutnya, isu kependudukan sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai dalam Al-Qur’an. Islam memberikan perhatian besar pada pengelolaan kehidupan manusia yang berkelanjutan.
“UIN Bandung menyatakan kesiapan penuh untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan program Bangga Kencana,” katanya.
Senada dengan Rektor, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Prof. Fauzan Ali Rasyid, menambahkan bahwa penguatan hukum keluarga memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai patologi sosial di masyarakat saat ini.
Tak hanya sekadar retorika, lanjut Prof. Fauzan, kegiatan ini dikukuhkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Kerja sama ini diharapkan mampu mendorong riset menciptakan kebijakan berbasis data lapangan yang akurat.
Selain itu edukasi literasi, yang melibatkan mahasiswa dan penyuluh KB sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Dan, adanya aksi lapangan dengan menurunkan angka stunting dan meningkatkan kesejahteraan keluarga secara riil.
Penutup kegiatan diisi dengan sesi diskusi interaktif yang menunjukkan antusiasme tinggi dari para mahasiswa. Sinergi antara dunia akademik dan pemerintah ini diharapkan menjadi katalisator bagi terciptanya generasi unggul yang lahir dari keluarga-keluarga yang sehat, cerdas, dan religius.(nas)
- Penulis: Sungkawa Abdisunda

Saat ini belum ada komentar