Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALBAR kanal31.com — Sesuai prediksi, perundingan damai Iran vs Amerika bakal gagal. Benar adanya. Kedua belah pihak tak mau berdamai. AS ingin Iran tutup total nuklir. Iran jelas tak mau, itulah senjata andalan. Akankah perang kembali meletus? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Dua raksasa, Iran dan Amerika Serikat, janjian “berdamai” di Islamabad. Hasilnya malah mirip pasangan yang ribut di warung makan. Satu ngotot benar. Satu lagi angkat kursi duluan sambil bilang, “udah, kau aja yang benar!”

 

Perundingan ini bukan kaleng-kaleng. Ini pertemuan langsung tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979. Ini momen sakral yang seharusnya bisa jadi titik balik sejarah. Tapi apa daya, 21 jam diskusi dari Sabtu malam sampai Minggu dini hari, 12 April, cuma menghasilkan satu hal, kelelahan kolektif dan nihil kesepakatan. Nol. Kosong. Hampa, wak.

 

Dari kubu AS, JD Vance tampil dengan muka datar khas pejabat yang baru kehilangan charger. Ditemani Steve Witkoff dan Jared Kushner, dia bilang Iran “memilih untuk tidak menerima syarat kami.” Intinya? Program nuklir Iran mau dihentikan total. Respons Iran? Ya tentu saja, “mimpi kali ye.”

 

Vance pun menutup bab ini dengan gaya dramatis minimalis, “ini tawaran terbaik dan terakhir.” Setelah itu? Cus. Naik Air Force Two, terbang sekitar pukul 07.00 pagi waktu setempat, meninggalkan Pakistan dengan aroma kegagalan yang lebih pekat dari asap knalpot di jam pulang kantor.

 

Sementara itu, delegasi Iran? Masih stay di Islamabad, santai tapi penuh kode. Kementerian Luar Negeri mereka bilang pembicaraan “intensif,” tapi AS dinilai mengajukan “tuntutan berlebihan dan tidak sah.” Klasik. Satu bilang fleksibel, satu bilang kelewatan. Ini bukan diplomasi, ini tarik tambang ego internasional.

 

Sebagai tuan rumah, Pakistan cuma bisa geleng-geleng sambil berharap gencatan senjata dua minggu jangan ambyar dulu. Masalahnya, ceasefire itu cuma berlaku sampai 22 April. Hitungannya tinggal hari, bukan bulan. Dan semua orang tahu, di kawasan panas, “sementara” itu sering berarti “sebentar lagi meledak lagi.”

 

Yang bikin deg-degan, tentu saja Selat Hormuz, jalur yang mengontrol sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Satu kapal lecet saja, harga minyak bisa loncat seperti kucing kaget. Belum lagi Lebanon yang masih panas, siap jadi panggung tambahan kalau konflik melebar.

 

Para pengamat pun mulai angkat alis. Trita Parsi dari Quincy Institute bilang ini bukan kiamat, tapi “status quo baru yang tidak resmi.” Bahasa halusnya, kita semua akan hidup dalam ketegangan yang rapuh, seperti kaca mobil yang sudah retak tapi masih dipakai ngebut.

 

Lalu Farwa Aamer dari Asia Society menyebut ini bisa jadi “make or break” ekonomi global. Sedangkan Zahid Husain masih optimis ada putaran baru. Optimisme yang terdengar seperti orang bilang, “tenang, ini cuma petasan,” padahal di belakangnya gudang kembang api.

 

Di lapangan, realitanya lebih sinis. AS merasa baru saja menunjukkan superioritas militer. Iran merasa berhasil bertahan. Dua-duanya merasa menang. Dunia? Ya kita semua cuma penonton yang siap kena getahnya, dari harga minyak naik sampai potensi konflik melebar tanpa aba-aba.

 

Delegasi AS sudah pulang. Iran masih di hotel mewah, entah lagi ngopi, rapat internal, atau kirim sinyal ke Teheran, “bola di tangan mereka.” Sementara itu, kapal-kapal perang mungkin sudah mulai parkir cantik di Teluk, nunggu instruksi berikutnya.

 

Jadi, besok bagaimana? Bisa saja damai lanjut. Bisa juga tiba-tiba panas lagi. Bisa ada jalur belakang diam-diam. Bisa juga langsung sanksi tambahan plus unjuk gigi militer.

 

Yang pasti, dunia sekarang seperti main Russian roulette, lima peluru, satu harapan. Kita semua duduk di meja yang sama, cuma beda posisi. Silakan senyum dulu, tapi jangan jauh dari remote TV. Karena di dunia absurd ini, “damai” ternyata cuma jeda iklan sebelum bab berikutnya yang lebih gila.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ismail Fahmi: Perlu Strategi Jitu Dakwah MUI Hadapi 3 Narasi Pokok di Medsos

    Ismail Fahmi: Perlu Strategi Jitu Dakwah MUI Hadapi 3 Narasi Pokok di Medsos

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Majelis Ulama Indonesi (MUI) dinilai mempunyai potensi untuk menjembatani berbagai kubu yang berbeda kepentingan. Hal ini berangkat dari perlunya mewadahi keragaman ormas Islam di Indonesia agar tidak mudah dipecah-belah. MUI memiliki peran sebagai forum silaturahim yang menjembatani keragaman tersebut. “MUI itu sebetulnya tidak berada di posisi kanan atau kiri, tapi dia independen. Karenanya MUI […]

  • Dirjen Pendis: KISS dan Falsafah Sunda Jadi Kunci Kesuksesan PESONA I PTKN

    Dirjen Pendis: KISS dan Falsafah Sunda Jadi Kunci Kesuksesan PESONA I PTKN

    • calendar_month Jumat, 27 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG Denganmelakukan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi (KISS) antara Kementerian Agama, Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), UIN Bandung yang didasarkan pada falsafah Sunda (silih asah, asih, asuh dan wangi) menjadi kata kunci kesuksesan dalam menyelenggarakan Pekan Seni dan Olah Raga (PESONA) I. Pernyataan itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI, […]

  • Upacara HUT ke-79 RI di IKN: Menag Doakan Nusantara Baru Indonesia Maju Terwujud

    Upacara HUT ke-79 RI di IKN: Menag Doakan Nusantara Baru Indonesia Maju Terwujud

    • calendar_month Minggu, 18 Agt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (PENAJAM) — Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas didaulat membacakan doa dalam Upacara Peringatan HUT ke-79 Republik Indonesia, yang digelar perdana di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam upacara yang dipimpin Presiden Joko Widodo ini, Menag berdoa agar cita-cita Nusantara Baru Indonesia Maju dapat terwujud tanpa rintangan. “Bimbing dan pandu kami melewati masa-masa peralihan ini, agar […]

  • Inilah Kekeliruan Umum dalam Karya Ilmiah

    Inilah Kekeliruan Umum dalam Karya Ilmiah

    • calendar_month Rabu, 6 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG Sering dijumpai “kekeliruan” dalam karya ilmiah, yaitu teori tidak dipakai dalam analisis. Hal ini umum terjadi pada skripsi. Demikian seperti diungkapkan Dr. Lina Meilinawati, M. Hum., Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, saat melakukan penelitian ke sejumlah karya ilmiah (Arief Maulana, 26/05/2021, Unpad). Menurut Pedoman UIN Sunan Gunung Djati Bandung, skripsi harus mencantumkan teori yang […]

  • Selamat! Juara Kompetisi Kreasi dan Inovasi, MTsN 1 Jepara Bersiap ke Korsel

    Selamat! Juara Kompetisi Kreasi dan Inovasi, MTsN 1 Jepara Bersiap ke Korsel

    • calendar_month Kamis, 8 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JEPARA kanal31.com — Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Jepara menjadi juara Kompetisi Kreasi dan Inovasi (Kresna) pada Mei 2025. Atas prestasi ini, tim MTs Negeri 1 Jepara mendapat tiket melakukan kunjungan edukatif ke Korea Selatan (Korsel). Kresna merupakan kompetisi proposal riset tingkat nasional yang diikuti para pelajar dari seluruh Indonesia. Kompetisi ini terdiri dari dua […]

  • Menag: UIN Bandung Mewarisi Kepemimpinan Peradaban Islam Modern

    Menag: UIN Bandung Mewarisi Kepemimpinan Peradaban Islam Modern

    • calendar_month Kamis, 17 Apr 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar mengapresiasi kekompakan pimpinan dan segenap sivitas UIN DGD Bandung dalam berkarya dan berinovasi, hingga melahirkan berbagai prestasi yang gemilang. Maka, ke depan UIN Bandung akan menjadi imam (pemimpin) semua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) di Indonesia. Pernyataan Prof. Nasaruddin terungkap saat memberikan sambutan tasyakuran Dies Natalis ke-57 UIN […]

expand_less