Minggu, 19 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Sen, 13 Apr 2026
  • comment 0 komentar

KALBAR kanal31.com — Sesuai prediksi, perundingan damai Iran vs Amerika bakal gagal. Benar adanya. Kedua belah pihak tak mau berdamai. AS ingin Iran tutup total nuklir. Iran jelas tak mau, itulah senjata andalan. Akankah perang kembali meletus? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Dua raksasa, Iran dan Amerika Serikat, janjian “berdamai” di Islamabad. Hasilnya malah mirip pasangan yang ribut di warung makan. Satu ngotot benar. Satu lagi angkat kursi duluan sambil bilang, “udah, kau aja yang benar!”

 

Perundingan ini bukan kaleng-kaleng. Ini pertemuan langsung tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979. Ini momen sakral yang seharusnya bisa jadi titik balik sejarah. Tapi apa daya, 21 jam diskusi dari Sabtu malam sampai Minggu dini hari, 12 April, cuma menghasilkan satu hal, kelelahan kolektif dan nihil kesepakatan. Nol. Kosong. Hampa, wak.

 

Dari kubu AS, JD Vance tampil dengan muka datar khas pejabat yang baru kehilangan charger. Ditemani Steve Witkoff dan Jared Kushner, dia bilang Iran “memilih untuk tidak menerima syarat kami.” Intinya? Program nuklir Iran mau dihentikan total. Respons Iran? Ya tentu saja, “mimpi kali ye.”

 

Vance pun menutup bab ini dengan gaya dramatis minimalis, “ini tawaran terbaik dan terakhir.” Setelah itu? Cus. Naik Air Force Two, terbang sekitar pukul 07.00 pagi waktu setempat, meninggalkan Pakistan dengan aroma kegagalan yang lebih pekat dari asap knalpot di jam pulang kantor.

 

Sementara itu, delegasi Iran? Masih stay di Islamabad, santai tapi penuh kode. Kementerian Luar Negeri mereka bilang pembicaraan “intensif,” tapi AS dinilai mengajukan “tuntutan berlebihan dan tidak sah.” Klasik. Satu bilang fleksibel, satu bilang kelewatan. Ini bukan diplomasi, ini tarik tambang ego internasional.

 

Sebagai tuan rumah, Pakistan cuma bisa geleng-geleng sambil berharap gencatan senjata dua minggu jangan ambyar dulu. Masalahnya, ceasefire itu cuma berlaku sampai 22 April. Hitungannya tinggal hari, bukan bulan. Dan semua orang tahu, di kawasan panas, “sementara” itu sering berarti “sebentar lagi meledak lagi.”

 

Yang bikin deg-degan, tentu saja Selat Hormuz, jalur yang mengontrol sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Satu kapal lecet saja, harga minyak bisa loncat seperti kucing kaget. Belum lagi Lebanon yang masih panas, siap jadi panggung tambahan kalau konflik melebar.

 

Para pengamat pun mulai angkat alis. Trita Parsi dari Quincy Institute bilang ini bukan kiamat, tapi “status quo baru yang tidak resmi.” Bahasa halusnya, kita semua akan hidup dalam ketegangan yang rapuh, seperti kaca mobil yang sudah retak tapi masih dipakai ngebut.

 

Lalu Farwa Aamer dari Asia Society menyebut ini bisa jadi “make or break” ekonomi global. Sedangkan Zahid Husain masih optimis ada putaran baru. Optimisme yang terdengar seperti orang bilang, “tenang, ini cuma petasan,” padahal di belakangnya gudang kembang api.

 

Di lapangan, realitanya lebih sinis. AS merasa baru saja menunjukkan superioritas militer. Iran merasa berhasil bertahan. Dua-duanya merasa menang. Dunia? Ya kita semua cuma penonton yang siap kena getahnya, dari harga minyak naik sampai potensi konflik melebar tanpa aba-aba.

 

Delegasi AS sudah pulang. Iran masih di hotel mewah, entah lagi ngopi, rapat internal, atau kirim sinyal ke Teheran, “bola di tangan mereka.” Sementara itu, kapal-kapal perang mungkin sudah mulai parkir cantik di Teluk, nunggu instruksi berikutnya.

 

Jadi, besok bagaimana? Bisa saja damai lanjut. Bisa juga tiba-tiba panas lagi. Bisa ada jalur belakang diam-diam. Bisa juga langsung sanksi tambahan plus unjuk gigi militer.

 

Yang pasti, dunia sekarang seperti main Russian roulette, lima peluru, satu harapan. Kita semua duduk di meja yang sama, cuma beda posisi. Silakan senyum dulu, tapi jangan jauh dari remote TV. Karena di dunia absurd ini, “damai” ternyata cuma jeda iklan sebelum bab berikutnya yang lebih gila.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenang Syekh Yusuf Al-Makassari

    Mengenang Syekh Yusuf Al-Makassari

    • calendar_month Sab, 9 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    Ulama yang Diasingkan ke “Ujung Dunia” KALBAR kanal31.com — Betapa bahayanya ulama ini di mata Belanda. Yang lain diasingkan paling seputaran nusantara. Ini diasingkan sampai ke ujung dunia, tepatnya di Afrika Selatan. Kebetulan hari Jumat, yok kita mengenang ulama asal Makassar ini sambil seruput Koptagul, wak!   Nama ulama itu adalah Syekh Yusuf Al-Makassari. Ia bukan […]

  • Cegah Intoleransi lewat Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Bahasan Menag – Cendekiawan Kristen

    Cegah Intoleransi lewat Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Bahasan Menag – Cendekiawan Kristen

    • calendar_month Kam, 14 Agu 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa upaya mencegah intoleransi memerlukan sesuatu yang lebih kuat daripada peraturan pemerintah atau undang-undang. Hal tersebut disampaikannya saat menerima audiensi dari Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di Ruang VVIP Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. “Sekalipun ada undang-undang yang paling baik pun juga, itu bukan jaminan. Ada hal yang […]

  • Keren! MAN Insan Cendekia OKI Borong Medali Kompetisi Riset JISF 2024

    Keren! MAN Insan Cendekia OKI Borong Medali Kompetisi Riset JISF 2024

    • calendar_month Ming, 4 Agu 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (JAKARTA) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cedekia OKI berhasil neraih 19 medali pada Jakarta International Science Fair (JISF) 2024. Pada kompetisi yang digelar 27–30 Juli 2024 di i3L Jakarta ini, peserta didik MAN IC OKI harus bersaing dengan ratusan peserta dari 10 negara baik secara offline maupun online. Selain 19 Medali, satu hasil riset […]

  • Keren! Terbanyak, 3 Dosen UIN Bandung Lolos Program IFEX di Universiti Utara Malaysia

    Keren! Terbanyak, 3 Dosen UIN Bandung Lolos Program IFEX di Universiti Utara Malaysia

    • calendar_month Sen, 4 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (MALAYSIA) — Tiga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung lolos seleksi peserta program International Faculty Exchange Week (IFEX) di Universiti Utara Malaysia (UUM). Ketiga dosen itu adalah Pepi Siti Paturohmah (Dosen Magister Tadris Bahasa Inggris, Pascasarjana), Dian Nuraiman (Dosen Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi), dan Dian Sa’adillah Maylawati (Dosen Teknik Informatika, […]

  • Sinergi Filantropi dan Investasi Syariah Jadi Fokus Seminar Nasional GIS FEBI UIN Bandung

    Sinergi Filantropi dan Investasi Syariah Jadi Fokus Seminar Nasional GIS FEBI UIN Bandung

    • calendar_month Kam, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Galeri Investasi Syariah (GIS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Nasional bertajuk “Penelusuran Hubungan Filantropi Islam dan Investasi: Sinergi Spiritual dan Ekonomi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Praktik Menggunakan Analisa Fundamental dan Teknikal)”, yang berlangsung di Aula FEBI, Rabu (28/5/2025).   Dengan menghadirkan dua narasumber terkemuka di […]

  • Sains Buktikan Bulan Menjauhi Bumi Layaknya Keterangan Alquran

    Sains Buktikan Bulan Menjauhi Bumi Layaknya Keterangan Alquran

    • calendar_month Sel, 19 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Sains telah membuktikan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi, hal ini layaknya keterangan dalam Alquran. Disebutkan, pada akhirnya Bulan akan meledak. Dirangkum dari buku ‘Sains dalam Alquran’ karya Nadiah Thayyarah dijelaskan, jika penelitian-penelitian astronomis telah membuktikan bahwa Bulan terus-menerus menjauh dari Bumi. Pakar astronomi mengatakan, Bulan yang berjarak 300 ribu kilometer dari Bumi terus menjauh, […]

expand_less