Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Benteng KUA Akhirnya Hamil Perubahan,

Benteng KUA Akhirnya Hamil Perubahan,

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

15 Perempuan Resmi Jadi Kepala KUA

KALBAR, kanal31.com — Dari pagi emosi saya meledak-ledak. Gara-gara si bangke, Silmy Karim. Saya coba turunkan emosi dengan membahas makhluk paling anggun di dunia. Kalian tahu, selama ini KUA itu didominasi kaum adam. Sekarang tidak lagi. Terjadi perubahaan besar, perempuan bisa menjadi Kepala KUA. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Tanggal 4 Juni 2026 akan tercatat sebagai hari bersejarah. Benteng birokrasi yang selama ini dianggap kebal hormon pembaruan mendadak mengalami ovulasi sejarah. Kementerian Agama melantik 258 Kepala KUA baru di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, 15 orang adalah perempuan. Lima belas!

 

Memang belum separuh. Belum juga seperempat. Tapi dalam dunia perubahan, ini seperti melihat embrio pertama pada hasil USG setelah sekian lama dinyatakan mandek oleh dokter konservatisme.

 

Dulu suasananya berbeda. Jabatan Kepala KUA terasa seperti ruang persalinan yang hanya boleh dimasuki laki-laki. Para perempuan dipersilakan membantu umat, mengajar mengaji, membina majelis taklim, mendampingi keluarga, menyelesaikan konflik sosial, sampai menjadi tempat curhat warga dari masalah rumah tangga hingga masalah ayam hilang.

 

Namun ketika bicara kursi pimpinan? Waduh. Mendadak muncul berbagai antibodi budaya yang bekerja lebih cepat dari sistem imun manusia. Ada saja alasan. Ada saja dalih. Ada saja pagar-pagar tak kasat mata yang membuat perempuan hanya boleh berdiri di ruang tunggu sejarah.

 

Lalu datanglah PMA Nomor 24 Tahun 2024 dan KMA Nomor 1644. Dua regulasi ini ibarat hormon pemicu yang membuat rahim perubahan akhirnya siap mengandung masa depan. Mekanisme wali hakim dapat dialihkan, hambatan administratif mulai rontok, dan peluang yang selama ini hanya berupa janin gagasan akhirnya lahir ke dunia nyata.

 

Boom! Sejarah menangis haru sambil menggendong bayi bernama kesetaraan.

 

Muncullah 15 perempuan pelopor. Ada Andi Ariani Hidayat di Mamasa, Uun Kurniasih di Indramayu, Lilik Hanifah dan Siti Khotijah di Temanggung, Thuchfatul Syafa’atun Muniro di Pasuruan, Siti Mustaqilah di Sumenep, Mufaroha dan Sainiyah di Bangkalan, Eijiyah Ainun Bisari di Berau, Siti Zahirah Said di Nunukan, Mustika di Bulungan, Sri Sartika di Sanggau, Siti Hajir di Kota Sungai Penuh Jambi, serta Rapika dan Pitriani di Luwu.

 

Mereka bukan sekadar nama. Mereka adalah sel-sel pertama dalam jaringan baru yang sedang tumbuh di tubuh birokrasi keagamaan Indonesia.

 

Ambil contoh Sri Sartika di Sanggau. Sebelumnya ia merupakan Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Tayan Hilir. Ia aktif mengurus majelis taklim, mengikuti pelatihan SPARK, hingga terlibat dalam Badan Kontak Majelis Taklim. Kini ia menjadi Kepala KUA perempuan pertama di wilayahnya. Kalau ini film, penonton sudah berdiri sambil melempar bunga ke layar.

 

Yang paling lucu, setelah 15 perempuan dilantik menjadi Kepala KUA, ternyata tidak terjadi kiamat administratif. Bumi tetap berputar. Bulan tetap mengelilingi bumi. Burung tetap berkicau. Cuma, yang ramai tetaplah warkop.

 

Artinya apa? Ternyata jabatan tidak memiliki kromosom. Kemampuan memimpin tidak ditentukan oleh kadar testosteron atau estrogen. Yang menentukan adalah kompetensi, pengalaman, integritas, dan kemauan melayani masyarakat.

 

Karena itu, pelantikan ini bukan hadiah. Bukan bonus. Bukan diskon akhir musim. Ini adalah hak yang terlalu lama tertahan di ruang tunggu persalinan sejarah.

 

Lima belas perempuan ini mungkin baru awal. Masih berupa bayi perubahan yang baru menangis untuk pertama kalinya. Namun semua orang tahu, setiap manusia besar di muka bumi ini juga pernah berawal dari satu sel kecil yang dianggap sepele.

 

Sekarang, sel kecil itu sudah membelah. Tumbuh. Hidup. Lalu mengetuk pintu masa depan sambil berkata, “Geser sedikit, kami juga mau memimpin.”

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Aura Kasih yang akan Dipanggil KPK terkait Ridwan Kamil

    Mengenal Aura Kasih yang akan Dipanggil KPK terkait Ridwan Kamil

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KALBAR Kanal31.com — Ikutan ngegosip jadinya. Ini gara-gara KPK, kenapa sih nyebut Aura Kasih. Cobalah sebut Aura Faming, beda jadinya. Mari kita mengenal artis satu anak ini sambil seruput Koptagul, wak!   Nama Aura Kasih mendadak terdengar seperti lonceng tua di Gedung Sate. Biasa saja selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba berdentang keras dan semua orang menoleh. Bukan […]

  • Bandung Jadi Kota Wisata Tematik Berbasis Budaya dan Komunitas

    Bandung Jadi Kota Wisata Tematik Berbasis Budaya dan Komunitas

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Wakil Wali Kota Bandung, Erwin menyebut Kota Bandung tengah diarahkan menjadi kota wisata tematik yang berbasis budaya dan komunitas. Menurutnya, kekayaan budaya di setiap kecamatan menjadi potensi besar yang bisa dikembangkan sebagai daya tarik wisata yang unik dan berkelanjutan. “Bandung ini kaya dengan budaya lokal di tiap kecamatan. Kami ingin mengangkat kekuatan […]

  • K.H. Maman Abdurahman, Ulama Penjaga Nilai-Nilai Agama Lewat Kata dan Perbuatan

    K.H. Maman Abdurahman, Ulama Penjaga Nilai-Nilai Agama Lewat Kata dan Perbuatan

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com — Salah satu tokoh ulama Indonesia Prof. Dr. K.H. Maman Abdurahman, M.A, Ketua Majelis Penasihat Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) dan Ketua Umum PP Persatuan Islam masa jihad 2010 – 2015, yang juga merupakan ayahanda dari Prof. Hilman Latief, mantan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, wafat hari ini, Minggu (21/6/2026), di […]

  • Mengagumi Ulama dan Artisme

    Mengagumi Ulama dan Artisme

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Mengagumi seorang ulama tanpa ulama itu pernah benar-benar menyadarkan kita secara pribadi, adalah artisme, yaitu psikologi kekaguman yang tak ada bedanya dengan mengagumi sosok, tokoh atau artis pada umumnya.   Pertama, ulama itu bukan untuk dikagumi tapi diserap ilmunya dan diamalkan sebisanya. Bila tak ada yang bisa diserap ilmunya sesuai minat dan kapasitas […]

  • Masjid Fondasi Peradaban dan Pembinaan Umat

    Masjid Fondasi Peradaban dan Pembinaan Umat

    • calendar_month Selasa, 8 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan peran penting masjid dalam sejarah Islam. Menurutnya, masjid adalah fondasi peradaban. Ia menyebut ketika Nabi Muhammad SAW kali pertama hijrah ke Yatsrib (Madinah), justru mendirikan masjid sebagai bangunan pertama. “Dari masjid inilah pembinaan umat dilakukan secara menyeluruh, melahirkan Piagam Madinah yang menjadi dasar kehidupan masyarakat […]

  • Dekan Dedi Dorong Alumni, Terus Belajar dan Tingkatkan Skill

    Dekan Dedi Dorong Alumni, Terus Belajar dan Tingkatkan Skill

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum. mendorong semua alumninya untuk terus belajar dan meningkatkan skill, agar memiliki daya tawar dan mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis. Motivasi ini disampaikan oleh Dekan Dedi pada saat melepas calon wisudawan (alumni) di […]

expand_less