Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Londo Ireng: Sejarah, Makna dan Refleksi

Londo Ireng: Sejarah, Makna dan Refleksi

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

BANDUNG, kanal31.com — Istilah Londo Ireng sedang ramai setelah dipakai dalam pidato Presiden Prabowo, sehingga maknanya kembali diperdebatkan. Tetapi kalau kita pisahkan antara sejarah dan retorika politik, gambarnya menjadi jauh lebih jernih.

Secara historis, siapa sebenarnya Londo Ireng?

Awalnya, Londo Ireng bukan sebutan untuk orang Indonesia yang berkhianat. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa: Londo adalah Belanda (orang Eropa). Ireng artinya hitam. Jadi artinya harfiah adalah “Belanda Hitam.”

Yang dimaksud adalah tentara berkulit hitam dari Afrika Barat (wilayah Ghana dan sekitarnya) yang direkrut Belanda pada abad ke-19 untuk memperkuat KNIL setelah kekurangan pasukan Eropa. Mereka memakai seragam Belanda, digaji Belanda, dan berperang untuk kepentingan kolonial Belanda di Hindia Belanda.

Lalu mengapa maknanya berubah?

Di sinilah menariknya sosiologi bahasa. Lama-kelamaan masyarakat tidak lagi memakai istilah itu hanya untuk tentara Afrika. Istilah tersebut bergeser menjadi label moral, yaitu untuk siapa saja yang dianggap lebih membela kepentingan penjajah daripada bangsanya sendiri.

Karena itu, pada masa Revolusi Kemerdekaan, istilah ini sering diarahkan kepada anggota KNIL pribumi atau siapa pun yang dianggap menjadi kaki tangan kolonial. Pergeseran makna seperti ini lazim dalam perkembangan bahasa politik.

Londo Ireng sesungguhnya bukan warna kulit tapi warna keberpihakan. Dalam sejarah, penjajah tidak pernah cukup kuat menjajah sebuah bangsa hanya dengan tentaranya sendiri. Mereka selalu membutuhkan orang-orang lokal yang berpikir seperti penjajah, membela kepentingan penjajah, bahkan memusuhi bangsanya sendiri.

Tetapi di sisi lain, kita juga harus berhati-hati. Tidak semua orang yang mengkritik pemerintah otomatis menjadi “Londo Ireng”. Kritik adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Kalau semua kritik diberi label pengkhianatan, maka sejarah justru sedang diulang dalam bentuk yang berbeda.

Karena itu, ukuran seseorang bukanlah siapa yang ia kritik, melainkan siapa yang sebenarnya ia bela. Kalau seorang akademisi, wartawan, atau aktivis berbicara berdasarkan data demi kepentingan bangsa, ia sedang menjalankan tanggung jawab intelektualnya.

Sebaliknya, jika seseorang, apa pun profesinya, rela mengorbankan kepentingan nasional demi uang, kekuasaan, atau kepentingan asing, maka secara moral ia telah menghidupkan kembali semangat Londo Ireng, meskipun wajahnya pribumi dan bahasa yang dipakainya nasionalisme.

Sejarah mengajarkan satu pelajaran yang keras: Bangsa tidak selalu hancur karena musuh datang dari luar. Sering kali ia melemah karena terlalu banyak orang di dalam yang kehilangan keberpihakan kepada bangsanya sendiri. Bahasa politiknya adalah para pengkhianat, bahasa agamanya adalah orang-orang munafik.

Kesimpulannya, Londo Ireng bukan soal warna kulit, tetapi warna hati. Bukan soal ras, melainkan keberpihakan. Penjajah tidak pernah menang sendirian; mereka selalu menang karena ada anak bangsa yang bersedia menjadi kepanjangan tangannya. Namun, jangan pula setiap kritik kepada penguasa diberi cap Londo Ireng. Ukuran sejatinya sederhana: apakah seseorang sedang membela kepentingan bangsa atau menjualnya demi kepentingan lain. Sejarah tidak pernah kekurangan penjajah, tetapi sering kali kekurangan orang yang berani tetap berpihak kepada negerinya.

Itulah makna historis dan refleksi yang lebih adil. Jangan memutlakkan istilah sebagai cap politik, tetapi jadikan ia cermin untuk menguji integritas, termasuk integritas kita sendiri.

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saatnya Umat Beragama Jaga Bumi dari Krisis Lingkungan

    Saatnya Umat Beragama Jaga Bumi dari Krisis Lingkungan

    • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Dalam muzakarah bertajuk “Resolusi Umat: Penanggulangan Bencana dengan Ekoteologi” di Masjid Istiqlal Jakarta, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan “Peran agama dalam menghadapi krisis lingkungan”. Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan BNPB, BMKG, akademisi, serta pegiat lingkungan. Muzakarah ini menjadi forum refleksi keagamaan sekaligus konsolidasi gagasan lintas sektor dalam merumuskan peran agama menghadapi bencana alam. […]

  • Intelektualisme Islam selalu Berdinamika dalam Konteks Ruang dan Waktu

    Intelektualisme Islam selalu Berdinamika dalam Konteks Ruang dan Waktu

    • calendar_month Ming, 14 Jun 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Trajektori evolusioner Sejarah Sosial Intelektual Islam menegaskan bahwa agama Islam tidak pernah berhenti pada ruang hampa doktrinal; ia terus mengonstruksi sejarah dengan merespons kekuatan-kekuatan geopolitik, kolonialisme, dan perubahan struktur kebudayaan secara dialektis.   Transmisi tradisi keislaman Nusantara, sebagaimana dijelaskan oleh Azyumardi Azra dan Michael Laffan, menyingkap jalinan kosmopolitan yang membentuk ikatan kebangsaan modern, […]

  • Video Menembus Batas

    Video Menembus Batas

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31- Kisah Mahasiswa Inspiratif pada Wisuda ke-82 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Keluarga adalah harta paling berharga yang tiada bandingannya. Tempat paling menenangkan di tengah riuhnya dunia, tempat terbaik untuk berkeluh kesah saat lelah mendera. Ya, begitulah harapan setiap insan. Tapi tidak bagi Amanah, mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berasal dari […]

  • Saatnya Perempuan Menyapa, Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045

    Saatnya Perempuan Menyapa, Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Ming, 22 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL3.COM — Hari Ibu di Indonesia, yang diperingati setiap 22 Desember, memiliki makna lebih dari sekadar penghormatan terhadap peran perempuan sebagai ibu. Tema Hari Ibu 2024, “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045,” menggambarkan aspirasi besar untuk mengoptimalkan peran perempuan dalam membangun bangsa. Indonesia tengah menghadapi tantangan besar menuju era Society 5.0, di […]

  • Si Bengal, Profesor Muda Alumni AF

    Si Bengal, Profesor Muda Alumni AF

    • calendar_month Sel, 6 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Penulis mulai mengenalnya saat duduk di semester 3 dan dia Prof. DR Bambang Q Anees M.Ag adalah mahasiswa baru jurusan Aqidah dan Filsafat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung. Masa-masa orientasi mahasiswa baru kala itu tahun 1993, BQ (panggilan akrab Bambang Q Anees mulai menampakan karakter berbeda dengan mahasiswa baru lainnya. […]

  • Momen PBAK, UIN Bandung Pelopori Pergerakan Ekoteologi

    Momen PBAK, UIN Bandung Pelopori Pergerakan Ekoteologi

    • calendar_month Sel, 26 Agu 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Perkuliahan tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di alam bebas. Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung bukan hanya penguasa kelas, tetapi pengelola alam bebas, khalifah fi al ardh (khlaifah di bumi). Rektor UIN Bandung Prof. Rosihon Anwar mengungkapkan hal itu, seusai melantik mahasiswa baru pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tahun […]

expand_less