Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Baik-Buruk Indonesia

Baik-Buruk Indonesia

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA kanal31.com — Saudaraku, di negeri yang lahir dari laut dan letusan gunung, angin membawa doa dari seribu bahasa, dan hujan jatuh seperti ingatan nenek moyang yang tak pernah selesai diceritakan.

Indonesia adalah sawah yang memantulkan langit, jalan kecil dengan warung kopi yang tetap hidup meski listrik padam dan dompet pas-pasan. Ia rumah bagi tangan-tangan yang ringan membantu, orang asing yang disapa ramah, dan senyum yang mengembang di tengah ongkos hidup yang melambung.

Di pasar pagi, ibu-ibu menawar sambil tertawa seolah hidup tak pernah kejam. Anak-anak berlari di gang sempit dengan layang-layang dari plastik bekas, membuktikan bahwa bahagia kadang hanya perlu angin.

Tetapi negeri ini juga menyimpan luka. Gedung-gedung menjulang seturut ambisi pembangunan, sementara di bawah jembatan orang-orang tidur memeluk suara kendaraan. Keadilan sering terlambat, tersesat di meja rapat yang dingin oleh penyejuk ruangan dan panas oleh kepentingan.

Hutan dibabat atas nama pembangunan, sungai dipenuhi busa dan janji kampanye. Laut yang dulu menyusui nelayan kini kadang lebih ramah pada kapal asing daripada anak pesisir sendiri. Di layar televisi, korupsi dibacakan seperti ramalan cuaca: berulang, biasa, nyaris tanpa rasa terkejut.

Namun rakyat negeri ini aneh—mudah kecewa, tetapi sulit menyerah. Dari gang sempit lahir musik, dari bencana lahir dapur umum, dari tragedi lahir pelukan yang tak tercatat dalam sejarah resmi.

Indonesia adalah puisi yang ditulis dengan tinta emas dan asap kebakaran. Ia lembut dalam gotong royong, tajam dalam saling menghina. Orang-orangnya teguh beragama, namun masih goyah dalam etika. Mereka memuja persatuan sambil sibuk mencari siapa yang berbeda.

Di kota besar, waktu berjalan seperti dikejar utang. Di desa terpencil, waktu duduk santai di beranda bambu. Satu negeri, namun nasib sering tak terbagi rata.

Meski begitu, negeri ini tak pernah selesai ditulis. Ia terus berjalan tanpa naskah final, tanpa kesimpulan utuh. Mungkin karena Indonesia bukan tentang sempurna atau hancur, melainkan tentang bertahan di antaranya—seperti perahu kayu di laut musim hujan, retak di banyak sisi, namun tetap pulang membawa harapan.

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Buku Keren soal Bandung

    3 Buku Keren soal Bandung

    • calendar_month Senin, 26 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Tepat hari ini, Minggu 25 September 2022, Kota Bandung menginjak usia ke-212 tahun yang mengangkat tema ‘Bangkit Bersama untuk Bandung Juara’. Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengajak seluruh masyarakat Kota Bandung untuk memperkokoh ketahanan masyarakat, dalam menuntaskan pandemi dan memulihkan kehidupan ekonomi.   Salah satu cara mengokohkan ketahanan masyarakat dengan giat membaca, terutama buku-buku […]

  • Membumikan Ekoteologi: UIN Bandung Lepas 6.770 Mahasiswa KKN 2026 hingga ke 8 Negara

    Membumikan Ekoteologi: UIN Bandung Lepas 6.770 Mahasiswa KKN 2026 hingga ke 8 Negara

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali mengukuhkan komitmennya dalam mengabdi kepada masyarakat. Mengusung tema “Membumikan Ekoteologi Berbasis Rahmatan lil Alamin,” kampus berbasis Islam ini resmi melepas 6.770 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026 untuk menyebar kebermanfaatan, mulai dari pelosok Nusantara hingga ke delapan negara di dunia. Acara pelepasan digelar secara hibrida […]

  • Hikayat Pacinan di Kuningan

    Hikayat Pacinan di Kuningan

    • calendar_month Rabu, 29 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KUNINGAN KANAL31.COM — Pacinan, kami menyebutnya begitu, nama yang tersemat pada sebuah pedukuhan kecil hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Dipisahkan sungai yang bila debit airnya meninggi di musim penghujan, menjadi momen menggembirakan bermain perahu yang dibuat dari batang pisang, berlayar menuju satu titik pertemuan dua sungai, tempat kami bermain air sepuasnya hingga mata memerah […]

  • Kemenag Latih Fasilitator untuk Wujudkan Kurikulum Berbasis Cinta

    Kemenag Latih Fasilitator untuk Wujudkan Kurikulum Berbasis Cinta

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    GARUT kanal31.com — Kementerian Agama telah merilis panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Tahap selanjutnya, Kemenag siapkan para fasilitator untuk percepatan implementasi KBC. Puluhan fasilitator digembleng dalam Pra-Pelatihan Fasilitator (Training of Facilitator) pada 7–10 Agustus 2025 di Peacesantren Welas Asih Garut Jawa Barat. Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Ali Ramdhani menyatakan […]

  • Rektor: di UIN Bandung, Jangan Ada Kekerasan Seksual!  

    Rektor: di UIN Bandung, Jangan Ada Kekerasan Seksual!  

    • calendar_month Jumat, 6 Des 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com–  Kini UIN Bandung memiliki Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Tim ini dibentuk untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, ramah, terbebas dari kekerasan seksual, menuju visi rahmatan lil alamin. Satgas yang berjumlah 18 orang ini dibentuk oleh Pusat Studi Gender dan Anak  (PSGA), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat […]

  • Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    • calendar_month Rabu, 6 Nov 2024
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    kanal31.com– Teka-teki soal biaya Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Rp.5 juta rupiah menjadi Rp6 juta mulai menemui titik terang. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Kabupaten Ciamis melalui ketuanya Angga Yogantara mengakui bahwa penambahan biaya PPG tersebut dilakukan oleh organisasi yang dia pimpin. Angga beralasan, penambahan biaya PPG yang ditetapkan Sekjen Kemenag itu dilakukan berdasarkan […]

expand_less