Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Mahasiswa Lupa Nama Dosennya

Mahasiswa Lupa Nama Dosennya

  • account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Adab yang Hilang di Balik Nilai A

MALANG kanal31.com — Ada pengalaman menarik ketika saya menjadi penguji ujian komprehensif, sebuah ujian yang harus dilalui mahasiswa sebelum diperbolehkan mengikuti sidang skripsi. Pengalaman ini membuat saya merenung cukup lama tentang apa yang sesungguhnya terjadi dalam proses pendidikan tinggi kita.

Saya mengajak mahasiswa tersebut melakukan kilas balik perjalanan akademiknya, dari semester pertama hingga semester 6, hal mendasar yang dipelajari?

Jawabannya mengejutkan. Ia tidak ingat nama dosen yang mengajar sejumlah mata kuliahnya. Bahkan untuk mata kuliah semester enam, yang nilainya A, ia kesulitan mengingat kembali siapa dosen pengampunya.

Saya kemudian beralih ke substansi keilmuan. Dalam mata kuliah Aljabar Linier, misalnya, saya menanyakan syarat perkalian dua matriks. Ia tidak mampu menjawab dengan baik. Ketika pembicaraan beralih ke algoritma pengurutan, seperti _bubble sort_ dan _binary search_—dua konsep dasar dalam algoritma dan pemrograman—ia juga kesulitan menjelaskannya.

Tentu saja, lupa merupakan bagian dari proses kognitif manusia. Tidak semua materi kuliah akan tersimpan selamanya dalam ingatan. Kita pun tidak mungkin menuntut mahasiswa menghafal seluruh isi perkuliahan selama bertahun-tahun. Namun, ada sesuatu yang patut dipertanyakan ketika nilai akademik yang baik tidak berbanding lurus dengan penguasaan konsep dasar yang seharusnya menjadi fondasi keilmuan.

Tetapi, yang paling mengusik pikiran saya justru bukan semata-mata ketidakmampuannya menjawab pertanyaan akademik. Saya lebih terganggu oleh kenyataan bahwa nama-nama dosen yang pernah mendampingi perjalanan intelektualnya seolah-olah tidak meninggalkan jejak.

Di sinilah saya mulai merenungkan persoalan adab.

Dalam tradisi pendidikan, adab bukan sekadar kesopanan formal, kebiasaan menyapa dosen, atau kewajiban mencium tangan guru. Adab menyangkut kesadaran bahwa ilmu tidak hadir begitu saja. Ada proses, ada orang-orang yang membimbing, ada waktu yang dicurahkan, dan ada tanggung jawab intelektual yang menyertai setiap pengetahuan yang diperoleh.

Mahasiswa tidak harus mengingat setiap dosen secara sempurna. Akan tetapi, bukankah perjalanan panjang di perguruan tinggi semestinya meninggalkan kesan tentang orang-orang yang turut membentuk dirinya? Bukankah pendidikan seharusnya membangun relasi yang lebih bermakna daripada sekadar hadir di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu memperoleh nilai?

Saya teringat prinsip yang sering dikemukakan dalam tradisi pendidikan Islam: adab mendahului ilmu. Prinsip ini mengingatkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Ilmu membutuhkan sikap hormat terhadap proses belajar, kesadaran atas sumber pengetahuan, kerendahan hati untuk terus belajar, dan tanggung jawab dalam menggunakan apa yang telah diketahui.

Namun, refleksi ini tidak boleh berhenti dengan menunjuk mahasiswa sebagai pihak yang bersalah.

Bagaimana jika persoalannya juga terletak pada cara kita menyelenggarakan pendidikan? Apakah perkuliahan kita cukup bermakna untuk diingat? Apakah dosen hadir sebagai pendidik yang menginspirasi, atau sekadar pengampu mata kuliah yang menyampaikan materi dan memberikan nilai? Apakah sistem evaluasi kita sungguh-sungguh mengukur pemahaman, atau justru lebih banyak mengukur kemampuan mahasiswa memenuhi tuntutan administratif perkuliahan?

Nilai A seharusnya menjadi indikator pencapaian pembelajaran, bukan sekadar angka yang mengantarkan mahasiswa melewati satu tahap menuju tahap berikutnya. Jika mahasiswa memperoleh nilai tinggi tetapi tidak mampu menjelaskan kembali konsep-konsep mendasar, kita perlu mengevaluasi kualitas asesmen dan keberlanjutan pembelajaran kita.

Demikian pula, jika hubungan mahasiswa dan dosen hanya berlangsung sebatas transaksi akademik, kita tidak bisa begitu saja menyebut mahasiswa nir-adab tanpa memeriksa lingkungan yang membentuk perilaku tersebut.

Pendidikan tinggi tidak semestinya hanya menghasilkan lulusan yang berhasil menyelesaikan SKS, memperoleh IPK tinggi, dan meraih gelar sarjana. Perguruan tinggi harus membentuk manusia yang memahami ilmunya, menyadari keterbatasannya, menghargai proses yang membawanya sampai ke titik itu, dan mampu mempertanggungjawabkan pengetahuannya.

Pengalaman dalam ujian komprehensif tersebut akhirnya membawa saya pada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: jangan-jangan kita terlalu sibuk memastikan mahasiswa lulus, tetapi kurang serius memastikan bahwa mereka benar-benar belajar.

Sebab, jika nilai bisa diperoleh tanpa penguasaan ilmu yang memadai, dan perjalanan pendidikan bisa dilalui tanpa meninggalkan kesadaran tentang orang-orang yang membimbingnya, kita perlu bertanya kembali tentang makna keberhasilan akademik.

Ilmu memang harus dikuasai, tetapi manusia juga harus belajar menghargai proses yang membuatnya berilmu. Di situlah adab menemukan tempatnya.

  • Penulis: Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua PW ISNU Jabar Dukung Komitmen Kemenag RI Tingkatkan Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru

    Ketua PW ISNU Jabar Dukung Komitmen Kemenag RI Tingkatkan Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Barat, Prof. Dr. Hj. Ulfiah, M.Si, menyatakan dukungan penuh terhadap komitmen Kementerian Agama Republik Indonesia dalam meningkatkan tata kelola kelembagaan serta kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Kemenag RI. Selain menjabat sebagai Ketua PW ISNU Jawa Barat, Prof. Ulfiah juga merupakan […]

  • Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

    Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    (Kekacauan Berpikir tentang Muslim dan Syiah) BANDUNG kanal31.com — Menyebut Muslim atau bukan Muslim itu harus jelas. Caranya, tentukan kategorinya atau konteksnya. Dalam kategeori atau konteks apa kita bicara atau menyebut Muslim? Kategori akidah, madzhab fiqh, politik atau sosiologis?   Madzhab pun macam-macam bisa dirinci lagi. Ada madzhab aqidah, madzhab fiqih dan madzhab pemikiran.   Kalau […]

  • Sambut Ramadan, Menag Ajak Umat Perkuat Empati dan Solidaritas Sosial 

    Sambut Ramadan, Menag Ajak Umat Perkuat Empati dan Solidaritas Sosial 

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    GOWA Kanal31.com — Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menekankan peran penting penguatan aspek spiritual yang dibarengi dengan empati dan solidaritas sosial. Pesan ini disampaikan Menag saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Akbar di Masjid UIN Alauddin Kampus 2, Gowa, Sulawesi Selatan. Menag menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj yang diperingati sebelum Ramadan merupakan “prolog” atau persiapan mental bagi […]

  • Hore! Kemenag Bekali Kewirausahaan bagi Calon Pegawai Purnabhakti

    Hore! Kemenag Bekali Kewirausahaan bagi Calon Pegawai Purnabhakti

    • calendar_month Rabu, 21 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM Kementerian Agama melalui Ditjen Pendidikan Islam menyelenggarakan Pembinaan Pegawai Purnabakti. Kegiatan ini bertujuan memberikan pembekalan kepada pegawai yang akan purna tugas. Acara dilaksanakan tanggal 20-22 September 2022 di Bogor. Rohmat Mulyana Sapdi, selaku Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam dalam sambutannya menyampaikan untuk selalu bersyukur karena bisa sampai di penguhujung Batas Usia Pensiun (BUP) masih diberikan […]

  • Gelar ICWT 2025, ITB dan UIN Bandung Dorong Kolaborasi Riset Global

    Gelar ICWT 2025, ITB dan UIN Bandung Dorong Kolaborasi Riset Global

    • calendar_month Senin, 7 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    LAMPUNG kanal31.com — The 11th International Conference on Wireless and Telematics (ICWT) 2025 telah sukses diselenggarakan pada 3–4 Juli 2025 bertempat di Swiss-Belhotel Lampung. Konferensi ini diinisiasi oleh Kelompok Riset Teknik Telekomunikasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, bekerja sama dengan Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sebagai co-host. Dengan menghadirkan […]

  • Ingin Kuliah di Poliwangi? Tersedia 1.530 Kursi Mahasiswa Baru 2026

    Ingin Kuliah di Poliwangi? Tersedia 1.530 Kursi Mahasiswa Baru 2026

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANYUWANGI Kanal31.com — Kabar baik bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi vokasi. Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) resmi membuka 1.530 kursi mahasiswa baru untuk Tahun Akademik 2025/2026. Ribuan kuota tersebut tersebar di 19 program studi jenjang Diploma 3 (D-3) dan Sarjana Terapan (S-1 Terapan). Sebagai perguruan tinggi vokasi negeri di ujung timur Pulau Jawa, […]

expand_less