Halal Bihalal, Pemaknaan Kontekstual
- account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
- calendar_month Sel, 31 Mar 2026
- comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com —
Coba urang kiceupkeun sakedap panon urang, teuleumkeun rasa kana jero dada.
Setelah sebulan penuh kita ditempa dalam kawah candradimuka puasa, menahan lapar dan dahaga sekaligus menjinakkan nafsu yang liar, kini kita tiba di hari yang fitri. Di tanah Pasundan ini, kita punya tradisi yang begitu indah bernama Halal Bi Halal. Tapi, jangan sampai kita terjebak pada bungkusnya saja. Halal Bi Halal jangan hanya dianggap ritual formalitas, jabat tangan tanpa makna, lalu mulut sibuk mengunyah kue nastar semata. Itu mah baru kulitnya, Lur. Isinya yang harus kita gali lebih dalam.
Dalam konteks kita sebagai insan akademis dan pelayan publik, Halal Bi Halal sesungguhnya adalah momentum reresik manah atau pembersihan hati secara total. Bayangkan, selama setahun kita bekerja, pasti ada ganjalan yang mengendap. Mungkin ada dosen yang hatinya sedang “pait” pada mahasiswa, ada mahasiswa yang terlalu bedang, atau ada petugas layanan yang wajahnya haseum huntu saat menghadapi masyarakat. Semua itu adalah residu, kotoran batin yang memberatkan langkah. Jika hati sudah penuh dengan kekesalan dan dendam yang tak tuntas, mustahil kinerja akademik kita bisa moncorong. Otak tidak akan bisa diajak berpikir jernih dan tinggi jika jiwanya masih terbelenggu rasa dengki.
Di sini pulalah ajaran adiluhung Sunda tentang “Silih Asah”, “Silih Asih,” dan “Silih Asuh” menemukan panggung utamanya. Melalui Halal Bi Halal, kinerja akademik tidak lagi hanya soal angka-angka dingin dalam jurnal atau indeks prestasi, melainkan soal bagaimana kita saling mempertajam ilmu tanpa harus merasa paling pintar. Kita membangun ekosistem penelitian dan belajar yang humanis, di mana yang senior menuntun yang junior, dan yang ahli membagikan cahayanya tanpa merasa redup. Jika hati sudah “halal” satu sama lain, maka menulis riset atau mengajar di kelas pun akan terasa seperti ibadah yang ringan, bukan beban yang menghimpit pundak.
Begitu pun dalam urusan layanan publik. Hakikat Halal Bi Halal adalah mengembalikan marwah “Soméah-Daréhdéh” yang menjadi jati diri urang Sunda. Layanan publik yang unggul itu bukan sekadar sistem digital yang canggih atau aplikasi yang berderet, melainkan pancaran rasa yang sampai ke masyarakat. Ketika kita sudah saling memaafkan secara batin, maka saat ada warga datang mengadu atau meminta bantuan, kita tidak akan melihat mereka sebagai gangguan kerja, melainkan sebagai saudara yang perlu kita muliakan. Inilah puncak dari kinerja layanan publik: bekerja dengan hati yang bersih, karena tidak ada kemajuan lahiriah yang bisa kokoh berdiri tanpa didasari oleh beresnya urusan batiniah.
Maka, mari kita jadikan momentum ini untuk meletakkan segala beban yang tidak perlu, sebagaimana filosofi teundeun di handeuleum sieum, tunda di hanjuang siang. Kita bersihkan hati, kita kencangkan niat, agar langkah kita ke depan menjadi lebih ringan. Sebab, hanya dengan hati yang lapanglah, ide-ide akademik yang cemerlang bisa lahir dan pengabdian kepada masyarakat bisa menjadi berkah yang nyata. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk-Nya. Hurip Sunda!
- Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Saat ini belum ada komentar