Senin, 18 Mei 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

  • account_circle Radea Juli A Hambali, Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung
  • calendar_month Rab, 1 Apr 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga modernisme ini menjadi penutup satu kisah penting dalam album sejarah intelektual dunia.

Kepergian Jurgen Habermas tidak hanya menutup perjalanan seorang filsuf, tetapi meninggalkan gema panjang tentang satu hal yang semakin jarang kita rawat: kesediaan untuk memahami sebelum menilai. Dari tulisan juga pemikirannya yang terserak di panggung pemikiran dunia, Habermas tidak mewariskan sistem yang kaku, sebaliknya ia meninggalkan jejak etos. Sebuah cara berada di dunia sebagai makhluk yang berbicara, mendengar, dan bertanggung jawab atas kata-katanya.

Dalam dunia yang semakin cepat menghakimi, warisan yang ditinggalkan Habermas itu terasa seperti ajakan yang pelan namun sangat mendesak.

Dari yang saya mengerti, Habermas sejak awal menyadari bahwa krisis masyarakat modern bukan sekadar krisis institusi, melainkan krisis komunikasi. Konon, ia pernah menulis dengan sangat tegas: “Only those norms can claim to be valid that meet (or could meet) with the approval of all affected in their capacity as participants in a practical discourse” (Hanya norma-norma yang dapat dianggap sah adalah norma-norma yang memenuhi (atau setidaknya dapat memenuhi) persetujuan dari semua pihak yang terdampak, dalam kapasitas mereka sebagai peserta dalam suatu diskursus praktis).

Pada pernyataannya itu, Habermas tidak hanya berbicara tentang hukum atau politik, tetapi tentang legitimasi hidup bersama. Sesuatu hanya layak dianggap sah jika dapat dipertanggungjawabkan di hadapan semua yang terdampak, melalui percakapan yang terbuka, bukan paksaan yang tersembunyi.

Keberanian Moral

Warisan ini terasa berat, karena ia menuntut lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Ia menuntut keberanian moral. Dalam pandangan Habermas, berbicara bukanlah tindakan netral. Setiap ujaran membawa klaim-klaim akan kebenaran, ketulusan, dan keadilan. Ia menyebutnya sebagai “validity claims,” dan menegaskan bahwa komunikasi sejati hanya mungkin jika klaim-klaim itu dapat diuji bersama. Dalam salah satu refleksinya yang tajam, ia menulis: “The unforced force of the better argument is the only force that should prevail” (Kekuatan yang tak dipaksakan dari argumen yang lebih baik adalah satu-satunya kekuatan yang seharusnya berlaku). Sebuah kalimat yang diucap secara sederhana, tetapi mengandung tuntutan yang nyaris utopis, bahwa dalam percakapan, yang menang seharusnya bukan yang paling kuat, melainkan yang paling masuk akal.

Namun justru di situlah letak kekuatan sekaligus kerapuhan pemikirannya. Habermas tidak naif. Ia tahu bahwa dunia tidak selalu berjalan seperti itu. Ia hidup dalam bayang-bayang sejarah yang memperlihatkan bagaimana bahasa dapat dipelintir menjadi alat dominasi. Karena itu ia memperingatkan tentang apa yang ia sebut sebagai kolonisasi dunia kehidupan: ketika logika pasar dan kekuasaan merembes masuk ke dalam ruang-ruang yang seharusnya menjadi milik percakapan manusia. Dalam The Theory of Communicative Action, ia menulis: “The more complex modern societies become, the more they depend on steering media such as money and power… but these cannot replace mutual understanding as a mechanism for coordinating action” (Semakin kompleks masyarakat modern, semakin besar ketergantungannya pada media pengarah seperti uang dan kekuasaan… namun hal-hal itu tidak dapat menggantikan saling pengertian sebagai mekanisme untuk mengoordinasikan tindakan).

Di titik ini, warisan Habermas menjadi semakin relevan sekaligus semakin menantang. Kita hidup dalam dunia di mana uang dan kekuasaan tidak hanya mengatur sistem, tetapi juga memengaruhi cara kita berbicara dan berpikir. Percakapan publik sering kali tidak lagi diarahkan untuk memahami, melainkan untuk mempengaruhi. Bahasa menjadi alat, bukan jembatan. Dan ketika itu terjadi, sesuatu yang mendasar dalam kemanusiaan kita perlahan terkikis.

Rasionalitas Komunikatif

Namun Habermas tidak berhenti pada diagnosis. Ia tetap menyisakan harapan, meski bukan harapan yang mudah. Ia percaya bahwa dalam diri manusia masih ada kapasitas untuk rasionalitas komunikatif, sejenis kemampuan untuk melampaui kepentingan sempit dan mencari titik temu melalui alasan. “Rationality is not a possession of individuals but a potential embedded in communication” (Rasionalitas bukanlah milik individu, melainkan sebuah potensi yang tertanam dalam komunikasi), bagitu katanya. Dengan kata lain, rasionalitas bukan sesuatu yang kita miliki secara pribadi, melainkan sesuatu yang lahir di antara kita, dalam ruang di mana kita bersedia saling mendengar.

Di sinilah warisan itu menjadi sangat personal. Habermas seakan mengalihkan tanggung jawab dari sistem ke diri kita masing-masing. Demokrasi tidak hanya bergantung pada institusi, tetapi pada kualitas percakapan sehari-hari. Pada cara kita menanggapi perbedaan. Pada kesediaan kita untuk berkata, “aku mungkin salah.” Sebab tanpa itu, semua prosedur demokrasi akan menjadi kosong. Sekadar mekanisme tanpa jiwa.

Namun begitu, Habermas juga mengingatkan bahwa kebebasan berbicara saja tidak cukup. Dalam refleksinya yang dalam tentang ruang publik, ia menulis: “The public sphere must be protected from being overwhelmed by mass media and market forces that distort communication” (Ruang publik harus dilindungi agar tidak dikuasai oleh media massa dan kekuatan pasar yang mendistorsi komunikasi). Bagi saya, kalimat yang diucap Habermas terasa seperti nubuat bagi zaman ini, di mana arus informasi begitu deras hingga kebenaran sering tenggelam di dalamnya. Sungguh, di zaman ini kita memiliki lebih banyak suara dari sebelumnya, tetapi tidak selalu memiliki lebih banyak pemahaman.

Penutup

‘Ala kulli hal, peninggalan Habermas, barangkali, bukanlah jawaban yang menenangkan, melainkan panggilan yang menuntut kesabaran. Ia mengajarkan bahwa hidup bersama adalah proses yang rapuh, yang harus terus dirawat melalui percakapan yang jujur. Ia tidak menjanjikan bahwa manusia akan selalu rasional, tetapi ia menolak menyerah pada keyakinan bahwa manusia pasti gagal.

Setelah kepergiannya, yang tersisa bukan hanya karya-karya besar atau pemikirannya yang dibincangkandan menjadi rujukan banyak orang, tetapi sebuah tanggung jawab yang diam-diam berpindah ke tangan kita hari ini. Setiap kali kita memilih untuk mendengar alih-alih memotong, setiap kali kita menimbang alih-alih menghakimi, di situlah warisan Habermas menemukan bentuknya yang paling nyata.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising ini, warisan itu tidak akan hadir sebagai suara yang keras. Ia hadir sebagai refleksi, sebuah keheningan kecil di antara dua kalimat, di mana kita diingatkan bahwa “kata-kata seharusnya tidak digunakan untuk mengalahkan, tetapi untuk menemukan satu sama lain”.

Requiem aeternam Habermas. Allahu a’lam bishowab.[]

  • Penulis: Radea Juli A Hambali, Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa dari Medsos, Mungkinkah?

    Puasa dari Medsos, Mungkinkah?

    • calendar_month Sab, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Dunia digital itu terasa intim. Feed saya beda dengan feed Anda. Algoritma seperti tahu selera, luka, bahkan ego kita. Ia beri sedikit validasi—cukup untuk bikin nagih. Scroll jadi refleks. Jempol kadang lebih disiplin daripada zikir.   Yang melelahkan sering bukan pekerjaan, tapi kebutuhan untuk “terlihat”: terlihat produktif, stabil, bahagia. Padahal hidup nyata tidak […]

  • Ingin Kuliah di Poliwangi? Tersedia 1.530 Kursi Mahasiswa Baru 2026

    Ingin Kuliah di Poliwangi? Tersedia 1.530 Kursi Mahasiswa Baru 2026

    • calendar_month Rab, 11 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANYUWANGI Kanal31.com — Kabar baik bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi vokasi. Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) resmi membuka 1.530 kursi mahasiswa baru untuk Tahun Akademik 2025/2026. Ribuan kuota tersebut tersebar di 19 program studi jenjang Diploma 3 (D-3) dan Sarjana Terapan (S-1 Terapan). Sebagai perguruan tinggi vokasi negeri di ujung timur Pulau Jawa, […]

  • 6 Masjid Pilihan di Bandung untuk Muhasabah Akhir Tahun 2024

    6 Masjid Pilihan di Bandung untuk Muhasabah Akhir Tahun 2024

    • calendar_month Sen, 23 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM, Pergantian tahun menjadi momen yang dinanti banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga, teman, atau pasangan. Di tengah gegap gempita perayaan, sejumlah warga memilih merayakan malam pergantian tahun dengan cara yang lebih mendalam, yakni bermuhasabah dan introspeksi diri. Bagi masyarakat Kota Bandung yang ingin melewati malam tahun baru dengan suasana religius, sejumlah masjid menyediakan ruang […]

  • Penjamian Mutu Pesantren Tidak Gunakan Ukuran Formalitas tapi Pendekatan Agama

    Penjamian Mutu Pesantren Tidak Gunakan Ukuran Formalitas tapi Pendekatan Agama

    • calendar_month Rab, 13 Nov 2024
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar melakukan Kick Off program Majelis Masyayikh “Siap Melayani” di Jakarta. Menag mendukung upaya Majelis Masyayikh untuk terus meningkatkan kualitas mutu pendidikan pesantren. Sebagai orang yang besar di pesantren, Menag melihat sesuatu yang perlu diperkuat adalah sistem pendidikan yang berbasis pada ilmu ketuhanan. Ia mengingatkan Majelis Masyayikh, dalam melakukan […]

  • Implementasi MBKM 2022, UIN Bandung Buka 4 Program Literasi Mahasiswa

    Implementasi MBKM 2022, UIN Bandung Buka 4 Program Literasi Mahasiswa

    • calendar_month Kam, 14 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung membuka peluang kerjasama seluas-luasnya dengan mitra strategis. Peluang kerjasama ini diarahkan dalam rangka implementasi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM). Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr Wahyudin Darmalaksana MAg menjelaskan “kerjasama yang kami tawarkan berupa Program Literasi Mahasiswa (PLM) untuk sasaran penguatan kompetensi kemampuan keterampilan khusus dalam memenuhi Capaian […]

  • UIN Jakarta – BAKTI Kominfo Latih 113 Pesantren Digital Marketing Berbasis AI

    UIN Jakarta – BAKTI Kominfo Latih 113 Pesantren Digital Marketing Berbasis AI

    • calendar_month Sel, 18 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Satu lagi program berdampak yang dirasakan kalangan pesantren. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan BAKTI Kominfo menggelar Pelatihan Digital Marketing dan Personal Branding berbasis Artificial Intelligence (AI). Pelatihan ini diikuti para pengelola sistem informasi pesantren penerima manfaat infrastruktur BAKTI Kominfo. Giat ini menjadi salah satu upaya dalam menguatkan kapasitas […]

expand_less