Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Integritas Intelektual

Integritas Intelektual

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, kanal31.com –Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Gazali (Al-Gazali) pernah menyusun rantai kerusakan dengan kalimat yang nyaris seperti belati: rusaknya rakyat karena rusaknya penguasa; rusaknya penguasa karena rusaknya ulama; dan rusaknya ulama karena cinta harta dan kedudukan.

Berabad-abad berlalu, sebutan bagi orang berilmu terus berganti. Tetapi pertaruhannya tetap sama: apakah pengetahuan menjadi jalan menuju kebenaran, atau jalan menuju kepentingan.

Barangkali karena itu, Dreyfus Affair penting bukan hanya sebagai perkara seorang perwira yang dituduh berkhianat. Di sana, lahir makna modern tentang intelektual: bukan sekadar orang yang berpikir, melainkan orang yang bersedia menanggung konsekuensi dari apa yang dipikirkannya.

Sebab berpikir tidak selalu membutuhkan keberanian. Yang membutuhkan keberanian adalah mengatakan hasil pikiran kita ketika kebenaran itu mengusik kekuasaan, kelompok sendiri, atau kenyamanan diri.

Di situlah tanggung jawab intelektual bermula: menjaga agar pikiran tidak disewa, ilmu tidak dijadikan pembenaran, dan kebenaran tidak ditukar dengan kedudukan.

Pengetahuan yang kehilangan keberanian pada akhirnya hanya menjadi kecerdasan yang pandai menyusun alasan agar kepentingan tampak seperti kebenaran.

Dan seorang intelektual barangkali tidak selalu harus menjadi suara yang paling keras. Ia hanya perlu memastikan bahwa, di tengah riuhnya kepentingan, nurani belum kehilangan bahasa.

Sebuah negeri tidak selalu rusak karena terlalu banyak orang jahat. Kadang ia rusak karena terlalu sedikit orang berilmu yang bersedia menanggung harga ketika kebenaran tak lagi menguntungkan.

Dan mungkin kehancuran paling sunyi bukan ketika manusia dibungkam, melainkan ketika ia telah belajar membungkam dirinya sendiri sebelum siapa pun memintanya.

Pada akhirnya, seorang intelektual tidak selalu dituntut menyelamatkan dunia. Ia hanya dituntut untuk tidak ikut membuat kegelapan tampak seperti cahaya.

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi Untuk Anda

  • Luar Biasa! Jurnal Studi Islam Ulumuna UIN Mataram Terindeks Scopus

    Luar Biasa! Jurnal Studi Islam Ulumuna UIN Mataram Terindeks Scopus

    • calendar_month Kamis, 21 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Satu lagi jurnal Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang terindeks di Scopus. Adalah Ulumuna, Jurnal Studi Islam yang diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram ini terindeks di Scopus per tanggal 20 Juli 2022. Dengan itu, otomatis Ulumuna memperoleh kenaikan status akreditasi ke Sinta 1, yang sebelumnya Sinta 2. Saat ini, sudah ada […]

  • Bukan Sekadar Stempel Halal: Terobosan Hukum “Ḥifẓ al-Tanawwu‘” dari Dr. Heris Suhendar untuk Masa Depan Pariwisata Indonesia

    Bukan Sekadar Stempel Halal: Terobosan Hukum “Ḥifẓ al-Tanawwu‘” dari Dr. Heris Suhendar untuk Masa Depan Pariwisata Indonesia

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    PEKALONGAN, kanal31.com–  Pariwisata halal selama ini sering diperdebatkan secara dangkal, seolah-olah penyeragaman destinasi atau sekadar urusan stempel halal pada makanan. Hal itu terjadi karena regulasinya yang masih tumpang-tindih dan belum terintegrasi secara utuh dalam sistem hukum nasional. Sebuah riset komprehensif  Dr. Heris Suhendar –-dosen UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, dalam Sidang Senat Terbuka Doktoral yang […]

  • Mengagumi Ulama dan Artisme

    Mengagumi Ulama dan Artisme

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Mengagumi seorang ulama tanpa ulama itu pernah benar-benar menyadarkan kita secara pribadi, adalah artisme, yaitu psikologi kekaguman yang tak ada bedanya dengan mengagumi sosok, tokoh atau artis pada umumnya.   Pertama, ulama itu bukan untuk dikagumi tapi diserap ilmunya dan diamalkan sebisanya. Bila tak ada yang bisa diserap ilmunya sesuai minat dan kapasitas […]

  • PPPK Paruh Waktu: Solusi Inklusif bagi Pegawai Non-ASN

    PPPK Paruh Waktu: Solusi Inklusif bagi Pegawai Non-ASN

    • calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Kebijakan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu menjadi salah satu langkah baru yang dinilai strategis oleh DPRD Kota Bandung. Skema ini hadir sebagai jalan tengah di tengah larangan pengangkatan tenaga non-ASN yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023. Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung, Juniarso Ridwan menyebut, […]

  • Perebutan Harta Warisan Bisa Jadi Malapetaka

    Perebutan Harta Warisan Bisa Jadi Malapetaka

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    PURWAKARTA Kanal31.com — Harta warisan adalah harta yang panas, jika tidak dikelola dengan baik. Perebutan warisan orangtuanya yang sudah meninggal dunia sering terjadi. Orangtuanya mungkin sedang ditanya di alam kubur tetapi anak-anaknya ribut soal harta peninggalan orangtuanya. Harta warisan bukan hasil jerih payah anak-anaknya.   Pembagian harta warisan yang tidak adil hanya akan membahayakan bagi orang […]

  • Rektor UIN Bandung Ajak Lulusan Menjadi Sosok yang Cerdas Spiritual Tangguh Digital

    Rektor UIN Bandung Ajak Lulusan Menjadi Sosok yang Cerdas Spiritual Tangguh Digital

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung kembali menggelar prosesi wisuda ke-106 dengan khidmat, Sabtu (14/02/2026). Dalam pidato orasi ilmiahnya, Rektor UIN Bandung, Prof. Rosihon Anwar menyampaikan pesan mendalam bagi para wisudawan agar tidak cepat berpuas diri dengan gelar yang baru saja diraih. Menurutnya, wisuda bukanlah titik akhir dari proses pencarian ilmu, […]

expand_less