Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Keracunan MBG di Jeneponto, Siswa Bertaruh Nyawa

Keracunan MBG di Jeneponto, Siswa Bertaruh Nyawa

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALBAR kanal31.com — Kalian kalau tengok videonya, sungguh menyayat hati. Seandainya itu anak kalian, gimana perasaan kalian? Andai terjadi pada anak pengelola MBG, masih mau makan MBG? Lebih jelasnya, nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Di Jeneponto, pagi itu seharusnya hanya berisi suara anak-anak membaca, tertawa, dan berlari mengejar masa depan yang belum mereka pahami. Tapi yang terdengar justru jerit panik, langkah kaki tergesa, dan napas yang dipinjam dari selang plastik. Video itu seperti palu yang menghantam nurani berkali-kali. Anak kecil digendong seperti tubuh tanpa jiwa, kepala terkulai, mata tertutup, bibir pucat. Sementara di dadanya hidup berusaha bertahan dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Infus menetes pelan, seolah waktu ikut menangis, dan ambulans meraung seperti serigala yang kehilangan arah.

 

Ini bukan adegan film. Ini bukan latihan bencana. Ini nyata. Terjadi di SDN 07 Rumbia, ketika 27 manusia, 25 siswa dan 2 guru, tumbang setelah menyantap sesuatu yang disebut “makan bergizi gratis.” Gizi, kata yang biasanya hangat dan penuh harapan, tiba-tiba berubah menjadi ironi paling dingin. Tubuh-tubuh kecil itu bereaksi seperti diserang dari dalam, gatal menyiksa, mual menggulung perut, kepala berputar, napas tersengal, bahkan ada yang kejang seperti tubuhnya sedang berperang melawan sesuatu yang tak terlihat. Enam orang harus dilarikan ke rumah sakit, sisanya terbaring di puskesmas, dipasangi infus, seperti anak-anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat, dewasa dalam penderitaan.

 

Diduga penyebabnya sepotong ikan layang goreng tepung. Ikan. Sesuatu yang mestinya memberi tenaga, kini berubah menjadi simbol betapa murahnya kehati-hatian. Entah ia sudah busuk sebelum dimasak, atau disentuh tangan yang tak pernah benar-benar peduli pada kebersihan, atau dibawa dalam rantai distribusi yang lebih longgar dari janji-janji yang sering diumbar, semuanya kini menunggu hasil laboratorium. Tapi tubuh anak-anak itu tidak menunggu. Mereka sudah memberi jawaban lebih cepat dari kertas mana pun.

 

Pihak sekolah bilang mereka kaget. Tentu saja kaget. Mereka hanya menerima, lalu membagikan. Seperti takdir yang dibagi rata tanpa pernah ditanya apakah layak diterima. Pihak penyedia dari SPPG menunggu hasil uji, berdiri di antara kemungkinan salah dan kebiasaan menyangkal. Sementara Badan Gizi Nasional berbicara dengan kalimat rapi tentang evaluasi, seolah tragedi ini sekadar angka dalam laporan, bukan tubuh anak-anak yang menggigil di ranjang perawatan. Pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto bergerak, menyelidiki, menenangkan, memastikan tidak ada korban meninggal, kalimat yang terdengar seperti kabar baik, tapi di telinga orang tua, itu mungkin hanya penghiburan yang terlalu tipis.

 

Bagaimana rasanya melihat anak yang tadi pagi pamit sekolah dengan wajah cerah, kini terbaring dengan selang di hidung, jarum di tangan, tubuhnya dingin, napasnya dipinjam dari alat. Bagaimana rasanya ketika dunia yang selama ini dipercaya, sekolah, program negara, makanan, tiba-tiba berubah jadi ancaman. Itu bukan sekadar takut. Itu penghancuran kepercayaan sampai ke akar.

 

Di tengah semua ini, pertanyaan yang menggantung seperti pisau, kalau ini terjadi pada anak-anak mereka yang mengelola, yang menyusun program, yang menandatangani kebijakan, apakah mereka masih akan menyebutnya “bergizi”? Atau tiba-tiba semua standar akan berubah, semua prosedur akan diperketat, semua kelalaian akan diakui sebagai dosa yang tak bisa lagi disembunyikan?

 

Ini bukan sekadar insiden. Ini tragedi yang menelanjangi sistem. Program yang katanya memberi kehidupan, justru hampir merenggutnya. Anak-anak yang seharusnya dilindungi dengan segala cara, justru menjadi korban dari sesuatu yang bahkan tidak mereka pilih.

 

Di negeri ini, kadang yang paling mematikan bukan racun di dalam makanan, tapi keyakinan palsu,n semuanya sudah aman. Ketika keyakinan itu runtuh, ia tidak jatuh perlahan. Ia hancur sekaligus, menimpa siapa saja yang berdiri di bawahnya, termasuk anak-anak yang hanya ingin makan… lalu pulang.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 10 Arti dan Makna Mimpi Melihat Ular

    10 Arti dan Makna Mimpi Melihat Ular

    • calendar_month Rabu, 25 Jan 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 4Komentar

    SURABAYA-KANAL31.COM – Bagi sebagian orang, ular adalah hewan yang menyeramkan untuk didekati karena mempunyai racun mematikan. Tak jarang, orang-orang akan menghindari dan lari ketika bertemu ular. Selain dapat ditemui di kehidupan nyata, hewan melata ini juga kerap menampakkan dirinya di mimpi. Orang-orang akan berpikir bahwa jika bermimpi melihat hingga kejar-kejaran dengan ular adalah mimpi buruk […]

  • Ekoteologi Sebagai Fondasi Baru Penyelamatan Lingkungan

    Ekoteologi Sebagai Fondasi Baru Penyelamatan Lingkungan

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan perhatian serius terhadap bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra. Menurut Menag, upaya penanggulangan bencana alam tidak boleh lagi hanya mengandalkan pendekatan teknis, hukum, atau politik semata, namun juga melalui konsep Ekoteologi, yakni mengintegrasikan nilai-nilai moral agama ke dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.   Menag […]

  • Tafsir Mimpi Burung Dalam Sangkar dan Berkicau Menurut Tafsir Islam

    Tafsir Mimpi Burung Dalam Sangkar dan Berkicau Menurut Tafsir Islam

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 3Komentar

    KANAL31.COM Bermimpi tentang burung banyak diartikan dengan berbagai penafsiran. Dalam tafsir mimpi Islam sendiri, mimpi burung diulas banyakarti sesuai dengan situasi dengan kondisi dialami dalam mimpi. Dalam buku Abul Abbals Ahmad bin Abdurrahman, Qawâ’idu Tafsîril Ahlâ berjudul Beirut, Muassasatur Rayyân: 2000 M dijelaskan arti mimpi burung. Mengulas arti mimpi tentang burung dalam sangkar dan arti mimpi […]

  • BNPT – FKPT Jabar Gaungkan Semangat CINTA di SDN 07 Cinunuk

    BNPT – FKPT Jabar Gaungkan Semangat CINTA di SDN 07 Cinunuk

    • calendar_month Jumat, 12 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Suasana riang dan penuh tawa mewarnai Aula SDN 07 Cinunuk, Kabupaten Bandung, pada Rabu (11/9/2026). Sebanyak 100 siswa kelas 5 dan 6 mengikuti kegiatan Cerita dan Inspirasi Anak Bangsa (CINTA) “Satu Cinta Seribu Cerita” yang digelar Hybrid oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat bersama BNPT RI. Dari jumlah tersebut, 20 […]

  • Pentingnya Platform Digital dalam Dakwah

    Pentingnya Platform Digital dalam Dakwah

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com –Dirjen Pendidikan Islam Suyitno menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an di Indonesia. Hal ini disampaikan saat memberi sambutan pada launching Gerakan Nasional Literasi Qur’an (GNLQ) dengan tajuk “Tahun Membaca Al-Qur’an”. Helat ini berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi Kemenag RI, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2025). Suyitno menyoroti perkembangan metode pembelajaran Al-Qur’an dari masa ke masa […]

  • Membumikan Ekoteologi: UIN Bandung Lepas 6.770 Mahasiswa KKN 2026 hingga ke 8 Negara

    Membumikan Ekoteologi: UIN Bandung Lepas 6.770 Mahasiswa KKN 2026 hingga ke 8 Negara

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali mengukuhkan komitmennya dalam mengabdi kepada masyarakat. Mengusung tema “Membumikan Ekoteologi Berbasis Rahmatan lil Alamin,” kampus berbasis Islam ini resmi melepas 6.770 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026 untuk menyebar kebermanfaatan, mulai dari pelosok Nusantara hingga ke delapan negara di dunia. Acara pelepasan digelar secara hibrida […]

expand_less