UIN Bandung Bidik Kursi Dirjen Pesantren: Simbol Marwah dan Kesiapan SDM
- account_circle Sungkawa Abdisunda
- calendar_month Ming, 25 Jan 2026
- comment 0 komentar

BANDUNG, kanal31.com– Wacana mengenai siapa sosok yang bakal mengisi struktur baru Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di Kementerian Agama RI kian menghangat.
Di kalangan sivitas akademika UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, muncul aspirasi kuat agar tokoh dari kampus Islam negeri tersebut dapat terpilih memimpin direktorat anyar ini.
Bagi kalangan akademisi UIN Bandung, keterlibatan perwakilan mereka bukan sekadar urusan perebutan jabatan, melainkan menyangkut simbol marwah dan kebanggaan institusi yang telah lama berkontribusi bagi pendidikan Islam di Indonesia.
“Kampus kita memiliki rekam jejak kuat dalam menyuplai pejabat Eselon I di Kemenag, seperti Prof. Muhammad Ali Ramdhani yang pernah menjabat Dirjen Pendidikan Islam,” ungkap salah seorang dosen di lingkungan UIN Bandung, yang enggan disebutkan namanya.
Sumber tersebut memaparkan sejumlah alasan mengapa UIN Bandung memiliki posisi tawar yang tinggi untuk posisi Dirjen Pesantren? Pertama, dukungan institusional. UIN Bandung secara aktif mendukung penuh pembentukan Ditjen Pesantren yang telah mendapatkan restu dari Presiden Prabowo Subianto.
Kedua, kedekatan visi kebijakan. Kampus ini telah menyelenggarakan berbagai forum diskusi (halaqah) yang dihadiri langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk merumuskan arah baru kebijakan pesantren.
Ketiga, kesiapan infrastruktur riset. Rektor UIN Bandung, Prof. Rosihon Anwar, telah meluncurkan Sentra Analisis dan Riset Pesantren Indonesia (SANTRI). Unit ini diproyeksikan menjadi mitra strategis bagi Ditjen Pesantren dalam menyuplai data dan kajian akademis yang akurat.
Selain kesiapan infrastruktur, faktor Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi nilai unggul utama. UIN Bandung dinilai memiliki figur-figur yang mampu menjembatani tradisi kitab kuning dengan tata kelola organisasi modern—kriteria vital bagi seorang Dirjen Pesantren.
“Banyak dosen UIN Bandung yang menjadi pimpinan atau pengasuh pondok pesantren. Dipastikan, mereka memiliki pemahaman mendalam tentang kebutuhan riil dunia pesantren,” jelas sumber tersebut.
Ketika disinggung mengenai nama-nama yang layak, sumber tersebut menyebutkan bahwa UIN Bandung memiliki stok guru besar yang mumpuni secara kualifikasi.
“Banyak guru besar yang memiliki kualifikasi. Ya, bisa Prof. Rosihon Anwar (Rektor), atau Prof. Ali Nurdin, atau guru besar lainnya,” pungkasnya.
Dengan bekal kapasitas akademik dan legitimasi kultural pesantren, UIN Bandung menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi lebih jauh dalam struktur baru Kementerian Agama tersebut.
Hingga saat ini, proses pemilihan Direktur Jenderal Pesantren masih dalam tahap pematangan struktur organisasi di Kemenag. Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pemilihan pejabat akan didasarkan pada kompetensi dan profesionalisme, bukan sekadar kedekatan personal.(nas)
- Penulis: Sungkawa Abdisunda

Saat ini belum ada komentar