Breaking News:
Beranda » NASIONAL » Zaki Mubarak: MBG Jangan Sampai Menjadi Common Tragedy bagi Dunia Pendidikan

Zaki Mubarak: MBG Jangan Sampai Menjadi Common Tragedy bagi Dunia Pendidikan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, kanal31.com — Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, M. Zaki Mubarak, M.Si., Ph.D., menyoroti dampak kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap masa depan pendidikan nasional. Hal tersebut ia sampaikan dalam Seminar Pendidikan bertajuk “Membedah Alokasi Anggaran Pendidikan untuk MBG: Quo Vadis Pendidikan di Indonesia” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) FITK UIN Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Dalam paparannya, Zaki menjelaskan bahwa program MBG tidak dapat dibaca semata sebagai program bantuan sosial, tetapi sebagai bagian dari proyek transformasi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut Zaki, bersama program strategis lain seperti Koperasi Merah Putih dan Sekolah Rakyat, MBG merupakan bagian dari agenda besar negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Secara ide, kebijakan ini lahir dari semangat transformasi besar bangsa. Negara ingin memastikan pembangunan ekonomi tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat,” ujar Zaki.

Namun demikian, Zaki menilai bahwa implementasi kebijakan sebesar MBG membutuhkan tata kelola yang sangat kuat, akuntabel, dan berbasis perencanaan yang matang. Tanpa hal tersebut, program yang awalnya dirancang untuk kebaikan publik justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Ia memaparkan, berdasarkan data pemerintah per Mei 2026, jumlah penerima manfaat MBG mencapai 62,45 juta orang. Dari jumlah tersebut, peserta didik menjadi kelompok terbesar dengan lebih dari 48 juta penerima manfaat atau sekitar 76,1 persen dari total sasaran. Program ini juga telah menjangkau ratusan ribu sekolah di seluruh Indonesia dan melibatkan lebih dari satu juta tenaga kerja.

“Skala program ini sangat besar. Karena itu, risiko tata kelola yang buruk juga menjadi sangat besar apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat,” jelasnya.

Zaki kemudian menyoroti aspek pembiayaan program MBG yang menurutnya menjadi sumber polemik utama. Ia menjelaskan bahwa anggaran MBG tahun 2026 mencapai Rp268 triliun, meski sebelumnya sempat direncanakan sebesar Rp335 triliun. Sebagian besar anggaran tersebut masuk dalam pos anggaran pendidikan.

Menurutnya, masuknya anggaran MBG ke dalam komponen 20 persen mandatory spending pendidikan sebagaimana amanat konstitusi memunculkan pertanyaan serius dari masyarakat sipil.

“Masyarakat sipil mempertanyakan apakah dana pendidikan yang seharusnya digunakan untuk memperkuat kualitas sekolah, guru, dan pembelajaran justru tersedot untuk pembiayaan program di luar inti pendidikan,” ujarnya.

Zaki menyebut kondisi ini sebagai common tragedy bagi dunia pendidikan. Menurutnya, ketika anggaran pendidikan tergerus, dampaknya tidak hanya dirasakan pada aspek fiskal, tetapi juga pada kualitas layanan pendidikan secara keseluruhan.

Ia menjelaskan, pemotongan ruang fiskal pendidikan berpotensi menunda perbaikan fasilitas sekolah yang rusak, memperlambat pembangunan sarana pembelajaran, hingga memperburuk kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru honorer dan guru PPPK.

“Jika anggaran pendidikan terus tertekan, maka biaya pendidikan bisa menjadi semakin mahal, kualitas pembelajaran menurun, dan kesejahteraan guru semakin terabaikan,” tegasnya.

Zaki menyoroti potensi gangguan terhadap proses belajar-mengajar akibat bergesernya prioritas kebijakan pendidikan. Menurutnya, pembangunan ekosistem pembelajaran yang sehat membutuhkan investasi berkelanjutan pada kurikulum, infrastruktur, serta peningkatan kualitas guru.

Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan proyek transformasi besar tanpa perencanaan matang dapat berujung pada kegagalan serius. Ia menegaskan bahwa kebijakan publik yang berskala nasional harus disertai studi kelayakan, kesiapan infrastruktur, dukungan SDM, dan sistem pengawasan yang memadai.

“Harapan besar tanpa tata kelola yang baik bisa berubah menjadi bencana besar. Program yang baik sekalipun dapat melahirkan kegagalan apabila dijalankan tanpa kesiapan,” katanya.

Sebagai bentuk peringatan, Zaki menyoroti sejumlah sinyal risiko dalam pelaksanaan MBG, mulai dari potensi korupsi, keterlambatan penyaluran anggaran, persoalan kualitas dan keamanan pangan, hingga risiko maladministrasi dan ketidaktepatan sasaran distribusi.

Karena itu, ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap desain kebijakan MBG agar program tersebut benar-benar memberi manfaat optimal bagi masyarakat tanpa mengorbankan kualitas pendidikan nasional.

“Reformasi tata kelola menjadi keharusan. Kebijakan populis harus tetap berorientasi pada kemaslahatan publik dan tidak boleh mengorbankan masa depan pendidikan,” pungkasnya.

Seminar ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa Prodi PAI untuk mengkaji secara kritis relasi antara kebijakan anggaran negara dan arah pembangunan pendidikan nasional, sekaligus menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam merespons isu-isu strategis kebangsaan.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penguatan Integrasi Agama dan Budaya Lokal dalam Kurikulum Program S2 Studi Agama-Agama

    Penguatan Integrasi Agama dan Budaya Lokal dalam Kurikulum Program S2 Studi Agama-Agama

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com –Program Studi Magister (S2) Studi Agama-Agama, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menggelar Workshop Kurikulum bertajuk “Memahami Agama dan Budaya Lokal melalui Kasepuhan Adat Gelaralam” di Aula Lantai 4 (Cinema), Kamis (18/9/2025). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mengembangkan kurikulum yang mampu mengintegrasikan kajian agama dengan khazanah kearifan lokal, sehingga kajian akademik tidak […]

  • Gembira Wujudkan Impian Berhaji Bersama, Inilah Cerita Trio Nenek Bersaudara

    Gembira Wujudkan Impian Berhaji Bersama, Inilah Cerita Trio Nenek Bersaudara

    • calendar_month Selasa, 21 Mei 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Siti Komariah (76) mengembangkan senyumnya ketika menginjakkan kaki kali pertama di Bandara Amir Mohammad Bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Digandeng dua saudara perempuannya yang juga turut serta menjadi jemaah haji, Komariah mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah mbak, kami sudah sampai di sini,” ungkapnya kepada petugas haji yang menyambutnya di Bandara Madinah (19/5/2024). Siti Komariah, Siti […]

  • 5 Tips Aman dan Nyaman Berkendara Saat Musim Hujan

    5 Tips Aman dan Nyaman Berkendara Saat Musim Hujan

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Musim hujan sering menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pengendara. Jalan licin, jarak pandang terbatas, hingga genangan air dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Karena itu, diperlukan kewaspadaan ekstra agar perjalanan tetap aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan. Berikut 5 tips yang bisa diterapkan:   1. Periksa Kondisi Kendaraan Sebelum Berangkat Pastikan ban dalam kondisi baik […]

  • Asyik! Kemenag Luncurkan Sekretariat Bersama Moderasi Beragama

    Asyik! Kemenag Luncurkan Sekretariat Bersama Moderasi Beragama

    • calendar_month Sabtu, 5 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jakarta) — Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama meluncurkan Sekretariat Bersama (Sekber) Moderasi Beragama. Pada saat yang bersamaan, dirilis juga Aplikasi Pemantauan Implementasi Moderasi Beragama (API-MB) Pembentukan Sekretariat Bersama menjadi amanat dari Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Pasal 9 Perpres 58/2023 ayat (1) mengatur bahwa untuk koordinasi penyelenggaraan penguatan Moderasi […]

  • Bangga! 2 Santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda Juara MTQ Jateng XXX

    Bangga! 2 Santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda Juara MTQ Jateng XXX

    • calendar_month Senin, 13 Mei 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tahun 2024 berlangsung di Kabupaten Pati, 25-29 April 2024. MTQ Jateng XXX ini diikuti 830 peserta. Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh turut serta mengirim delegasi, Mohamad Khizam Ali dan Aini Ulfiyah Farida. Keduanya adalah penerima beasiswa pada Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) […]

  • Menanti Fajar Kesetaraan di Kampus Hijau: Akankah UIN Bandung Dipimpin Rektor Perempuan?

    Menanti Fajar Kesetaraan di Kampus Hijau: Akankah UIN Bandung Dipimpin Rektor Perempuan?

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

      Oleh: Nanang Sungkawa* Riuh tepuk tangan dan tawa renyah seketika memecah keheningan Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa siang (09/06/2026). Di atas podium, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, melontarkan sebuah kalimat yang bukan sekadar seloroh, melainkan sebuah sinyalemen politik yang sarat makna. “Sudah sembilan perempuan yang menjabat […]

expand_less