UIN Bandung Kembali Gelar Pelatihan Moderasi Beragama Nasional 2026
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 20 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG, kanal31.com – Komitmen menjaga harmoni dan toleransi beragama di Indonesia kembali ditegaskan. Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, secara resmi membuka Pelatihan Moderasi Beragama di Hotel Grand Tjokro Bandung, Senin (26/10/2026).
Program strategis nasional selama tujuh hari ini diikuti oleh 60 peserta terpilih dari berbagai daerah. Mereka terdiri dari guru, dosen, dan ASN di lingkungan Kementerian Agama yang telah lolos seleksi ketat.
Pelatihan ini lahir dari kolaborasi Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) bersama Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) Kemenag RI, serta didukung penuh oleh dana abadi pendidikan LPDP.
Bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, penyelenggaraan ini menjadi momen istimewa. Kampus ini kembali dipercaya sebagai perguruan tinggi penyelenggara untuk ketiga kalinya (setelah 2023 dan 2025). Ini sebuah bukti nyata atas kapasitas dan rekam jejaknya dalam mengelola penguatan moderasi beragama tingkat nasional.
Acara pembukaan turut dihadiri jajaran pimpinan dan tokoh kunci, di antaranya Rektor UIN Bandung Prof. Rosihon Anwar, Wakil Rektor III Prof. Husnul Qodim, Ketua Tim Kerja Investasi Pendidikan Puspenma Hendro Dwi Antoro, S.H, serta Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN Bandung sekaligus Ketua Panitia, Prof. Usep Dedi Rostandi.
Dalam pengarahannya, Prof. Ali Ramdhani memaparkan delapan program prioritas Kemenag 2024–2029 yang dikenal sebagai Asta Protas. Menariknya, pilar pertama dari Asta Protas berfokus pada peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah sekadar program pelengkap, melainkan syarat mutlak agar seluruh agenda pelayanan keagamaan di Indonesia dapat berjalan dengan baik. Dari delapan program prioritas Kementerian Agama, kerukunan dan moderasi beragama ditempatkan paling awal. Tanpa kehidupan beragama yang rukun dan moderat, program-program lainnya tidak akan berjalan dengan baik.
“Dan, Asta Protas tidak akan bermakna jika hanya berhenti sebagai dokumen. Para peserta pelatihan adalah ujung tombak yang akan menghidupkannya di madrasah, kampus, dan kantor layanan,” ujarnya.
Cetak Agen Perubahan di Ruang Publik
Selama sepekan, ke-60 peserta dibekali materi intensif untuk memetakan dinamika keagamaan di daerah masing-masing. Mereka diajar membaca potensi gesekan, mendeteksi indikasi intoleransi sejak dini, serta memanfatkan modal sosial masyarakat untuk merawat kerukunan.
Pelatihan ini tidak dirancang untuk berhenti di dalam ruang diskusi. Pascakegiatan, para peserta diharapkan menjadi “agen moderasi beragama” yang membawa dampak riil:
- Guru menanamkan nilai-nilai toleransi dan inklusivitas kepada para siswa di sekolah/madrasah.
- Dosen memperkuat wawasan moderat melalui pengajaran dan riset akademis.
- ASN menghadirkan pelayanan publik yang adil, berimbang, dan berlandaskan komitmen kebangsaan.
Melalui keberlanjutan program ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung bersama Kementerian Agama RI optimis dapat merawat ekosistem keberagamaan Indonesia yang damai, inklusif, dan saling menghormati di tengah keberagaman bangsa.*
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis UIN Bandung
