Sabtu, 18 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Hikayat Pacinan di Kuningan

Hikayat Pacinan di Kuningan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rab, 29 Jan 2025
  • comment 0 komentar

KUNINGAN KANAL31.COM — Pacinan, kami menyebutnya begitu, nama yang tersemat pada sebuah pedukuhan kecil hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Dipisahkan sungai yang bila debit airnya meninggi di musim penghujan, menjadi momen menggembirakan bermain perahu yang dibuat dari batang pisang, berlayar menuju satu titik pertemuan dua sungai, tempat kami bermain air sepuasnya hingga mata memerah dan kulit berbalur lumpur coklat. Pedukuhan serupa ada di wilayah lain desa, namun hanya terdiri dari beberapa rumah saja dan penghuninya yang tidak banyak.

Pacinan – di beberapa wilayah menyebutnya Pecinan — secara fisik penghuni pedukuhan tidak jauh berbeda, namun tetua dan anak-anaknya memiliki nama ras Tionghoa. Teman perempuan satu kelas bernama Chung Sin, teman main saya bernama Chung Wan, seorang wanita tua ramah, kami memanggilnya Nyonya Pa, rumahnya selangkah dari sekolah, kami tidak sungkan untuk minta kue dan bebas minum dingin dari kendi tanah miliknya.

Ada Babah Kantoa, pengepul gabah dan palawija yang biasa bertandang ke rumah saya dan hadir menyimak bila ada kenduri warga yang memanggil Kyai sebagai penceramah. Ada pemilik toko bernama Kui Chi, dan seseorang bernama Eng Shang. Nama-nama itu yang kami panggil di desa kami. Hegemoni orde baru yang represif seperti tidak menyentuh eksistensi identitas personal mereka.

Pedukuhan itu dihuni oleh 20-an kepala keluarga, beberapa rumah dengan pasad bangunan berarsitektur Tionghoa, salah satunya berada persis di samping ruang kelas saya waktu SD. Sekolah saya memang terletak di tengah pedukuhan itu, saya harus menyeberangi sungai ke sekolah bersandal jepit dengan tiga buku tulis bersampul biru tua merk Lecces, dibungkus plastik. Menurut hikayatnya, pedukuhan Pacinan sudah ada sejak dahulu dan menjadi bagian dari kehidupan desa, mereka berkeyakinan beda dari kami yang Muslim. Meski berbeda keyakinan, syahdan tidak pernah terdengar cerita kami berselisih dalam perbedaan itu, semuanya melebur dalam harmoni dan menghormati keyakinan masing-masing.

Laiknya anak kecil, saya sangat antusias bila Imlek tiba. Pedukuhan itu menjadi ramai, rumah-rumah berhias lampion, kertas-kertas kuning dan merah bertaburan. Di rumah salah satu teman, ada patung kecil – kami menyebutnya tapekong – yang dikelilingi sesaji. Aroma pedupaan menguar tajam dari altar sederhana tempat mereka beribadat. Di hari Imlek itu, saya dan teman-teman berebut mendapatkan bingkisan berupa angpau, kue-kue Bakpau, dan penganan lainnya. Seluruh penduduk desa ikut bersuka cita di hari itu, pun bila waktu Ramadhan dan Lebaran, mereka pun larut dalam suka cita dan saling bersilaturahim.

Keragaman dan perbedaan yang di miliki bangsa ini merupakan rahmat tidak terpermanai dari Tuhan. Bila warga desa yang bertahun hidup berdampingan, Saya meyakini mereka memahami esensi ajaran agamanya dengan benar, mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, Sahabat-Sahabatnya, dan pemimpin-pemimpin mulia Islam yang menghormati entitas lain yang berbeda keyakinan. Setiap agama tentu memiliki prinsip-prinsip penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan, karena memang itu mutlak adanya yang diberikan Tuhan, termasuk berbeda suku, warna kulit, dan perbedaan lainnya.

Bila ada perbedaan paham, itu harus dimaknai dengan bijak karena Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kemampuan nalar tidak sama bagi setiap mahlukNya. Kemampuan menerima sebuah perbedaan, menjadi parameter sejauhmana orang tersebut menginternalisasi esensi keber-agama-annya dalam ranah kehidupan sosialnya. Dibutuhkan kekuatan menerima sebuah perbedaan, karena dalam setiap diri manusia tertanam sifat antagonis, meyakini ras atau agamanya lebih superior, dan pihak lain dalam posisi inferior.

Warga desa saya dan tempat lain di Nusantara ini yang harus hidup dalam perbedaan, dan mereka kokoh berdampingan dalam ikatan budaya dan harmoni, sesungguhnya mereka telah memberi makna pada Indonesia, negeri kita. Lebaran lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di pedukuhan itu, setelah bertahun tidak lagi ke sana.

Saat ini, pedukuhan sepi, hanya beberapa rumah yang masih berpenghuni. Rumah Nyonya Pa hanya tersisa perapian tanah yang tertutup ilalang, rumah itu telah roboh oleh waktu sejak dia meninggal. Rumah kayu di samping kelas juga sudah lapuk tak berpenghuni. Teman saya, Chung Sin, Chung Wan dan sederet nama yang dikenal sudah tidak ada di pedukuhan itu, mereka merantau entah ke mana. Pedukuhan itu kini sunyi, lampu lampion dan kertas kuning itu tidak lagi ada bila Imlek tiba. Waktu telah menepikan pedukuhan dalam putarannya bersama kenangan manis menikmati kue Imlek.

Dodo Murtado, Bekerja di Kemenag RI

 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BUKA PELUANG DEPAK BJBS, LIRIK BSI

    BUKA PELUANG DEPAK BJBS, LIRIK BSI

    • calendar_month Sel, 9 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    UIN Bandung Incar Kompensasi Lebih Menguntungkan?  BANDUNG, kanal31.com – Layanan Bank Jabar Syariah (BJBS) terhadap nasabah yang terdiri atas karyawan dan dosen Universitas Islam Negeri Sunan (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung masih terkendala. Sudah lebih dari satu bulan, nasabah BJBS tidak bisa melakukan transaksi secara online melalui Mobile Banking, mengambil uang tunai di gerai Anjungan […]

  • Bila Anda Mimpi Melihat Ular, Inilah 10 Arti dan Maknanya

    Bila Anda Mimpi Melihat Ular, Inilah 10 Arti dan Maknanya

    • calendar_month Ming, 12 Mei 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM — Bagi sebagian orang, ular adalah hewan yang menyeramkan untuk didekati karena mempunyai racun mematikan. Tak jarang, orang-orang akan menghindari dan lari ketika bertemu ular. Selain dapat ditemui di kehidupan nyata, hewan melata ini juga kerap menampakkan dirinya di mimpi. Orang-orang akan berpikir bahwa jika bermimpi melihat hingga kejar-kejaran dengan ular adalah mimpi buruk yang […]

  • Law Visit Study, Strategi HTN UIN Bandung Bentuk Insan Hukum Paripurna

    Law Visit Study, Strategi HTN UIN Bandung Bentuk Insan Hukum Paripurna

    • calendar_month Sel, 4 Nov 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Sebanyak 110 mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara (Siyasah), Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan “HTN Law Study Visit 2025” ke Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK RI) dan Badan Pembangunan Hukum Nasional (BPHN) di Jakarta, Senin, (03/11/ 2025). Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk membentuk insan hukum paripurna berbasis […]

  • Gagal Daftar P3K, Nasib HK2 UIN SGD Semakin Suram?

    Gagal Daftar P3K, Nasib HK2 UIN SGD Semakin Suram?

    • calendar_month Sen, 16 Jan 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– UIN Sunan Gunung Djati Bandung membutuhkan seorang Rektor (pemimpin) yang peka terhadap berbagai persoalan yang menimpa masyarakat kampus. Salah satunya nasib yang menimpa tenaga Honorer Kategori 2 (HK2) yang semakin burem, setelah gagalnya mendaftar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja(P3K). Seperti diketahui, HK2 UIN Bandung menurut daftar nominasi yang diterbitkan Kemenag RI, berjumlah 31 […]

  • Ayo Bangun Desa Sadar Hukum: Kolaborasi Pendidikan dan Pemerintah

    Ayo Bangun Desa Sadar Hukum: Kolaborasi Pendidikan dan Pemerintah

    • calendar_month Sen, 24 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    GARUT, kanal31.com  — Ketua Program Studi Hukum Pidana Islam (HPI), Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Muhamad Kholid, SH, MH menegaskan pentingnya kolaborasi antara Lembaga Pendidikan dan Pemerintah Desa, terutama dalam meningkatkan pemahaman hukum masyarakat melalui pendekatan edukatif dan dialogis. Penegasan itu disampaikan dalam acara Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) “Penguatan […]

  • Farhan Minta Warga Tetap Tenang, Serahkan Kasus Penghinaan ke Proses Hukum

    Farhan Minta Warga Tetap Tenang, Serahkan Kasus Penghinaan ke Proses Hukum

    • calendar_month Jum, 12 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, angkat bicara terkait ramainya unggahan di media sosial yang diduga berisi penghinaan terhadap suku Sunda. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendukung penuh penegakan hukum dan meminta masyarakat untuk tidak terpancing provokasi. Farhan menyebut, kasus penghinaan tersebut telah menjadi perhatian publik dan menyerahkan kepada penegakan hukum sesuai Undang-Undang Informasi dan […]

expand_less