Sabtu, 18 Apr 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Hikayat Pacinan di Kuningan

Hikayat Pacinan di Kuningan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rab, 29 Jan 2025
  • comment 0 komentar

KUNINGAN KANAL31.COM — Pacinan, kami menyebutnya begitu, nama yang tersemat pada sebuah pedukuhan kecil hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Dipisahkan sungai yang bila debit airnya meninggi di musim penghujan, menjadi momen menggembirakan bermain perahu yang dibuat dari batang pisang, berlayar menuju satu titik pertemuan dua sungai, tempat kami bermain air sepuasnya hingga mata memerah dan kulit berbalur lumpur coklat. Pedukuhan serupa ada di wilayah lain desa, namun hanya terdiri dari beberapa rumah saja dan penghuninya yang tidak banyak.

Pacinan – di beberapa wilayah menyebutnya Pecinan — secara fisik penghuni pedukuhan tidak jauh berbeda, namun tetua dan anak-anaknya memiliki nama ras Tionghoa. Teman perempuan satu kelas bernama Chung Sin, teman main saya bernama Chung Wan, seorang wanita tua ramah, kami memanggilnya Nyonya Pa, rumahnya selangkah dari sekolah, kami tidak sungkan untuk minta kue dan bebas minum dingin dari kendi tanah miliknya.

Ada Babah Kantoa, pengepul gabah dan palawija yang biasa bertandang ke rumah saya dan hadir menyimak bila ada kenduri warga yang memanggil Kyai sebagai penceramah. Ada pemilik toko bernama Kui Chi, dan seseorang bernama Eng Shang. Nama-nama itu yang kami panggil di desa kami. Hegemoni orde baru yang represif seperti tidak menyentuh eksistensi identitas personal mereka.

Pedukuhan itu dihuni oleh 20-an kepala keluarga, beberapa rumah dengan pasad bangunan berarsitektur Tionghoa, salah satunya berada persis di samping ruang kelas saya waktu SD. Sekolah saya memang terletak di tengah pedukuhan itu, saya harus menyeberangi sungai ke sekolah bersandal jepit dengan tiga buku tulis bersampul biru tua merk Lecces, dibungkus plastik. Menurut hikayatnya, pedukuhan Pacinan sudah ada sejak dahulu dan menjadi bagian dari kehidupan desa, mereka berkeyakinan beda dari kami yang Muslim. Meski berbeda keyakinan, syahdan tidak pernah terdengar cerita kami berselisih dalam perbedaan itu, semuanya melebur dalam harmoni dan menghormati keyakinan masing-masing.

Laiknya anak kecil, saya sangat antusias bila Imlek tiba. Pedukuhan itu menjadi ramai, rumah-rumah berhias lampion, kertas-kertas kuning dan merah bertaburan. Di rumah salah satu teman, ada patung kecil – kami menyebutnya tapekong – yang dikelilingi sesaji. Aroma pedupaan menguar tajam dari altar sederhana tempat mereka beribadat. Di hari Imlek itu, saya dan teman-teman berebut mendapatkan bingkisan berupa angpau, kue-kue Bakpau, dan penganan lainnya. Seluruh penduduk desa ikut bersuka cita di hari itu, pun bila waktu Ramadhan dan Lebaran, mereka pun larut dalam suka cita dan saling bersilaturahim.

Keragaman dan perbedaan yang di miliki bangsa ini merupakan rahmat tidak terpermanai dari Tuhan. Bila warga desa yang bertahun hidup berdampingan, Saya meyakini mereka memahami esensi ajaran agamanya dengan benar, mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, Sahabat-Sahabatnya, dan pemimpin-pemimpin mulia Islam yang menghormati entitas lain yang berbeda keyakinan. Setiap agama tentu memiliki prinsip-prinsip penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan, karena memang itu mutlak adanya yang diberikan Tuhan, termasuk berbeda suku, warna kulit, dan perbedaan lainnya.

Bila ada perbedaan paham, itu harus dimaknai dengan bijak karena Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kemampuan nalar tidak sama bagi setiap mahlukNya. Kemampuan menerima sebuah perbedaan, menjadi parameter sejauhmana orang tersebut menginternalisasi esensi keber-agama-annya dalam ranah kehidupan sosialnya. Dibutuhkan kekuatan menerima sebuah perbedaan, karena dalam setiap diri manusia tertanam sifat antagonis, meyakini ras atau agamanya lebih superior, dan pihak lain dalam posisi inferior.

Warga desa saya dan tempat lain di Nusantara ini yang harus hidup dalam perbedaan, dan mereka kokoh berdampingan dalam ikatan budaya dan harmoni, sesungguhnya mereka telah memberi makna pada Indonesia, negeri kita. Lebaran lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di pedukuhan itu, setelah bertahun tidak lagi ke sana.

Saat ini, pedukuhan sepi, hanya beberapa rumah yang masih berpenghuni. Rumah Nyonya Pa hanya tersisa perapian tanah yang tertutup ilalang, rumah itu telah roboh oleh waktu sejak dia meninggal. Rumah kayu di samping kelas juga sudah lapuk tak berpenghuni. Teman saya, Chung Sin, Chung Wan dan sederet nama yang dikenal sudah tidak ada di pedukuhan itu, mereka merantau entah ke mana. Pedukuhan itu kini sunyi, lampu lampion dan kertas kuning itu tidak lagi ada bila Imlek tiba. Waktu telah menepikan pedukuhan dalam putarannya bersama kenangan manis menikmati kue Imlek.

Dodo Murtado, Bekerja di Kemenag RI

 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringati Hari Disabilitas Internasional UIN Bandung Gelar Workshop Copilot AI

    Peringati Hari Disabilitas Internasional UIN Bandung Gelar Workshop Copilot AI

    • calendar_month Kam, 4 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, Program Studi Akuntansi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Pelatihan Workshop Difabel, UMKM dan Copilot AI bekerja sama dengan Microsoft, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), serta Pesantren Tunanetra Sam’an Darushudur. Kegiatan […]

  • Keren, ANNABA Gelorakan Spirit Ramadhan Bersama 1.687 Siswa SMPN di Kota Bandung

    Keren, ANNABA Gelorakan Spirit Ramadhan Bersama 1.687 Siswa SMPN di Kota Bandung

    • calendar_month Rab, 10 Apr 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    kanal31.com– Asosiasi Santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah asal Bandung Raya (ANNABA) sukses menggelar acara SENYUMAN (Serunya Menyambut Ramadhan Bersama Annaba) di SMPN 7 dan SMPN 2 Bandung. Kegiatan berupa pesantren kilat ini yang telah berjalan tanpa terputus selama 13 tahun. Dan, SENYUMAN ke-14 kali ini berkolaborasi dengan 950 siswa/i SMPN 7 dan 737 siswa/i SMPN […]

  • Raja Parmonang Manurung: Ayo Berani Mengembangkan Diri dan Berkontribusi Positif

    Raja Parmonang Manurung: Ayo Berani Mengembangkan Diri dan Berkontribusi Positif

    • calendar_month Jum, 19 Apr 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Raja Parmonang Manurung, berhasil menyandang predikat sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mapres) program studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB 2024. Hasil tersebut tentu tak lepas dari perjuangan serta kerja kerasnya. Raja bercerita bahwa pada masa tahap persiapan bersama (TPB), dia masih belum bisa membayangkan bagaimana perkuliahan […]

  • Moderasi Beragama Solusi Atasi Masalah Geopolitik

    Moderasi Beragama Solusi Atasi Masalah Geopolitik

    • calendar_month Kam, 8 Agu 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (ACEH) — Penguatan Moderasi Beragama terus dilakukan di berbagai lini, termasuk diplomasi internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyampaikan bahwa Moderasi Beragama dapat menjadi solusi atas ketidakpastian geopolitik global saat ini. Pernyataan ini disampaikan Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI Bidang Hubungan Antarlembaga Muhsin Syihab saat menjadi narasumber dalam Diskusi Terbuka di UIN Ar-Raniry, Banda […]

  • Kemenag: untuk Dakwah dan Kemaslahatan, Pesantren Harus Manfaatkan Teknologi

    Kemenag: untuk Dakwah dan Kemaslahatan, Pesantren Harus Manfaatkan Teknologi

    • calendar_month Sab, 12 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jakarta) — Pondok pesantren harus dapat merespons tantangan digital. Adaptasi terhadap teknologi merupakan hal yang tidak dapat dihindari bagi pesantren jika ingin tetap relevan dan berkontribusi dalam masyarakat. “Pesantren harus menjadi pionir dalam memanfaatkan teknologi untuk dakwah dan kemaslahatan umat,” ujar Staf Khusus Menag Nuruzzaman saat membuka KOPDARNAS 7 Arus Informasi Santri Nusantara (AIS), di […]

  • Farhan Minta Warga Tetap Tenang, Serahkan Kasus Penghinaan ke Proses Hukum

    Farhan Minta Warga Tetap Tenang, Serahkan Kasus Penghinaan ke Proses Hukum

    • calendar_month Jum, 12 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, angkat bicara terkait ramainya unggahan di media sosial yang diduga berisi penghinaan terhadap suku Sunda. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendukung penuh penegakan hukum dan meminta masyarakat untuk tidak terpancing provokasi. Farhan menyebut, kasus penghinaan tersebut telah menjadi perhatian publik dan menyerahkan kepada penegakan hukum sesuai Undang-Undang Informasi dan […]

expand_less