Sabtu, 18 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Menjadi Muslim di Era Algoritma

Menjadi Muslim di Era Algoritma

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rab, 18 Mar 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — Hari ini kita hidup dalam dunia yang tampak memberi kebebasan tanpa batas, tetapi sebenarnya sangat terkurasi. Setiap kali kita membuka media sosial, kita merasa sedang memilih apa yang ingin kita lihat. Kita merasa menjadi pengendali atas informasi yang masuk ke dalam hidup kita.

 

Namun sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Kitalah yang sedang dipilih. Algoritma mempelajari apa yang kita klik, berapa lama kita menonton sebuah konten, apa yang membuat kita berhenti menggulir layar, bahkan konten seperti apa yang memicu reaksi emosi kita.

 

Dari semua itu, sistem kemudian membangun “versi dunia” yang dipersonalisasi untuk kita. Akibatnya, sering kali kita tidak melihat realitas yang utuh, tetapi realitas yang sudah disesuaikan dengan kebiasaan kita sendiri.

 

Hal ini dapat terjadi tanpa kita sadari. Seorang mahasiswa, misalnya, awalnya hanya menonton video diskusi politik yang netral untuk keperluan tugas kuliah. Namun dalam beberapa minggu, rekomendasi yang muncul mulai berubah. Dari diskusi menjadi opini yang lebih keras, lalu menjadi narasi yang semakin tajam dan provokatif.

 

Tanpa disadari, ia masuk ke ruang gema atau echo chamber, yaitu ruang informasi yang hanya memperkuat pandangan yang sama. Dalam kajian digital, fenomena ini dikenal sebagai algorithmic radicalization (Tufekci, 2018). Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri dengan jujur: apakah kita benar-benar memilih informasi, atau sebenarnya kita sedang diarahkan oleh sistem yang tidak kita sadari?

 

Al-Qur’an memberikan pengingat yang sangat relevan dengan kondisi ini. Allah berfirman bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan diminta pertanggungjawaban (QS Al-Isra: 36). Jika dahulu ayat ini sering dipahami dalam konteks perilaku sehari-hari, hari ini maknanya terasa semakin luas. Apa yang kita lihat di layar, apa yang kita dengar dari konten digital, dan apa yang kita pilih untuk kita konsumsi bukan hanya aktivitas biasa, tetapi juga memiliki konsekuensi moral dan spiritual.

 

Era algoritma juga membawa tantangan serius bagi kualitas perhatian kita. Tidak sedikit orang yang merasa sulit fokus bahkan dalam ibadah. Kekhusyukan membutuhkan perhatian yang utuh. Dalam konteks hari ini, menjaga perhatian mungkin menjadi salah satu bentuk jihad yang paling nyata, karena kita harus berjuang melawan distraksi yang terus-menerus hadir.

 

Selain perhatian, emosi kita juga menjadi sasaran sistem digital. Penelitian menunjukkan bahwa informasi palsu sering menyebar lebih cepat daripada informasi benar karena lebih memicu emosi manusia (Vosoughi et al., 2018). Kemarahan, ketakutan, dan kejutan membuat orang lebih cepat bereaksi dan membagikan sesuatu tanpa berpikir panjang. Rasulullah saw. mengingatkan bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, tetapi yang mampu menahan amarahnya (Sahih Al-Bukhari 6114). Dalam konteks media sosial, kekuatan itu terlihat dalam kemampuan untuk tidak membalas komentar provokatif, tidak ikut memperkeruh suasana, dan tidak menambah panasnya perdebatan.

 

Di tengah semua itu, Islam sebenarnya telah lama mengajarkan pentingnya kepemimpinan diri. Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (Sahih Al-Bukhari 7138). Hari ini, makna hadis ini bisa kita renungkan secara lebih personal. Apakah kita sudah menjadi pemimpin atas perhatian digital kita? Apakah kita mampu memimpin emosi kita ketika berinteraksi di media sosial? Atau justru kita hanya mengikuti arus tanpa kesadaran?

 

Menjadi Muslim di era algoritma berarti belajar mempraktikkan kepemimpinan diri dalam ruang digital. Salah satunya adalah kepemimpinan atas perhatian. Praktiknya bisa sederhana tetapi bermakna, seperti tidak membawa ponsel ke tempat salat, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, atau sesekali melakukan puasa digital untuk menjaga kejernihan pikiran. Ramadan sebenarnya adalah momentum ideal untuk latihan ini, karena puasa pada hakikatnya adalah latihan mengendalikan diri dari hal-hal yang sebenarnya boleh, demi tujuan yang lebih tinggi.

 

Kepemimpinan diri juga berarti kepemimpinan atas informasi. Al-Qur’an mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya (QS Al-Hujurat: 6). Dalam konteks hari ini, ini adalah inti dari literasi digital. Seorang Muslim seharusnya tidak menjadi perantara penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Tidak semua yang viral harus dibagikan, dan tidak semua yang menarik harus diteruskan.

 

Selain itu, kepemimpinan diri juga menyangkut kemampuan mengelola emosi. Dunia digital sering memberi panggung besar pada kemarahan karena kemarahan meningkatkan keterlibatan pengguna. Namun seorang Muslim diajarkan untuk memberi jeda sebelum bereaksi. Jika emosi muncul, menunda respons beberapa saat dapat menjadi latihan kesabaran.

 

Akhirnya, menjadi Muslim di era algoritma bukan berarti menjauhi teknologi, tetapi memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali nilai-nilai kita. Bukan algoritma yang memimpin hidup kita, tetapi kesadaran spiritual kitalah yang harus memimpin cara kita menggunakan teknologi. Hari ini, salah satu tanda kedewasaan seorang Muslim adalah kemampuannya tetap merdeka secara batin, bahkan ketika hidup di tengah dunia yang terus berusaha mengarahkan perhatian dan perilakunya.

 

Referensi

Tufekci, Z. (2018). YouTube, the great radicalizer. The New York Times.

 

Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146–1151.

 

Elaborasi ringan beberapa poin ceramah sebelum Salat Tawawih di Masjid Salman ITB

25(26) Ramadan 1447/15 Maret 2026

 

Fathul Wahid, Pakar Teknologi Informasi, dosen Jurusan Informatika, Fakultas Teknologi Industri UII

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Academic Writing Class 2022 # 3

    Academic Writing Class 2022 # 3

    • calendar_month Kam, 12 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar
  • Top! Prodi Magister Ilmu Hukum UIN Bandung Raih Akreditasi Unggul dari BAN-PT

    Top! Prodi Magister Ilmu Hukum UIN Bandung Raih Akreditasi Unggul dari BAN-PT

    • calendar_month Rab, 22 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung secara resmi meraih predikat Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).   Berdasarkan Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor: 6374/SK/BAN-PT/Ak/M/IV/2026 yang ditetapkan pada tanggal 21 April 2026.   Rektor Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menjelaskan pencapaian […]

  • Selamat! Litbang Keagamaan Semarang Rilis Warisan Naskah Nusantara

    Selamat! Litbang Keagamaan Semarang Rilis Warisan Naskah Nusantara

    • calendar_month Kam, 22 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Balai Ltbang Keagamaan Semarang kini memiliki Repositori Naskah Keagamaan “Wanantara” (Warisan Naskah Nusantara). Wanantara berisi lebih dari 900 naskah maupun manuskrip keagamaan warisan para ulama nusantara yang telah berhasil dihimpun dan didigitalisasi. Keberadaan Wanantara dirilis oleh Sekjen Kemenag Nizar di Yogyakarta, Senin (19/9/2022). Sekjen Kemenag mengapresiasi inovasi yang dilakukan Balai Litbang Keagamaan dalam pelestarian […]

  • Yuk Ikutan Beasiswa Cendekia Baznas 2024

    Yuk Ikutan Beasiswa Cendekia Baznas 2024

    • calendar_month Rab, 31 Jul 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Beasiswa Cendekia BAZNAS merupakan program BAZNAS yang memiliki tugas menyediakan dana pendidikan demi terjaminnya keberlangsungan program pendidikan sebagai pertanggungjawaban antar generasi dan menyiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan, akhlak yang luhur, unggul dan berdaya saing. Untuk itu, Kami mengundang mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang memenuhi kriteria untuk mendaftar […]

  • Top! Perdana Ikut, Bayucaraka ITS Sabet Tiga Juara Sekaligus di Singapura

    Top! Perdana Ikut, Bayucaraka ITS Sabet Tiga Juara Sekaligus di Singapura

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SURABAYA Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional dalam bidang robotika. Kali ini, tim robot terbang Bayucaraka ITS berhasil meraih tiga gelar juara sekaligus dalam kompetisi Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC) 2022 yang diselenggarakan oleh Defence Science Organization (DSO) National Laboratories and Science Centre yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan […]

  • Wisuda Bukan Akhir, Melainkan Awal

    Wisuda Bukan Akhir, Melainkan Awal

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Sebanyak 1.103 wisudawan dari jenjang sarjana, magister hingga doktor hari ini, Sabtu, 29 November 2025 resmi dikukuhkan pada Wisuda ke-69 Gelombang Pertama Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (29/11/2025.   Acara itu sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-66 Uninus.   Toga dikenakan, foto diabadikan dan di tengah euforia itu, ada satu […]

expand_less