Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Menjadi Muslim di Era Algoritma

Menjadi Muslim di Era Algoritma

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Hari ini kita hidup dalam dunia yang tampak memberi kebebasan tanpa batas, tetapi sebenarnya sangat terkurasi. Setiap kali kita membuka media sosial, kita merasa sedang memilih apa yang ingin kita lihat. Kita merasa menjadi pengendali atas informasi yang masuk ke dalam hidup kita.

 

Namun sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Kitalah yang sedang dipilih. Algoritma mempelajari apa yang kita klik, berapa lama kita menonton sebuah konten, apa yang membuat kita berhenti menggulir layar, bahkan konten seperti apa yang memicu reaksi emosi kita.

 

Dari semua itu, sistem kemudian membangun “versi dunia” yang dipersonalisasi untuk kita. Akibatnya, sering kali kita tidak melihat realitas yang utuh, tetapi realitas yang sudah disesuaikan dengan kebiasaan kita sendiri.

 

Hal ini dapat terjadi tanpa kita sadari. Seorang mahasiswa, misalnya, awalnya hanya menonton video diskusi politik yang netral untuk keperluan tugas kuliah. Namun dalam beberapa minggu, rekomendasi yang muncul mulai berubah. Dari diskusi menjadi opini yang lebih keras, lalu menjadi narasi yang semakin tajam dan provokatif.

 

Tanpa disadari, ia masuk ke ruang gema atau echo chamber, yaitu ruang informasi yang hanya memperkuat pandangan yang sama. Dalam kajian digital, fenomena ini dikenal sebagai algorithmic radicalization (Tufekci, 2018). Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri dengan jujur: apakah kita benar-benar memilih informasi, atau sebenarnya kita sedang diarahkan oleh sistem yang tidak kita sadari?

 

Al-Qur’an memberikan pengingat yang sangat relevan dengan kondisi ini. Allah berfirman bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan diminta pertanggungjawaban (QS Al-Isra: 36). Jika dahulu ayat ini sering dipahami dalam konteks perilaku sehari-hari, hari ini maknanya terasa semakin luas. Apa yang kita lihat di layar, apa yang kita dengar dari konten digital, dan apa yang kita pilih untuk kita konsumsi bukan hanya aktivitas biasa, tetapi juga memiliki konsekuensi moral dan spiritual.

 

Era algoritma juga membawa tantangan serius bagi kualitas perhatian kita. Tidak sedikit orang yang merasa sulit fokus bahkan dalam ibadah. Kekhusyukan membutuhkan perhatian yang utuh. Dalam konteks hari ini, menjaga perhatian mungkin menjadi salah satu bentuk jihad yang paling nyata, karena kita harus berjuang melawan distraksi yang terus-menerus hadir.

 

Selain perhatian, emosi kita juga menjadi sasaran sistem digital. Penelitian menunjukkan bahwa informasi palsu sering menyebar lebih cepat daripada informasi benar karena lebih memicu emosi manusia (Vosoughi et al., 2018). Kemarahan, ketakutan, dan kejutan membuat orang lebih cepat bereaksi dan membagikan sesuatu tanpa berpikir panjang. Rasulullah saw. mengingatkan bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, tetapi yang mampu menahan amarahnya (Sahih Al-Bukhari 6114). Dalam konteks media sosial, kekuatan itu terlihat dalam kemampuan untuk tidak membalas komentar provokatif, tidak ikut memperkeruh suasana, dan tidak menambah panasnya perdebatan.

 

Di tengah semua itu, Islam sebenarnya telah lama mengajarkan pentingnya kepemimpinan diri. Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya (Sahih Al-Bukhari 7138). Hari ini, makna hadis ini bisa kita renungkan secara lebih personal. Apakah kita sudah menjadi pemimpin atas perhatian digital kita? Apakah kita mampu memimpin emosi kita ketika berinteraksi di media sosial? Atau justru kita hanya mengikuti arus tanpa kesadaran?

 

Menjadi Muslim di era algoritma berarti belajar mempraktikkan kepemimpinan diri dalam ruang digital. Salah satunya adalah kepemimpinan atas perhatian. Praktiknya bisa sederhana tetapi bermakna, seperti tidak membawa ponsel ke tempat salat, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, atau sesekali melakukan puasa digital untuk menjaga kejernihan pikiran. Ramadan sebenarnya adalah momentum ideal untuk latihan ini, karena puasa pada hakikatnya adalah latihan mengendalikan diri dari hal-hal yang sebenarnya boleh, demi tujuan yang lebih tinggi.

 

Kepemimpinan diri juga berarti kepemimpinan atas informasi. Al-Qur’an mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya (QS Al-Hujurat: 6). Dalam konteks hari ini, ini adalah inti dari literasi digital. Seorang Muslim seharusnya tidak menjadi perantara penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Tidak semua yang viral harus dibagikan, dan tidak semua yang menarik harus diteruskan.

 

Selain itu, kepemimpinan diri juga menyangkut kemampuan mengelola emosi. Dunia digital sering memberi panggung besar pada kemarahan karena kemarahan meningkatkan keterlibatan pengguna. Namun seorang Muslim diajarkan untuk memberi jeda sebelum bereaksi. Jika emosi muncul, menunda respons beberapa saat dapat menjadi latihan kesabaran.

 

Akhirnya, menjadi Muslim di era algoritma bukan berarti menjauhi teknologi, tetapi memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali nilai-nilai kita. Bukan algoritma yang memimpin hidup kita, tetapi kesadaran spiritual kitalah yang harus memimpin cara kita menggunakan teknologi. Hari ini, salah satu tanda kedewasaan seorang Muslim adalah kemampuannya tetap merdeka secara batin, bahkan ketika hidup di tengah dunia yang terus berusaha mengarahkan perhatian dan perilakunya.

 

Referensi

Tufekci, Z. (2018). YouTube, the great radicalizer. The New York Times.

 

Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146–1151.

 

Elaborasi ringan beberapa poin ceramah sebelum Salat Tawawih di Masjid Salman ITB

25(26) Ramadan 1447/15 Maret 2026

 

Fathul Wahid, Pakar Teknologi Informasi, dosen Jurusan Informatika, Fakultas Teknologi Industri UII

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Resonansi Sa’i

    Resonansi Sa’i

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tatang Astarudin, Pengasuh Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung
    • 0Komentar

    MAKKAH kanal31.com — Di antara Shafa dan Marwah, jamaah haji dan umroh berjalan. Kadang melangkah tenang, kadang berlari kecil. Gerak itu sederhana, jaraknya tidak panjang, tetapi maknanya melampaui dimensi ruang dan waktu. Sa‘i bukan sekadar perpindahan fisik dari satu bukit ke bukit lain. Namun ia adalah ajaran tentang teologi ikhtiar— bahwa hidup harus terus bergerak, doa […]

  • Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    Strategi Oknum Pejabat Kampus Hapus Peluang PNS bagi HK2

    • calendar_month Rabu, 20 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM— Hancur sudah harapan pegawai Honorer Kategori 2 (HK2) UIN SGD Bandung untuk meraih status pegawai negeri sipil (PNS). Sebagian harus puas menjadi pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), sebagian lagi gagal mendaftar P3K karena hanya lulusan SLTA, dan sebagian lagi nasibnya kadaluarsa karena ‘dimakan’ usia. Prahara yang menimpa HK2 ini tidak datang dengan serta-merta, […]

  • Mas Menteri: Penelitian Bukan Sekadar Soal Jumlah Publikasi Ilmiah Aja

    Mas Menteri: Penelitian Bukan Sekadar Soal Jumlah Publikasi Ilmiah Aja

    • calendar_month Rabu, 13 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-MATARAM Pekan Pemuda Riset dan Inovasi Nasional (PIRN) XX diharapkan mendorong lahirnya ilmuwan muda yang mampu menghasilkan kajian berkualitas. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim pada sambutannya secara online pada pembukaan PIRN, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (11/07/2022). PIRN berawal dari kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) yang […]

  • Ini Baru Keren! Aktivis Lulusan Tepat Waktu Dapat Anugerah UIN Bandung

    Ini Baru Keren! Aktivis Lulusan Tepat Waktu Dapat Anugerah UIN Bandung

    • calendar_month Selasa, 12 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

     KANAL31.COM (BANDUNG) — Ushuluddin Festival 2023 (U-Fest 2023) menjadi acara pamungkas Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Periode 2022-2023. U-Fest 2023 digelar di Aula Anwar Musaddad, Selasa, (12/12/2023). Prof. Dr. Husnul Qodim, M.Ag., Wakil Rektor III UIN Sunan Gunung Djati Bandung, didaulat untuk menyematkan anugerah sekaligus membuka acara U-Fest […]

  • Pentingnya Kontekstualisasi Nilai Pesantren untuk Jawab Tantangan Zaman

    Pentingnya Kontekstualisasi Nilai Pesantren untuk Jawab Tantangan Zaman

    • calendar_month Kamis, 23 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    CIPUTAT Kanal31.com — Pesantren dituntut untuk melakukan kontekstualisasi terhadap nilai-nilai yang hidup di lembaga pendidikan khas nusantara. Di samping itu, komunitas pesantren secara atraktif perlu menjawab tantangan yang muncul di era digital ini. Hal tersebut dinyatakan oleh Menteri Agama Periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, saat menjadi pembicara dalam Seminar Hari Santri dan Bedah Buku Karya Dr. […]

  • Awal Muharram 1447, Menapaki Waktu Asset Spiritual Menuju Akhirat

    Awal Muharram 1447, Menapaki Waktu Asset Spiritual Menuju Akhirat

    • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Awal Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Islam, melainkan peringatan historis dan spiritual atas Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga simbol perubahan arah hidup, perjuangan menegakkan nilai tauhid, dan permulaan kalender umat Islam. Tahun baru Hijriyah menjadi momen penting untuk muhasabah, meninjau kembali perjalanan […]

expand_less