Kamis, 4 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » HUMANIORA » Dari Edukasi ke Aksi Nyata: Penguatan Satgas P2KS UIN Bandung Berbasis Empati

Dari Edukasi ke Aksi Nyata: Penguatan Satgas P2KS UIN Bandung Berbasis Empati

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jum, 17 Apr 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan melalui kegiatan Pembentukan Tim Khusus Tanggap Cepat Kasus: Satgas sebagai First Responder—Batas Peran, Empati, dan Respons Tepat yang berlangsung di Aula Lecture Hall, Kamis (16/4/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem respons cepat terhadap berbagai kasus di lingkungan kampus, dan menegaskan peran Satuan Tugas (Satgas) sebagai first responder yang mengedepankan empati dan ketepatan respons.

Dengan mengusung tema “Satgas sebagai First Responder: Batas Peran, Empati, dan Respons Tepat”, kegiatan ini menghadirkan narasumber utama psikolog klinis Taty P. Suandi, S.Psi., Psikolog., CGA, yang didampingi oleh Ketua dan Koordinator Divisi Pencegahan Satgas P2KS UIN Bandung, Dr. Neng Hannah, M.Ag., Dr. Hj. Teti Ratnasih, M.Ag.

Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (P2KS) UIN Bandung sendiri dibentuk secara resmi melalui Surat Keputusan Rektor Nomor: B-2017/Un.05/V.2/HK.00.5/09/2024. Kehadiran Satgas ini menjadi langkah strategis institusi dalam memastikan adanya sistem yang terstruktur, responsif, dan berpihak pada korban dalam menangani kasus kekerasan di lingkungan kampus.

Pada tahun pertama, Satgas P2KS tidak hanya berfokus pada penanganan kasus kekerasan seksual, tetapi juga menempatkan upaya pencegahan sebagai prioritas utama. Berbagai langkah strategis telah dilakukan, di antaranya audiensi dengan pimpinan di 10 fakultas yang ada di UIN Bandung untuk membangun komitmen bersama dalam menciptakan ruang aman di tingkat fakultas.

Tindak lanjut dari audiensi tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosialisasi yang menyasar seluruh lapisan civitas akademika. Sosialisasi dilakukan secara masif dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di tingkat universitas, fakultas, hingga program studi.

Edukasi diberikan kepada tenaga kependidikan (tendik) dan dosen sebagai bagian dari penguatan perspektif dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.

Tidak berhenti di situ, Satgas P2KS aktif memanfaatkan media digital melalui podcast, produksi konten edukatif, serta integrasi isu pencegahan dan penanganan kekerasan seksual ke dalam proses pembelajaran di kelas. Kampanye kesadaran juga dilakukan dalam berbagai kegiatan kampus sebagai upaya membangun budaya yang lebih sensitif terhadap isu kekerasan.

Salah satu inovasi penting adalah pembentukan relawan mahasiswa yang dikenal dengan Sahabat Setara. Kelompok ini menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini potensi kekerasan seksual di lingkungan mahasiswa. Kehadiran mereka terbukti sangat membantu Satgas dalam memperluas jangkauan pencegahan serta menciptakan ruang aman yang lebih dekat dengan mahasiswa.

Memasuki tahun kedua, Satgas P2KS UIN Bandung berfokus pada penguatan kapasitas internal. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya tersebut, dengan menghadirkan Taty P. Suandi, psikolog klinis dari Praxis in Community dan praktisi di Women Crisis Center (WCC) Pasundan Durbang, sebagai narasumber utama.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Irma Riyani, Ph.D., menjelaskan pembentukan tim khusus sebagai bagian dari upaya institusional dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, responsif, dan berkeadilan.

“Keberadaan tim tanggap cepat tidak hanya berfungsi sebagai penangan awal, tetapi sebagai garda depan dalam memastikan setiap kasus ditangani secara profesional. Semuanya dilakukan untuk zero toleran terhadap segala macam bentuk kekerasan di kampus,” tegasnya.

Taty P. Suandi menguraikan aspek psikologis dalam penanganan kasus. Menurutnya, Satgas perlu memiliki kepekaan emosional dan kemampuan komunikasi yang baik agar dapat memberikan respons yang tepat tanpa memperburuk kondisi korban. “Empati menjadi kunci utama, namun tetap harus dibarengi dengan pemahaman batas peran agar penanganan berjalan efektif,” ujarnya.

Materi pelatihan dirancang secara komprehensif, mulai dari manajemen dan strategi pendampingan berbasis landasan hukum seperti UU TPKS dan Permendikbudristek Nomor 55, hingga pemahaman jenis-jenis kekerasan dan mekanisme pelaporan yang aman.

Peserta dibekali peran sebagai first responder dengan penekanan pada asas pendampingan, kode etik yang menjamin kenyamanan dan kerahasiaan korban, serta keterampilan Psychological First Aid yang objektif, empatik, dan komunikatif.

Dengan pelatihan ini memperkuat kecerdasan komunikasi pendamping, termasuk penggunaan vokal, gestur, teknik storytelling, serta kemampuan adaptasi dalam berbagai situasi. Keterampilan ini dilengkapi dengan review dan feedback untuk memastikan kualitas pendampingan terus meningkat.

Yang tak kalah penting, peserta mendapatkan pelatihan Emotional Release Technique seperti yoga asanas, latihan stabilisasi dan sinkronisasi, serta posture stabilizing exercise untuk mendukung kesehatan mental korban maupun pendamping.

Ke depan, Satgas P2KS akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk lembaga layanan konseling di tiap fakultas, gender focal point, serta mitra eksternal dalam penanganan kasus. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kasus ditangani secara komprehensif dan profesional.

Melalui pembentukan Tim Khusus Tanggap Cepat ini, UIN Bandung menegaskan bahwa penanganan kasus tidak boleh dibiarkan bergulir liar tanpa arah. Respons yang lambat dan tidak terkoordinasi hanya akan memperparah dampak bagi korban serta merugikan institusi. Oleh karena itu, kehadiran tim yang terlatih, empatik, dan memiliki batas peran yang jelas menjadi kebutuhan mendesak.

UIN Sunan Gunung Djati Bandung percaya bahwa kampus yang aman adalah fondasi utama bagi lahirnya generasi unggul. Dengan sistem yang kuat dan komitmen bersama, setiap warga kampus berhak merasa aman, didengar, dan dilindungi.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tetap Waspada, 5 Tips Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

    Tetap Waspada, 5 Tips Lindungi Anak dari Pelecehan Seksual

    • calendar_month Sen, 2 Des 2024
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    KANAL31.COM, BANDUNG — Pelecehan seksual masih menjadi hal yang harus dicegah. Orang tua wajib mengantisipasi terjadinya hal ini ketika anak atau saudara sedang di luar rumah. Dilansir dari laman Kota Bandung, berikut 5 tips untuk orang tua, sebagai upaya yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual terhadap anak. 1. Ajarkan Anak untuk Waspada […]

  • Top! Peluncuran 2 Buku Tandai Dies Natalis ke-65 UIN Jakarta

    Top! Peluncuran 2 Buku Tandai Dies Natalis ke-65 UIN Jakarta

    • calendar_month Sab, 21 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPi-JAKARTA UIN Jakarta menggelar perayaan Dies Natalis ke-65 dengan meluncurkan dua buah buku. Satu buku di antaranya merupakan kado bagi para guru besar yang berkiprah di bidang keilmuan masing-masing. “Buku tentang 65 guru besar jumlahnya disesuaikan dengan usia UIN Jakarta yang ke-65 tahun,” kata Rektor UIN Jakarta Amany Lubis dalam sambutannya di Gedung Auditorium Harun […]

  • Piloting Dua Provinsi, Kemenag & Peace Corps Sinergi Penguatan Madrasah Berstandar Global

    Piloting Dua Provinsi, Kemenag & Peace Corps Sinergi Penguatan Madrasah Berstandar Global

    • calendar_month Rab, 2 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Surabaya) — Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah menjalin kerja sama dengan Peace Corps dalam penigkatan pendidikan madrasah ke tingkat global. Sinergi dua pihak dilakukan, utamanya dalam penguatan Bahasa Inggris. Peace Corps merupakan lembaga/organisasi yang menyediakan volunter untuk pengembangan bahasa asing di sekolah dan madrasah. Di Indonesia, Peace Corps bekerja sama dengan beberapa […]

  • Top! Terapkan Konsep Ekonomi Biru, UI Beri Pelatihan Literasi Keuangan bagi Nelayan Pesisir Kepulauan Seribu

    Top! Terapkan Konsep Ekonomi Biru, UI Beri Pelatihan Literasi Keuangan bagi Nelayan Pesisir Kepulauan Seribu

    • calendar_month Kam, 22 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Sebagai negara maritim, Indonesia dapat memanfaatkan peningkatan kualitas ekonomi dengan menyerap konsep blue economy (ekonomi biru). Menurut Bank Dunia, ekonomi biru adalah pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan mata pencaharian sekaligus pelestarian ekosistem laut. Ada berbagai sektor yang termasuk di dalamnya, seperti perikanan, energi terbarukan, pariwisata, transportasi […]

  • Sosiolog UGM: Citayam Fashion Week, Representasi Kaum Muda Menengah ke Bawah

    Sosiolog UGM: Citayam Fashion Week, Representasi Kaum Muda Menengah ke Bawah

    • calendar_month Sel, 26 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Belakangan ini muncul komunitas anak muda yang berasal dari Depok, Citayam dan Bojong Gede membanjiri jalanan di kawasan bisnis dan perkantoran di jalan Sudirman, Jakarta. Mereka memunculkan fenomena baru disana, sebagai area publik untuk unjuk ekspresi. Lalu, muncullah ide kegiatan Citayam Fashion Week yang dikenal luas oleh masyarakat. Sebagai bagian dari kegiatan fashion jalanan, […]

  • Inilah Pengabdian Ala UIN Bandung “Smart Village” di Garut

    Inilah Pengabdian Ala UIN Bandung “Smart Village” di Garut

    • calendar_month Sen, 23 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-GARUT. Mengabdi kepada masyarakat bagi perguruan tinggi adalah sebuah keniscayaan, dalam rangka mengimplementasikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan masyarakat. Diperlukan sinergi bersama antara perguruan tinggi dan pemerintahan desa untuk mengurangi ketimpangan angka kemiskinan dan digitalisasi pedesaan dengan perkotaan. Kerjasama dengan perguruan tinggi mampu mendorong untuk mewujudkan pemerataan akses teknologi guna meningkatkan kualitas […]

expand_less